PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Laporan Karang Dalo


__ADS_3

Suasana ribut membangunkan Gadhing yang sedang tertidur pulas, dia segera bergegas keluar untuk melihat hal apa yang telah terjadi diluar sana.


“Mahesa apa yang terjadi disana?” tanya Gadhing ketika menemui Mahesa didepan pintu kamarnya. Di menunjuk belasan prjurit yang keluar dari kediaman Pangeran Warkudara.


“Entahlah aku juga tidak tahu apa yang terjadi, tapi beberapa menit yang lalu aku sempat mendengar suara pertarungan dari beberapa orang.” Jawab Mahesa.


Beberapa orang prajurit besar keluar dari pintu kediaman Warkudara, prajurit itu terlihat sedang menyeret sesuatu. Tapi Mahesa dan Gadhing dibalik kerumuman prajurit banyak tidak dapat memastikan apa yang mereka seret.


Jadi Mahesa dan Gadhing memutuskan untuk mendekati kerumuman itu.


“itu adalah mayat kakek tua!” bisik Gadhing kepada Mahesa, “Kejahatan apa yang dia lakukan, hingga harus meregang nyawa?”


“Entahlah, lebih baik kita tanyakan kepada para pelayan disana?” jawab Mahesa seraya mendekati beberapa pelayan wanita yang berwajah tegang.


Pelayan itu menjelaskan, beberapa orang berusah mencuri barang-barang berharga milik Pangeran Warkudara. Namun usaha mereka sempat diketahui oleh Senopati Karang Dalo.


“Apakah mereka semua sudah tewas?” tanya Gadhing.


“Kabarnya dua orang masih hidup, tapi Kerajaan Surasena tidak akan tinggal diam. Siapapun yang membuat kerusuhan dilingkungan Istana hukumannya adalah kematian.” Ucap sang Pelayan.


Gadhing menelan ludahnya beberapa kali mendengar perkataan pelayan itu. Namun lekas menyadari aturan yang diterapkan Kerajaan Surasena memang sudah biasa diterapkan oleh kerajaan kecil yang lainnya. Tujuannya adalah memberi efek takut kepada orang yang berusaha melakukan kerusuhan di lingkungan Istana.


Setelah beberapa saat kemudian, belasan prjurit tiba-tiba saja mendekati Mahesa dan Gadhing. Belasan prajurit itu menghunuskan tombak kepada mereka berdua, membuat Mahesa dan Gadhing sama-sama terkejut.

__ADS_1


“Apa yang kalian lakukan? kami adalah pengawal Putra Mahkota Kerajaan Majangkara! Kalian akan terkena hukuman karena telah melakukan hal ini kepada tamu penting Surasena!” Gadhing berkata dengan nada bergetar, tapi ucapanya tidak dihiraukan para prajurit itu.


“Pengawal Majangkara? Apa kalian tidak tahu para bandit disana, mereka semuanya adalah pengawal dari Kerajaan Kecil. Majangkara!” Karang Dalo berkata, dia menunjuk beberapa orang yang tergeletak tak bernyawa lagi.


Mahesa dan Gadhing segera mengetahui itu adalah ke empat prajurit yang ikut serta mengawal Dewangga. Disebelah empat prajurit itu terbaring pula 3 orang berpakaian putih yang kini warna bajunnya lebih terlihat merah karena darah.


Dua orang prajurit kemudian keluar dari ruangan, menggiring dua orang pria yang kaki dan tangannya dirantai. Dua orang pria itu penuh dengan luka disekujur tubuhnya, dengan bola mata nyaris pecah dan bengkak. Nampaknya beberapa prajurit mendaratkan gagang tombak kewajah mereka berdua.


“Muksir! Kantu!” pekik Gadhing.


Tapi Suara Gading tidak mendapat jawaban, Muksir dan Kantu mungkin mendengar teriakan Gadhing tapi tidak memiliki cukup tenaga untuk berbicara sepatah kata. Gigi mereka terlihat ompong, serta lidah yang berdarah. Nampakanya Karang Dalo telah memotong lidah mereka, ketika para prajurit Surasena dalam keadaan lengah.


“Mereka ini akan dihukum mati karena telah berusaha melakukan tindak kriminal, ternyata prajurit Majangkara merupakan kumpulan para bandit. Memalukan.” Karang Dalo menyunggingkan senyum sinis di bibirnya, “Sekarang kalian berdua juga harus ditahan, kasus ini harus diselidiki lebih lanjut. Jika ternyata Majangkara memiliki niat jahat, Surasena tidak akan tinggal diam.”


***


Setelah selesai acara makan pagi, Raja Cakra Mandala yang ditemani putranya Pangeran Lakuning Banyu mengajak Dewangga, Nala Setya dan Warkudara untuk membicarakan perihal surat lamaran yang dia kirimkan.


Mereka meninggalkan ruang makan istana, menuju aula besar yang dinidinnya dipenuhi dengan buku, peta dan lukisan-lukisan menarik. Dewangga mengetahui beberapa lukisan menyimpan misteri yang sulit dipecahkan.


Dewangga duduk diantara Nala Seyta dan Warkudara, membuat suasana hatinya tidak begitu nyaman. Disebrang meja giok yang indah dengan pernak pernik batu mulia, Raja Cakra Mandala dan Lakuning Banyu duduk berdekatan.


“Kalian tentu bertanya, kenapa saya mengirim surat itu kesemua Kerajaan?” Cakra Mandala memulai perkataannya, sedari tadi baik Dewangga dan dua Putra Mahkota lainnya hendak menanyakan hal itu.

__ADS_1


Diantara tiga Putra Mahkota itu, Warkudara yang paling mencari muka, jadi dia berkata selembut mungkin untuk menarik hati Raja Cakra Mandala. “Ma’afkan saya Yang Mulia, jika anda tidak keberatan, alasan apakah yang membuat anda melakukan hal itu.”


“Putriku sangat cantik dan lembut hatinya dia adalah wanita yang menjadi simbol kebaikan bagi wanita lain di Negri ini. Saya selaku ayahnya menginginkan pasangan yang pantas untuk bersanding dengannya.” ucap Raja Cakra Mandala.


“Aku memahami perasaanmu Yang Mulia, lelaki itu harusnya berasal dari kerajaan yang kaya serta teruji kemapuannya. Seperti Kerajaan Tombok Tebing.” Lanjut Warkudara.


Sedari tadi Dewangga menahan tangannya untuk tidak menampar, mendengar cara berkata Warkuda, begitupun nampkanya Nala Setya yang terlihat jijik melihat Warkudara.


‘kenapa tidak dipanggil Warkudara sang penjilat saja’ batin Dewangga bergumam.


“Tidak harus dari kerajaan kaya!” Pangeran Lakuning Banyu yang sedari tadi diam, nampakanya memiliki cara pandang yang sama dengan Dewangga dan Nala Setya mengenai Warkudara. “Yang kami butuhkan adalah laki-laki yang dapat menjaga adiku dengan segenap jiwa raganya, bukan hanya dengan harta saja. Jadi kami telah menyiapkan saimbara mengenai hal itu.”


“Ehem...” Dewangga mendehem beberapa saat, “Yang Mulia Cakra Mandala dan juga pangeran Lakuning Banyu, ma’afkan saya jika lancang, tapi jika boleh saya bertanya bagaimana nasip 5 putra mahkota yang dikabarkan telah tewas diperjalanan menuju Surasena. Sekali lagi saya mohon ma’af jika pertanyaan saya lancang.” Dewangga kemudian segera memberi hormat.


Raja Cakra Mandala mengernyitkan keninggnya begitupun dengan Pangeran Lakuning Banyu, kemudian mereka menatap kearah Dewangga dengan perasaan tanda tanya. ‘Pria ini, nampaknya lebih mementingkan para putra mahkota itu dari pada hal ini.’


“Surasena sedang menyelidiki kasus ini.” ucap Cakra Mandala setelah cukup lama terdiam, “Hukum Surasena tidak akan melepaskan mereka yang telah berani membunuh Putra Mahkota kerajaan yang berada dalam kekuasaan Surasena.”


“Jika begitu saya lega mendengarnya!” ucap Dewangga lagi.


“Kami belum tahu apa motif dibalik pembunuhan itu, tapi untuk saat ini Senopati Datu Wenda sedang menyelidiki kasus ini. Saya pribadi sangat menyesalkan hal ini terjadi, jadi kami tidak akan berdiam diri saja.” ucap Pangeran Lakuning Banyu.


Dewangga hanya terdiam mendengarnya, tapi perasaannya cukup lega mendapati Surasena tidak menutup mata mengenai kasus ini. ‘ Geni satu pertanyaanmu sudah terjawab.’

__ADS_1


“Lapor Yang Mulia!” Karang Dalo tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan, wajahnya terlihat tegang, namun Dewangga tahu itu hanya ektingnya saja, “Kami telah berhasil menangkap beberapa orang yang berusaha mencuri barang-barang Putra Mahkota Warkudara. Pencuri itu adalah... pengawal Putra Mahkota Majangkara.”


__ADS_2