PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang di Parit


__ADS_3

Mendengar perkataan itu, Sancani terkejut bukan kepalang. Dadanya terlihat kembang kempis sedangkan dia tidak menjawab pertanyaan yang diucapkan Kakeknya.


“Sancani apakah kau tidak menyukai pria itu?” Nagawira bertanya kembali.


Ini adalah awal pertama Sancani merasakan yang namanya sebuah cinta. Tentu saja dia menyukai Pramudhita, tapi mulutnya terasa kaku untuk menjawab 'ia.' Selama 1200 tahun berumur, Sancani tidak pernah tertarik dengan pria manapun. Tidak pernah.


Dia selalu menunda-nunda keinginan dirinya untuk menikah, dengan beralasan bahwa masih ada 1000 tahun lagi untuk mencari pasangan yang pas. Namun sifat ini rupanya juga menular pada beberapa saudara dan saudarinya yang lain.


“Nagini...apa yang harus aku lakukan?” tanya Sancani, dia menatap adik kecilnya, tapi karena Nagini tidak merespon dia menggoyang tubuh Nagini dengan cukup kuat. “Nagini?”


“Oh, kau harus menerima tawaran itu...ten...tentu saja harus. Bukankah Nimas sangat menyukainya?” Nagini berkata terbata-bata, gadis itu masih hanyut dalam bayangan pemuda manusia yang meletakkan telapak tangan di keningnya.


Mendengar perkataan itu, Kakek Naga tersenyum simpul. Sancani tidak perlu mengatakan perasaannya, dari raut wajah sudah jelas jika dia menyukai pria Gunung Semeru itu. Sekarang yang perlu mereka lakukan adalah, bertamu ke Padepokan Pedang Bayangan.


“Kita mungkin akan kesulitan datang kesana...” Kakek Naga tampak berpikir sejenak. “Ada banyak bangsa lelembut di daratan yang tidak senang dengan kita yang tinggal di lautan.”


“Kapan Eyang akan pergi kesana?” tanya Nagawira.


“Tunggu kondisi Nogo Sosro pulih seutuhnya.”


***


Hampir selama 2 minggu gerobak melaju kencang di jalan lurus sepanjang pesisir pantai. Hanya istirahat beberapa jam saja, kemudian gerobak itu melaju dengan cepat.


Sekarang gerobak terlihat tidak akan bertahan lebih lama lagi, ada beberapa bagian yang sudah berlubang dan ada lebih banyak simpul-simpul yang terputus.


“Paman Brewok Hitam! Berapa lama lagi kita tiba di zona aman?” Sungsang Geni bertanya.


Brewok Hitam berpikir sesaat, “Ini sudah sangat dekat tuan pendekar. Mungkin beberapa jam lagi kita akan tiba di garis zona aman,” jawab Brewok Hitam.

__ADS_1


Sungsang Geni melihat ke belakang, pada 10 gerobak yang setiap penumpangnya sudah terlihat sangat kelelahan. Beberapa anak kecil sekekali terlepas dari pelukan ibunya.


Wajah-wajah kusam, rambut-rambut kering serta bibir yang pecah karena sinar matahari, membuat pandangan tersendiri yang memilukan.


Sungsang Geni memang tidak pernah berhenti terlalu lama, ada banyak hal yang dia pertimbangkan, misal saja musuh yang mungkin akan menyusul.


Setelah beberapa jam, mereka akhirnya meninggalkan pesisir pantai dan mulai memasuki dataran luas dan panjang. Ya, itu adalah hutan gambut. Hanya ada satu jalan yang terbentang di tengah hutan gambut, jalan yang lurus tapi sedikit berlumpur.


Di ujung hutan gambut, Sungsang Geni dengan mata yang sangat tajam sudah dapat melihat ada sekitar 200 orang pendekar yang tinggal di pos pos jaga.


Ada menara cukup tinggi yang terbuat dari potongan kayu, dimana seorang pria, tidak! Tapi dua orang pria sedang menatap mereka dari kejauhan.


Setelah beberapa menit, mereka dikejutkan dengan hancurnya salah satu gerobak membuat para penumpangnya terpaksa terseok dengan kasar di jalan. Sungsang Geni segera menghentikan kuda, di ikuti dengan yang lainnya.


Pemuda itu bersegera menghampiri orang-orang itu, mengangkat tubuh mereka dan melepaskan simpul tali gerobak yang mengikat leher 4 ekor kambing hutan.


“Aki apa kau baik-baik saja?” Sungsang Geni memperhatikan salah seorang pria tua yang kesulitan berdiri.


“Minumlah!” Sungsang Geni menyodorkan air minum. “Sebentar lagi kita akan tiba di zona aman.”


Setelah keadaan sudah cukup baik, semua orang serentak turun dari gerobak-gerobak, mereka jadi takut melanjutkan perjalanan dengan menaiki kendaraan buruk itu. Sungsang Geni memahami perasaan mereka, jadi membiarkan Brewok Hitam memimpin jalan menuju zona aman.


500 orang sekarang berjalan dengan tertatih-tatih, itu lebih baik pikir mereka dari pada menaiki gerobak. Sedangkan Sungsang Geni mulai melepaskan tali yang terikat di leher para binatang.


Hanya Panglima Ireng menemani pemuda itu, semua orang sudah pergi lebih dahulu. Beberapa menit semua binatang sudah terbebas dan menunggu perintah selanjutnya.


“Terima kasih karena kalian sudah menolong perjalanan kami...” Sungsang Geni menyentuh salah satu moncong rusa yang paling besar. “Sekarang pergilah!”


Serombongan binatang itu belum beranjak dari tempatnya, mereka mungkin beranggapan bahwa Sungsang Geni hanya membual. “Ayo pergi! Ah, jika tidak kalian akan jadi daging panggang...”

__ADS_1


Sontak semua binatang lari tunggang langgang melewati jalan lurus berlumpur yang baru saja mereka lewati. Sekawanan binatang itu, meringkih sambil sekekali melompat-lompat. Setelah beberapa menit, mereka akhirnya hilang didalam hutan rimba.


Sungsang Geni menoleh kearah Panglima Ireng, “Bagus sekali Ireng, kau sudah memimpin mereka dengan sangat baik.”


“Gerr...gerr...”


“Ayo, kita juga harus pergi dari jalanan ini!”


Beberapa jam kemudian, para pengungsi akhirnya tiba di depan gerbang kayu. Sekarang mereka terhenti sebab sebuah aliran sungai memotong laju perjalanan mereka. Sungai itu tidaklah deras, malah seperti sebuah parit besar yang sengaja dibuat untuk menghubungkan danau kecil di hilir dengan danau besar di hulunya.


Setelah Sungsang Geni perhatikan, rupanya tempat yang mereka tuju memang dikelilingi oleh parit-parit besar. Lebar parit mungkin mencapai 30 meter, berwarna sangat keruh. Tujuannya tentu saja, untuk menghalau serangan yang mungkin akan datang.


Dengan begitu, mereka akan menghujani dengan ratusan panah ketika lawan-lawan sibuk menyebrangi parit.


Sungsang Geni yakin, di dalam parit juga terdapat banyak ranjau. Namun Hal ini akan berlaku jika musuh tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang mumpuni dan sengaja mencebur kedalam parit.


Salah satu orang di atas menara pengintai berteriak. “Rombongan terakhir sudah tiba, turunkan jembatan!”


Beberapa saat kemudian, suara berderik terdengar. Dapat dilihat sebuah jembatan yang ditegakkan sebagai pintu gerbang masuk, perlahan mulai rebah.


Hanya butuh waktu sekitar 3 menit, akhirnya gerbang itu menjadi jembatan yang terbentang menyebrangi parit besar.


Para pengungsi di arahkan untuk berjalan perlahan oleh seorang gadis cantik. Mereka tidak boleh meniti jembatan secara bersamaan karena dikhawatirkan akan runtuh.


“Hati...hati...kalian sudah aman...” ucap Gadis itu seraya memapah beberapa orang tua yang berjalan kesulitan.


Setelah beberapa menit, sekarang muncul lagi seorang pemuda tampan dengan jubahnya yang tebal. Pemuda itu tersenyum kecil kearah sang gadis, kemudian mulai membantu para pengungsi.


Sungsang Geni menahan diri untuk tidak menyapa dua orang tersebut, meski sebenarnya dia sangat ingin. Mereka berdua jelas saja dia kenal, Siko Danur Jaya sang pendekar jarum beracun dan kekasihnya Ratih Perindu.

__ADS_1


Ketika semua orang sudah melewati jembatan, sekarang tinggal Sungsang Geni bersama dengan Panglima Ireng yang berdiri menatap mereka berdua dari seberang jembatan.


__ADS_2