
Sungsang Geni mempercepat langkahnya, dia tidak mengetaui hal apa yang telah terjadi tapi perasaannya menjadi tidak enak. Beberpa prajurit Surasena yang dia lihat berlarian dengan perlengkapan perang.
“Cari pelakunya!” teriakan para prajurit menggema diseluruh istana.
Sungsang Geni mencoba menerobos setiap prajurit yang menghalangi dirinya, dia hendak terbang tapi tentu akan menarik perhatian para prajurit. Pikirannya sekarang terfokus kepada Dewangga dan teman-temannya, jika sesuatu terjadi maka Dewangga harus dia lindungi.
Setelah tiba di depan Penginapan kerajaan Majangkara, Sungsang Geni mendapati ada puluhan prajurit sedang berkumpul disana, dengan senjata yang lengkap.
Dari luar, Sungsang Geni dapat melihat pintu-pintu kamar telah terbuka, dengan seluruh isi ruangan yang berhamburan. Halaman yang dihiasi taman buga warna-warni sekarang berserakan tak karuan.
Sungsang Geni mendapatkan hal yang sama dengan penginapan Putra Mahkota Nala Setya, tapi tidak di penginapan Putra Mahkota Warkudara.
Tanpa Berpikir panjang, Sungsang Geni segera melangkah menuju kamar Dewangga yang sekarang terlihat bak kapal pecah.
“Apa yang telah terjadi?” tanya Sungsang Geni. “Dimana Pangeran Dewangga?”
Seorang bertubuh besar dengan sebuah gadah yang terpikul di pundaknya berjalan keluar dari kamar Dewangga. Tubuhnya penuh dengan urat yang keluar, menjalar seperti cacing dibalik kulitnya.
Melihat kedatangan Sungsang Geni, orang itu menyeringai, wajahnya yang hitam dengan kumis panjang dan satu mata yang juling serta tato besar di keningnya, membuat perangainya sangat menyeramkan.
Tapi bagi Sungsang Geni, tenaga dalamnya tak semenyeramkan perangainya. Tapi harus di akui, aura membunuh yang keluar dari orang itu bahkan lebih pekat dari Karang Dalo.
“Apa kau yang bernama Sengseng Geni?” tanya dirinya yang berjulukan Sang Algojo.
“Sungsang Geni, paman! Bukan Sengseng Geni?” jawab Sungsang Geni.
Orang yang dijuluki Sang Algojo tertawa terbahak-bahak, “Bocah kerdil, kau punya nyali berkilah denganku, kau ini membuatku jengkel. Apa kau tidak takut denganku?”
Tanpa menghiraukan pertanyaan Sang Algojo sungsang Geni balik bertanya, “Dimanakah Pangeran Dewangga dan pengawalnya, kenapa tempat ini menjadi berantakan sekali?”
Tawa Sang Algojo mendadak terhenti, matanya mengerlit kebawah menatap Sungsang Geni yang lebih pendek darinya. “Pageran Majangkara sedang ditahan dan akan segera di eksekusi, semua pengawalnya telah dibunuh. Sekarang, hanya tersisah dirimu. Aku memiliki satu pertanyaan, kemana dirimu tadi? Apa jangan-jangan kau yang telah membunuh Raja Cakra Mandala?”
__ADS_1
Sungsang Geni butuh waktu untuk mencerna apa yang dikatakan Sang Algojo, Dewangga ditahan, pengawal dibunuh serta Raja Cakra Mandala yang mati. Sungsang Geni hampir tidak percaya dengan perkataan Sang Algojo, tapi menyadari situasi sekarang dia tidak dapat membantahnya.
“Apa yang telah terjadi sebenarnya?” gumam Sungsang Geni, wajahnya terlihat memerah. Pikirannya sekerang sekusut rambut Sang Algojo.
“Tahan manusia kerdil ini!” Sang Algojo menunjuk wajah Sungsang Geni dengan gadahnya, membuat puluhan prajurit menghunuskan tombak kearah Sungsang Geni.
“Tunggu apa maksudmu!” Sungsang Geni segera melepaskan uara matahari, membuat para prajurit tiba-tiba enggan untuk menangkapnya.
Melihat bawahannya berprilaku aneh, Sang Algojo mendaratkan gadahnya kearah kepala Sungsang Geni.
“Celaka, habislah orang itu!” salah satu prajurit terpekik melihat gadah yang besarnya melebih tubuh Sungsang Geni mengayun kearah kepala pemuda matahari itu.
Krek...gadah itu berhenti mendadak, membuat mata seluruh prajurit terjelit dan seakan keluar dari kelopaknya. Hanya dengan tangan kiri,Sungsan Geni menghentikan gadah itu dengan mudah.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Kerajaan ini?” ucapan Sungsang Geni terdengar berat, membuat Sang Algojo hanya terpaku, “Tapi jika yang kau katakan mengenai Dewangga benar, maka tidak ada alasan lain bagiku untuk tidak menghajar kalian.”
“Sialan, kau pikir siapa dirimu berani melawan...”
Setelah beberapa detik kemudian, Sungsang Geni merasakan energi besar melesat menuju dirinya. Mendapat serangan dadakan, Sungsang Geni spontan menarik pedannya untuk menangkis serangan itu.
Pedang dan tombak beradu, menciptakan dentingan yang bergema karena tenaga dalam sang penggunanya. Sungsang Geni nyaris saja tertikam tombak Karang Dalo jika terlambat menangkis serangan itu satu detik saja.
Mendapati tombaknya dapat dihentikan, Karang Dalo sedikit terkejut. Tidak banyak orang yang sanggup menandinginya di Surasena, selain beberapa Senopati lain dan juga Mahapati Darma Guru.
‘Pemuda ini, aku tidak menyangka memiliki kekuatan sehebat ini?’ pikir Karang Dalo kemudian dia membayangkan Mahesa, ‘kekuatannya ternyata lebih hebat dari pria itu.’
Karang Dalo mencoba mengingat-ingat 5 tahun terakhir, tapi dia tidak bisa menemukan generasi muda yang memiliki ilmu kanuragan sehebat Sungsang Geni dari Majangkara.
Dia berpikir Sungsang Geni bukanlah prajurit asli dari Majangkara, jelas dia adalah pendekar pengelana yang disewa Majangkara mengawal Putra Mahkota.
“Apa kau berniat membuat kekacauan di Istana ini?” tanya Karang Dalo.
__ADS_1
Sungsang Geni tersenyum penuh makna, “Sepertinya tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Pangaran Dewangga!”
Mendengarnya, Karang Dalo kemudian mundur selangkah, mengambil ancang-ancang untuk menyerang kembali.
Disisi lain, kaki Sungsang Geni suda mengambil posisi kuda-kuda, melawan Karang Dalo dengan setengah tenaga bukan kebijakan yang baik. Dia menaksir tenaga dalam Karang Dalo menyamai Mahesa.
Setelah beberapa detik, akhirnya Karang Dalo lebih dahulu menyerang Sungsang Geni. pertarungan sengit tidak ter elakan, membuat suasana di tempat itu diselimuti aura pekat pertarungan.
Mereka berdua saling serang, dan setiap gerakan hampir berimbang. Para prajurit lekas berhamburan, mereka tidak berani mengambil resiko dengan berlama-lama ditempat itu. sekekali serangan Karang Dalo meleset, hampir menewaskan beberapa prajurit yang berada didekatnya.
Karang Dalo kemudian melompat keatas, tombaknya terhunus kemudian dia menukik mencoba mencari celah Sungsang Geni. Namun sekali lagi, tombak miliknya dapat dihentikan Sungsang Geni.
“Ajian Wesi Ireng!” Karang Dalo melepaskan 5 energi hitam dari tombaknya, menyerang Sungsang Geni secara terus menerus.
Meski serangannya sangat kuat, tapi dengan kecepatannya Sungsang Geni dapat menghindarinya dengan mudah.
Karang Dalo terlihat kesal, dia telah melakukan puluhan kali serangan tapi tidak satupun dapat menembus pertahanan Sungsang Geni. Apalagi semenjak pertarungan tadi, ketenangan Sungsang Geni belum terusik.
“Siapa sebenarnya Pemuda ini?” gumam Karang Dalo.
Seakan mendengar gumaman Karang Dalo, Sungsang Geni tersenyum tipis. ‘aku telah salah menilai orang ini, nyatanya melawan Mahesa masih lebih sulit daripada dirinya.’
Karang Dalo kemudian menghimpun energi kedalam tombaknya. Cahaya biru mulai menyelimuti mata tombak, seperti aliran petir yang menyambar.
Kemudian Karang Dalo melempar tombak itu kearah Sungsang Geni.
“Benteng Dewa Angin” Sungsang Geni menahan serangan itu, “Cakar naga angin.”
Tanpa diduga Karang Dalo, Sungsang Geni berhasil membuat senjata itu patah menjadi dua. Senopati itu nyaris saja tersungkur kedasar memandangi tombak kesayangannya tergeletak didepan matanya.
Dia melirik Sungsang Geni yang sekarang menatapnya dengan tajam. Senyuman pemuda matahari itu tiba-tiba hilang, berganti dengan raut wajah yang mulai serius. Sekarang Sendi Karang Dalo mulai bergetar, seperti akan terlepas.
__ADS_1
“Tunggu!” Karang Dalo berkata, “Menyerahlah, jika kau menginginkan Putra Mahkota Dewangga selamat.”