
Dua orang menemui salah satu sesepuh di ujung rumah dan terlihat paling mewah diantara yang lainnya. Itu adalah rumah Sriyu Kuning, sesepuh yang kekuatannya hampir menyetarai Resi Irpanusa.
“Guru, apa kita harus diam saja sementara ada orang asing yang akan mengambil kitab pedang bayangan?” salah satu dari muridnya bernama Kudusia berkata pelan kepada Sriyu Kuning.
“Benar guru! Sepertinya Resi Irpanusa sudah mulai gila.” Sambung Prama Londro teman dari Kudusia. “Itu bisa mencoreng padepokan Pedang Bayangan, dan kesempatan guru menjadi pemimpin di tempat ini akan semakin kecil.”
“Diam kalian berdua!” bentak Sriyu Kuning, dia memijat keningnya yang mulai terasa sakit. “Aku tahu bagaimana situasinya saat ini. Tapi kalian harus sadar tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan kitab itu, tidak seorangpun mesti kita sudah mencoba banyak hal. Tapi pemuda asing itu...”
Sriyu Kuning menghentikan perkataannya, tampak sedang memikirkan sesuatu, wajah licik mulai terlihat pada pria tua itu, “Mungkin saja dia bisa mengambilnya, tapi pada saat itu kita harus merebut kitab pedang bayangan dari tangannya.”
Sriyu Kuning adalah salah satu sesepuh tua di tempat ini, bisa dikatakan orang nomor dua terkuat ditunjukan dengan garis putih di keningnya berjumlah 6. Pada dasarnya umur pria tua itu tidak berbeda jauh dengan tabib Rumanik, merupakan murid Resi Irpanusa generasi pertama.
Ketika muda dia adalah orang yang paling ambisius diantar murid yang lainnya, dia haus dengan ilmu kanuragan dan menjadi orang terkuat setelah Resi Irpanusa di usianya yang masih muda. Dan pada akhirnya dia dijadikan salah satu guru di tempat ini.
Namun keserakahan Sriyu Kuning tidak ada habisnya. Dia menyadari bahwa ilmu pedang bayangan yang dipelajari dari Resi Irpanusa belum sempurna, karena itu dia berusaha mengambil kitab pedang bayangan tapi tentu saja tidak mampu.
Bukan hanya karena ketidak mampuannya dalam melepaskan segel 3 kristal suci, tapi juga ketidak mampuannya menghadapi Resi Irpanusa yang menentang ambisi Sriyu Kuning.
Hingga akhirnya terjadi pertempuran dingin antara Sriyu Kuning dan Resi Irpanusa. Padepokan ini akhirnya terpisah menjadi dua cabang, dimana Sriyu Kuning memimpin cabang selatan dan Resi Irpanusa memimpin cabang utara.
Jika saja Sungsang Geni tiba di tempat ini dari sisi utara, maka dia pasti bertemu dengan gerbang padepokan bayangan cabang utara yang dipimpin oleh Sriyu Kuning.
Memang tidak pernah terjadi pertempuran fisik antara kedua pimpinan ini, tentu saja Sriyu Kuning tidak cukup bodoh menghadap Resi Irpanusa.
Semua orang tahu, bahkan hanya dengan langkah kakinya saja padepokan bayangan bergetar seperti gempa bahkan gempa ini terasa sampai ke dunia luar. Gempa gunung semeru, manusia luar menyebutnya.
“Jika kita berhasil mendapatkan kitab itu, maka kau akan menjadi orang terkuat di padepokan ini, Guru.” ucap Prama Londro tertawa kecil.
Prama Londro adalah murid paling setia. Bukan, tapi binatang paling setia yang dimiliki Seriyu Kuning.
__ADS_1
Kekuatannya sangat hebat, tapi jika dibanding dengan Pramudhita kekuatannya masih berada di bawah pria itu.
Kekalahan dalam Pertarungannya dengan Pramudhita ketika melakukan latih tanding, adalah sesuatu yang paling melukai hatinya.
Sriyu Kuning berhasil menghasut Prama Londro dengan menjanjikan kekuatan setelah mendapatkan kitab pedang bayangan asalkan pria bodoh itu mau mambantunya menguasai padepokan pedang bayangan dan menyingkirkan Resi Irpanusa.
“Setelah kematian Irpanusa,” ucap Seriyu Kuning membayangkan kematian guru ditangannya sendiri, “Kita akan keluar dari dunia ini, dan membuat semua orang di luar sana merasakan apa yang telah kita alami selama ini.”
***
Sungsang Geni bersiul kecil di atas punggung Panglima Ireng, sambil mengunyah paha kelinci yang berhasil dia jerat beberapa jam yang lalu.
Saat ini mereka telah mendapatkan tumbuhan dengan lumayan banyak, tapi ada satu tumbuhan yang terlihat cukup mengerikan.
Jahe merah darah. Benar, tumbuhan itu sejak pertama dicabut dari dalam tanah, selalu saja mengeluarkan setetes darah setiap menitnya.
Bukan hanya itu, jahe merah darah bahkan tercium seperti sayatan daging binatang, karena sangat anyir.
Panglima Ireng menggeram pelan, kemudian berlari cepat membuat pemuda itu nyaris saja jatuh.
Hingga tiba-tiba saja, mereka berhenti pada tumbuhan menyerupai jamur yang dijaga 3 mahluk hasrat yang berukuran lebih besar dari yang pernah Sungsang Geni bunuh.
Ketika melihat kedatangan Sungsang Geni, mereka tanpa basa-basi menyerang dengan brutal. Sungsang Geni melompat dari atas punggung srigala hitam seraya melepas 3 buah pisau energi dari telapak tangannya.
Namun siapa sangka, serangan cepat Sungsang Geni berhasil dihindari dengan mudah oleh ketiga mahluk itu.
Bukan hanya lebih besar mereka juga lebih kuat dan lebih licin. Mereka seperti pendekar level tanpa tanding yang telah membuka 1 cakra di dalam tubuhnya. Dan juga serangan yang selalu tiba-tiba membuat pergerakan mereka sulit dibaca.
Melayang di antara batang-batang besar seperti sekawanan lebah, lalu menyerang cepat dan berhasil membuat Panglima Ireng terpukul mundur beberap langkah.
__ADS_1
Hewan itu mengendus hidung, mungkin merasa kesal atau juga merasa sakit. Sorot matanya semakin tajam, dengan taring gigi yang mengintip dari balik bibir hitam dan berbulu. “Gerrr...” dia menggeram.
Di sisi lain, Sungsang Geni menghadapi serangan 2 mahluk hasrat sekaligus. Sepenuhnya dia mengandalkan pedang energi dengan jangkauan pendek, tanpa tenaga dalam mana mungkin dia bisa mengimbangi lawan yang bertarung di udara.
“Ini buruk, aku tidak bisa bertarung menghadapi mahluk yang selalu terbang.” Ucap Sungsang Geni, dadanya mulai terlihat berdarah karena cakaran kuku tajam mereka.
Sungsang Geni harus melompat beberapa meter ke belakang, tapi sebelum kakinya mendarat pada permukaan tanah, salah satu dari mereka berhasil mencengkram kaki pemuda itu dan melemparkannya ke batang pohon.
"Aghkk!" pekik Sungsang Geni.
Tapi pada saat yang genting itu, dia teringat akan kemampuannya dalam mengendalikan pedang watu kencana.
“Mungkin aku bisa mencobanya!” ucap Sungsang Geni membayangkan jurus dari teknik pedang emas 'pemburu bayangan.' Jurus ini sangat efektif jika menggunakan pedang watu kencana, tapi Sungsang Geni tidak tahu jika menggunakan pedang energi.
Sungsang Geni menciptakan sebuah pedang dengan energi besar dari lengan kanannya. Sebenarnya setiap kali pedang itu terlepas dari tangan Sungsang Geni, maka beberapa saat kemudian akan segera lenyap.
Tapi mencoba teknik pedang emas mungkin bukan ide sulit. Jadi Sungsang Geni memfokuskan pikiran di sela serangan bertubi-tubi yang menghantami tubuhnya.
Dan akhirnya?
“Berhasil!” ucap Sungsang Geni,”Ini mirip seperti ketika aku mengendalikan pedang watu kencana.”
Sungsang Geni menggerakkan jari telunjuk, pedang yang dia ciptakan bergerak cepat mengikuti tarian jari telunjuknya, menyerang dua orang musuhnya meski belum ada satupun yang mati.
Dan di sisi lain Panglima Ireng terpental 3 kali selama pertarungannya yang baru berangsur 5 menit.
Srigala itu tidak bisa mencakar mangsa atau menancapkan taring pada mereka. Pergerakan mahluk hasrat semakin cepat setiap waktunya melayang keatas dan menukik kebawah dengan cakaran.
Namun bagian terburuknya akan segera datang!
__ADS_1
“Mahluk ini bisa berjalan seperti manusia?” tanya Sungsang Geni tidak percaya dengan pandangannya.