PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Teknik Rahasia Resi Irpanusa


__ADS_3

Asap tebal beranjak dari tempat itu, terbawa angin menerpa dedaunan yang berguguran akibat tekanan energi Tabib Nurmanik dan Prawati.


Orang-orang mulai melihat siapa pemenangnya. “Mereka berdua tidak ada yang kalah!”


“Lihatlah! Mereka berdua masih berdiri."


Namun beberapa menit kemudian, Tabib Nurmanik jatuh ke tanah dengan posisi duduk bersimpuh. Beberapa kali dia menyeka darah yang keluar dari mulut dan hidungnya, dan ini kondisi yang tidak baik.


Pramudhita segera merangkul pundak wanita tua itu, dan mencari sesuatu di dalam saku bajunya untuk menekan luka dalam Tabib Nurmanik. “Ini, minumlah ramuan ini!”


Ramuan berwarna hijau yang diberikan memang tidak terlalu mujarab, hanya terdiri dari tanaman biasa. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk memberi pertolongan pertama bagi Tabib Nurmanik, setidaknya wanita itu akan bertahan hingga 2 jam kemudian.


Lawannya, Prawati belum bergerak dari posisi dirinya. Masih berdiri dan menatap ke arah Tabib Nurmanik dengan ekspresi datar.


“Aku akan menghabisi wanita itu!” ucap Pramudhita geram, emosinya tidak tertahan lagi.


“Tidak usah!” ucap Sungsang Geni, menepuk pundak Pramudhita untuk menenangkan pria itu. “Dia sudah tiada!”


Pramudhita belum percaya dengan perkataan Sungsang Geni hingga pada akhirnya, tubuh Prawati jatuh terhempas dengan posisi memeluk bumi. Pada saat yang sama, darah hitam keluar dari mulut hidung dan telingannya.


“Uhuk...uhuk...” Tabib Nurmanik memuntahkan beberapa darah segar, hingga pada akhirnya wanita itu juga tidak sadarkan diri.


Pramudhita meminta seluruh pendekar yang masih kuat, untuk membawa Tabib Nurmanik kembali ke Padepokan Cabang Utara secepatnya. Setelah kembali, pasti akan lebih banyak obat yang dapat membantu wanita itu.


Sekarang tidak ada lagi yang tersisa, Sriyu Kuning begitu geram melihat kekalahan di depan matanya. Harusnya, pertempuran diadakan 2 atau 3 tahun lagi, pada saat pendekar dipihaknya sudah cukup kuat untuk bertarung.


“Sekarang kau sendirian!” ucap Resi Irpanusa, untuk pertama kali mengeluarkan bayangan dari dalam tubuhnya, “Semua orang yang mengikutimu telah kalah, nampaknya rencana yang kau buat belum terlalu matang?”


Resi Irpanusa mulai menunjukkan kemampuan bertarungnya, ini adalah pemandangan langka yang jarang terjadi. Bahkan 30 tahun terakhir, kakek tua itu sama sekali tidak menggunakan pedang energi setiap melatih muridnya.

__ADS_1


6 bayangan bertemu dengan 6 bayangan pula, sekarang Resi Irpanusa mulai memberi tekanan terhadap Sriyu Kuning.


Tebasan kuat mengarah ke bagian pundak, tapi Sriyu Kuning masih memiliki waktu untuk menghindar, tapi tusukan kuat hampir saja menikam jantungnya jika bukan dia menahan ujung pedang dengan telapak tangan yang di aliri tenaga dalam besar.


Telapak tangan itu juga tidak mampu untuk bertahan lama, Resi Irpanusa berhasil menembakkan energi dari ujung mata pedang, membuat Sriyu Kuning terhempas pada beberapa pohon besar.


Tidak berhenti disana, Resi tua itu terbang dengan cepat dengan 3 buah pedang bayangan yang melesat kedepan, membuat Sriyu Kuning kembali terkena serangan kuat.


Mereka berdua, meski sama-sama memiliki tenaga dalam yang seimbang, tapi gerakan Resi Irpanusa jauh lebih hebat dari pada Sriyu Kuning. Hal ini sudah diduga oleh Sungsang Geni, sebab pengalaman tentu saja menyumbang sebagian besar kemampuan.


Sriyu Kuning mendarat kasar di tanah gersang, bayangannya hendak menolong tapi bayangan Resi Irpanusa mencegahnya.


“Aku tidak boleh kalah di tempat ini!” ucap Sriyu Kuning, mencari cara agar bisa menipu Resi Irpanusa atau mungkin melarikan diri.


Benar saja, cara licik hampir membuat Resi Irpanusa terluka. Tapi selanjutnya Sriyu Kuning, berhasil melemparkan debu beracun di wajah lawannya, membuat Resi Irpanusa kesulitan melihat.


Semakin lama, matanya mulai terasa sangat perih, Resi Irpanusa berusaha mengucek matanya, tapi malah semakin terasa sakit. Ini adalah racun yang kuat, mungkin memang digunakan sebagai alat membutakan lawan.


Pada saat yang sama, ketika melihat celah yang terbuka lebar, Sriyu Kuning mendaratkan satu pukulan keras tepat mengenai dada Resi Irpanusa.


Kakek tua melayang beberapa saat, sebelum dia terhempas ke batang besar, kakinya melakukan kuda-kuda untuk menekan tubuhnya dan sekejap menghilang.


Sriyu Kuning tidak bisa melihat pergerakan mantan gurunya, hingga sebuah tapak keras, lebih keras dari pukulannya mendarat tepat di bagian perut. Tekanan energi bahkan menembus tubuhnya.


“AHK!” Sriyu Kuning terpekik keras. Tubuhnya tidak melayang bahkan tidak bergerak sedikitpun. Tekanan tenaga dalam seperti gelombang kejut yang melewati tubuh lawannya, serangan semacam itu sebenarnya sangat kuat.


Terdengar beberapa retakan di dalam tubuhnya, mungkin dua atau tiga tulang rusuk retak. Sriyu Kuning mencoba bangkit, tapi dia kesulitan melakukan hal itu. Tubuhnya rebah dengan posisi tengkurap, memeluk bumi.


Darah segar keluar dari mulut dan hidung, dan sekarang sakit yang dialaminya lebih menyayat seiring waktu berjalan, sementara tenaga dalamnya mulai habis dan bayangannya mulai dikalahkan.

__ADS_1


Serangan barusan tidak pernah diajarkan oleh Resi Irpanusa kepada siapapun, tidak pernah! Ini adalah jurus terkuat dari serangan jarak pendek, tombak menusuk macan.


Jurus ini memang masih jauh dari kata kuat jika dibandingkan dengan Murka Naga Bayangan, tapi jika seseorang ahli dalam menggunakannya, dan pada waktu dan kondisi yang tepat. Jurus ini bahkan bisa memecahkan jantung lawan, hanya sekali serangan.


Kesulitan dari jurus ini adalah terletak dari kecepatan dan momen serangan. Tekniknya hampir sama dengan mengeluarkan pedang energi dari telapak tangan, hanya saja ini dilakukan ketika telapak tangan berada tepat di bagian tubuh lawan.


“Kau membutakan mataku?” ucap Resi Irpanusa. “Tapi aku masih bisa melihat dengan telingaku!”


“Kau benar-benar kuat, pria tua...uhuk, uhuk!” Sriyu Kuning tersenyum pahit, tidak menyangka bahwa Resi Irpanusa, masih jauh lebih kuat dari yang dia duga.


“Kelemahanmu adalah kesombongan!” sambung Resi Irpanusa.


Sriyu Kuning menekan telapak tangannya, lalu tubuhnya melayang ke belakang menjauhi Resi Irpanusa. Sekarang jarak mereka mungkin, 10 depa jauhnya.


Sriyu Kuning tidak mendapatkan celah untuk melarikan diri, dia sudah memikirkan beberapa cara, memutar otak liciknya tapi satu solusipun tidak dapat menyelamatkan hidupnya.


Sebelumnya dia berharap pergerakan Resi Irpanusa menjadi terganggu akibat matanya yang buta, tapi ternyata dugaannya melenceng jauh. Sekarang, rencana apapun tidak akan bekerja bagi orang yang mendengar segalanya.


Sungsang Geni yang memperhatikan pertarungan itu dari awal, tidak bisa menyembunyikan wajah tercengang terhadap gerakan yang dilakukan Pimpinan Padepokan Cabang Selatan itu.


Di mata Sungsang Geni, meski dia sudah sangat tua, tapi seluruh tubuhnya masih sangat lentur, bahkan lebih dari Eyang Gurunya Ki Alam Sakti.


Dan hal yang paling mengejutkan Sungsang Geni adalah, pria itu masih dapat bertarung meski matanya dalam keadaan buta.


“Telinga yang bisa mendengar apapun, telinga yang bisa memprediksi setiap gerakan!” ucap Sungsang Geni.


“Aku juga baru mengetahuinya!” sambung Pramudhita. “Bahkan jurus terakhir yang digunakan Resi Irpanusa, itu baru pertama kali aku melihatnya.”


“Menurutmu, apakah aku bisa menguasai pendengaranku!” ucap Sungsang Geni. “Dan jurus yang barusan itu.”

__ADS_1


“Hahahaha...siapa yang tahu? Hanya kau yang dapat menjawabnya.”


__ADS_2