
Sungsang Geni menerima serangan dari Reratap, meski tidak begitu menyulitkan tapi satu dua serangan Reratap cukup merepotkan.
Reratap melakukan gerakan sangat gemulai, sangat sulit untuk ditebak apa yang akan dilakukannya. Dia sedari tadi tidak menyentuh tanah, entah karena jumlah tenaga dalamnya yang sangat besar, atau ada teknik lain, tapi ilmu meringankan tubuhnya membuat Sungsang Geni berdecak kagum.
Mereka telah bertukar ratusan jurus, tapi belum terlihat tanda-tanda dari kedua belah pihak akan kalah. Sungsang Geni beberapa kali menebaskan pedangnya, tapi gerakan Reratap membuat dirinya kesulitan mengenai sasaran.
Bagi beberapa orang yang melihat pertarungan mereka, memikirkan hal yang sama, kagum dengan kecepatan mereka berdua. Hal ini membuat Rerintih kesal, biasanya tidak butuh waktu lama bagi kakaknya untuk memenggal lawannya, tapi Sungsang Geni bukan lawan semudah pikirannya.
“Dari mana asalmu anak muda?” Tanya Reratap, diselah-selah jedah pertarungannya.
“Kenapa aku harus menjawabnya?” ucap Sungsang Geni, kemudian segera melancarkan serangan dengan teknik yang lebih tinggi lagi.
Reratap sangat terkejut, dia berhasil di pojokan Sungsang Geni. Gerakannya menjadi kaku, dan untuk pertama kalinya dia terpaksa memijak tanah untuk menghindari tebasan Sungsang Geni, tapi nahasnya dia harus menerima tendangan keras dibagian kepalanya.
Topi jalinan rotan terpental dari kepalanya, dan cadar yang selalu menutupi wajahnya terbuka, menampakan pemandangan yang belum pernah orang-orang lihat.
Reratap ternyata tidak memiliki bibir dibagian atasanya, memperlihatkan gigi-giginya. Perbuatan Sungsang Geni membuat dirinya sangat malu. Orang-orang yang melihatnya, sekarang terdengar mencibir, tidak sedikit dari bawahannya sendiri.
“Lihatlah! Aku pikir Senopati Reratap sangat cantik, kerena bola matanya memang indah, tapi tak kusangka mulutnya mengerikan.”
Terdengar labih banyak lagi yang mengguncing masalah itu, dan mereka yakin wajah Rerintih tak jauh berbeda dengan kakaknya.
Sungsang Geni merasakan aura membunuh Reratap semakin besar, dan semua aura itu tertuju pada dirinya. Namun nampaknya, Reratap masih menahan serangannya, sebab perkataan orang-orang disekitarnya membuat dia muak, sekaligus malu. Dia berusaha meraih sesuatu untuk menutupi wajahnya.
“Apa yang kalian katakan kepada kakaku?” ucap Rerintih, “Aku akan menghabisi kalian semua, sialan.”
Rerintih mengayunkan rantainya, seketika belasan prajurit disekitarnya meregang nyawa tanpa sempat melawan. Jurus yang dikeluarkan Rerintih, bernama tarian ular sendok, memang sangat ditakuti oleh banyak orang di kerajaan Tombok Tebing.
__ADS_1
“Mati...mati...matilah kalian semua!” Rerintih terus saja membunuh semua orang disekitarnya tanpa pandang bulu, tapi kebanyakan dari prajuritnya sendiri.
“Kakak,” dia berkata, “Aku akan membunuh pemuda yang telah berani membuat rahasiamu diketahui orang!”
Setelah berkata demikian, serangan rantai Rerintih berbelok arah dan mulai menyerang Sungsang Geni.
Emosi tidak setabil, gerakan buru-buru, semua serangan Rerintih sangat mudah di hindari oleh Sungsang Geni. Sekekali pemuda itu, menangkis serangan Rerintih dengan pedangnnya, membuat laju sasarannya tidak beraturan.
Rerintih menggerakan rantai itu dengan tenaga dalamnya, tentu saja dengan jumlah yang besar. Pada dasarnya dia tidak memiliki kemampuan bela diri, berbeda dengan Kakaknya, Reratap yang memiliki teknik bertarung cukup mumpuni.
Oleh karena itu, pikirannya yang kalut membuat aliran tenaga dalamnya tidak teratur, berimbas pada serangan yang lemah dan benyak celah.
Mendapati lawannya tidak bergeming, Rerintih tanpa pikir panjang mengalirkan tenaga dalamnya dengan jumlah besar, lalu menyerang Sungsang Geni tanpa rencana.
Mendapat serangan semacam itu, Sungsang Geni hanya menghindar sambil mengelilingi puing-puing bangunan warga.
“Pengecut!” teriak Rerintih.
“Tidak mungkin?” Rerintih terkejut, mendapati rantainya telah melilit dibeberapa bangunan, dan mengikuti gerakan Sungsang Geni yang berpola zikzak, dan menjadi kusut. Sekarang tidak ada gulungan lagi rantai ditubuhnya, sedangkan Sungsang Geni sudah sangat dekat.
Menarik kembali rantai yang terlanjur dikeluarkan semua, membutuhkan cukup waktu. “Kakak, ma’afkan aku.” Dia berkata, kemudian memejamkan matanya, menerima serangan Sungsang Geni.
Rerintih tergeletak ditanah, membuat pasukan Tombok Tebing tidak dapat menutup mulut saking terkejutnya. Cadarnya tersibak, menampakan wajah yang berbeda dengan kakaknya, wajahnya begitu cantik dan tidak ada luka dibibirnya seperti yang diduga semua orang.
“Dia belum mati!” ucap Sungsang Geni, seraya berjalan mendekati Reratap yang terpaku memandangi tubuh adiknya. “Alasanku membiarkannya hidup ialah, karena begitu berharganya dirimu untuknya, sampai-sampai meniru semua tampilanmu.”
Reratap menatap Sungsang Geni dengan tajam, matanya menunjukan kebencian dan setiap detik kemarahannya semakin bertambah.
__ADS_1
Semenjak kemunculan Reratap dan Rerintih, meski sama-sama memiliki aura membunuh yang pekat, tapi ada perbedaan antara kedua beradik ini. Itulah yang dipikirkan Sungsang Geni.
Sungsang Geni tidak begitu mengerti detilnya, tapi beberapa kali dia seakan bisa membaca pikiran kedua orang tersebut. Dari sana pula, dia bisa menemukan bahwa Rerintih sama sekali tidak memiliki niat menjadi petarung, dia lebih senang sebagai gadis desa biasa. Tapi kecintaannya kepada Reratap, terpaksa membuat dirinya mengikuti jalan Kakanya itu.
“Kau telah mempermalukanku!” ucap Reratap, “Aku akan membunuhmu,”
“Kau tidak akan mampu, percayalah!” ujar Sungsang Geni, “Mengertilah perasaan adikmu itu!”
“Tidak ada gunanya saling mengerti satu sama lain. Dia memiliki wajah cantik, sedangkan aku berwajah buruk. Tindakannya bodoh, karena berniat melajang seperti diriku.” ucap Reratap geram, dia kemudian meraih pedangnya yang tergeletak tidak jauh darinya. “Semenjak luka dibibir yang kualami, aku sangat membenci semua orang didunian ini, termasuk adiku... Jadi sebaiknya kita tuntaskan pertarungan ini, sesegera mungkin.”
Sungsang Geni menghela napas berat, dia juga berpikiran demikian sebelumnya, menuntaskan pertarungan ini sesegera mungkin, sebab diujung matanya Darma Guru mulai kehabisan tenaga menghadapi Puntura dengan keris panca dewa ditangannya.
Dengan sangat cepat, Sungsang Geni berhasil memenggal kepala Senopati Reratap. Menyisahkan Rerintih yang menangis memandangi mayat kakanya, yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya sekarang.
“Ma’afkan aku Rerintih!” ucap Sungsang Geni, sebelum melaju menuju Karang Dalo diujung matanya.
Sungsang Geni mengeraskan rahangnya, lima orang prajurit pilih tanding yang berasal dari Tombok Tebing, mulai berdatangan menghadang jalannya. Mereka bukannya takut, tapi penasaran ingin mencoba kekuatan Sungsang Geni.
“Bagaimana jika kau melawan kami berlima?” ucap Salah satu dari 5 orang itu.
Sungsang Geni tidak menjawab, melainkan segera menebas mereka lebih dahulu. Salah satu dari mereka tidak sempat menghindari serangan Sungsang Geni, terpaksa tewas ditempat.
Keempat orang lainnya, hanya terpaku menatapnya, tapi Sungsang Geni kembali melancarkan serangan, mencicil nyawa mereka satu persatu.
Setelah berhasil membereskan ke lima orang tersebut, prajurit yang lain tidak berani berhadapan dengan Sungsang Geni. membunuh prajurit dengan level pilih tanding seorang diri, menunjukan kemampuan Sungsang Geni berada pada level pendekar tanpa tanding.
Hanya raja Puntura yang layak melawan Sungsang Geni, sekarang. Begitulah pikir semua prajurit yang memandangi Sungsang Geni.
__ADS_1
Tapi hal yang paling utama bagi Sungsang Geni, yaitu berusaha mengejar Karang Dalo, demi membalaskan dendam teman-temannya.
“Setidaknya, teman-temannku akan tenang di alam baka, setelah aku berhasil menanggalkan kepala Senopati itu.”