
Sungsang Geni menyelusuri jalan itu dengan sedikit kesulitan, lorong itu selalu menyusahkannya sedari pertama dia masuk tadi. Jelas saja, ruangan Cakra Mandala berada di lantai ke lima, Sungsang Geni harus terjun bebas untuk tiba di lorongnya saat ini.
Belum lagi Suasana terasa gelap di lorong itu, Sungsang Geni nyaris berjalan dengan keadan buta. Bukan hanya itu, udara mungkin tidak terlalu banyak masuk kesana, jadi Sungsang Geni harus mengatur napas, agar tidak kehabisan oksigen.
Disaat seperti ini, pemuda itu tidak dapat menggunakan jubah kilatan naganya, atau dia akan menabrak dinding Lorong, saking sempit dan gelapnya.
Setelah berjalan cukup jauh, lorong itu menjadi lebih sempit lagi, Sungsang Geni terpaksa berjalan merangkak.
Diatas lorongnya saat ini, dia mendengar suara gemuruh, seperti aliran sungai yang mengalir. Menunjukan dia berada jauh di kedalaman bumi
“Sepertinya, aku berada di bawah sungai kecil Surasena.” Bisik Sungsang Geni, tapi suaranya masih terdengan menggema dan memekakan telinganya sendiri. “Sial, apa Mahesa merasakan hal yang sama? Kenapa aku tidak merasakan tenaga dalamnya lagi?”
***
Disisi lain, Mahesa dan Barakuna sekarang berada di lorong yang lima kali lebih luas dari sebelumnya, membuat kedua orang itu bisa menghirup udara dengan leluasa.
“Hentikan apa yang kau lakukan?” Barakuna dengan suara wanitanya, menutup mata ketika Mahesa membuka bajunya yang basah karena peluh. “Jangan mencari kesempatan, disaat kegelapan.”
“Apa yang kau pikirkan, pria banci? Otakmu memang tidak waras?” Gerutu Mahesa.
“Apa kau bilang, tidak waras?” Dari suaranya, Barakuna terdengar kesal, dia hendak menggunakan Ajian Sukma Gila tapi segera diurungkannya, menyadari tenaga dalam Mahesa lebih besar darinya.
Mahesa tidak ingin terlibat masalah dengan banci di dekatnya, jadi dia bersipat cuek sejak pertama kali mereka masuk kedalam lorong. Pemuda itu memiliki harga diri serta kebanggan cukup besar, melihat Barakuna berdandan seperti wanita membuat dia ingin muntah.
“Aku akan mengejarnya lebih dahulu,” Ucap Mahesa, sambil mencepatkan langkah kakinya.
“Eh...kau kan tidak punya ilmu meringankan tubuh, jadi aku yang akan lebih cepat.” Ucap Barakuna, dia dengan ilmu meringankan tubuh malah melaju lebih dahulu meninggalkan Mahesa.
“Kurang ajar, kenapa nafasku menjadi sesak.” Mahesa kesulitan bernapas, tubuh besarnya membuat dia menghentikan larinya, dan terpaksa membiarkan Barakuna melaju meninggalkannya, menuju setitik cahaya yang mulai terlihat di ujung lorong.
Setelah beberapa saat kemudian, Mahesa akhirnya tiba pula di permukaan tanah. Pintu keluar lorong cukup besar, hampir seperti goa dengan hiasan tanaman rambat dan tumbuhan paku dibibirnya.
Tidak ada Barakuna di sana, dia memandangi sekitarnya yang terlihat sangat asing.
__ADS_1
Itu adalah hutan belantara yang terletak di sisi tenggara kerajaan Surasena. Jika dari pelabuhan memakan waktu sekitar 1 jam dengan berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh. Sebuah hutan paling rimba di Negri itu.
Jika ditarik pada garis lurus, maka harusnya cadas tempat sungsang Geni bertarung dengan Puntura ada di balik bukit kecil di depan Mahesa.
Mahesa berusaha berjalan ke arah tenggara, di ujung matanya, sebuah reruntuhan banguan ukuran besar terpampang. Seperti sebuah candi, atau mungkin padepokan, entahlah Mahesa tidak begitu dapat menaksirnya.
Jauh di belakang bangunan, merupakan ujung Negri Surasena, sederet gunung laksana membentuk pagar alam yang mengelilingi Timur laut hingga Tenggara Surasena.
Mereka menyebutnya makam para Gunung, sebab tidak ada satupun dari belasan gunung itu yang masih aktif.
Mahesa mendengar beberapa suara benturan pedang, berdenting di telinganya dari dalam bangunan itu. Memecahkan pikirannya yang sempat terpana akan keindahan alam.
“Barakuna pasti sedang bertarung di sana...”Gumam Mahesa.
Dia bergegas menuju bangunan itu, cukup sulit baginya masuk kedalam banguan, sebab reruntuhan bangunan yang setinggi dirinya hampir menutupi jalan masuk.
Tanpa ilmu meringankan tubuh, pemuda itu terpaksa berjalan dengan pelan, sedangkan suara dentingan sejata semakin jelas ditelinganya.
Salah satu diantara kelima pendekar aliran hitam itu, terlihatlah Lalatah Sari.
Menghadapi pendekar yang levelnya pendekar pilih tanding, sebenarnya bukanlah perkara sulit bagi Barakuna, tapi lain cerita jika berhadapan dengan lima orang sekaligus. Ajian Sukma Gila miliknya tidak akan berguna menghadapi mereka bersamaan.
Tubuh gemulainya, saat ini telah luka dibeberapa bagian akibat senjata yang berbentuk cakar dari seorang pendekar yang terlihat lebih kuat dari empat orang lainnya.
Pria cantik itu merasakan sakit dibagian bahunya, tapi berusaha menutupi perasaannya.
Cukup mengejutkan Mahesa, melihat kemampuan Barakuna yang mampu bertahan melawan mereka berlima. Namun lebih mengejutkan lagi, ketika dia mendapati ada belasan mayat para gadis yang tergeletak di altar batu, menghadap pada patung penuh darah. Patung Batara Kala, raja para iblis.
Jelas tempat itu dijadikan pemujaan bagi mereka yang mendabakan ilmu hitam. Sepenuhnya Mahesa menyadari mereka berlima bukanlah pendekar dari aliran hitam, tapi lebih mengerikan dari pada itu. Anggota Kelelawar Iblis.
Pemuda itu mengenang masa lalu, menyadari aura yang terpancar dari tubuh mereka sama persis dengan aura pasukan yang menghancurkan perguruannya. Jadi dia tidak akan tinggal diam.
“Bertahanlah!” Mahesa berkata, dia berlari menuju Barakuna yang sesaat lagi akan terkena cakar untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Ting...ting...Cakar itu mendarat di leher Mahesa.
“Menggelikan, apa kau tidak memiliki senjata yang lebih tajam dari cakar ini.” Mahesa tersenyum kecil, namun matanya sangat tajam menatap mereka berlima, terutama Lalatah Sari. Mengoyakan keberanian mereka.
Barakuna yang saat ini berada di belakang Mahesa terkejut bukan kepalang. Tidak ada pendekar yang memiliki tubuh sekeras Mahesa, yang pernah ia temui seumur hidupnya.
“Siapa kau? Kenapa orang sepertimu tiba-tiba berani ikut campur urusan kami?” Lalatah Sari tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
“Benar juga, aku tidak memiliki alasan khusus untuk ikut campur urusan kalian dengan Surasena.” Jawab Mahesa.
“Jika begitu kenapa kau harus repot-repot mengejarku. Dengar! aku memiliki penawaran bagus untukmu!”
“Penawaran?”
“Bergabunglah kepada kami, Kelompok Kelelawar Iblis. Dengan begitu kalian bisa hidup sesuka kalian, harta, arak, wanita, ya kalian bisa meniduri wanita sepuas kalian. Bahkan dengan kekuatanmu sekakarang, aku yakin Prabu Topeng Beracun akan mengangkatmu menjadi wakil komandan.”
Lalatah Sari cukup yakin dengan pernyatannya, ke empat orang yang bersamanya saat ini juga buah hasil dari penawarannya.
“Penawaran yang bagus, bagaimana jika aku juga memberi penawaran kepada kalian?” tanya Mahesa.
Mendengar ucapan pemuda berkulit keras didepannya, Lalatah Sari menaikan alisnya. Dia balik menatap Mahesa dengan penuh curiga, nampaknya penawaran yang diberikannya tidak memikat hati pemuda itu.
“Apa penawarannya?” Lalatah Sari bertanya dengan perasaan ragu.
“Tinggalkan kepala kalian ditempat ini! ”
“Hahaha....kalau begitu langkahi mayat kami lebih dahulu.” Kelima orang itu segera menyerang Mahesa secara bersamaan.
Telah terjadi pertukaran ratusan jurus, hanya dalam beberapa menit. Namun rupanya Mahesa mengenal jurus yang dikeluarkan oleh Lalatah Sari.
Mahesa mundur lima langkah, menatapi Lalatah Sari dari ujung rambut sampai kaki, pemuda itu lantas terbelalak matanya, menyadari gadis kecil itu merubah seluruh penampilannya menjadi wujud aslinya.
“Kau, bagaimana mungkin?” mahesa berkata dengan nada bergetar.
__ADS_1