PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Prahara Swarnadwipa1


__ADS_3

Semua orang menjadi tegang, mulai mengira-ngira hal apa yang akan di sampaikan pemuda itu. Beberapa prajurit bahkan berpikir negatif, takut jika Sungsang Geni meminta sesuatu melebihi hadiah dari sayembara.


“Sekarang nyawa cucumu sedang terancam.” spontan pemuda itu berkata.


Semua orang yang mendengarnya menanggapi dengan cara yang berbeda-beda, beberapa prajurit menahan sekuat tenaga untuk tidak tertawa dan mencibir pemuda itu, sementara Saylendra mengerutkan kening beberapa lama.


“Aku hargai kau mengkhawatirkan keselamatan cucuku, itu baik, sangat bagus.” Saylendera mengelus dagunya, tidak ingin menunjukkan ekspresi tidak percaya kepada Sungsang Geni. “Penjagaan kami sangat ketat, bagaimana bisa ditembus oleh orang lain?”


Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, dia sudah sangat yakin tidak ada orang yang akan mempercayainya. Ya, itu benar, tapi pemuda itu sudah memberikan satu peringatan kepada Saylendra, sebagai raja harusnya dia akan memikirkan hal itu.


“Kalian mungkin belum mempercayai kami, karena kami tidak memiliki bukti kecuali pada saat hal itu benar-benar terjadi.” Cempaka Ayu untuk kali pertamanya membuka suara. “Tidak ada kewajiban bagi kalian untuk percaya atau tidak, tidak masalah. Sebagai orang asing di tanah ini, kami hanya mengingatkan.”


Saylendra kembali mengerutkan keningnya, dia menyadari sesuatu hal seperti ini. Jika tidak, lantas kenapa dia meningkatkan keamanan kamar Windur Mata dengan ketat, dan memberi perintah kepada Wira Mangkubumi untuk tetap manjaga istri dan anaknya?


'Kekuatan pemuda ini memang masih misterius, tapi dengan melihat kemampuannya mengambil kelapa gading membuktikan dia sangat hebat. Mungkinkah dia tidak berbohong kepadaku?' gumam batin Saylendra. 'Siapa gerangan yang akan menikamku dari belakang?'


“Seharusnya kau sudah tahu, siapa yang akan menikammu dari belakang, Raja Saylendra.”


Raja dari dataran Swarnadwipa itu terkejut bukan kepalang, dia hampir saja tersedak napasnya sendiri mengetahui pemuda itu bahkan membaca pikirannya.


Sungsang Geni kemudian menyunggingkan senyum kecilnya, lalu beranjak berdiri dari kursi makan di ikuti Cempaka Ayu kemudian berkata santun. “Kedatangan kami berdua ke sini mengenai pengungsian rakyat dari Negri Surasena, kau mungkin tidak menyetujui permintaan kami, tapi aku rasa itu tidak masalah. Lusa, kami akan kembali ke dataran Java, mengenai hadiah dari sayembara itu, aku tidak membutuhkannya.”


Sungsang Geni kembali menyunggingkan senyum kecil, kemudian membungkukkan badan lalu pergi meninggalkan meja makan. “Kewajibanku hanya memperingatkanmu, Yang Mulia Raja!”


Ini sebuah penghinaan, tentu saja. Tidak ada orang yang boleh meninggalkan meja makan sebelum Sang Raja beranjak lebih dahulu. Beberapa prajurit berniat memberi perhitungan pada pemuda itu, tapi Saylendra mencegahnya.


Di sisi lain Wira Mangkubumi berusaha mencerna semua perkataan Sungsang Geni, bagaimanapun ini mengenai keselamatan putranya. Bukan masalah jika itu hanya bualan belaka, tapi jika itu memang benar, maka penyesalan terbesarnya adalah mengabaikan peringatan pemuda itu.

__ADS_1


“Ayahanda, siapa orang yang akan mengancam putraku?” Keraguan Windur Hati mulai terlihat.


“Tidak ada, Wira Mangkubumi bawa istrimu ke kamar!” pinta Raja itu kepalanya sedang berpikir dan mulai terasa sakit. "Aku butuh sendiri saat ini."


Semua orang terlihat ragu, tapi pada akhirnya mengikuti printah raja mereka. Dalam beberapa menit saja, hanya Hulubalang yang masih berdiri di samping Raja Saylendra.


Sementara itu, Sungsang Geni berjalan pelan menuju kamarnya. Dia menyadari perkataanya barusan memang tidak sopan, tapi kadang kala untuk membuka pikiran seseorang di perlukan penegasan yang sedikit sombong.


***


Senopati Legam berdiri tegak di depan jendela kamar Minak Singo, sementara pangeran itu memainkan jari-jarinya mengetuk permukaan meja sambil bersenandung kecil.


Dia duduk di kursi panjang sambil menikmati nyanyian pesta di halaman Istana, anggur dan apel menjadi makanan yang selalu dikunyahnya. Sekekali dia memejamkan mata kemudian mengintip dari salah satu matanya yang terbuka.


“Menurutmu berapa lama lagi kita akan menunggu, Senopati?” Suara Minak Singo seperti geraman srigala, karena mulutnya penuh dengan makanan. “Aku sudah tidak sabar, darahku mendidih saat ini, dan semua yang aku lakukan sekarang begitu lambat dan sia-sia.”


“Sabar pangeran, kau harus menunggu waktu sedikit lagi.” Senopati Legam tidak berpaling dari pandangannya pada ribuan orang yang sedang bersenang-senang di bawah sana. “Semakin malam, pesta ini semakin meriah, darahku juga mendidih saat ini.”


Bagaimana mungkin terbuka? Sementara Pramudhita sedang berada di dalam sana, mengunci semua ruang geraknya?


Tapi Senopati Legam memiliki cara lain sebagai cadangan. Ada banyak rencana untuk menaklukkan singa dari kerajaannya, jika garis keturunan sulit didapatkan maka lebih baik mengambil pemimpinnya saja.


Setelah tengah malam, seorang tiba-tiba saja mengetuk pintu dengan cukup kuat. Saat itu, Senopati Legam baru beranjak dari tempatnya dengan penuh semangat.


Seorang pelayan buru-buru masuk ke dalam kamar, dia lantas melepaskan seluruh pakaian pelayannya, menunjukkan identitas asli sebagai telik sandi atau mata-mata Kerajaan Sembilan.


“Misi berhasil kita laksanakan, beberapa saat lagi kerajaan ini akan gempar.”

__ADS_1


Minak Singo tertawa terbahak bahak, kali ini dia berjalan menatap kerumunan orang-orang di halaman Istana Kerajaan. “Hahahaha...Aku akan menaklukkan kalian semua, semuanya!”


***


Seorang prajurit menggedor pintu Wira Mangkubumi dengan perasaan takut bukan kepalang, perbuatan pria itu bahkan membuat putranya menangis.


“Apa yang kau lakukan di tengah malam seperti ini!” bentak Wira Mangkubumi kesal. “Karena ulahmu putraku terbangun dari tidur lelapnya!”


'Ma'af pangeran, tapi...tapi...”


“Tapi apa?”


“Ada banyak darah di ruang makan Raja.”


Mendengar hal itu, Wira Mangkubumi segera buru-buru pergi menuju ruang makan di mana Sungsang Geni dan Cempaka Ayu sudah berada di tempat itu bersama puluhan prajurit.


Di tempat itu ada banyak darah yang tergenang, dengan kepala prajurit yang terpenggal. Ada sekitar 15 prajurit kehilangan nyawa, tapi yang menghkawatirkan adalah, Raja Saylendra tidak ada di tempat itu.


Semua prajurit sudah dikerahkan namun mereka tidak menemukan keberadaan pemimpin negri Swarnadwipa itu di manapun.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Sungsang Geni segera mendekati Wira Mangkubumi yang masih berusaha mempelajari situasinya. “Kenapa kau meninggalkan putramu?! Mereka mengincar nyawanya!”


Sontak perkataan Sungsang Geni mengejutkan Wira Mangkubumi, pria itu langsung berlari kembali menuju kamar istirinya, tapi apa yang terjadi? Darah telah berceceran di depan pintu kamar dengan mayat-mayat penjaga yang bergeletakan.


Wira Mangkubumi bergegas masuk kedalam kamar di ikuti Sungsang Geni dan Cempaka Ayu, tapi sudah terlambat. Windur Hati sudah tergeletak di lantai, sementara putra mereka sudah hilang, hanya menyisakan ranjang kecil yang ternoda dengan darah.


“Dinda, dinda!” teriak Wira Mangkubumi sambil merangkul tubuh istrinya yang tidak sadarkan diri. “Bangunlah dinda, aku mohon.”

__ADS_1


“Dia masih hidup.” Cempaka Ayu baru saja memeriksa denyut nadi wanita itu. “Tapi keadaannya kritis, luka di perutnya sangat besar kita harus mengobatinya segera.”


“Semoga kalian suka, like dan koment gokil author tunggu.”


__ADS_2