
Sungsang Geni meragukan rencana yang dikemukakan Pramudhita, tentu saja. Pemuda itu bukan meragukan niat baik Kerajaan Laut Dalam, tapi dia meragukan keselamatan keluarga mertua Pramudhita tersebut.
“Tidak usah banyak pikiran dasar, pemuda tengik!” Pramudhita berujar kesal. “Sekarang pancing dua iblis ini ke sana, aku sudah menyiapkan pasukan untuk menyambut mereka.”
Sungsang Geni tersenyum kecil, Pramudhita tampaknya sangat yakin dengan rencananya. Jadi dia segera memberi satu tebasan kuat kepada pria banci di depannya.
“Sudah kubilang percuma saja kau melakukan hal ini!” Suara Geram dari Jaka Balabala menaikkan bulu kuduk bagi siapapun yang mendengarnya. Serangan Sungsang Geni barusan segera di halau dengan kipas besar miliknya.
Mendapatkan hal itu, Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, melirik ke arah belakang tubuh Jaka Balabala dimana ada sosok lain yang terbang cepat menikam pria itu. Satu tusukan berhasil melukai pundak pria banci.
“Bagaimana mungkin?” Jaka Balabala mencengkram pedang energi yang tertancap di pundaknya, wajahnya terkejut setelah melihat ada seorang lagi yang berparas mirip dengan Sungsang Geni. “Bayangan?”
“Ya, hanya bayangan.” Sungsang Geni tersenyum kecil, dan tingkah pemuda itu berhasil menyulut api kemarahan Jaka Balabala.
Disaat yang sama, semua orang yang sibuk bertarung dengan Wakil Komandan juga menghentikan sesaat pertarungan mereka. Melihat ada dua Sungsang Geni adalah hal yang sangat mustahil.
Ki Alam Sakti berpikir keras, seingatnya dia tidak pernah memiliki ilmu semacam itu sebelumnya, jadi dia yakin ada guru lain yang mengajarkan ilmu itu kepada Sungsang Geni. Seseorang yang pasti sangat kuat.
Ki Lodro Sukmo sekali lagi menelan ludahnya, senyum pahit segera menghiasi wajahnya yang keriput. 'Untuk saja aku tidak sempat bertarung melawan pemuda itu, atau bisa mati bonyok aku dibuatnya.'
Nyai Siwang Sari segera ambil tindakan, dia melepaskan pukulan selendang miliknya dan berhasil melenyapkan bayangan pemuda matahari itu, ya meski dia butuh 3 sabetan selendang untuk melakukannya.
Terlihat dua orang itu benar-benar marah. Mengerikan, semakin mereka marah, semakin pula wajah mereka terlihat seperti iblis sungguhan.
“Ini adalah saatnya!” Pramudhita memberi peringatan.
__ADS_1
Sebelum kipas besar menyerang dia kembali, Sungsang Geni segera pergi ke arah pesisir pantai dengan meninggalkan tawa ejekan.
“Kurang ajar, setelah apa yang kau lakukan, kau pikir bisa pergi begitu saja!” Nyai Siwang Sari bergegas mengejar pemuda matahari itu.
Jaka Balabala yang tersulut api emosi tidak akan membiarkan musuhnya pergi setelah memberikan luka di bahu kirinya. Menyeringai sesaat, menunjukkan gigi taring nan tajam dan hitam, pria iblis itu terbang menyusul Sungsang Geni.
“GENI!” Cempaka Ayu berteriak, gadis itu berniat menyusul tapi dihadang oleh wanita berwajah angker.
“Gadis cantik, kenapa kau tidak bertarung melawan diriku saja?” Wanita itu berujar.
Tiada yang menarik dari wanita itu, berambut keriting tiada di urus mata kecil dengan alis putih. Di dalam mulutnya hanya tertinggal 3 buah gigi lagi, alias ompong. Wanita itu sudah sangat tua, baiknya pensiun dari dunia hitam dan kembali ke jalan yang benar, tapi itu tidak mungkin. Sekali kau masuk ke dalam angggota Kelelawar Iblis, selamanya kau akan terjerat di dalam kegelapan.
“Perkenalkan, namaku adalah Lili Suri. Kiranya kau berkenan mengingat nama itu sebelum ajal menjemput.” Wanita itu tertawa tapi tiada suara yang terdengar dari dalam mulutnya kecuali mirip seperti suara entok jantan.
“Nenek peot, siapa yang mau mati dan siapa pula yang berniat mengenal namamu?” Cempaka Ayu geram bukan kepalang, dia melirik Sungsang Geni yang sudah hilang di gelap malam kemudian menatap Lili Suri dengan tajam. “Aku kirim kau ke neraka jahanam!”
Cempaka Ayu tidak menunggu lama, senjata mirip bulan sabit berputar di angkasa bersama dengan tubuhnya yang terangkat beberapa depa. Terjadi pertarungan sengit antara dua wanita itu. Lili Suri rupanya memiliki sebuah senjata yang cukup unik, sebuah tongkat dari kayu dimana kepalanya berbentuk seperti tengkorak.
Hanya dalam beberapa menit saja, telah terjadi pertukaran puluhan serangan antara mereka berdua. Tongkat milik Lili Suri terkadang melayang di udara, menyerang Cempaka Ayu kemudian kembali lagi ke tangan wanita tua itu.
Untuk beberapa saat Cempaka Ayu terpaksa berada pada posisi bertahan, sehingga dia membuat pertahanan, menyelimuti tubuhnya dengan energi berbentuk gelembung. Senjata berbentuk bulan sabit pecah, menjadi 15 jepitan rambut yang berputar-putar mengelilingi gadis itu.
Rupanya dalam keadaan seperti ini, Cempaka Ayu bisa melakukan serangan sambil bertahan. Ketika tongkat milik Lili Suri melayang ke arahnya, 5 jepit rambut miliknya menghadang dan 5 lagi menyerang.
Ukuran jepit ramput yang kecil, tidak bisa dilihat dengan jelas di gelap malam membuat serangan Cempaka Ayu lebih efektif dari sebelumnya.
__ADS_1
Dua tiga kali Cempaka Ayu melakukan serangan, membuat posisi Lili Suri saat ini menjadi bertahan.
“Gadis cantik, kau memiliki tenaga dalam yang lumayan besar...” Lili Suri tersenyum pahit, dia menghela darah menetes dari keningnya yang terluka.
“Apa pedulimu dasar nenek berhati iblis?” Cempaka Ayu menjentikkan telunjuknya, membuat semua jepit rambut dari batu bintang kemulung bergabung membentuk anak panah. “Aku bisa mengendalikan semua benda dengan kekuatanku, termasuk menciptakan senjata dari benda-benda di tempat ini.”
“Menakutkan sekali.” Lili Suri tersenyum kecil, tapi senyum itu segera sirna setelah melihat ada banyak sekali puing-puing, batu-batu serta beberapa senjata tajam melayang ke arah dirinya.
Baru saja dia menghindari satu serangan, ada lagi serangan lain. Lili Suri menjadi sedikit kesulitan. Cempaka Ayu tersenyum kecil, dia sekekali menyelipkan jepit rambut bermotif bunga pada beberapa benda.
“AHK!” Lili Suri terpental puluhan meter, dia baru saja terkena satu jepit rambut Cempaka Ayu, meledakkan tubuhnya dan mengeluarkan gelombang kuat.
Lili Suri terseok untuk beberapa saat, lantas berdiri dengan buru-buru. Dia menghentakan kaki kanannya ke tanah, membuat tubuhnya melayang di udara. Kemudian dari mulut tengkorak tongkatnya, keluar dua larik cahaya berwarna merah darah.
Cempaka Ayu mengangkat semua senjata yang berhamburan di sekitaranya, menciptakan sebuah tameng pelindung. Gelegar ledakan terdengar setelah serangan Lili Suri menghancurkan tameng Cempaka Ayu.
Ketika ledakan itu, momentum serangan Lili Suri masih berlanjut dan hampir saja mengenai tubuh gadis.
Cempaka Ayu bernasib baik, dia berhasil berputar dua kali sehingga serangan itu hanya melewati satu jari dari wajah cantiknya.
“Wanita iblis kurang ajar!”
Lili Suri tertawa, tapi tetap saja suaranya terdengar seperti Entok Jantan. Kemudian dari kerlitan matanya yang tajam, keluar lagi satu larik cahaya menuju ke arah Cempaka Ayu.
Kali ini gadis itu tidak sempat menghindar, entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa mati untuk beberapa saat. Dia bisa melihat dengan jelas cahaya itu datang begitu cepat menuju dirinya.
__ADS_1
“Aku akan mati...” Cempaka Ayu tanpa sadar bergumam kecil. “Geni, apa yang harus aku lakukan?”
Di sisi lain, semua pendekar yang melihat gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya, tapi tidak ada yang sempat. Sehingga dua detik setelah serangan itu mengenai kepala Cempaka Ayu, suara letupan terjadi. Menciptakan asap putih yang membumbung.