PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni Vs Pendekar Pemabuk 4


__ADS_3

Dua larik cahaya ungu turun cepat menghujan Sungsang Geni, pemuda itu hampir saja hangus lebur jadi abu jika satu detik saja tidak menghindar.


Dia sempat melompat ke kiri, dan berjungkir balik di tanah. Dua larik cahaya ungu nyasar dan menghantam tanah, hingga berlubang sebesar roda kereta kuda.


Pendekar Pemabuk masih berada di atas awang-awang. Setiap kali dia melancarkan serangan, tubuhnya akan berwarna ungu sesaat kemudian dari dua matanya yang hitam timbul cahaya berkekuatan tinggi.


Dua tiga kali Pendekar Pemabuk menyerang Sungsang Geni, dan dua tiga kali pula serangan itu tidak ada yang mengenai Pemuda Matahari itu. Ah, ada satu larik cahaya meledak di kerumunan bawahan Pendekar Pemabuk.


Tidak kurang dari 15 orang pendekar tanpa tanding, menjadi tinggal tulang belulang setelah terkena serangan itu.


“Pendekar Pemabuk, kenapa kau juga menyerang kami!” Salah satu dari mereka berteriak, suaranya terdengar serak dan dalam. “Kami ini adalah orang yang berpihak kepadamu, tidak kah kau bisa melihat siapa teman siapa lawan...?”


“Gelagar...” Kilatan Energi ungu baru saja membungkam mulut pria itu dengan kematian.


“Celaka, pendekar pemabuk tidak tahu lagi siapa lawan siapa kawan.” Semua orang bergidik karena takut, hampir dapat dipastikan semua orang menjadi kecut nyali.


“Ini semua karena dirimu!” Salah satu dari mereka menuding Sungsang Geni sebagai biang keroknya. “Jika bukan kau yang memancing keributan di Markas ini, mana mungkin Pendekar Pemabuk kehilangan akalnya.”


Sungsang Geni membalas tudingan itu dengan tawa kecil. “Kalian benar-benar bodoh, apa kalian tidak lihat!” Sungsang Geni menyapukan pandangan ke setiap sisi Markas ini. “Pendekar Pemabuk hanya menyerang pendekar yang berasal dari sekutu Kelelawar Iblis, alias Prajurit Negri Sembilan. Dia tidak menyerang prajurit yang memang benar-benar berasal dari Kelompoknya, kalian tahu kenapa?”


“Kenapa?”


“Ya kenapa?”


Sungsang Geni tersenyum kecil sebelum dua larik cahaya melesat ke arahnya. “ Karena bagai Kelompok Kelelawar Iblis, sekutu tidak lebih sebuah alat, akan di buang jika tujuan mereka berhasil.”


Baru setelah perkataan itu keluar dari mulutnya, pemuda matahari itu melompat terbang dan hinggap di atas atap Markas. Tidak ada lagi tenaga dalam yang tersisa, jadi sejak dia menggunakan ilmu meringankan tubuh, maka energi alam yang telah digunakannya.

__ADS_1


Pedang energi menyala di tangan kanan pemuda itu. Dia terbang cepat dan berhasil melepaskan tebasan kuat di tubuh Pendekar Pemabuk.


Tapi meski dia sudah melakukan hal itu sebanyak tiga kali, tubuh orang tua itu tidak terluka sedikitpun. Bahkan baju yang di kenakannya tidak koyak.


Tebasan Sungsang Geni harusnya bisa membelah batu karang sebesar bangunan beton bertingkat, tapi terasa lemah di hadapan Pendekar Pemabuk saat ini.


Sungsang Geni terbang lagi lalu melemparkan pedang energi tepat di bagian batok kepala. Pada saat bersamaan, dia menciptakan pedang lain dan menebas pada bagian lehernya lawannya.


Tapi kemudian ledakan energi dari tubuh Pendekar Pemabuk mementalkan pedang dan tubuh Sungsang Geni hingga puluhan meter. Pemuda itu menghantam atap Markas Utama hingga terus melaju sampai lantai bawah bangunan.


Baru pula matanya mendelik, tangannya meraba bahunya yang terasa keram -dua larik cahya sudah datang menghantam tubuh pemuda itu. Ledakan terdengar memekakkan, markas yang berlubang akibat dihantam tubuh Sungsang Geni sekarang makin besar saja lubangnya karena serangan pendekar pemabuk.


Bumi kala itu berguncang hebat, seperti gempa yang berkepanjangan. Orang-orang yang berada didalam markas berhamburan keluar menyelamatkan diri. Tidak akan butuh waktu lama, markas itu bisa saja rata dengan tanah.


Tapi setelah keluar dari dalam markas, kilatan energi masih pula menyambar-nyambar. Yang bukan merupakan anggota Kelelawar Iblis tidak terkena dampak serangan, tapi bagi prajurit Negri Sembilan malah sebaliknya, serangan itu menyambar tubuh mereka.


Sontak saja, gerbang Markas Utama terbuka lebar. 10 ribu orang yang berada di luar Markas menjadi khawatir melihat pendekar-pendekar hebat yang menghuni Markas utama berhambur keluar dari pintu gerbang.


Beberapa waktu tadi, 10 ribu prajurit memang mendengar terjadi pertarungan di dalam Markas Utama, dibalik tembok beton. Mereka mengira itu hanyalah tarung tanding antar pendekar-pendekar saja, sebagai bentuk latihan yang rutin mereka lakukan.


Namun setelah melihat langit berubah warna menjadi gelap gulita, siang terang benderang tiba-tiba seperti malam, saat itulah 10 ribu prajurit yang terdiri dari Prajurit Negri Sembilan dan Kelelawar Iblis menjadi panik.


“Lari-lari!” Teriak pendekar-pendekar yang berhasil keluar dari dalam tembok markas. “Pendekar Pemabuk kesatanan, dia sudah jadi mahluk mengerikan. Lari!”


Sekonyong-konyongnya 10 ribu prajurit menjadi linglung bak orang bingung. Penjaga tembok kayu terpaksa membuka gerbang.


“Bantu dia membuka gerbang!” Salah satu dari pendekar tua yang memiliki kemampuan di atas rata-rata memberi perintah. “Bisa-bisa mati konyol kita didalam tembok ini.”

__ADS_1


“Apa yang terjadi?”


“Apa yang terjadi embahmu? Kau tidak lihat langit menjadi gelap, hari menjadi malam. Iblis yang ada didalam tubuh Pendekar Pemabuk menggantung di langit, menyerang semua orang yang berbeda denang dirinya,” ketus pendekar itu tidak sabaran.


"Berbeda bagaimana?"


"Susuk...susuk itu sebagai pembedanya." Orang tua itu tidak berkata dengan benar.


Belum pula gerbang terbuka seutuhnya, dia beserta ratusan pendekar yang telah menyaksikan Pendekar Pemabuk berlari tunggang langgang menjauh dari wilayah Markas.


Mendapati para petinggi Markas Utama bersikap demikian, ribuan prajurit yang lainnya memilih untuk pergi pula dari sana.


Sekarang gerbang tembok kayu penuh sesak oleh prajurit yang berniat keluar. Tidak butuh waktu lama, gerbang itu rubuh lalu menimpa ratusan prajurit di sisi sebelahnya.


Teriakan kesakitan terdengar seirama ledakan di dalam tembok Markas utama. Sungsang Geni sudah tidak terlihat lagi gelagat bayangannya, pemuda itu mungkin sudah mati hancur lebur bersama dengan runtuhnya markas.


Beberapa menit kemudian, Pendekar Pemabuk menghentikan serangan brutalnya. Pandangannya tertuju pada reruntuhan markas. Cukup lama dia memperhatikan, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam reruntuhan.


“Ahggkkkk...” Pendekar Pemabuk menggeram, tidak itu bukan geraman tapi suara nafasya yang mirip seperti suara sapi ketika disembelih. “Mati juga rupanya, HAHHA. Itulah akibatnya jika kau berani menentang kegelapan.”


Tapi kemudian mata hitam Pendekar Pemabuk mendelik, ada gerakan kecil terjadi pada reruntuhan Markas. Mula-mula hanya satu kerikil yang bergerak, kemudian 10 kerikil, lama-lama reruntuhan batu bergetar hebat dan terlempar di udara.


“Kau belum mati rupanya?” Pendekar Pemabuk berwajah kesal.


Sungsang Geni bernapas kembang kempis, serangan tadi telah menghancurkan seluruh pakaiannya. Sekarang yang tertinggal di tubuh pemuda itu hanya celana yang dipenuhi koyakan di beberapa bagian.


Tubuh pemuda itu penuh dengan darah, tapi sebuah keajaiban dia masih bisa bertahan hidup setelah mendapatkan serangan mematikan.

__ADS_1


__ADS_2