PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni Vs Pendekar Pemabuk 5


__ADS_3

Baru saja Sungsang Geni merasakan seperti di hantam dengan pukulan energi sebesar 12 jule, paling rendah mungkin 10 jule. Energi kegelapan yang benar-benar mengerikan.


Pemuda itu masih sempat memadatkan energi alam di bagian dadanya ketika serangan terjadi. 5 jule energi alam miliknya bukan tandingan menghadapi serangan kuat miliki Pendekar Pemabuk.


Pemuda itu berusaha bangkit, seluruh tubuhnya terasa sakit. Bahkan dari ujung matanya mengalir darah. Tangannya masih bergetar, kakinya terasa lunglai dan pandangannya kabur.


Butuh beberapa saat, akhirnya dia bisa menguasai kembali tubuhnya. Dipandanginya Pendekar Pemabuk yang tergantung di bawah langit gelap. Orang tua itu balik memandangi dirinya dengan mata hitam yang tajam.


Sungsang Geni kembali mengeluarkan pedang energi dari lengan kanannya, tapi sialnya pedang energi tidak seterang sebelumnya. Pedar cahaya terlihat redup.


“Energi api di lenganku sudah mulai habis,” Pemuda itu bergumam kecil. “Sang Surya tertutup awan hitam, kebatilan menutupi dunia. Apa yang harus kulakukan?”


Energi alam yang ada di dalam tubuhnya tersisa sekitar 2 jule lagi saat ini, jika Pendekar Pemabuk melakukan serangan brutal seperti tadi, nyawanya tidak akan selamat.


Sungsang Geni berusaha memutar otaknya mencari cara untuk bisa bertahan hidup atau mengalahkan Pendekar Pemabuk alias kakek Segala Tahu.


Jika dia bisa memfokuskan energi alam untuk menciptakan sayap tak kasat mata, mungkin dia bisa melarikan diri dari tempat ini, pikir pemuda itu.


Tapi nurani hatinya tidak berkata demikian, Sungsang Geni merasa enggan untuk melarikan diri bagai pecundang. Meski nampaknya jika dia bertarung sekali lagi, maka kematian menjadi jaminan untuknya.


Sungsang Geni menghela napas berat, dia menyeka darah yang keluar dari mulut hidung dan matanya. Pegangan pedang di eratkan.


Dengan segenap kemampuan yang ada, Sungsang Geni melakukan serangan kembali. Dia terbang keatas, lebih tinggi dari Pendekar Pemabuk, kemudian segera melakukan jurus Murka Naga Bayangan.


Seketika seekor Naga meliuk dari dalam pedangnnya, bertaring tajam dan mata merah menyala.


Satu menit kemudian, Naga Bayangan beradu dengan tubuh Pendekar Pemabuk. Pak tua itu menahan taring naga bayangan hanya dengan satu tangan kanannya dan masih tidak bergeming.

__ADS_1


Sungsang Geni sudah mengerahkan segala energi alam yang tersisa di dalam tubuh, tapi rupanya tidak cukup kuat untuk mematahkan 'hanya' satu jari Pendekar Pemabuk.


“AHKKK!” Sungsang Geni terpekik, bersamaan dengan itu Nega Bayangan meledak menjadi butiran-butiran energi, seperti kunang-kunang. Sungsang Geni terpental hampir 100 meter di udara, kemudian menyasar di tembok kayu.


Ratusan pasang mata yang tertinggal di dalam tembok kayu mendapati tubuh pemuda itu tidak bergerak. Tapi mereka tidak ada yang berani mendekatinya, tidak setelah melihat Pendekar Pemabuk melayang ke arah mereka.


“Sialan, iblis itu datang ke sini.” Orang-orang menjadi khawatir.


“Cepat, kita harus pergi, atau nyawa akan melayang!”


Sontak saja ratusan orang itu berdesak-desakan menjauhi Sungsang Geni. Beberapa orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh -tidak terlalu hebat- memilih memanjat tembok dan terjun bebas setelahnya.


Pendekar Pemabuk berada tepat di dekat tubuh Sungsang Geni, tapi tidak memijak tanah. Kemudian tangannya yang berkuku tajam menarik leher pemuda itu hingga terangkat dan sejajar dengan dirinya.


Mata hitam dingin menatap tajam wajah pemuda matahari yang terpejam, tampak tidak sadarkan diri mungkin sudah mati pula, pikir beberapa orang yang menyaksikannya.


“Dia masih hidup!” Pendekar Pemabuk bergumam, lantas melihat telapak tangannya yang tiba-tiba mendapatkan luka bakar. “Kau, kunyuk jahanam kekuatan apa yang kau miliki sebenarnya.”


Entah kenapa tiba-tiba bumi bergoncang pelan, angin bertiup sangat kencang seakan menyibakan tirai hitam yang menutupi matahari. Beberapa bangunan kehilangan atapnya akibat angin itu.


Lima menit hal itu terjadi, hingga akhirnya kembali hening. Pendekar Pemabuk memperhatikan langit, awan tebal yang menutupi matahari perlahan-lahan ada yang mengikis.


Satu larik cahaya sang surya berhasil menembus gelapnya awan hitam, terus menerobos dan jatuh tepat di lengan kanan Sungsang Geni. Bukan hanya itu, tiba-tiba pula angin berputar bergulung-gulung di sekitar dada pemuda itu, lalu bumi kembali beguncang seperti gempa.


Tanah menjadi rengkah, dari sana keluar air yang merayap menyelimuti Sungsang Geni.


Pendekar Pemabuk tidak berkutik untuk beberapa saat, memperhatikan kejadian aneh yang ada di depan matanya. Tidak pula terlintas di dalam benak pak tua itu untuk menyerang Sungsang Geni.

__ADS_1


Air itu rupanya menyembuhkan luka yang ada di sekujur tubuh Sungsang Geni. Setelah luka menghilang, air kembali lagi ke dalam tanah melewati rengkahan yang menganga.


Di sisi lain, lengan kanan Sungsang Geni memancarkan sinar terang berwarna emas. Menyilaukan mata hitam dingin Pendekar Pemabuk, saking silaunya pak tua itu menutupi wajahnya dengan 10 jari.


Beberapa saat kemudian, Sungsang Geni terbatuk dua kali bersamaan dengan itu gempa bumi berhenti, sinar matahari kembali tertutup awan tebal dan angin yang berputar kecil di tengah dadanya lenyap sudah.


Butuh beberapa waktu bagi pemuda itu agar bisa menyadari tubuhnya sudah pulih seutuhnya. Bahkan saat ini, pedang energi berwarna emas bermotif hijau putih sudah terpegang erat di telapak tangannya.


“Ini adalah energi alam?” Sungsang Geni merasakan perputaran energi dalam tubuhnya begitu tenang dan tak terhingga.


“Apa yang terjadi denganmu Kunyuk Jahanam?” Pendekar Pemabuk bertanya setengah heran kepada Sungsang Geni, dia sekarang menjadi sedikit lebih waspada.


“Mungkin alam meminjamkan sedikit kekuatannya.” Sungsang Geni tersenyum kecil.


Setelah mengatakan hal demikian, Sungsang Geni melesat cepat dengan pedang terhunus. Pedang energi miliknya bertemu dengan telapak tangan Pendekar Pemabuk. Awalnya telapak tangan itu bisa menghentikan Murka Naga Bayangan, tapi kali ini telapak tangan itu bergetar hebat setelah beradu dengan pedang.


belum berhenti di situ, Sungsang Geni mendaratkan tendangan vertikal dan mengenai dagu Pendekar Pemabuk. Tubuh orang tua itu melayang keatas dengan kepala terdongak. Dari bawah Sungsang Geni melepaskan teknik pedang emas.


Sekelebat pedang energi terbang cepat menuju Pendekar Pemabuk, dan berhasil melukai bagian kaki kirinya, kemudian kaki kanannya.


Pak tua itu meringis kesakitan, pada saat serangan pedang emas hampir saja menancap di lehernya. Dari tubuh orang tua itu keluar kilatan ungu, dia segera menyambar pedang energi dan meremasnya jadi serpihan.


“Serangan seperti ini tidak bisa membunuhku.” Pak tua itu menyumpah panjang pendek, hingga ucapannya tiba-tiba berhenti setelah kelebatan mahluk melewati dirinya.


“Tarian Dewa Angin, Neraka Penyucian.” Sungsang Geni hinggap di tiang markas yang masih berdiri, memandangi Pendekar Pemabuk yang berteriak keras bak halilintar.


Tepat dibawah sana, lengan kanan pak tua itu tergeletak bersimbah darah. Teknik Pedang Awan Berarak rupanya berhasil menanggalkan lengan kuat itu.

__ADS_1


Selagi menunggu capter selanjutnya, bagi teman-teman yang suka baca novel fantasi romantis. Bisa dicoba novel yang berjudul Permaisuri Modern, karya Sisca Nasty, dijamin seru dan bikin baper.


__ADS_2