PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 2


__ADS_3

Api menjalar dengan cepat, membakar hampir seribu pasukan Kelelawar Iblis yang ceroboh. Sesaat pandangan mereka tidak bisa melihat hal apa yang ada dibalik kobaran api. Sungsang Geni menyipitkan mata, memperhatikan hampir dua ratus musuh berguling-guling. Tapi sialnya, ada pula yang seolah tidak mempan dengan api.


Meski tubuhnya penuh dengan kobaran, mereka tetap berlari ke depan tanpa takut akan mati.


“Gigih sekali mereka!” ucap Sabdo Jagat.


“Ini membuatku sangat kesal!” ucap Benggala Cokro, ketika mereka sudah masuk dalam jangkauan serangannya, pemuda itu memenggal kepala mereka dengan pedang emas. “Kalian lebih baik mati terbakar daripada mati dengan kepala terpenggal, jadi sadar dirilah!”


Mahesa tersenyum kecil, pedang Benggala Cokro sangat cocok menyerang dari jarak sejauh ini. Dalam keadaan seperti ini, dia malah kagum pada pemuda dari bukit emas itu. Tidak seperti biasanya yang terlihat menyebalkan, kali ini Benggala Cokro cukup mengagumkan.


“Jangan meliriku dengan tatapan menjijikkan itu!” ucap Pemuda itu menyadari Mahesa sedang tersenyum kecil ke arahnya.


“Hahaha...aku hanya takjub rupanya pedang yang mirip tusuk gigi itu ada gunanya,” kilah Mahesa.


Namun sayang sekali, tidak lama kobaran api itu menyala, sebuah sapuan angin dengan cepat memadamkanya. Sapuan itu bahkan terasa hingga ke markas Surasena.


“Tenaga dalam yang sangat dingin...” gumam Sungsang Geni. “Siapa gerangan yang bisa menciptakan sapuan energi sedingin ini?”


Ketika api di tengah parit mulai menyala kembali, sapuan energi kembali terasa memaksa api benar-benar pada. Sungsang Geni memperhatikan seseorang berdiri di atas gajah besar dengan tatapan tajam.


Ketika kaki gajahnya memijak parit, minyak perlahan-lahan membeku menjadi es. Dan sempurna, api benar-benar berhenti berkobar.


Lemah Abang tersenyum kecil setelah berhasil menggagalkan rencana Surasena. Di balik topeng hitam, dua bola matanya mengintip dengan tajam. Kemudian menghunuskan pedang ke depan.


“SERANG!” perintah pria itu.


Mendengar hal itu, hampir sepuluh ribu pasukan datang dari dalam hutan. Menunggang kuda dan berjalan kaki. Dari pasukan itu ada pula yang melepaskan panah kuat bertekanan energi kegelapan.


Mirip seperti semut hitam, pasukan itu luar biasa banyaknya. Dan hal yang membuat semua orang sedikit berkecil hati adalah, tidak ada dari prajurit itu yang memiliki tenaga dalam dibawah level pilih tanding.

__ADS_1


Seolah dibarisan pertama yang mati tadi hanyalah tumbal saja. Lemah Abang sekarang seolah sedang berkata, 'inilah pasukan yang sebenarnya, dan masih ada lebih banyak lagi di dalam hutan ini.'


“Siapkan Kereta Iblis!” Teriak Raka Buana, dia dan ayahnya alias Empu Pelak berdiri pada menara tinggi, dimana kereta iblis paling besar berada.


“Tahan...tahan...tahan...” ucap Pemuda itu sambil mengepalkan telapak tangannya, dia memperkirakan musuhnya dan ketika mereka sudah berada di dalam jangkauan serangan kereta iblis. “SERANG!”


“SERANG!” Menyahut pula seorang lagi di ujung tembok sebelah utara.


Wush...wush...wush...ratusan kereta iblis melepaskan amunisinya, membawa bubuk setan mengarah pada musuh.


“Dinding pelindung!” ucap Lemah Abang. Serentak para prajuritnya menaikkan tameng hitam, kemudian menyelimuti diri dengan jubah yang mirip seperti kaca. Ribuan bubuk setan meledak dimana-mana.


Lemah Abang sedikit terkejut, benda apa gerangan yang bisa meledak? Jika itu adalah panah biasa, dengan tameng sekeras baja dan jubah mirip kaca yang lentur mereka jelas bisa menghalau serangan itu.


“Apa-apan itu, kenapa bisa meledak?” ucap Lemah Abang. “Tahan pasukan!”


“Senjata yang luar biasa, hebat, hebat sekali!” puji Lemah Abang. “Tapi tidak akan kubiarkan serangan seperti itu kembali menghancurkan pasukanku. Kuncinya adalah benda-benda yang ada disana.”


Yang dimaksud dengan lemah abang adalah kereta iblis.


Seperti kilatan hitam, pria itu melaju dengan cepat di balik asap hitam yang mengepul. Tidak ada yang sempat melihat pria itu, tiba-tiba sudah berdiri pada salah satu menara tinggi di Markas Petarangan.


“Wah..wah...” Mungkarna alias komandan pertama Kelelawar Iblis tersenyum kecil. “Dia tidak sabaran, sepertinya keputusanmu menjadikannya komandan tidak salah, Paduka. Pria itu tidak kehilangan kecerdasannya di dalam medan perang meski kegelapan telah menyatu dengan jiwanya, dia tahu kapan dan dimana harus menghancurkan musuh.”


Topeng Beracun tersenyum kecil, memperhatikan Lemah Abang mengamuk di atas tembok Markas Petarangan. “Mungkarna, sekarang kau bantu dia. Beri mereka keputusasaan!”


“Dengan senang hati, Paduka.”


***

__ADS_1


Pukulan Lemah Abang ditangkis langsung oleh Darma Cokro, jika tidak hampir saja putranya,Benggala Cokro mati ditangan pria itu. Tapi percuma saja, pedang naga emas terpental puluhan meter jauhnya. Kekuatan Lemah Abang lebih gila dari yang dipikirkan.


“Serang dia dengan bubuk setan!” salah satu prajurit berteriak.


“Benar! Lakukan dengan segera.”


Lima Kereta Iblis yang berada tepat di hadapan Lemah Abang memuntahkan amunisinya. Tubuh pria itu dihujani 300 bubuk setan yang meledak setelah bersentuh dengan kulitnya.


“Berhasilkah?” ucap mereka, melihat kobaran api menyala di atas tembok sebelah utara. Tubuh Lemah Abang berada di tengah kobaran api itu, dia terpundur lima langkah sebelumnya.


“Tidak mungkin!” Empu Pelak adalah orang pertama yang terkejut setelah melihat tubuh Lemah Abang baik-baik saja. Bahkan dengan satu kibasan energi dingin seluruh api yang melalap tubuh pria itu padam seketika. Tidak meninggalkan satu bekas luka.


“Bahkan bajunya tidak terbakar...” seorang prajurit yang baru saja melepaskan tembakan ke arah Lemah Abang cemas bukan kepalang. Dia hendak berlari, sayang sekali Lemah Abang tidak membiarkan hal itu terjadi.


Dengan kekuatannya, kereta iblis diangkat dan dibanting ke arah pria itu. Benda itu tidak hanya membuat prajurit malang mati seketika dengan tubuh remuk, tapi juga berhasil menghancurkan 10 kereta iblis yang berbaris di depannya.


Pada saat yang sama ketika Sungsang Geni hendak bereaksi melawan, tiba-tiba dia merasakan pusaran awan hitam di atas langit.


“Komandan Pertama...” ucap Pemuda itu,segera dia menoleh ke timur dan menemukan Mungkarna menaikkan cengkraman kearah langit.


Ketika mereka bertemu pandang, wajah Mungkarna sedikit terkejut. Tentu saja, dia tidak melupakan pemuda dengan aura panas mati beberapa minggu yang lalu di tangannya. Tidak mungkin bisa bertahan dan hidup, pikir pria itu.


Niat Mungkarna ingin menjatuhkan senjata itu ke pusat Markas Petarangan, tapi menemukan Sungsang Geni berada tepat di hadapannya, tiada yang layak mendapatkan serangan itu selain pemuda dengan aura panas tersebut.


“Kau memiliki keberuntungan yang cukup baik...” ucap Mungkarna. “Tapi mulai hari ini, tidak ada lagi keberuntungan di dunia ini. Aku adalah Mungkarna, sang bencana, akan kupastikan dirimu mati hari ini!”


Sungsang Geni tidak gentar, dia mengeraskan rahangnya dan mengeluarkan sebilah pedang cahaya kuning hijau dari telapak tangan kanannya. Seketika aura panas menjalar keluar dari tubuhnya.


Sekejap mata, pemuda itu hilang dari pandangan semua orang. Ketika muncul, dia sudah berada tepat di hadapan Mungkarana dengan sorot mata tajam. Mungkarna tersenyum pahit, kecepatan Sungsang Geni luar biasa sempurna. Tapi bagian yang membuat komandan pertama itu marah adalah, pedang bercahaya kuning hijau itu telah menacap di tengah dadanya.

__ADS_1


__ADS_2