
Semua mata tertuju pada pemuda di atas awang-awang, semuanya tanpa terkecuali! Banyak ekspresi wajah berbeda-beda menanggapi kedatangan orang itu. Cahaya bersinar dari lengan kanannya tentu saja menjadi daya tarik tersendiri.
Siko Danur Jaya tersenyum kecil ketika temannya itu baru saja menghajar salah satu wakil komandan hingga terseok di permukaan tanah, dan belum beranjak berdiri. Jelas saja ada rentang jarak perbedaan kekuatan yang teramat jauh.
Jelatang Biru hanya bisa menelan ludah beberapa kali menyaksikan kekuatan itu. Benar-benar mustahil pikirnya, dia tahu jika Sungsang Geni memiliki kemampuan yang sedikit kuat tapi tidak menduga kekuatan pemuda itu lebih mengerikan dari kali pertama dia melihatnya.
Tidak kalah terkejut dari Jelatang Biru, lebih terkejut lagi Bangau Putih. Sejauh pertarungannya melawan wakil Komandan Kelelawar Iblis, untuk mendaratkan satu pukulan saja terasa sulit apa lagi harus melumpuhkan.
“Edan, benar-benar edan...” Bangau Putih bergumam pelan.
Di sisi lain, Nyai Bidara mengernyitkan kening dengan mulut terbuka lebar dan mata terbelalak tak percaya. Dia tidak mengenal pemuda dengan luka tiga garis di matanya, tapi dia mengenal aura panas yang memancar dari pemuda itu.
“Kau adalah pemuda yang...”
“Ya, kita bertemu lagi...” Pemuda itu tersenyum kecil, lantas berpaling pada salah satu dari dua Komandan yang berada di sisi lain medan pertempuran. “Aku harus menolong Eyang Guru, tenang saja ada sedikit bantuan datang...”
Belum habis mengatakan hal itu, ledakan besar terjadi. Gelap malam tiba-tiba bersinar terang beberapa saat.
“Bumi hanguskan mereka!” Berteriak seorang pria tua dengan suara parau.
Itu adalah Empu Pelak. Semangat pak tua itu bahkan lebih besar dari kobaran api yang tercipta dari bubuk setan yang dia buat. “Jangan beri ampun, habisi, habisi mereka!”
__ADS_1
Mendapat serangan dadakan seperti itu, seluruh prajurit Kelelawar Iblis menjadi panik luar biasa. Mereka tidak memperkirakan ada benda yang bisa meledak, jadi meski mereka sudah mengangkat tameng dari baja, tameng itu hancur bersama dengan tubuh-tubuh mereka.
Setelah pasukan mereka di bom bardir oleh hampir 500 orang dengan panah dan bubuk setan. Ada 3 orang yang lebih dahulu masuk masuk ke medan pertempuran. Mereka adalah Mahesa, Benggala Cokro dan juga gadis cantik, Cempaka Ayu.
Tidak tanggung-tanggung, Benggala Cokro segera memainkan pedangnya untuk menghujani musuh dengan sayatan dan tebasan. Cahaya emas dari tiga pedang yang terbelah, seperti anak panah yang bergerak tiada hentinya.
Sang berkulit keras, Mehesa menghantamkan serangan dengan kuat pada seratur orang di depannya. Alhsil dua puluh orang dari mereka segera mati mengenaskan, yang lain terpental jauh dan luka parah.
Hal yang paling menakutkan adalah gadis cantik yang saat ini malah terlihat sangar. 15 jepit rambut yang dibuat dari bahan batu bintang kemulung, menyatu menciptakan sebuah bulan sabit besar. Setiap benda itu menyentuh musuhnya, ledekan besar terjadi. Pusaka itu dapat menciptakan gelombang kejut yang sangat kuat.
Bukan hanya hal itu, tenaga dalam gadis itu bukan perkara main-main. Setidaknya saat ini tenaga dalam Cempaka Ayu setara dengan Darma Cokro. Dia adalah gadis yang unik, dengan semua cakra sudah terbuka sejak lahir. Jika saja gadis itu bisa mengendalikan tenaga dalamnya, tentulah saat ini dia lebih kuat dari semua Sesepuh di Surasena.
“Aku akan melawan orang itu!” Mahesa melihat seorang pria dengan kemampuan yang sedikit sama dengan dirinya, Grahang Jegar. Benggala Cokro tidak menjawab kecuali dengan senyum kecil.
“Guru aku akan menghadapi orang ini.” Sungsang Geni tersenyum kecil kearah Ki Alam Sakti dan sesepuh yang lainnya.
“Apa kau yakin, Geni?”
“Jangan khawatir guru, aku akan baik-baik saja.” Setelah mengatakan hal itu, aura panas kembali terasa dari tubuh pemuda itu, bahkan ketika dia mengeluarkan pedang energi aura yang keluar semakin bertambah panas.
“Jangan bermimpi anak muda, aku memang tertarik dengan wajah rupawanmu, tapi aku tidak akan membiarkan dirimu lolos dari maut.” Jaka Balabala melepaskan satu kepalan tinju dengan tenaga dalam besar.
__ADS_1
“Apa?” Semua orang menjadi lebih terkejut lagi, Sungsang Geni menahan kepalan tinju pria itu hanya dengan satu tangan. Ketika hal itu terjadi, gelombang kejut bahkan berhasil menghempaskan semua dedaunan yang ada di sekitar mereka.
“Aku akan bertanya satu hal kepadamu, pria banci,” Sungsang Geni menarik kepalan tinju Jaka Balabala lalu melemparnya ke arah Nyai Siwang Sari. Wanita itu harus sedikit mengerahkan tenaga dalam untuk menahan benturan tubuh adiknya. “Siapa kau yang bisa mendatangkan maut, kegelapan didalam dirimu?”
Belum pula menjawab, Jaka Balabala sudah mendapatkan satu tendangan tepat di perut, memaksa dia terpental puluhan meter jauhnya. Belum pula tubuh pria itu berhenti, Sungsang Geni sudah berada menghadang dan berhasil mendaratkan satu tebasan kuat.
Apakah luka? Tidak, Komandan Kelelawar Iblis tentu saja tidak akan terluka hanya dengan tebasan seperti itu. Sungsang Geni bahkan menyadari hal itu. Jika hanya dengan serangan seperti itu bisa mengalahkan Jaka Balabala, maka dia tidak layak menyandang gelar Komandan.
Pria banci menepuk pundaknya, karena tebasan itu sekarang gaun perang miliknya terkoyak lebar. Tapi tidak terjadi apapun pada kulitnya. Jaka Balabala malah tersenyum kecil, meludah sekali ke tanah sambil menepuk pelan bekas tebasan Sungsang Geni.
“Lumyan, dibanding 4 orang disana.” Jaka Balabala menunjuk ke arah Ki Alam Sakti, Darma Cokro, Lakuning Banyu dan juga Ki Lodro Sukmo. “Kau memiliki tenaga dalam yang sangat besar, untuk manusia seperti kalian tenaga dalam sebesar itu sudah bisa menjadi pendekar terhebat di tanah Java, tapi itu tidak akan cukup untuk mengalahkan kami. Komandan Kelelawar Iblis lebih kuat dari yang kau duga.”
Sungsang Geni menaikkan alisnya, dia tersenyum kecil sebelum akhirnya perkataan pemuda itu mengejutkan Jaka Balabala. “Jika kekuatanmu setara dengan Banduwati, atau pula Pendekar Pemabuk, kau pasti kalah dengan mudah.”
“Kau?” Jaka Balabala menahan teriakan, dia berpikir sejenak kemudian menemukan satu peringatan yang dilontarkan oleh Komandan Ketiga, Asura sebelum dia mendapat siksaan dari Topeng Beracun karena lalai menjaga Banduwati. 'Ada orang yang bisa mengalahkan Banduwati, dan kelak dia akan mengalahkan kalian.'
“Jadi orang itu adalah kau?” Jaka Balabala menjadi sedikit waspada, raut wajah percaya dirinya mulai sirna.
“Tidak usah berkata yang bukan-bukan.” Sungsang Geni melepaskan satu tebasan kuat dengan pedang energinya, kali ini tebasasn itu mengandung tenaga dalam yang cukup besar.
Satu larik cahaya emas menerjang tubuh Jaka Balabala, membuat dia terpental puluhan meter.
__ADS_1
Dan saat ini seluruh tubuhnya tidak memiliki satu pakaian lagi, kecuali celana yang tinggal sepotong menutup auratnya.
“Aku tidak akan mengampunimu, tidak akan! Aku ingin mencincang tubuhmu, tidak tapi mengulitinya dan menjadikan baranmu sebagai makanan anjing.” Bersumpah serapah pria bancit itu.