PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Dia Datang


__ADS_3

Sangat kuat, meski semua orang tumbang terkena racun dari jarum yang jatuh dari langit dua Wakil Komandan banci tampaknya tidak terpengaruh sedikitpun. Mereka hanya menggaruk-garuk sesaat, sedikit terhuyung tapi kemudian tubuh mereka kembali seperti sedia kala.


Dua larik cahaya dari tangan Jaka Luruhilo mengarah pada Jelatang Biru. Tidak sempat menghindar, serangan itu berhasil membuat pria itu terpental puluhan meter jauhnya. Tubuhnya baru terhenti setelah bertemu dengan batang besar. Dia terhempas keras, lalu jatuh ke tanah dengan tubuh sedikit membungkuk.


Masih bertahan dari rasa sakit, Jelatang Biru mencoba menyeimbangkan tubuhnya tapi tidak berhasil. Tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang memaksa keluar dari dalam mulutnya. Benar sekali, darah merah menyembur dari dalam mulutnya.


“Akhirnya mengenai sasaran...? Jaka Luruhilo tertawa terpingkal-pingkal, begitu bahagianya hingga melompat beberapa kali.


“Hem...siapa orang bermain seperti ini, dasar pengecut?” Begalang Watu menggaruk kepalanya, memperhatikan hampir 2 ratus prajuritnya terkapar dengan mulut berbusa, dan ada lebih banyak lagi prajurit kelas satu yang terhuyung-huyung sebelum akhirnya jatuh pula.


“Keluarlah kalian, jangan bersembunyi dasar manusia pengecut!” Begalang Watu berteriak keras.


“Hem...” Jaka Luruhilo mengelus dagunya beberapa kali tapi kemudian dia lenyap seketika dari pandangan semua orang, tahu-tahu sudah tiba di dekat Guru Gentar Bumi dengan keadaan siap melepaskan jurus tebasan jari iblis.


“Lebih baik aku bunuh saja wanita ini lebih dahulu.” Jaka Luruhilo tersenyum bangga, tapi sebelum tangan pria banci itu berhasil melukai tubuh Guru Tiraka, sekelebat bayangan bergerak cepat dan berhasil membawa wanita itu pergi jauh.


Serangan Jaka Luruhilo hanya menebas permukaan tanah, sehingga terbentuk siring besar dan panjang.


Guru Tiraka dibawa tepat di hadapan Jelatang Biru. Sekelebat bayangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah, Siko Danur Jaya. Tubuh pemuda itu lebih tegap dan lebih kekar dari sebelum dia pergi meninggalkan tempat ini.


“Guru...!” Siko Danur Jaya bersegera menyalurkan tenaga dalamnya kepada Jelatang Biru.


“Aku baik-baik saja...” Berkata lirih Jelatang Biru disela-sela batuk kecil yang melanda dirinya.


“Siko...?” Guru Tiraka menyapukan pandangannya ke beberapa sisi, mencari sesuatu tapi sepertinya tidak menemukan hingga dia kembali menatap Siko Danur Jaya penuh makna. “Aku tidak melihat Sungsang Geni, dimana teman-temanmu?”


Siko Danur Jaya tersenyum kecil. “Aku tidak bersama dengan mereka, ceritanya cukup panjang jadi tidak mungkin aku menjelaskannya saat ini. Mendengar pertanyaan Guru Tiraka, sepertinya Geni belum datang. Tapi percayalah dia akan datang.”


“Aku berharap demikian.” Guru Tiraka berkata lesu, disaat seperti ini entah mengapa dia berpikir Sungsang Geni adalah harapan terbesar mereka untuk memenangkan pertempuran ini.


“Tapi jangan khawatir, aku membawa seratus pendekar sumpit yang tersebar di berbagai sisi. Jarum-jarum ini berasal dari mereka.”


“Pendekar sumpit.” Jelatang Biru mengernyitkan kening.


“Rajawali Hitam, guru pasti mengenal mereka bukan?”


Jelatang Biru terlihat terkejut setelah pemuda itu mengatakan nama Perguruan Rajawali Hitam, ada beberapa kalimat yang hendak dia katakan tapi seperti yang dikemukakan Siko Danur Jaya, waktunya saat ini tidak tepat.


Setelah merasakan energi di dalam tubuhnya mulai membaik, Jelatang Biru beranjak berdiri. Meski dadanya masih terasa sempit, tapi saat ini dia sudah bisa bergerak untuk menyerang.


“Aku tidak akan mampu mengalahkan mereka.” Siko Danur Jaya berkata setelah memperhatikan dua Komandan Banci yang bertindak sesuka hati. “Tpi jika kita bekerja sama, mungkin salah satu dari mereka bisa kita kalahkan.”


Belum kering suara pemuda itu, tiba-tiba terdengar lagi suara gemuruh dari kejauhan. Kali ini ada satu pasukan lagi datang, salam pertemuan yang mereka lakukan adalah sebuah serangan berbentuk bulan sabit yang langsung menghantam Prajurit Kelelawar Iblis.


Energi berbentuk bulan sabit itu telah membunuh hampir seratus orang dalam sekali serangan. Tapi sekarang semakin bertambah, karena serangan itu tidak henti-hentinya meluluh lantakkan prajurit Kelelawar Iblis.


Semua orang berhenti bertarung, melihat pada sisi yang sama mana kala ada sekitar 30 orang berdiri di antara pepohonan. Lakuning Banyu menaikanan alisnya sementara Dewangga juga mengalami hal yang sama. Mereka berdua mengetahui pemimpin pasukan itu.


“Pangeran Miksan Jaya?” Dewangga bertanya penuh makna. “Aku kira dia...?”


“Berita penghianatannya akan terbukti hari ini.” Gadhing berkata datar. “Tapi sepertinya fintah yang tertuju pada pangeran itu tidak benar.”

__ADS_1


Salah satu dari 30 orang itu sudah dikenal semua pendekar di Dataran Java, wanita dari aliran hitam yang tiba-tiba menjadi pengawal setia Pangeran Miksan Jaya, Nyai Bidara.


Wanita itu segera meluncur masuk ke dalam medan pertempuran. Dia bergerak gesit dan mulai menghabisi satu persatu musuhnya. Nyaris seperti orang kesetanan, perbedaan aliran hitam dan putih benar-benar terlihat dari cara bertarung Nyai Bidara.


Jika menurut semua orang Gentar Bumi adalah orang yang paling brutal dalam berturung, saat ini pernyataan itu terbantahkan dengan aksi Nyai Bidara. Wanita berwajah angker itu membunuh lawannya dengan cara menarik urat leher mereka hingga putus.


Sekekali dia juga menembus perut lawannya hingga semua isi perut terbuyar.


“Sinting dan gila, jadi dia yang bernama Nyai Bidara dari aliran hitam?” Bangau Putih menggelengkan kepalanya. “Wanita itu lebih mengerikan dari berita yang beredar. Aneh sekali dia menjadi penjaga setia Pangeran Miksan Jaya.”


Lima menit setelah aksi Nyai Bidara, Miksan Jaya segera masuk ke dalam medan pertempuran di ikuti oleh puluhan orang yang dibawanya. Puluhan orang itu adalah prajurit terbaik yang dimiliki. Bukan hanya terbaik tapi juga paling setia.


Tapi ada satu orang yang menarik perhatian orang lain. Seorang pemuda dengan menggunakan pedang yang memancarkan energi luar biasa besar, nyaris sama dengan pedang yang di pakai Darma Cokro.


Pemuda itu bergerak sangat cepat, dia memiliki langkah seribu yang sulit di ikuti oleh mata. Setiap dia bergerak pedang yang dibawanya menebas leher musuh hingga terpenggal.


Kali ini Siko Danur Jaya beserta semua orang dari perguruan Lembah Ular terkejut bukan kepalang. Jelas mereka mengenal pemuda itu.


“Dia adalah putra dari Empu Pelak, Raka Buana.” Jelatang Biru berkata dengan nada bergetar. “Aku tidak menduga dirinya masih hidup."


“Aku lebih tidak menduga pedang pusaka terakhir yang diciptakan Empu Pelak tidak berhasil di curi oleh Kelelawar Iblis.” Guru Tiraka mengusap matanya beberapa kali, mencoba memastikan matanya tidak keliru mengenai pedang pusaka itu.


“Pedang Cercaran Air, pusaka terakhir yang diciptakan Empu Pelak. Salah satu dari 5 pusaka terkuat yang pernah ada di dataran Java, kekuatannya sebanding dengan tongkat penghancur gunung milik Sabdo Jagat.”


Sedikit mengulas ke belakang, dari lima pusaka terkuat dua diantaranya diciptakan oleh Empu Pelak. Dua pusaka yang lain diciptakan oleh empu lain ratusan tahun yang lalu, sementara satu keris tercipta dari besi tua yang dihuni oleh siluman Naga kepala lima. Salah satu pusaka yang paling kuat bernama bramasta, tapi empu pelak telah memutuskan untuk melempar pusaka itu ke dalam kawah gunung merapi.


***


Bantuan dari pasukan Siko Danur Jaya dan juga pangeran Miksan Jaya rupanya membawa perubahan berarti di medan pertempuran.


Di sisi lain Nyai Bidara dan putra dari Empu Pelak alias Raka Buana sudah membunuh hampir 300 orang hanya dengan mereka berdua saja.


Dua orang itu bergerak dengan cepat, berada pada satu lokasi ke lokasi lain. Setiap lokasi yang mereka singgahi selalu meninggalkan gelimpangan mayat.


“Aku bisa melihatmu baru saja datang?” Jaka Luruhilo sekarang menghadang laju Nyai Bidara, pria itu saat ini tidak lagi tertarik dengan Jelatang Biru dan juga teman-temannya, bagian itu sudah diambil oleh Begalang Watu.


Nyai Bidara mengernyitkan kening, beberapa menit kemudian dia menekan kakinya dengan kuat lantas melesat kearah Jaka Luruhilo. Wanita itu mendaratkan cakar hitam tepat di dada Jaka Luruhilo.


Serangan itu sebenarnya sudah pernah dilakukan Nyai Bidara, tapi gagal. Hari ini serangan itu untuk pertama kalinya mengenai lengan Jaka Luruhilo. Darah mengalir dari lengan kanan itu.


Bukannya meringis kesakitan, Jaka Luruhilo malah terkekeh kecil. “Kau sudah bertambah kuat, dulu serangan seperti ini tidak dapat melukai diriku tapi sekarang kau bisa menggores lenganku.”


Nyai Bidara tersenyum pahit. Ketika Kerajaan Tumenang di kudeta oleh paman pangeran Miksan Jaya, Jaka Luruhilo adalah orang yang telah mengalahkan dirinya. Hampir pula mati Nyai Bidara, terkena serangan Tebasan Jari Iblis.


“Aku akan menuntut balas...” Nyai Bidara menunjuk ke arah Jaka Luruhilo, “Kau yang telah menyebabkan kematian raja kami, tak kusangka kau adalah orang berhati keji.”


Tertawa terbahak-bahak Jaka Luruhilo, “Kalian semua memang bodoh, tidak mengetahui ada ulat di dalam buah.”


“Hari ini akan kupastikan ulat itu mati mengenaskan.” Segera Nyai Bidara menyerang Jaka Luruhilo dengan kemampuan barunya.


Jaka Luruhilo adalah Senopati yang paling di percaya di Kerajaan Tumenang. Dia telah berjaya di atas gelar Senopati selama 2 tahun lamanya. Tapi rupanya dia adalah mata-mata Kelelawar Iblis.

__ADS_1


Semua kekuatan dan kelemahan Kerajaan Tumenang diketahui dengan mudah melalui perantara Jaka Luruhilo. Bukan hanya itu, pria banci itu berhasil menghasut paman Pangeran Miksan Jaya untuk melakukan kudeta. Dan ternyata berhasil.


Tiada lagi rasa belas kasihan Nyai Bidara terhadap Jaka Luruhilo. Dia terbang dengan cepat ke udara, lalu melepas dua larik cahaya ke arah Jaka Luruhilo.


“Percuma saja!” Jaka Luruhilo mendadak menghilang dari pandangan, membuat serangan itu meleset mengenai sasaran.


Dua menit setelah itu, pria banci itu sudah berada di belakang Nyai Bidara dengan tangan terangkat tinggi dan cahaya keputihan dari lima jari kanannya.


Wust...pria banci itu menebas angin, alhasil dari tangannya keluar cahaya mengarah tepat di belakang Nyai Bidara. Wanita itu hanya memiliki satu detik saja untuk menghindar, jadi kesempatan itu segera dimanfaatkan.


Hanya saja tebasan jari Iblis masih sempat mengenai sanggulnya, membuat rambut pengawal pangeran Miksan Jaya terurai riap-riap sebagian. Karena hal itu bagian atas wanita itu menjadi botak.


“Wah, kau menjadi lebih cantik dari sebelumnya.” Jaka Luruhilo tersenyum genit. “Tapi sebaiknya tebasan itu berhasil mengenai batang leher....”


Belum selesai berkata, Jaka Luruhilo sudah dilewati bayangan hitam. Ketika dia sadar, rupanya Nyai Bidara sudah berada di belakangnya dengan jari kuku yang tajam bersimbah darah. Sekali lagi Jaka Luruhilo terkena serangan Nyai Bidara.


Pipi pria itu meneteskan darah merah, ada luka lebar tepat di pipinya melintang sampai membelah telinga kirinya. Telinga itu menjadi dua bagian saat ini.


“Ah, kau menjadi lebih cantik dengan telinga seperti itu.” Nyai Bidara terkekeh kecil, suara khasnya seperti kuntil anak benar-benar berhasil mengejek Jaka Luruhilo. “Ini...” wanita itu menunjukkan anting-anting besar yang selalu menggantung di telinga pria banci itu, saat ini sudah penuh bersimbah darah. Rupanya selain melukai wajahnya dengan kuku tajam, Nyai Bidara juga berhasil menarik anting telinga Jaka Luruhilo.


“Kurang... kurang ajar, kau Bidara.” Wakil Komandan itu mengeraskan rahang menahan sakit. “Kau ingin melihat sesuatu yang mengerikan, aku akan menunjukkannya?”


Baru selesai dia mengatakan hal itu, tiba-tiba aura kegelapan dalam diri Jaka Luruhilo mulai keluar dan menyelimuti tubuhnya. Tekanan energi itu bahkan sampai terasa oleh Wira Mangkubumi yang berada paling jauh dari pertempuran mereka.


“Energi kegelapan yang mengerikan.” Beberapa prajurit yang menyadari hal itu menjauh.


“Jangan dekati wakil komandan!” Berteriak pula prajurit dari Kelelawar Iblis.


“Benar, menjauh darinya!”


“Bodoh, apa kalian ingin mati? Segera pergi dari tempat ini!” Perintah salah satu prajurit Kelelawar Iblis.


Sekali lagi pertempuran terhenti sejenak. Nyai Siwang Sari dan Jaka Balabala menatap ke sisi timur, dimana pria banci gendut saat ini seperti orang kerasukan setan. Ada percikan energi keluar dari dalam dirinya.


Beberapa wakil komandan yang lain juga memperhatikan Jaka Luruhilo. Beganang Watu tersenyum pahit, hingga dia lupa diri bahwa tiga orang lawannya segera menyerang bersamaan.


“Menyerang bersamaan? Memalukan sekali!” Beganang Watu menebuk dadanya beberapa kali karena serangan itu sama sekali tidak melukainya, kemudian dia kembali menatap Jaka Luruhilo. “Dia sudah mulai? Baguslah, ini akan menjadi sedikit menarik.”


Nyai Bidara mundur lima langkah dari tempatnya. Semakin dia mendekati Jaka Luruhilo udara semakin terasa berat. Aura kegelapan semakin pekat setiap menitnya. Saat ini mungkin saja kekuatan Jaka Luruhilo sudah setara dengan Darma Cokro paling tidak berada di puncak pendekar tanpa tanding.


“Aku akan membunuhmu, Bidara.”


Jaka Luruhilo lenyap seketika. Nyai Bidara menjadi waspada saat ini, dia menajamkan semua panca indranya. Menyapukan pandangan di sekeliling, tapi masih tidak melihat sosok pria banci itu.


Tidak beberapa lama terdengar suara jeritan dari puluhan prajurit Surasena. Tubuh-tubuh mereka nyaris saja terbelah menjadi dua.


Tidak beberapa lama, Nyai Bidara terpukul mundur puluhan meter. Nampaknya serangan Jaka Luruhilo baru saja menghantam tubuh bagian belakangan. Syukur saja wanita itu sudah menyiapkan diri dengan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam


Baru pula berhasil menyeimbangkan tubuh, Nyai Bidara kembali terpukul mundur. Kemudian ada lebih banyak serangan yang tidak tahu asal muasalnya. Tidak bisa lagi ditahan dengan tenaga dalam, tubuh Nyai Bidara perlahan tergores tipis. Pakaiannya mulai terkoyak.


“Aku disini!” Jaka Luruhilo muncul tepat di atas kepala Nyai Bidara dengan tangan terangkat tinggi siap menyerang.

__ADS_1


Tapi sebelum Jurus Tebasan Jari Iblis membunuh wanita itu, tiba-tiba aura panas merayap hingga memenuhi medan pertempuran. Belum tahu apa yang terjadi, Jaka Luruhilo terpental puluhan meter jauhnya bahkan terhempas pada puluhan batang besar hingga tumbang.


“Apa aku sedikit terlambat!” Seorang pemuda mengeluarkan cahaya kekuningan dari lengan kanannya tersenyum kecil ke arah Nyai Bidara. "Kita berjumpa lagi, Nyai Bidara!”


__ADS_2