
9 hari setelah mereka melakukan perjalanan, akhirnya mereka tiba diatas bukit yang menghadap sebuah tempat yang sangat luas. Itu adalah Markas Cabang, yang diberi nama Petarangan.
Tempat itu sudah sangat bagus dan besar, tembok berdiri kokoh berbahan beton berwarna keputihan. Tersusun dari ratusan batu balok.
Mereka seperti akan memasuki sebuah kota yang megah. Banyak orang berlalu lalang di dalam tembok itu, bahkan Sungsang Geni bisa melihat ada sebuah pasar tradisional yang berdiri di tempat itu.
“Kalian bisa lihat bukan? Kami menciptakan peradaban baru di sini.” Tawanan tadi berkata dengan bangga. “Ada 2500 prajurit di dalam tembok itu, menjadi penjaga dan melindungi rakyat yang patuh terhadap kami.”
“Jadi ada 2500 prajurit?” Sungsang Geni bertanya sambil mengelus dagunya.
“Benar, kalian tidak akan bisa menguasai tempat itu, percumah saja dan sangat mustahil.” Orang itu mengangkat lengannya yang dirantai, kemudian menggoyangkan hingga berbunyi berdenting. “Jika kalian tidak menyerah, rantai ini akan terpasang di lengan kalian.”
“Kau lihat saja nanti.” Mahesa berkata ketus.
“Ada ratusan budak berada di dalam tembok itu, jika kalian melakukan sedikit kesalahan para budak akan mati.” Orang itu kembali menggertak. “Tidak ada cara kalian bisa mengalahkan kami, kecuali jika kau ingin semua budak mati.”
Plak, Mahesa mendaratkan pukulan tepat di leher pria itu dengan wajah kesal hingga orang itu tidak sadarkan diri. “Omong Besar, lebih baik kau diam saja.”
Sungsang Geni akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di dalam hutan untuk sementara waktu sambil mempelajari situasinya. Dari hutan ini butuh waktu 2 hari untuk tiba di Markas Petarangan.
Mereka bermalam di tepi sungai dangkal yang mengalir deras. Setidaknya untuk beberapa hari kedepan mereka tidak akan melakukan penyerangan, tapi sebagai gantinya Sungsang Geni akan menyelinap ke dalam markas.
Dua hari di dalam persembunyian, Sungsang Geni memutuskan untuk pergi menyelinap.
“Geni apa kau yakin akan pergi sendirian?” tanya Mahesa, pria itu terlihat sangat gusar membiarkan temannya pergi seorang diri. “Jika kau tidak keberatan, aku akan menemani....”
“Tidak teman, kau harus berada di sini menjaga mereka.” Sungsang Geni kemudian tersenyum kecil sambil menepuk pundak Mahesa. “Aku akan menjaga diri dengan sebaik mungkin.”
Sementara itu, Empu Pelak mulai membuka gambaran cetak biru dari kereta iblis yang akan dia buat. Rencananya, dia akan membuat 10 hingga 15 kereta iblis, pada situasi yang sulit nanti mungkin mereka akan membumi hanguskan tempat itu beserta seluruh penghuninya.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu berlalu, Sungsang Geni tiba di depan pintu gerbang Markas Petarangan yang di jaga hampir dua lusin prajurit Kelelawar Iblis berpakaian lengkap.
Sungsang Geni tidak berniat mendekati mereka, jadi dia masih bersembunyi di balik pohon-pohon besar yang berjarak 100 meter dari pintu masuk.
Pemuda itu kemudian berjalan sedikit ke utara, mengelilingi markas itu. Tawanan yang dimilikinya mengatakan bagian utara markas tidak terlalu dijaga ketat, karena di bagian itu ada sebuah jurang dalam yang membentang. Tidak mungkin ada pasukan yang berani menyerang melewati jurang itu.
Setelah beberapa menit, akhirnya pemuda itu berhasil memasuki markas itu. benar-benar markas yang sangat besar, pikir pemuda itu.
“Ini persis sebuah kota, semua ada ditempat ini. Kehidupan di sini terlihat normal-normal saja.” Sungsang Geni kemudian berjalan seperti keadaan orang di dalam markas.
Dia melewati gang-gang kecil diantara bangunan yang berjejer rapi. Bahkan di tempat itu, Sungsang Geni bisa melihat ada puluhan anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran, atau juga merengek kepada ibunya untuk meminta makanan.
Namun tiba-tiba pemuda itu dikejutkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya. “Hei kau, apa kau rakyat jelata atau prajurit?” Rupanya seorang prajurit yang mengenakan pakaian perang, dengan golok tersandang di pinggangnya.
Sungsang Geni menaikkan alisnya, tidak begitu paham dengan pertanyaan orang itu, tapi dia kemudian menyodorkan sebuah lencana yang dia ambil dari laci meja di markas kecil.
Melihat lencana miliknya, orang itu terkejut bukan kepalang kemudian memberi hormat beberapa kali. “Kenapa tidak bilang bahwa kau ternyata prajurit emas? Ah ma'afkan aku, aku sungguh lancang kepadamu.”
Pria itu bertumbuh jangkung, berhidung mancung dan rambut lurus yang kering. Matanya sedikit jendul, dan telinga yang lebar. Di telinga itu ada anting-anting yang panjang sekali, nyaris ujung anting mengenai pundaknya.
Namun Sungsang Geni bahkan tidak bisa merasakan tenaga dalam dan aura membunuh di dalam diri pria itu.
“Tunggu, apa kau akan memecatku?” dia kembali berkata. “Aku mohon jangan lakukan itu, aku baru saja ditugaskan di tempat ini, jadi belum mengenal para prajurit emas.”
Sungsang Geni kembali menaikkan alisnya, sungguh mengejutkan sekali perkataan pria itu.
Sungsang Geni kemudian memperhatikan beberapa kedai makanan yang berdiri di dekat mereka. “Bagaimana jika kau mentraktir makan, dan aku anggap kau tidak mempunyai masalah denganku.”
"Aku setuju."
__ADS_1
Setelah beberapa waktu berlalu, Sungsang Geni tiba di sebuah rumah makan yang sangat ramai dan penuh sesak dengan prajurit dan beberapa orang. Harus antri satu jam lamanya, agar mereka mendapat pelayanan. Membuat pemuda itu kesal bukan kepalang.
“Bibi, aku pesan makanan yang paling enak ditempat ini.” pria itu berkata, kemudian menyodorkan beberapa koin perak dari saku bajunya. “Aku akan memilih meja di sana, jangan terlalu lama karena temanku sudah menunggu.”
Sungsang Geni menghempaskan bokongnnya di kursi panjang di ujung ruangan itu. dia duduk paling sudut, sementara itu ada hampir 30 orang berada di ruangan yang sama, belum lagi lantai atas yang terlihat lebih ramai lagi pengunjungnya.
“Anu, jika boleh aku tahu, siapa namamu?” pria itu berkata sedikit sungkan.
“Jaka Geni.” Sungsang Geni menjawab datar.
“Jaka Geni, nama yang aneh, anu maksudku nama yang menarik, ya aku tidak bermaksud,,,hem.”
“Menyinggunku, “ Sungsang Geni memotong perkataan pria itu saking jengkelnya.
“Benar,” ucap pria itu masih gagap, hingga akhirnya ada seorang pelayan yang mengantarkan makanan. “Kenapa makanannya hanya segini, padahal aku memesan yang mewah?”
“Jika kau mau makanan mewah, beri aku 2 keping emas!” Wanita itu membuka telapak tangannya, meminta kembali uang. “Tidak punya? Kalau begitu nikmati saja menu makanan yang ada.”
Sungsang Geni nyaris tertawa terbahak-bahak mendapati raut wajah pria di depannya, begitu merah sambil tertunduk malu. “Begini saja, bawakan arak dan daging untuk temanku ini.” Sungsang Geni memberikan 3 koin emas.
Mendapat koin emas itu, wajah pelayan seketika menjadi sumringang. Dia buru-buru kembali ke meja pelayan, kemudian meminta beberapa pelayan lain untuk membantunya.
“Sudahlah, untuk kali ini aku akan mentraktirmu.” Sungsang Geni berujar, sebelum pria di depannya membuka suara.
Tapi 5 menit kemudian, tiba-tiba tempat itu kedatangan beberapa orang yang memiliki pakaian yang lebih bagus dari para prajurit. Salah satu diantara orang itu adalah gadis muda, yang mungkin berusia 20 tahunan mengenakan pakaian yang serba putih dan menjinjing pedang.
Wajah gadis itu sangat cantik, semua orang di tempat ini membuka mulut karena terpana akan kecantikannya.
“Nona, Wulandari!” Semua pelayan memberi hormat. “Meja anda sudah kami siapkan di lantai tiga.”
__ADS_1
yuk kasih vote untuk PDM, siapa tahu bisa masuk dua puluh besar.