PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kabar baik dan buruk


__ADS_3

Burung elang hitam mulai berkeliling di atas Istana Megah. Sekekali dia berbunyi keras, tapi tidak ada yang paham dengan maksud burung itu. Kemudian dia segera turun dan hinggap pada jendela ruangan, dimana seorang pria sedang berjibun dengan banyak kertas.


Mahesa memperhatikan buruh itu, tampak ada sebuah gulungan surat kecil terikat di kakinya. Pemuda itu buru-buru mengambil kertas, lalu burung Elang Hitam segera terbang dan mengeluarkan suara keras.


Mahesa membuka gulungan surat itu, wajahnya seketika tegang setelah membaca kertas tersebut. Dia kemudian segera pergi menemui beberapa pejabat kerajaan dan juga Senopati yang baru saja dia angkat seminggu terakhir.


“Yang Mulia Patih!” Rerintih menangkap sesuatu dari raut wajah kekasihnya itu, antara gusar dan gembira. “Kenapa anda mengumpulkan kami secara mendadak?”


Mereka berkumpul di depan Singasana yang tidak pernah diduduki oleh rajanya, ini adalah ke tujuh kalinya Mahesa mengumpulkan seluruh pejabat Kerajaan Tombok Tebing untuk membicarakan prihal yang sangat penting.


“Aku membawa dua berita, berita buruk dan berita baik.” Ucap Patih itu.


“Apa berita baiknya, Yang Mulia Patih?” Rerintih menjadi sangat penasaran.


“Raja Sungsang Geni masih hidup, dan dia sekarang berada di Lembah Ular.” Jawab Mahesa.


Seketika ruangan itu menjadi pecah dengan suara bahagia, bahkan Rerintih sempat meneteskan air mata mendengar berita baik itu. Sudah 2 pekan lamanya, mereka mencari keberadaan Sungsang Geni tapi tidak ada satu petunjukpun yang mengarah pada raja mereka.


Kabar hilangnya Sungsang Geni bahkan membuat sebagian rakyat risau dan bersedih, tak jarang beberapa rakyat ikut mencari keberadaan Raja Tombok Tebing itu. Bahkan semenjak perginya Sungsang Geni, Mahesa sedikit menutup diri.


“Tenanglah, tenang! Masih ada kabar buruknya.” Sambung Mahesa, dan mendadak semua orang di dalam ruangan itu penuh tanda tanya.


“Dia belum matikan, Yang mulia?” Rerintih tanpa sadar mengeluarkan kata-kata itu.


“Belum, dia baik-baik saja. Berita buruknya adalah, Perguruan Lembah Ular sedang menghadapi kehancuran, dan Raja Sungsang Geni sedang membantu mereka. Setidaknya itulah gambaran dari pesan yang dia sampaikan.” Ucap Mahesa.


Semua orang saling pandang, ada banyak pemikiran berbeda-beda di kepala mereka. Lalu seorang Senopati muda, yang baru saja naik jabatan memberanikan diri berkata.

__ADS_1


“Aku akan membawa pasukan ke Lembah Ular, kami akan membantu Yang Mulia Raja.”


“Bukan ke Lembah Ular!” ucap patih itu, “Tapi ke Perguruan Pedang Emas. Itu adalah pesan dari Raja Sungsang Geni.”


***


Setelah sang surya mulai berada di atas kepala, Sungsang Geni segera menyelesaikan meditasinya. Sekitar 10% dari tenaga dalamnya sudah kembali, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membawa Cempaka Ayu terbang menuju kem pengungsian.


Dia menyapu pandangan sekali lagi, mencoba merasakan jika saja ada energi hitam berada di dekatnya, namun rupanya tidak ada. Kemudian menghampiri Cempaka Ayu yang sedang bermain dengan beberapa batu kecil di pinggir sungai.


“Sekarang sudah saatnya kita kembali!” ucap Pemuda itu, “Kita tidak mempunyai banyak waktu yang tersisa, mungkin sekarang Kelompok Kelelawar Iblis juga menyiapkan pasukan mereka untuk menyerang Lembah Ular. Sebelum hal itu terjadi, kita akan menyerang mereka lebih dahulu.”


“Tapi tenaga dalamku belum kembali, aku tidak memiliki kemampuan menghimpun tenaga dalam secepat dirimu.” Cempaka Ayu berkata pelan.


“Tidak masalah!” Sungsang Geni tersenyum kecil, kemudian tanpa perlu mendapat izin dia segera menggendong Cempaka Ayu, “aku akan membawamu terbang!”


“Jangan bergerak, dan jangan berisik! Atau kita akan jatuh” ucap Sungsang Geni, “Aw, kenapa kau tiba-tiba mencubitku?”


Sungsang Geni terbang dengan cepat menuju bukit gersang, menyusuri sepanjang aliran Sungai Deras dan menaiki air terjun dengan sayapnya. Suasananya sedikit berbeda dibanding dia terbang sendirian, selain lebih berat pemuda itu juga merasakan lebih bahagia.


Mereka berdua meluncur dengan cepat, sekarang telah melewati air terjun dan melayang diatas bukit gersang. Permukaan bukit itu tidak tampak seperti terakhir kali mereka melihatnya. Ada retakan besar di tengah bukit, hampir saja membelah bukit itu menjadi dua.


“Jadi mereka benar-benar bertarung!” gumam Sungsang Geni, “aku harap Paman Guru baik-baik saja.”


Dari kejauhan Sabdo Jagat menyunggingkan senyum di bibirnya melihat dua orang manusia terbang melintasi bukit menuju ke arahnya. Pria itu belum tidur semalaman, dan jika Guru Jelatang Biru dan Guru Tiraka tidak menghalangi dirinya, pria itu sudah pergi menyerang Kelompok Kelelawar Iblis seorang diri. Selain mati konyol tidak ada alasan lain, untuk mencegah pria itu.


Setelah menggunakan tongkat penghancur gunung, hampir 80% dari tenaga dalamnya hilang dengan cepat. Tongkat itu terlalu besar menyerap tenaga dalam, tapi sebagai balasannya kekuatan yang dihasilkan juga sangat dahsyat, bukankah sebanding?

__ADS_1


“Aku yakin kalian akan selamat!” Empu Pelak pertama kali menyerobot kerumunan orang yang menunggu mereka berdua, “Sudah kukatakan mereka akan selamat, keyakinan seorang Empu tidak bisa diragukan.”


Sabdo Jagat tidak berniat mencela, jika dipikirkan lagi beberapa perkataan dari Empu Pelak memang selalu menjadi kenyataan.


“Paman Empu,” Sungsang Geni memberi hormat, lalu memberi hormat kepada guru yang lainnya, “Terima kasih karena sudah percaya dengan rencanaku.”


Sabdo Jagat tidak menjawab, dia segera merangkul Sungsang Geni dengan erat, “Oh, sekarang masuklah kedalam,” dia bergumam kecil, “Bagaimana dengan Cempaka Ayu, apa sekarang kalian sudah saling memahami?”


“Paman Guru!” Sungsang Geni berkata penuh makna, karena bukan saatnya mengatakan hal itu.


“Ah, hanya kita berdua tidak ada yang akan mendengar.” Ucap Sabdo Jagat menepuk pundak Sungsang Geni sambil tertawa cekikikan.


***


Setelah misi ini selesai dilaksanakan, Sungsang Geni dan beberapa orang yang kehabisan tenaga dalam, terpaksa mengurung diri mereka untuk melakukan meditasi. Penghimpunan tenaga dalam butuh waktu banyak, dan pada saat itu mereka yakin Banduwati juga melakukan hal yang sama.


Sekarang secara garis besar, Sungsang Geni sudah mengetahui kekuatan mereka. Dengan ini, mereka akan menyiapkan strategi lebih baik untuk perang besar selanjutunya.


Di sisi lain, Empu Pelak dan bawahannya sedang menggambar sesuatu pada kertas lebar, sebuah rangka yang sulit dipahami. Sesuai dengan janjinya, dia akan membuat sesuatu yang memiliki kekuatan besar namun masih bisa digunakan oleh rakyat biasa sekalipun.


“Cepatlah, kita tidak memiliki banyak waktu!” ucap Empu Pelak kepada bawahannya. Pria itu tidak menggunakan kepingan logam sebagai bahan membuatnya, dan itu terlihat aneh bagi beberapa orang.


Semua orang memiliki pemikiran yang sama saat ini, benda apa yang akan dibuat oleh pria itu? Yang jelas itu bukalah pedang, tombak atau senjata sejenisnya.


“Tenanglah! kalian tidak akan percaya sebelum benda ini jadi seutuhnya.” Ucap Empu Pelak diselah-selah waktu istirahatnya yang sebentar, “Kita akan membuatnya disana, diatas bukit.”


Terimakasih bagi teman-teman yang udah kasih saran atas penyakit insomnianya author. Semoga malam nanti bisa bobok dengan nyenyak. Selamat membaca, dan semoga terhibur.

__ADS_1


__ADS_2