
Tiga kuda baru saja tiba di muka gerbang Markas Sekutu Kelelawar Iblis, Markas Negri Sembilan. Gerbang itu berwarna coklat, terbuat dari puluhan gelondongan kayu yang di susun sedemikian rupa.
Sekitar 20 penjaga berdiri di depan gerbang yang setengah terbuka, berpakaian serba putih dengan tombak-tombak panjang. Di atas tembok itu ada pula prajurit yang mengenakan pakaian serba hitam, memegang panah yang saat ini tertuju pada tiga orang di atas kuda.
“Tunjukan identitas kalian!” berseru salah satu dari 20 penjaga.
Wulandari segera melemparkan satu lencana yang di ambil dari dalam saku bajunya. Pandangan penjaga itu menunjukkan ekspresi terkejut bukan kepalang, lantas segera memberi hormat.
“Ma'afkan hamba karena tidak mengenali tuanku,” ucap Penjaga itu kemudian mengembalikan lencana Wulandari.
“Lupakan hal itu, sekarang aku ingin bertemu dengan ayahku.”
Salah satu penjaga membimbing kuda Wulandari memasuki pekarangan Markas Negri Sembilan, sementara itu di belakanya mengiring Sungsang Geni dan Saraswati.
Markas ini tidak terlalu ramai seperti di Markas Utama Kelelawar Iblis, ini tidak seperti biasanya. Sesuatu pasti sedang terjadi, Wulandari menyapukan pandangan pada setiap bangunan yang biasanya dihuni oleh puluhan prajurit Negri Sembilan.
“Guru, tolong bawa Geni pada tempat yang aman!” Wulandari berujar pada Saraswati, kemudian pergi memasuki sebuah bangunan yang ukurannya sebesar Markas Utama.
Saraswati membawa Sungsang Geni menuju wilayah belakang Markas Negri Sembilan, kemudian menemukan sebuah bangunan yang berhimpit-himpit.
“Ini adalah bangunan yang dipungsikan sebagai tempat tinggal para pejabat rendahan Markas Negri Sembilan.” Saraswati membuka salah satu pintu dari bangunan itu. “Kau bisa beristirahat untuk sementara waktu di tempat ini, tenang saja ini adalah tempat tinggalku tidak akan ada orang yang akan mengusik dirimu.”
Sungsang Geni masih memperhatikan sebuah kamar yang luas tersusun rapi, hanya saja kotor di beberapa sisi ruangan. Maklum saja karena Saraswati Tidak bekerja di tempat ini, melainkan di Markas Petarangan menemani Wulandari.
“Aku akan menguncimu dari luar.” Saraswati melanjutkan. “Itu demi kebaikan kita berdua.”
Sungsang Geni mengangguk tanda mengerti.
Setelah kepergian Saraswati, Sungsang Geni segera duduk di lantai tepatnya di bawah dipan empuk. Dia duduk bersila, memejamkan matanya dan mulai mengatur pernapasan.
__ADS_1
“Aku harus menghimpun kembali semua energi yang terbuang.” Pemuda itu bergumam kecil sebelum mulai melakukan semadi.
Baru setelah malam hari, Saraswati datang menemui pemuda itu bersama dengan Wulandari. Mereka membawa sebakul makanan, dengan berbagai macam lauk pauk yang terlihat menggugah selera.
Ketika dua wanita itu memasuki ruangan, Sungsang Geni masih berada dalam posisi Semadi tanpa terganggu sedikitpun. Wulandari mencuri-curi pandang, memperhatikan wajah pemuda itu dengan seksama hingga terlintas di benaknya untuk menyentuh tubuh pemuda itu. Niatnya untuk menjagakan Sungsang Geni.
Namun sesuatu terjadi kepada gadis itu. Berjarak satu jengkal tangan Wulandari dari tubuh Sungsang Geni, tiba-tiba percikan energi menyambar gadis itu hingga terpental sejauh 3 depa, nyaris saja menghantam meja dan kursi, jika bukan Saraswati segera menangkap tubuhnya.
Dalam waktu bersamaan Sungsang Geni segera terjaga dari semadinya. Dia menemukan Wulandari meringis kesakitan, mencengkram jari-jemarinya yang merah bak baru masuk dalam kuali berisi air panas.
Bersegera Sungsang Geni mendekati Wulandari dengan wajah panik. “Apa kau baik-baik saja? Berikan tanganmu!”
Wulandari terlihat ragu untuk mengulurkan tangannya, takut jika sesuatu seperti kejutan kembali terasa di tangannya. “Tidak usah khawatir, aku tidak akan menyakitimu...”
“Sepertinya energi dalam tubuhmu semakin meningkat pesat.” Saraswati memberi tanggapan. “Energi itu melindungi tubuhmu ketika kau sedang dalam keadaan Semadi, karena itulah tanpa sengaja melukai Wulandari.”
“Aku tidak terlalu mengerti,” Sungsang Geni berkata pelan setelah menyalurkan sedikit tenaga dalamnya kepada Wulandari. “Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, mungkin yang kau katakan ada benarnya.”
Wulandari terdiam cukup lama sebelum menjawab perkataan pemuda itu, wajahnya terlihat murung. Dari sini Sungsang Geni sudah menangkap bahwa gadis itu belum mendapatkan penawar racunnya.
“Aku tidak sempat menanyakan hal itu pada ayahku, kedatangan kita bersamaan dengan surat panggilan dari Negri Sembilan untuk Ayahanda.”
“Surat dari Negri Sembilan?” Sungsang Geni terlihat kecewa.
“Negri Sembilan memberi informasi mengenai Putra bungsu mereka. Pangeran Minak Singo dikabarkan belum kembali setelah melakukan Kunjungan ke Negri Swarnadwipa.”
“Minak Singo?” Sungsang Geni begumam pelan.
“Apa kau mengetahui nama itu?” Wulandari bertanya.
__ADS_1
“Ah, aku belum pernah mengenal nama pangeran dari Negri Sembilan.” Sungsang Geni berbohong, tentu saja dia mengetahui Pangeran Minak Singo, karena dia sendirilah yang berhasil mengalahkan pemuda licik itu beserta senopati dan anak buahnya.
“Tapi jangan risau, Ayahku memang sedang kembali lagi ke Negri Sembilan tapi ada tabib hebat yang bisa membuat penawar racun itu, dia adalah kepercayaan Ayahku.”
“Benarkah?”
“Ya, aku akan menemui tabib itu besok pagi.” Wulandari tersenyum kecil, meski dia tidak begitu yakin dapat meminta sang tabib untuk membuat penawarnya, sebab orang itu bukan hanya tertutup tapi juga berhati licik.
“Jadi malam ini, sebaiknya kau lanjutkan Semadimu!” Wulandari tersenyum kecil sebelum beranjak meninggalkan Sungsang Geni. “Oh iya, kau harus menghabiskan makanan ini.”
“Tidak, aku tidak akan memakan hewani.” Sungsang Geni mengambil satu sup jamur putih dan bubur nasi lantas mengembalikan semua makanan itu kepada Wulandari. “Ini saja sudah lebih dari cukup untuk mengganjal perutku.”
Wulandari memasang wajah cemberut, dia sudah bersusah payah memasak semua makanan ini hanya untuk Sungsang Geni seorang, tapi pemuda itu menolaknya kecuali sup jamur dan bubur nasi putih.
“Begini saja, sebaiknya kalian berdua menemaniku makan di sini.” Sungsang Geni tersenyum kecil kemudian menarik kembali satu bakul makanan dan diletakan di atas tikar. “Kita akan makan bersama, tapi tentu saja aku tidak bisa memakan daging ini.”
Dengan terpaksa Wulandari duduk kembali di ikuti Saraswati. Wulandari memandangi Sungsang Geni sebelum menyantap daging ayam yang dia masak 4 jam lamanya itu.
Ketika satu suapan masuk kedalam mulut, Sungsang Geni merasakan garam bercampur dengan bubur nasi belum di tumbuk halus, tentu saja rasanya masin bukan kepalang. Tapi untuk menghindari perasaan kesal gadis itu, dia tetap memaksanya masuk kedalam perut.
Baru pula daging ayam masuk ke dalam mulut, raut wajah Wulandari segera berubah begitu pula dengan Gurunya, Saraswati.
Kemudian dengan bersegera dua wanita itu menghambur keluar ruangan dan memuntahkan makanan dari dalam mulutnya.
“Masin!” Mereka berdua berkata serempak.
Sungsang Geni tersenyum kecil, tapi tetap menyantap bubur dan sup jamur dengan buru-buru, kemudian menegak air minum hampir dua kendi kecil.
“Bubur yang sangat nikmat.” Sungsang Geni menyeka mulutnya, tapi Wulandari segera berjalan buru-buru dengan kepala menunduk menahan malu, meninggalkan bangunan itu dengan wajah masam.
__ADS_1
'Memalukan, memalukan sekali.' Bibir tipis gadis itu terlihat komat-kamit, mungkin sedang mengutuk tindakannya barusan.