PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menuju Istana Tumenang


__ADS_3

Setelah berhasil menduduki Kadipaten Ujung Lempung, kini saatnya mereka mengatur siasat untuk menyerang langsung Istana Kerajaan Tumenang. Jadi hari ini juga, mereka mengadakan rapat darurat.


Banyak selisih tentang siapa yang akan melawan 3 pendekar dari Negri Sembilan yang di gadang-gadang adalah penjaga di belakang Prajamansara alias paman Miksan Jaya. Semua orang merasa takut, level bertarung tiga orang itu kabarnya berada di puncak tanpa tanding.


Memang belum pernah ada yang melihat langsung tiga orang tersebut, tapi menurut kabar dari telik sandi mereka, tiga orang itu memang benar adanya.


“Aku akan menghadapi tiga pendekar itu,” Sungsang Geni masuk ke dalam rapat, bersama dia Panglima Ireng mengiring di belakang. “Serahkan tiga pendekar itu padaku, kalian hanya perlu melawan prajurit mereka, dan menyadarkan pikiran para rakyat.”


“Tapi tuan pendekar, tiga orang itu sangat kuat, kabarnya bisa membunuh pendekar tanpa tanding dengan sangat mudah,” timpal Adipati Lingga.


Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, tidak menyalahkan pikiran negatif sang Adipati, meski memang dia menjadi sedikit kesal karena hal itu. “Begini saja, kalian hanya harus fokus dengan tujuan utama, menguasai Kerajaan Tumenang dan aku akan fokus untuk menyingkirkan tiga pendekar itu, itu saja dan jangan terlalu berpikir panjang. Kalian paham!”


Adipati Lingga masih meragukan keputusan Sungsang Geni, tapi kali ini dia memilih diam dari pada berdebat panjang lebar tiada ujungnya.


Di luar bangunan ini, sekitar 300 rakyat jelata berbaris rapi. Rupanya gudang makanan penuh, dan mereka sedang menunggu antri untuk mendapat jatah makanan.


Sungsang Geni keluar dari dalam rapat lebih dahulu, memperhatikan bahan makanan yang dibagikan oleh beberapa prajurit.


“Kisanak, darimana datangnya makanan ini?” tanya Sungsang Geni.


“Saya kurang tahu tuan, tapi mungkin dari Istana Tumenang. Mungkin karena Grilik Suing sudah menjadi Adipati, jadi mereka mengirim makanan sebagai jatahnya.” Jawab salah satu prajurit.


“Kalau begitu, ada jalan lain yang bisa digunakan untuk tiba ke Kadipaten ini selain melewati kampung di perbatasan sungai beracun?”

__ADS_1


“Tentu saja ada tuan, di arah selatan ada jalan yang biasa digunakan sebagai pengiriman barang dan upeti, jalan itu lebih cepat dibanding dengan melewati desa...” prajurit itu menunjuk ke arah selatan, di arah sana ada bukit kecil yang setengah bagiannya gersang dan sebagian terlihat cukup subur. “Jalan itu langsung menuju ke Kerajaan Tumenang, hanya saja setelah terjadi konflik, kami menutup jalan itu memasanginya dengan ranjau.”


“Jadi begitu, karena Grilik Suing sudah mengetahui semua ranjau, jadi mungkin jalan itu sudah dibuka kembali?”


“Benar tuan, tampaknya seperti itu.”


Sungsang Geni mendesah nafas berat, jika memang demikian yang dikatakan prajurit itu berarti untuk tiba ke Istana Tumenang tidak terlalu sulit. Tidak perlu melewati beberapa Kadipaten lain.


Tatapan pemuda itu tajam ke arah selatan, tersirat maksud dari pandangan itu, tapi dia tidak ingin berbuat ceroboh untuk menyerang Istana Sendirian. Tiga pendekar dari Negri Sembilan memang terdengar kuat, tapi masalahnya dia belum mengetahui situasi kerajaan itu saat ini.


Telik sandi yang diperintahkan belum pula kembali sejak satu bulan yang lalu, barangkali telah tewas ditangkap musuh. Untuk mengetahui situasi musuh, tiada cara lain kecuali dia sendiri yang pergi kesana.


“Itu lebih baik dibandingkan jika aku bersama dengan pasukan.” Bergegas Sungsang Geni mendekati Panglima Ireng, berpamitan kepada Srigala itu kemudian pergi seorang diri menuju Istana.


Setelah setengah hari pergi dengan ilmu meringankan tubuh, pria itu telah tiba di dalam tembok Istana besar. Kerlap-kerlip batu permata menghiasi bangunan yang menjulang tinggi dengan menara-menaranya.


Di dalam tembok itu, semua rakyat berpakaian bagus dan mewah. Banyak gadis dibalut sutra dan emas, pemuda tampan dengan kumis tipis dan rambut klimis. Bahkan nenek-nenek gendut dengan dada besar.


Beberapa orang menatap Sungsang Geni dengan risih, barangkali karena pakaian yang pemuda itu kenakan sama sekali tidak berkelas. Hanya ada beberapa orang yang menggunakan pakaian seperti pemuda itu, budak yang berjalan dengan leher dirantai.


Sungsang Geni menyelinap ke dalam satu bangunan, kemudian terdengar jeritan dalam bangunan itu untuk sesaat, dinding bergoncang kecil dan terdengar suara baku hantam untuk beberapa kali, tapi kemudian situasi segera hening.


Beberapa menit berlalu, seorang pemuda keluar dengan pakaian berwarna merah. Lengan panjang dan sarung tangan, mengenakan sepatu seperti kebanyakan orang di tempat ini.

__ADS_1


“Pakaian ini membuatku menjadi risih.” Sungsang Geni membetulkan celananya yang terasa sedikit sempit, sehingga beberapa gadis melihat pemuda itu dengan wajah merona karena terpana.


“Aku tidak pernah melihat dirimu pemuda tampan.” Datang seorang nenek tua dengan rambut putih dan bedak tebal. Bibirnya semerah darah, dengan bagian dada yang setengah terbuka menampakkan auratnya. “Mungkin kau pemuda yang baru saja keluar dari rumah orang tuamu?”


Sungsang Geni mundur selangkah, hendak pergi dari tempat itu secepatnya tapi salah satu tangannya segera di cengkram erat oleh sang nenek dengan senyum genit yang hendak membuat pemuda itu muntah.


“Kau pemuda pemalu...” goda nenek itu. “Akan aku tunjukkan banyak gadis, ikutlah denganku, gadis-gadis disana!” wanita itu menoleh pada tiga gadis yang berniat mendekati Sungsang Geni, “mereka bukan kelas yang baik.”


“Tunggu Ni, saya sedang buru-buru...jadi tolong lepaskan tanganmu.” Sungsang Geni memberontak, berhasil melepaskan cengkraman nenek berbadan gimpal itu, dan pergi sesegera mungkin dari sana.


Tiga gadis tertawa kecil melihat raut wajah nenek yang masam, nyaris saja perempuan tua itu melempari mereka dengan sandalnya.


Sungsang Geni melirik lagi ke belakang, ketika dia sudah cukup jauh meninggalkan Nenek bertubuh gempal. “Rumah Setaman Kembang.” Sungsang Geni membaca plakat yang tertulis pada bangunan itu. “Rumah pelacuran? Nenek itu benar-benar gila, semuanya gila...otak mereka di taruh di dengkul.” Bergumam Sungsang Geni panjang pendek, nafasnya tersengkal-sengkal karena melihat ada banyak gadis hanya memakai pakaian dalam di tempat ini.


Tidak menunggu lama, dia pergi dengan buru-buru menuju Istana besar yang tiangnya ada sebelas, tidak tapi dua belas tiang penyangga di teras Istana itu. Setiap tiang di jaga 5 orang prajurit dengan pakaian lengkap.


Sungsang Geni bersembunyi pada bangunan lain, melirik ke sana mencari celah untuk masuk ke dalam Istana. Hampir satu jam lamanya dia mengintai, tapi tidak ditemukan satu celahpun untuk masuk. Jangankan masuk, prajurit di sana bahkan seperti patung karena tidak bergerak.


Namun kemudian, dia dikejutkan dengan tepukan seseorang, ketika pemuda itu berbalik badan mata pisau kecil sudah berada di lehernya. Sangat cepat sekali pergerakan orang itu, atau mungkin karena Sungsang Geni yang menjadi lengah karena berada di kota yang semua gadisnya mengenakan bikini.


Orang yang meletakkan pisau kecil di leher Sungsang Geni menggunakan penutup kepala, berbaju coklat. Satu hal yang terlihat dari orang itu adalah, dia memiliki jari-jari lentik dan kulit putih bersih.


“Jangan bergerak, atau pisauku akan mengiris lehermu!” Tersingkaplah seorang gadis muda dari balik penutup kepalanya. “Apa yang kau lakukan di tempat ini, mau cari mati?”

__ADS_1


__ADS_2