PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Bertemu Guru


__ADS_3

Sungsang Geni tiba di sebuah tenda ditemani dengan Mahesa dan Cempaka Ayu, pemuda itu dapat melihat Ki Alam Sakti terbaring dan dikelilingi oleh beberapa orang.


Salah satu dari orang itu dikenal oleh pemuda itu, Pangeran Dewangga dan juga Gadhing. Ketika melihat Mahesa, Dewangga menundukkan kepalanya memberi hormat setelah itu dia menatap Sungsang Geni dengan penuh tanda tanya.


“Kau tidak mengenaliku, Dewangga?” Sungsang Geni menyapa lebih dahulu.


Kening Dewangga seketika naik, “Aku yakin tidak pernah bertemu dengan dirimu.”


“Aku adalah Sungsang Geni, teman sekaligus saudara seperguruanmu.”


Dewangga tidak bergerak untuk beberapa saat, dia memandangi tubuh Sungsang Geni dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Wajahnya masih terlihat tidak percaya,Sungsang Geni memaklumi hal itu sepenuhnya.


Hingga beberapa saat kemudian, Dewangga meneteskan air. “Geni aku sudah kehilangan banyak saudara, teman dan rakyat, Aku kehilangan Kedua orang tua dan aku...”


Dewangga tidak sanggup melanjutkan perkataannya, berganti uraian air mata. Gadhing nampaknya juga merasakan keterpukulan yang sama.


Dari lima murid Ki Alam Sakti hanya 3 orang yang selamat, Dewangga Gading dan Anjani dan ditambah dengan istri Dewangga. untuk menyelamatkan mereka semua, raja Airlangga terpaksa mengorbankan nyawanya dengan tetap bertarung menghadang musuh.


Dewangga masih ingat betul salah satu dari Komandan tersebut mengenakan kendi arak, Pendekar Pemabuk yang berhasil menikam jantung ayahnya. Dia juga sempat menyaksikan Ki Alam Sakti menghadapi Pendekar Pemabuk dan juga seorang pendekar lagi yang terlihat sebagai sekutu mereka.


Meski pada akhirnya salah satu dari mereka berdua bisa di bunuh oleh Ki Alam Sakti, tapi gurunya itu juga mendapatkan luka dalam yang sangat parah, sementara Pendekar Pemabuk juga mengalami hal yang sama.


Ketika dua orang hebat itu terluka parah, prajurit bayaran Majangkara berhasil membuka jalan untuk keluarga kerajaan pergi meninggalkan Majangkara beserta para Pengawal yang tersisa.


“Tidak banyak yang selamat dari kami!” ucap Gadhing dengan nada berat. “Ini adalah sisa dari keluarga Majangkara, Singa Emas beserta pasukannya sudah terbunuh dalam pertempuran, satu-satunya yang kami miliki adalah Ki Alam Sakti tapi...”


“Ma'afkan aku karena tidak berada di sana...”


“Itu bukan salahmu, kami juga mendengar kabar mengenaimu saat itu, kehilangan dirimu membuat Guru kita sangat bersedih...” Dewangga melanjutkan.

__ADS_1


“Karena itu aku membawakan obat untuk Eyang guru, aku harap ini dapat membantu.” Sungsang Geni mengeluarkan botol yang diberikan Tabib Nurmanik sebelum dia meninggalkan alam lelembut.


Pemuda itu mendekati gurunya, membuka tutup botol yang terbuat dari batu hijau zamrud. Ketika tutup botol itu terbuka, aroma rempah-rempah tercium hampir memenuhi seluruh tenda.


Sungsang Geni memberi gurunya tiga tetes ramuan yang ada di dalam botol itu, cairannya berbentuk biru laut dan sangat kental. Ketika cairan itu masuk kedalam mulut Ki Alam Sakti, tubuh kakek tua itu tiba-tiba memberikan reaksi.


Getaran di ujung-ujung jari serta keringat tampak bercucuran dari setiap pori-pori yang ada di permukaan kulitnya. Pada saat yang sama, Sungsang Geni menyalurkan tenaga dalamnya untuk membantu proses pengobatan gurunya.


Hampir selama 15 menit lamanya, pada akhirnya reaksi dari tubuh Ki Alam Sakti hilang. Sungsang Geni mengatur napasnya, setelah melihat aura tubuh gurunya mulai terlihat bercahaya lagi.


Bibir yang pucat perlahan mulai terlihat segar, tapi Ki Alam Sakti belum juga membuka matanya.


“Eyang Guru akan sadar setelah dua hari kemudian!” Sungsang Geni menjelaskan, selama itu pula jika luka dalamnya memang sangat parah maka pada waktu-waktu tertentu seperti beranjak petang maka tubuhnya akan kembali menimbulkan reaksi yang sama.


Menurut Tabib Nurmanik itu tandanya ramuan obat sedang bekerja untuk menutup luka-luka dalam orang tersebut. Atau juga akan mengeluarkan racun racun yang bersarang di dalam tubuh.


Sungsang Geni tidak pergi meninggalkan gurunya sedetikpun semenjak dia tiba di tenda itu, dia juga tidak tidur sekejappun.


Sekekali pemuda itu memeriksa tubuh Ki Alam Sakti, dia juga menyalurkan tenaga dalam ketika tubuh gurunya sedang mengalami reaksi.


Mahesa tidak bisa selalu bersama dengan pemuda itu, dia mempunyai banyak pekerjaan untuk diurus, tapi demikian seluruh Tombok Tebing sangat bergembira mengetahui pimpinan mereka kembali dengan selamat. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya.


Ini adalah dua hari yang sudah dijanjikan, seluruh murid Ki Alam Sakti telah berkumpul. Pada saat yang sama Cempaka Ayu sedikit cemburu ketika Anjani sekekali memberi perhatian kepada Sungsang Geni.


Dan ketika ada waktu senggang Cempaka Ayu menghampiri Anjani diluar tenda, meski cemburu tapi gadis itu pandai membawa diri.


“Apa kau menyukainya?” Cempaka Ayu bertanya, membuat Anjani terkejut. “Aku bisa mengetahui hal itu dari caramu memperhatikannya.”


Anjani belum menjawab, dia kemudian memberanikan diri menatap mata Cempaka Ayu. “Tapi dia tidak menyukaiku, aku juga bisa melihat hanya ada dirimu didalam matanya.”

__ADS_1


Tentu saja itu sebuah luka bagi Anjani, tapi gadis itu cukup paham. Meski sekuat apapun dia mencoba, pemuda itu bukan miliknya. Ketidak mampuan dia mengenali Sungsang Geni dengan wajah baru membuktikan bahwa perasaannya tidak sekuat Cempaka Ayu.


Terkadang dia juga tidak tahu, apakah dia mencintai Sungsang Geni atau hanya seorang yang mengagumi kekuatannya.


Anjani tidak mengetahui jelasnya, bahkan jika dia pikirkan beberapa kali mungkin Gadhinglah pemuda yang selalu ada untuknya ketika masalah selalu datang mengusik.


Bahkan Gadhing adalah orang yang membawanya dari kepungan Kelelawar Iblis dengan menjadi tameng bagi dirinya.


Jadi ketika sekarang Cempaka Ayu mengatakan apakah dia sebenarnya mencintai Sungsang Geni, maka jawabannya tidak yakin.


“Aku yakin kalian akan menjadi pasangan yang serasi...” Anjani tersenyum manis kearah Cempaka Ayu yang terlihat berbinar-binar. “Kau adalah gadis yang lebih baik untuk menjaganya?”


Cempaka Ayu tertawa kecil, kemudian merentangkan tangan dan disambut langsung oleh Anjani. Mereka berdua berpelukkan dengan air mata saling ber-urai hingga tiba-tiba Gadhing mengejutkan keduanya.


“Anjani, Guru sudah sadarkan diri...”


Kedua gadis itu bergegas masuk kedalam tenda pengungsi, dan benar mereka berdua bisa melihat Ki Alam Sakti sudah duduk diatas pembaringan. Kondisinya masih terlihat sangat lemah.


Ki Alam Sakti menatap setiap orang di tenda itu satu persatu, kemudian pandangannya terbentur pada wajah Sungsang Geni yang duduk tepat di sebelah kanannya dengan mata berkaca-kaca.


Ki Alam Sakti memperhatikan pemuda itu lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Setelah beberapa menit, kakek tua itu meletakkan telapak tangannya tepat di kepala Sungsang Geni.


“Geni?” Dia berkata pelan, dengan sekekali diiringi batuk kecil, butuh cukup waktu bagi kakek tua itu untuk mengenali sosok pemuda di sampinya, tapi pada akhirnya dia sadar bahwa itu adalah murid yang palng dia banggakan.


“Benar Eyang Guru...” Sungsang Geni memberi hormat. “Murid kembali, ma'afkan aku karena tidak ada disaat Eyang Guru membutuhkanku.”


Ki Alam Sakti tersenyum kecil sambil kemudian memandangi murid-muridnya yang lain. “Kalian semua tidak salah apapun...kejadian ini memang sebuah pukulan keras, tapi masih ada lain waktu untuk memperbaikinya.”


“Dan ketika kalian selesai, maka like dan koment saya harapkan.” Author kemudian menutup ceritanya untuk hari ini.

__ADS_1


__ADS_2