
Keesokan harinya, sepasang kekasih sedang duduk diatas pembaringan sambil memandang para ikan yang bergerak bersamaan di langit-langit Istana Laut Dalam. Pramudhita masih gemetar ketika sang istri sekekali menyenderkan kepala di pangkuannya.
“Kanda, apa kau bahagia dengan pernikahan ini?” tanya Sancani manja, sambil membelai wajah suaminya.
“Kenapa Dinda berkata seperti itu? tentu saja aku bahagia.” Pramudhita berkata pelan, suaranya masih terdengar serak karena gemetar.
“Lalu kenapa raut wajah Kanda sekekali menunjukkan ekspresi yang berbeda.” Sancani beranjak dari tempat tidur dan duduk menatap mata Pramudhita yang berwarna coklat. “Matamu terkadang menujukkan beban dan kekhawatiran yang berlebihan. Apa karena temanmu itu?”
Pramudhita belum menjawab, pada kenyataannya dia memang beberapa kali memikirkan keadaan Sungsang Geni. Pemuda matahari itu memiliki beban berat yang bertengger di pundaknya, dan Pramudhita berniat memikul beban itu bersama-sama.
“Ternyata dugaan Dinda benar, bukan?” Sancani mencium pipi Pramudhita. “Dinda tidak marah jika Kanda berniat keluar dari Istana Laut Dalam dan membantu dia. Bagaimanapun, pertemuan kita juga melibatkan dirinya.”
Pramudhita mencoba membalas tatapan Sancani. Wajah tulus dan mata penuh kejujuran jelas terlihat dari sang istri. Pramudhita memberanikan diri membelai pipi wanita cantik itu dengan mesra, sedikit rasa sesak di dadanya sebab tidak bisa selalu menemani sang istri.
“Ma'afkan aku, Dinda... Suamimu ini punya kewajiban yang harus dibayar, pemuda itu sudah membebaskan negri Kanada yang tertutup tirai kesunyian, dia juga sudah meletakkan perjanjian di atas kepala Kanda.”
“Aku memahami hal itu.” Sancani kembali merebahkan tubuhnya di pangkuan sang suami. “Tapi, setidaknya biarkan Dinda tidur malam ini bersamamu.”
***
Sungsang Geni beserta rombongan pengungsi sudah dapat melihat tembok yang tersusun dari pohon-pohon besar yang terpasak ke dalam tanah. Tembok itu memanjang hampir sejauh 200 meter dan membentuk setengah lingkaran dimana ujungnya terhenti pada dua cadas bukit yang tinggi.
Sungsang Geni melihat ratusan pendekar dengan lambang burung elang dan juga lambang Surasena di atas tembok tersebut dengan panah-panah. Di atas tembok juga terdapat kereta iblis yang memuat hampir 50 panah dengan bungkusan bubuk setan.
“Jadi Empu Pelak masih selamat?” Sungsang Geni tersenyum kecil. “Senjata itu sangat membantu dalam pertempuran. Oh, sepertinya mereka juga sedikit memodifikasi benda itu?”
Kemudian terdengar teriakan seseorang dari atas menara pengintai, tidak lama kemudian gerbang besar terbuka.
Setelah memasuki bagian dalam tembok tersebut, rupanya memang tempat ini diapit dengan cadas-cadas tinggi.
Ada banyak tenda yang berdiri didalam tembok ini, dan tentu saja ada lebih banyak rakyat yang seperti sekelompok semut.
Dua cadas yang mengapit begitu panjang, hingga menyatu dengan pegunungan yang menjulang tinggi dan membiru. Itu adalah pegunungan karakatau.
__ADS_1
Jika diperhatikan dari atas, tempat itu seperti huru 'U' dimana bagian yang tidak dilindungi cadas sekarang di buat tembok dari kayu.
Tenda pengungsi para rakyat sedikit terpisah dengan tenda para Serikat Pendekar yang terletak sedikit lebih tinggi. Kemudian tenda untuk kerajaan Surasena serta bawahannya terletak lebih tinggi lagi, hampir saja menyatu dengan cadas yang terjal.
“Tempat ini benar-benar bagus untuk bertahan!” Sungsang Geni terkagum-kagum kepada orang yang pertama kali menemukan tempat ini. “Musuh datang hanya dari satu sisi, cadas ini laksana tembok yang tidak tertembus.”
Sungsang Geni membayangkan jika saja, tembok terbuat dari beton atau susunan batu-batu keras, maka bukan mustahil tempat ini akan menjadi pertahanan yang paling bagus.
Pemuda itu menatap ujung cadas yang tingginya tidak dapat terukur, seseorang yang memiliki tenaga dalam sebesar 1 jule kebawah tidak akan sanggup untuk menaiki cadas itu.
“Geni, apa kau akan ingin menemui Cempaka Ayu?” tanya Ratih Perindu.
Meski sebenarnya sangat ingin, tapi Sungsang Geni menggelengkan kepala. “Aku harus lebih dahulu menemui Eyang Guru.”
“Kalau begitu, mari ikut kami,” ucap Siko Danur Jaya.
Setelah semua orang pengungsi di arahkan oleh petugas serikat pendekar, Sungsang Geni akhirnya mengikuti Siko Danur Jaya, tak lupa Panglima Ireng juga selalu melangkah pelan di samping pemuda itu, membuat mereka berdua jadi tontonan.
“Entahlah, mungkin pawang binatang?”
“Aku harap srigala itu tidak menimbulkan masalah! Karena jika sampai, aku sendiri yang akan menyingkirkannya.”
Sungsang Geni mendengar perkataan orang-orang di sekitarnya meski mereka hanya berbisik. Beberapa kata terdengar sangat kasar, tapi Sungsang Geni hanya mendesah napas berat sambil menggeleng..
“Gerr...Gerr...” Panglima Ireng seperti memahami perkataan orang yang menggunjing tuannya.
“Ireng! Jangan pedulikan mereka!” ucap Sungsang Geni. “Kelak mereka akan menyukaimu.”
“Gerr...gerr...”
“Percayalah.” Tutup Sungsang Geni.
Setelah berjalan sejauh 150 meter, Sungsang Geni dihadapkan pada hamparan padi darat yang sudah menguning. Pelang-pelang palawija yang menghijau dan juga aliran air sungai yang keluar dari rembesan dinding cadas.
__ADS_1
“Sungai ini adalah sumber kehidupan di tempat ini...” Siko Danur Jaya berkata, sambil menunjuk beberapa orang yang mengangkut air untuk dibawa ke tenda pengungsian. “Air disini sangat dingin dan cukup melimpah, jadi kita tidak kekurangan sumber air bersih.”
Membuat peradaban baru, Sungsang Geni berpikir demikian.
“Raja Lakuning Banyu yang merancang semua ini, dia juga orang yang paling pertama meminta prajuritnya membawa semua bibit-bibit tumbuhan ketika melarikan diri dari kepungan Kelelawar Iblis.” sambung Siko Danur Jaya.
Sungsang Geni tersenyum kecil, tidak ada yang salah dengan pemikiran Lakuning Banyu. Tentu saja itu diambil dari sudut pandangnya sebagai seorang raja.
Di seberang hamparan padi dan tumbuhan palawija, tepatnya diatas dataran yang lebih tinggi berdiri beberapa tenda-tenda sangat besar dengan lambang kepala burung elang berkibar di tengah-tengahnya.
“Itu adalah Serikat Pendekar!” ucap Siko Danur Jaya. “Sekarang ada sekitar 10000 orang yang menjadi anggota Serikat itu.”
“Jumlahnya luar biasa banyak!” ucap Sungsang Geni.
Siko Danur Jaya menjelaskan sekarang hanya perguruan besar yang masih bertahan di Serikat Pendekar. Perguruan kecil sudah banyak yang hancur dan yang lainnya memilih menjadi bandit, hidup memisah.
Jika diperhatikan, setiap tenda tidak memiliki warna yang sama meski juga memiliki lambang burung elang. Setidaknya ada 4 warna yang sangat mencolok saat ini.
Itu dibuat bukan tanpa alasan, tenda berwarna hitam adalah milik Perguruan Lembah Ular, berwarna kuning milik Perguruan Bukit Emas warna hijau milik Perguruan Merak Hijau dan warna putih milik perguruan Macan putih.
Empat perguruan itulah sekarang yang masih mempertahankan dan menjalankan serikat pendekar hingga sekarang.
Darma Cokro nampaknya orang yang sangat piawai dalam memimpin organisasi itu, buktinya mereka bahkan memiliki pasukan setara gabungan Surasena dan Kerjaan bawahannya.
“Ki Alam Sakti dirawat di sana!” Siko Danur Jaya menunjuk dataran yang lebih tinggi, sedikit menempel di dinding cadas.
Di tempat itu bukan lagi sebuah tenda-tenda yang berdiri melainkan bangunan yang terbuat dari kayu dan papan. Ada ratusan orang yang berdiri di sepanjang dataran, dan Sungsang Geni yakin mereka adalah pengawal kerajaan.
“Kita tidak bisa kesana, kecuali mendapatkan izin dari Serikat Pendekar!” sambung Siko Danur Jaya.
**Oh ya, author minta kepada penggemar setia untuk tidak menyinggung novel manapun dan author manapun. Itulah bentuk penghargaan antar author.
Oh ya, like dan koment tergokil kalian ditunggu. Bantu shere dan promo jika sempat, sebab author dah gak promo lagi**.
__ADS_1