
Di saat yang sama, Minak Singo keluar dari dalam Istana diiringi dengan 5 pelayan yang mengiringi langkah kakinya yang cepat. Saking cepatnya, pangeran itu menyandung kaki kirinya sendiri membuat keseimbangannya tubuhnya goyang, nyaris jatuh.
Beberapa orang yang melihat keadaan Minak Singo berusaha keras untuk tidak tertawa, meski masih ada beberapa anak kecil yang cekikikan melihat kejadian itu.
“Pangeran, apa kau baik-baik saja?” salah satu pelayan berkata pelan.
Minak Singo mengeraskan rahangnya, berusaha setenang mungkin tapi jelas raut wajahnya di penuhi dengan ras malu, “tidak usah banyak bicara, sekarang tunjukkan di mana tempat Senopati Legam?”
Sang Pelayan membungkukkan badan beberapa kali, kemudian berjalan lebih dahulu sementara Minak Singo mengiringi langkah kakinya.
Tidak beberapa lama, Pangeran dari Negri Sembilan itu menaiki lantai dua sebuah Rumah Makan yang menjual bubur jamur. Dia melihat Senopati Legam sudah berada di tempat itu dengan beberapa kendi arak dan makanan.
Melihat kedatangan Minak Singo, Senopati itu segera berdiri diiringi bawahannya yang lain.
“Tidak usah!” ucap Minak Singo. “Kalian semua silahkan duduk kembali!”
Senopati Legam lantas memberikan sebuah kursi, menuangkan secawan arak dan menyerahkannya kepada Minak Singo. “Aku kira cukup sulit bagi Pangeran untuk tiba di tempat ini?”
“Apa tidak ada tempat lain yang paling aman?” Minak Singo melirik setiap sisi lantai dua rumah makan itu, sedikit waspada jika saja ada orang yang menguping percakapan mereka. “Tempat ini terlalu terbuka.”
“Tempat ini tidak terlalu ramai Pangeran, tapi juga tidak terlalu sepi. Tidak ada yang mencurigai kita,” sanggah Legam, terlihat sangat yakin.
Pangeran Minak Singo lantas mengatakan beberapa informasi yang dia temukan di dalam Istana, salah satunya adalah informasi mengenai penyakit yang diderita Ratu Swarnadwipa yang semakin buruk.
Informasi lainnya tentu saja yang berkaitan dengan misi mereka, penculikan cucu Saylendra. Menurut Minak Singo, kamar bayi itu dikawal 8 Hulubalang atau penjaga yang tanpa sedetikpun meninggalkan ruangannya. Tidak ada yang bisa mendekati kamar itu, kecuali para keluarga Kerajaan.
Sementara itu, Menantu Saylendra atau orang yang bergelar Wira Mangkubumi tidak dapat di anggap remeh. Pangeran Wira Mangkubumi adalah orang yang sangat patuh terhadap peraturan di Swarnadwipa.
Kekuatan Wira Mangkubumi dikatakan setingkat pendekar tanpa tanding dengan 4 cakra yang telah terbuka, dengan tenaga dalam sebesar itu dan ditambah kemampuannya menggunakan tombak yang sangat mumpuni, membuat setiap lawan tidak berkutik di hadapannya.
__ADS_1
Sekarang Wira Mangkubumi bahkan tidak pernah meninggalkan anak dan istrinya semenjak kelahiran bayi mungil mereka.
“Sangat sulit untuk menculik bayi itu saat ini!” Minak Singo menutup ceritanya.
“Memang benar yang pangeran katakan, tapi bukan berarti kesempatan kita tidak ada.” Legam berkata sambil tersenyum licik. “Aku sudah menduga hal ini sejak awal, karena itu aku memiliki rencana yang lebih baik dari pada rencana sebelumnya?”
“Apa maksudmu? Rencana apa yang kau katakan?” Minak Singo menaikkan alisnya tampak begitu penasaran.
“Tidak ada yang bisa masuk kedalam kamar sang putri, tapi pria itu pasti bisa.”
“Siapa yang kau maksud?”
“Siapa lagi? Saudara kandung Wira Mangkubumi, Raja Renggo.”
Renggo adalah pemimpin dari negri Sabat, tepatnya berada di sebelah Negri Sembilan. Negri Sabat merupakan sebuah negri yang kaya raya dan memiliki pasukan meliter yang tak kalah hebat dibandingkan dengan Negri Sembilan.
Sedangkan semua orang tahu, Raja Renggo memiliki dendam yang pahit terhadap adiknya sendiri Wira Mangkubumi, sebab menjadi suami dari putri Saylendra yang harusnya adalah dia.
Rencana Legam sebenarnya sederhana, setelah Renggo berhasil menculik cucu Saylendra atau mungkin membunuhnya. Maka pangeran Minak Singo akan menjadi pahlawan, yang seolah-olah menyelamatkan cucu itu atau paling tidak membocorkan informasi palsu dengan barang bukti yang kuat.
Dari sana akan terjadi percikan konflik antara Swarnadwipa dan Negri Sabat, percikannya mungkin tidak akan terlalu besar, tapi Minak Singo bisa membuat drama kecil untuk membuat mereka berperang.
Ketika perang meletus antara dua negri yang berkepanjangan, maka pada saat itulah Negri Sembilan melakukan penaklukan secara besar-besaran.
“Rencana yang sangat bagus.” Gumam Minak Singo, dia tersenyum lalu meminum beberapa cawan arak kemudian tertawa kecil. “Aku menyukai rencanamu Senopati Legam, dengan kalahnya Swarnadwipa, maka kitalah yang akan menduduki puncak kekuasaan.”
“Kita telah menempatkan pasukan besar di dataran Java.” Senopati Legam mengelus dagunya. “Dengan bantuan dari Kelelawar Iblis, aku yakin kita bisa menaklukkan semua negri.”
“Tapi Kelelawar Iblis belum berhasil menaklukkan semua tanah di dataran java.”
__ADS_1
“Tidak masalah Pangeran, Surasena hanya negri kecil yang lemah.” Senopati Legam kemudian menunjukkan kelima jarinya. “Hanya lima bulan lagi, aku yakin Surasena akan lenyap di tangan sekutu kita, Kelelawar Iblis.”
“Kau benar, Kelalawar Iblis...” Pangeran Minak Singo tertawa kecil.
***
Pada saat yang sama, Sungsang Geni sudah mendengar semua percakapan mereka dari lantai bawah tanpa sedikitpun mereka sadari.
Dari semua penjelasan panjang itu, Sungsang Geni bisa menyimpulkan bahwa point utama adalah raja Renggo dari negri Sabat. Jika orang itu bisa dilumpuhkan, maka semua rencana dari Minak Singo akan gagal.
Sungsang Geni lantas keluar dari rumah makan lebih dahulu, sebelum Minak Singo melihat dirinya dan menaruh curiga.
“Geni bagaimana hasilnya?” Cempaka Ayu bertanya ketika pemuda itu tiba menemuinya.
“Ceritanya cukup panjang, aku tidak yakin bisa menghentikan rencana mereka.”
“Apa kita tidak terlalu jauh memasuki urusan Swarnadwipa?” Cempaka Ayu mulai berpikir jika sekarang bukan saatnya untuk mengurusi Negri orang lain.
“Cempaka, mereka adalah sekutu dari Kelelawar Iblis.” ucap Sungsang Geni, perkataan pemuda itu berhasil mengejutkan Cempaka Ayu. “Aku mendengarnya sendiri, mereka meletakkan pasukan besar di dataran Java untuk membantu Kelelawar Iblis menaklukkan Negri kita. Dan itu baru permulaan saja, mereka akan melanjutkan penaklukan Negri setelah berhasil menguasai Swarnadwipa.”
Tidak pernah di duga Cempaka Ayu, mereka akan menemukan musuh di tempat ini. sekarang semuanya menjadi sangat jelas, dengan menghentikan rencana Minak Singo maka rencana-rencana lain musuh akan hancur.
Pada saat itu, ketika mereka berhasil membuka kedok Minak Singo, maka kemungkinan besar mereka akan mendapatkan sekutu dari Swarnadwipa. Setidaknya ada secercah harapan saat ini.
“Jadi hal pertama yang harus kita lakukan adalah, menjaga cucu Saylendra atau menemukan Raja Renggo, yang manapun itu kita harus menyelinap ke dalam Istana?”
“Kenapa tidak serahkan kepada orang yang tepat dalam hal menyelinap?” tiba-tiba Pramudhita muncul di hadapan mereka berdua, membuat Cempaka Ayu terkejut bukan kepalang.
“Paman Pramudhita?” Sungsang Geni tersenyum penuh makna.
__ADS_1
“Nampakanya urusan kalian bertambah rumit, jadi biarkan aku yang mencari informasi mengenai Raja Renggo yang kau katakan tadi.” Pramudhita mengedipkan matanya, kemudian kembali hilang dari pandangan Cempaka Ayu, sementara Sungsang Geni masih bisa melihat pria itu melayang memasuki pintu utama Istana.
Author minta maaf, hari ini hanya bisa memberi satu capter. Ada beberapa urusan yang perlu diselesaikan, dan membuat tekanan di kepala author. Semoga kalian memakluminya. Karena besok sudah masuk bulan puasa, Author ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi agama muslim, semoga bulan penuh berkah ini menjadi akhir dari situasi buruk di negri kita sekarang.