PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Nini Sebalas Tenung


__ADS_3

Wulandari masuk ke dalam ruangan yang berada pada tingkat paling tinggi di Markas Negri Sembilan. Pintu ruangan berwarna merah dengan gagang besar. Di dalam ruangan itu, ada seorang nenek-nenek yang mengenakan pakaian kebaya berwarna kusam, dan rambut panjang riap-riap sepinggang. Tak lupa pula tusuk konde dari emas menyelip pada sanggul rambut wanita itu.


Bau menyan memenuhi ruangan itu, ada sesajen besar terletak di atas meja, bunga 7 warna di dalam sebuah bejana besar terbuat dari perunggu berisi air.


Lalu setiap sisi tempat duduk berwarna putih, ada dua patung mahluk yang tidak di ketahui oleh Wulandari, ya mungkin saja bangsa Lelembut, sebab matanya merah dengan gigi taring tajam dan lidah menjulur.


Ketika Wulandari menatap wajahnya, nenek tua itu menyeringai menunjukkan gigi-gigi hitam kemerahan akibat sirih yang di kunyah dengan kapur dan buah pinang. Terlihat begitu nikmat, mungkin saja.


Wanita tua itu dijuluki Nini Sebalas Tenung. Sesuai dengan namanya, dia adalah wanita ahli tenung yang paling hebat di Negri Sembilan. Bukan hanya hal itu, dia juga konon bisa melihat takdir seseorang hanya dengan melihat tatapan matanya saja.


Nini Sebalas Tenung sudah pernah melihat Maha Senopati akan memiliki seorang putri, tentu saja anak yang tak di inginkan sebab Maha Senopati mengharapkan seorang putra yang akan menjadi penerusnya.


Sebab itulah, Maha Senopati tidak begitu terlalu menyayangi Wulandari, dan sebagai gantinya dia malah mengangkat seorang putra.


Wulandari seketika mematung ketika wanita itu berjalan mendekat. Tangannya di penuhi dengan kulit keriput, membelai pipi gadis itu dengan ujung kukunya yang tajam. Kemudian tersenyum menakutkan, “Putri dari Maha Senopati, gadis malang yang lahir tanpa di harapkan ayahnya.”


Wulandari menahan amarah ketika wanita tua itu mengungkit masalah itu, rasanya segera ingin pergi meninggalkan ruangan ini, jika bukan karena penawar racun yang telah dijanjikannya untuk diberikan kepada Sungsang Geni.


“Ah, kenapa kau datang menemuiku? Bukankah kau sangat membenciku, gadis malang?” lanjut wanita tua itu, sekali lagi menyeringai menunjukkan gigi-gigi merahnya.


“Aku datang ke sini meminta penawar dari racun kunci jiwa.” Gadis itu berkata pula setelah berhasil menguatkan diri untuk menahan emosinya.

__ADS_1


Nini Sebalas Tenung mendekati gadis itu, memutari tubuhnya sambil memperhatikan lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Keningnya seketika mengernyit, kemudian tawa kecil keluar dari mulutnya seperti sekawanan bebek berjalan beriringan.


“Kau tidak terkena racun kunci Jiwa. Untuk siapa penawar racun itu?” tanya Nini Sebalas Tenung. “Astaga, apa kau berusaha mengobati seserang yang sekerang mengisi hampanya hatimu...”


“Aku tidak memiliki seseorang di dalam hatiku,” Wulandari segera menimpali, meski wajahnya terlihat merah karena malu. “Penawar Racun itu untuk teman-temanku di Markas Petarangan, aku tanpa sengaja menjatuhkan racun kunci jiwa dalam tong air minum, jadi beberapa orang terkena racun.”


“Beberapa orang? Biarkan saja mereka mati, kau masih memiliki ratusan orang yang lainnya.” Lantas Nini Sebalas Tenung tertawa cekikikan.


“Aku mohon, kau harus membantuku. Tolong berikan obat penawar racun kunci Jiwa, aku akan melakukan apapun yang kau pinta.”


Nini Sebelasa Tenung semakin tertawa cekikikan, kemudian dia berjalan lagi menuju bejana besar yang dipenuhi dengan bunga tujuh rupa. Dari dalam bejana itu, dia mengambil botol kecil yang terbuat dari batu giok.


“Ini adalah penawar racun kunci jiwa.” Dia berkata menyodorkan botol kecil itu, tapi sebelum tangan Wulandari menyentuhnya dia menarik kembali botol itu lalu tertawa cekikikan seperti sebelumnya. “Kau menginginkannya, kau harus mengabulkan satu permintaanku.”


“Ya, aku melihat kau membawa seorang pemuda asing ke tempat ini. Semua orang tidak mengetahui hal itu, tapi aku tentu saja mengetahuinya. Aku ingin pemuda itu mati malam ini, karena penawar racun ini membutuhkan sebuah pengorbanan darah.”


Wulandari terkejut bukan kepalang, lelucon macam apa yang telah didengarnya barusan. Menginginkan kematian Sungsang Geni, merupakan pemuda yang sangat disukainya. Tentu saja dia menolak mentah-mentah.


“Aku tidak mungkin mengabulkan permintaanmu.” Wulandari mundur tiga langkah, tapi seketika pintu kamar itu tertutup dengan sendirinya, kemudian angin kencang berputar-putar memenuhi ruangan Nini Sebalas Tenung. Ajaibnya tiada satu bendapun di tempat itu yang terjatuh kecuali pakaian Wulandari yang tersingkap pada bagian betisnya.


“Hanya ini jalan satu-satunya cara agar kau mendapatkan penawar racun Kunci Jiwa. Darah dari seorang pemuda yang paling di kasihi adalah penawar paling mujarab. Kau tidak bisa mengorbankan nyawa orang lain.”

__ADS_1


“Jika hanya darah, lantas kenapa harus nyawa pula?” Wulandari berkata dengan tubuh menggigil saking takutnya. “Ini hanya bualan dirimu, kau berniat menipuku.”


Nini Sebalas Tenung tersenyum kecil, menaikkan alis hingga keningnya semakin tampak berkerut kemudian dia tertawa cekikikan. “Kau cerdas gadis malang, tentu saja tidak ada hubungannya darah dengan penawar ini, tapi aku mengetahui pemuda yang kau bawa bukan sembarangan, aku ingin bertemu dengan...”


Pintu ruangan tiba-tiba di terjang sesuatu hingga terbuka lebar sekali, bahkan nyaris lepas dari daun pintunya. Nini Sebalas Tenung menyipitkan mata ketika mendapati seorang pemuda telah berdiri di hadapannya.


“Geni, kenapa kau berada disini?” Wulandari bahkan lebih terkejut lagi dari pada Nini Sebelas Tenung.


“Tentu saja mengambil penawar racunnya.” Sungsang Geni tersenyum kecil, kemudian bergerak cepat sekali tepat berada di hadapan Nini Sebalas Tenung. Nenek tua itu hampir saja jatuh saking terkejutnya, pada saat yang sama Sungsang Geni segera menyambar botol kecil di dalam genggaman wanita itu.


“Kurang ajar, berani sekali kau merebut sesuatu yang bukan menjadi hakmu.” Nini Sebalas Tenung mengumpat serapah, tapi belum melakukan serangan, dia tidak cukup bodoh menghadapi pemuda yang memiliki energi meluap-luap di hadapannya.


“Geni kenapa kau tiba-tiba datang ke tempat ini?” Wulandari bertanya. “Dari mana kau tahu...”


“Aku mendengarnya, wanita tua ini juga menginginkan nyawaku bukan?” Sungsang Geni tersenyum kecil. “Jadi aku memutuskan untuk merebutnya, itu lebih cepat karena aku yakin nenek tua ini tidak akan memberikan secara cuma-cuma.”


Nini Sebalas Tenung meraung dengan keras, wajahnya menjadi merah bara kemudian situasi di tempat itu bergoyang-goyang laksana saja diterpa badai. Wulandari menahan tubuhnya pada salah satu tiang ruangan agar tidak jatuh ke lantai, sementara Sungsang Geni segera melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam.


Pemuda itu bisa merasakan Nini Sebalas Tenung memiliki keahlian di atas rata-rata, tapi bukan itu masalahnya. Pemuda itu semenjak memasuki ruangan ini bisa merasakan berbagai macam bangsa lelembut, auranya sangat jelas terasa.


“Wanita tua ini berteman dengan bangsa siluman.” Sungsang Geni bergumam kecil, memandangi dua patung dedemit yang seakan memiliki nyawa.

__ADS_1


Author sedang mudik ke kampung halaman, di Pagar Alam. Jadi tidak memiliki waktu banyak untuk up seperti biasanya, capter ini juga di sempat-sempatin di ketik. Mungkin selama 3 hari up cuman satu capter. Kemudian akan kembali up seperti biasanya, tapi tidak janji untuk mengganti capter yang kurang.


__ADS_2