PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang besar 3


__ADS_3

Apakah langsung mati? Tentu saja tidak, Komandan Pertama tidak selemah yang kalian pikirkan. Tusukan Pedang Sungsang Geni mungkin bisa membuat dia terluka, tapi tidak untuk membunuhnya. Aura kegelapan lantas keluar dari tubuhnya, menekan siapapun di Markas ini , kecuali Sungsang Geni.


Pemuda itu menaikkan alisnya, beberapa minggu lalu dia bisa dikalahkan dengan mudah itu karena beberapa faktor.


Pertama, Sungsang Geni sudah kehabisan energi setelah sekian hari menyalurkan energi untuk dua gadis yang kehilangan kesadaran. Pada saat itu, Cempaka Ayu dan Wulandari sedang berjuang untuk hidup, dan Sungsang Geni menyalurkan energi untuk mereka berdua.


Yang kedua, pada saat itu Sungsang Geni berada pada level pendekar iblis. Tapi hari ini, setelah dia berhasil menguasai pedang sapuan jagat, level pemuda itu naik menjadi level pendekar dewa.


Dan ketiga, pemuda itu harus menghadapi dua musuh sekaligus. Komandan pertama dan juga Topeng beracun.


Pada saat ini kondisi tubuh pemuda itu benar-benar prima, aura kegelapan sepekat apapun yang keluar dari dalam tubuh Mungkarna tidak akan membuat dia tertekan sama sekali.


Satu-satunya yang dipikirkan Sungsang Geni adalah, nasip para prajurit di Markas Petarangan. Di bawah dirinya, Empu Pelak masih berteriak memberi perintah untuk menghujani lawan dengan bubuk setan.


Sementara itu Lemah Abang saat ini sedang berhadapan langsung dengan lima orang. Pria itu harus dihentikan, karena jika tidak akan banyak kereta iblis yang hancur dan tentu akan mengurangi kekuatan Surasena.


Lima orang itu adalah, Darma Cokro, Lakuning Banyu yang kini telah dirasuki oleh keris panca dewa, dan kemudian tiga sesepuh tua, Ki Alam Sakti, Ki Lodro Sukmo dan juga Bangau Putih.


Pertempuran di Markas Surasena ketika melawan Jaka Bala-bala beserta kakaknya rupanya membuat kekuatan beberapa pendekar Surasena berkembang cukup pesat.


Dalam keadaan hidup dan mati, acap kali pendekar menjadi lebih kuat setelah berhasil menembus batasannya. Sekarang lima orang yang menghadapi Lemah Abang telah berada pada level pendekar iblis. Terlihat selain Lakuning Banyu, mereka semua berhasil membuka 7 cakra.


Ini membuat Sungsang Geni sedikit lebih lega. Pemuda itu berpikir meski Lemah Abang berada pada puncak pendekar iblis, menghadapi lima orang sekaligus pada level yang sama akan cukup membuat dia kerepotan. Dan dugaan Sungsang Geni benar.

__ADS_1


Sekarang pemuda itu melirik kearah Mungkarna, kemudian dia melepaskan aura panas yang luar biasa. Aura panas Sungsang Geni berhasil menekan aura kegelapan yang memancar dari tubuh komandan pertama Kelelawar Iblis.


Mungkarna mengarahkan banyak serangan menuju Sungsang Geni. Tatapannya benar-benar tajam, dan seketika bola matanya segera berubah menjadi hitam. Itu artinya dia dalam keadaan sangat serius saat ini.


Dua belas pedang hitam turun dari langit menghujani Sungsang Geni dengan sangat cepat. Pemuda itu berkelit dengan mudah, menangkis dua sarangan dan selebihnya menghindarinya.


“Dia lebih cepat!” Mungkarna tidak percaya kekuatan Sungsang Geni bertambah lebih besar, karena kali terakhir dia menghajar pemuda itu, kekuatan Sungsang Geni tidak sehebat ini.


Dentuman bunyi serangan terdengar menggema di angkasa. Gelombang kejut bertekanan tinggi terjadi, dan itu membuat udara bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Ada banyak benda-benda tersapu karena benturan dua kekuatan itu.


Sejauh ini Sungsang Geni masih terlihat tenang, tapi kemudian dia menyadari sesuatu. “Aku akan menggiring orang ini menuju pasukannya!”


Sungsang Geni bergerak cepat dan berhasil mengarahkan pedang ke tubuh Mungkarna, meski serangan itu berhasil ditangkis. Tubuh Mungkarna terpukul mundur puluhan depa, dari atas angin sekarang Mungkarna telah jatuh di permukaan tanah.


Dari langit yang setengah gelap dan setengah terang, Sungsang Geni terbang secepat kilat seperti bintang jatuh. Dia datang dengan tukikan kuat, hampir saja berhasil menusuk tubuh Mungkarna jika bukan satu komandan lagi datang menghentikan serangannya.


“Komandan ke empat?” ucap Sungsang Geni tersenyum kecil, “Tidak masalah jika kalian berdua menyerang bersamaan.”


“Jangan sombong manusia lemah, kau akan mati ditempat ini bersama dengan Surasena.” Lecutan cambuk Komandan Ke Empat mengarah cepat ke tubuh Sungsang Geni. Melilit tubuh pemuda matahari itu, dan ditarik ke tanah hingga terhempas kuat.


Sungsang Geni bergerak cepat sebelum serangan itu kembali mengenai tubuhnya. Lecutan ujung cambuk kali ini gagal mengenai, tapi malah menyasar pada ratusan prajurit Kelelawar Iblis yang berada di dekatnya.


Ratusan prajurit itu mati dengan cepat.

__ADS_1


Sungsang Geni mengepal tangan dengan kuat, mengeraskan rahang dan menyipitkan matanya. Sebelum serangan kedua datang, dia memutuskan untuk menyerang lebih dahulu dan berhasil memutuskan ujung cambuk komandan ke empat.


Momentum serangan pemuda itu tidak berhenti, dia melepaskan dua pedang beraura panas kemudian bergerak capat bersama dengan pedang itu. “Pedang emas dari Surgawi!” dia berteriak.


Dan berhasil, kali ini tiga pedang menusuk tubuh Komandan ke empat membuat tubuhnya berlubang sebesar kepalan tinju.


Darah hitam keluar dari tiga lubang di tubuhnya, dan tentu saja darah juga keluar dari mulutnya. Tapi Komandan itu tidak kunjung mati. Meski perutnya terbuyar dia tetap bergerak cepat menyerang Sungsang Geni.


'Keras kepala!” uap Sungsang Geni bergerak cepat seperti bintang, kemudian mendaratkan banyak tebasan ke arah pria itu. “Tarian Dewa Angin, neraka penyucian.”


-Ching- terdengar suara tebasan begitu cepat dan kuat, kali ini serangan pemuda itu tidak terbendung dan tidak mungkin bisa ditahan oleh Komandan itu. Lehernya segera putus dari tubuhnya, jatuh di antara para prajurit Kelelawar Iblis.


Melawan komandan ke empat tidaklah sesulit melawan komandan pertama. Ya, jika dia memang kuat kenapa tidak berada pada urutan ketiga atau pula kedua?


Mata ribuan musuh terbuka lebar setelah satu komandan mereka mati dengan kepala terpenggal. Ini cukup buruk menurut mereka. Dan itu ternyata berhasil membuat nyali beberapa ratus musuh menjadi ciut.


Sementara itu, Mungkarna tersenyum kecil melihat kepala komandan ke empat jatuh tidak jauh darinya. Kepala itu di tendang dengan kuat, menjadi sebuah serangan dan berhasil menjebol dinding markas Petarangan.


“Dia layak mendapatkan itu.” ucap Mungkarna. “Jika dia cukup kuat, hal ini tidak akan terjadi. Aku akui diantara banyak manusia kau adalah manusia paling hebat, tapi asal kau tahu? Bahkan komandan ke dua tidak bisa melawan tiga jurus miliku.”


“Benarkah?” Sungsang Geni tersenyum pahit, dia jelas tahu perbedaan kekuatan Komandan ke empat dengan Mungkarna. Selisih kekuatan mereka terlampau sangat jauh.


“Mari kita lihat sejauh mana kekuatan manusia biasa seperti dirimu?” dari mata hitam Mungkarna tiba-tiba terlihat bintik merah seperti pupil. Mata yang berbeda dari setiap komandan yang pernah dikalahkan Sungsang Geni.

__ADS_1


Lima menit kemudian, mereka berdua bertarung dengan sengit. Hanya dalam waktu singkat saja, mereka sudah melepaskan ratusan serangan mematikan. Setiap benturan serangan seperti suara guruh. Debu-debu berhamburan, dan gelombang kejut yang tercipta membuat benda apapun melayang seperti kapas.


__ADS_2