PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Ranjau


__ADS_3

Tepat tengah malam, cahaya bintang bertaburan dan bulan baru saja hendak timbul berbentuk bulan sabit tipis di ufuk barat. Tapi cahaya bintang itu mulai redup berganti dengan cahaya kemerahan dari api melahap bangunan di depan gerbang Markas Petarangan.


Teriakan para Prajurit Kelelawar Iblis saling bersahutan kemudian disusul dengan suara gelegar ledakan. Memekakkan telinga.


Meski serangan Cempaka Ayu benar-benar mengerikan, dia dan pasukan yang dipimpinnya tidak masuk lebih dalam ke Markas Petarangan. Mereka hanya akan menyerang siapapun yang berusaha keluar dari dalam markas tersebut.


Stock bubuk setan yang di bawa mereka juga tidak terlalu banyak, tapi sudah cukup untuk membunuh sekitar 100 hingga 200 prajurit yang berniat melakukan perlawanan. Banyak sekali orang terbakar di depan gerbang itu.


“Apa yang mereka gunakan?” Beberapa prajurit Kelelawar Iblis tidak bisa mendekati Cempaka Ayu beserta rombongannya. “Benda itu lebih kuat dari pukulan tenaga dalam, meledak seperti guntur.”


“Apa yang kami lakukan?” Cempaka Ayu memainkan semua jari-jarinya, kemudian ratusan bubuk setan berhamburan. “Tentu saja memusnahkan kalian.”


“GAWAT siram apinya!” Mereka berteriak tak tentu arah. “Ambil air, siram apinya!”


“Bunuh wanita itu, mereka hanya berjumlah 50 orang sedangkan kita ribuan!” Terdengar perintah dari salah satu prajurit yang mungkin memiliki jabatan cukup tinggi. “Jangan biarkan dia bertindak semaunya.”


Pada saat yang sama, beberapa pendekar pilih tanding keluar dari gumpalan api yang menyala mencoba mengganggu tindakan Cempaka Ayu. Tentu saja yang memiliki cukup tenaga dalam bisa bertahan dari kobaran api, dengan melindungi kulit mereka. Tapi meski demikian, tidak ada yang cukup mampu bertahan dari momentum ledakan.


Ada sekitar 20 orang pendekar pilih tanding, tidak tapi 30 orang pendekar pilih tanding, ada tambahan lagi yang turun dari atas tembok beton. Semuanya memiliki kemampuan meringankan tubuh yang cukup baik.


Dua diantara mereka mungkin sudah berada di dalam puncak Pendekar Pilih Tanding.


“Terima seranganku ini!” Salah satu dari mereka berteriak.


Tapi Dalam keadaan seperti itu, 5 bubuk setan melayang mengikuti arah jari-jemari Cempaka Ayu, dan mendarat pada tengah dada lawannya. Ledakan besar terdengar, tubuh kedua orang itu segera terbakar tak tersisa, kemudian terhempas di dinding tembok.


Itu tidak menyurutkan niat membunuh pasukan Kelelawar Iblis, mereka datang lebih banyak lagi. Salah satu dari mereka menyadari benda yang dibawa gadis itu sudah tidak terlalu banyak, mungkin hanya beberapa puluh bungkus bubuk setan lagi.

__ADS_1


Cempaka Ayu meminta semua pasukannya untuk tidak menghentikan serangan, sementara itu dia yang akan melawan para prajurit yang berusaha mencari celah untuk membunuh.


Gadis itu melayang di udara, hingga dia bisa melihat seperti apa pasukan Kelelawar Iblis yang berusaha untuk menjatuhkan mereka. Luar biasa banyak.


“Mundur!” Cempaka Ayu berteriak. “Mereka terlalu banyak, aku akan menahan mereka untuk beberapa saat.”


Setelah mendengar perintah gadis itu, seluruh stock bubuk setan yang mereka miliki dilemparkan pada kelompok itu yang mirip seperti semut. Ledakan besar terjadi, pada saat yang sama Cempaka Ayu mundur dengan teratur.


“Mereka melarikan diri!” Teriak salah satu dari prajurit Kelelawar Iblis. “Trobos api ini! Jangan biarkan mereka pergi hidup-hidup.”


Setelah mengatakan hal itu, puluhan prajurit tanpa tanding mengejar rombongan Cempaka Ayu dengan ilmu meringankan tubuh yang cukup baik. Sementara itu Cempaka Ayu masih memainkan seluruh cakram kecil untuk mencicil musuh-musuhnya.


Sekarang ada sekitar 1500 orang mengejar Cempaka Ayu, sisanya masih bertahan di dalam markas. Mereka yang bertahan di markas hanya prajurit lemah yang tidak memiliki kemampuan.


Beberapa waktu kemudian, Cempaka Ayu sudah mulai masuk ke dalam hutan yang dipenuhi ranjau. Dia dan pasukannya lalu terbang di balik pohon besar dan bersembunyi.


“Sial, mereka pikir bisa kabur begitu saja!”


Setelah cukup dalam Pasukan Kelelawar Iblis masuk kedalam gelap hutan rimba, tiba-tiba salah satu dari mereka meminjak beberapa ranjau yang terbuat dari bambu runcing yang tertanam di dalam tanah.


Puluhan orang meraung kesakitan, kaki-kaki mereka tertembus bambu begitu dalam. Setelah kaki mereka tertusuk, beberapa orang mulai ragu untuk masuk kedalam hutan.


Pada saat seperti itu, bayangan Mahesa melintas di depan mereka, begitu dekat membuat semangat mereka untuk membunuh kembali muncul.


“Itu adalah pimpinannya! Gunakan tubuh mereka untuk berpijak!”


Alhasil, mereka menjadikan tubuh temannya sendiri untuk berpijak agar terhindar dari tusukan ranjau. Pada saat seperti itu, tanpa mereka sadari Empu Pelak berada di belakang pasukan besar itu, memblokade jalan untuk kembali dengan kereta iblis yang berjumlah 5 buah.

__ADS_1


“AHHHHH!” Sebuah raungan keras terdengar dari dalam hutan, begitu kerasnya hingga semua binatang di dalam hutan terjaga dan ketakutan. “ AHHHH!”


Itu bukan suara orang melakukan bunuh diri, atau suara orang yang sedang terluka. Tapi itu suara Mahesa, dia melakukan hal itu untuk menciptakan suasana mencekam di dalam hutan. Mungkin tidak terlalu berguna, tapi mereka yang memiliki ketakutan di gelap malam akan merasa terancam mental jiwanya.


Setelah dua raungan berhenti, Empu Pelak meminta semua orang yang mengendalikan kereta iblis melepaskan puluhan panah dengan bubuk setan. Dan, lautan api serta gelegar ledakan mengguncang seisi hutan.


“Celaka! Mereka sudah merencanakan hal ini!”


“Kembali! Kembali! Mereka telah menjebak kita!”


Hampir 1200 orang tersisa berniat kembali lagi melewati jalan semula, tapi di depan mereka Empu Pelak tertawa terbahak-bahak dengan tatapan nanar.


Namun setelah sangat lama akhirnya beberapa prajurit Kelelawar Iblis menyadari beberapa hal saat ini. Ada jeda beberapa menit setiap serangan yang dilakukan Empu Pelak. Jeda itu sebenarnya terjadi ketika pasukan Empu Pelak kembali mengisi panah di selongsong Kereta Iblis.


“Ini saatnya, serang mereka dengan serentak!” Perintah salah satu dari pimpinannya ketika Empu Pelak sedan mengisi amunisi.


“Tidak semudah itu!” Mahesa datang dengan pasukan lain. “Sekarang kalian tidak akan bisa keluar dari dalam hutan ini, dan menjelmalah menjadi bubuk setan.”


Dua kubu akhirnya melakukan kontak pisik, meski hanya sekitar 100 orang saat ini tapi sudah lebih dari cukup untuk menumbangkan 1200 orang yang tidak memiliki mental untuk bertarung.


Beberapa senjata mendarat di tubuh Mahesa, tapi tidak ada yang bisa menggoresnya. Pria itu kemudian membalas dengan pukulan mematikan. Hanya beberapa menit saja, dia sudah membunuh 30 orang sendirian.


Pria itu memang tidak bisa menggunakan senjata, tapi pukulan dia bisa memecahkan tulang tengkorak lawannya. Tidak ada yang bisa menahan pukulan Mahesa, beberapa Prajurit Kelelawar Iblis yang setingkat pilih tanding mencoba menyerang pria itu bersamaan, tapi hasilnya tetap percuma saja.


Sementara itu di sisi Mahesa ada kekasihnya, Rerintih dengan senjatanya berupa rantai yang bermata celurit. Lebih mengerikan lagi. Teknik tarian ular sendok, bisa mengincar batang leher musuh dan membunuhnya lebih cepat dari Mahesa.


Lain lagi dengan Ratih Perindu, gadis itu sudah banyak sekali menguburkan prajurit Kelelawar Iblis hidup-hidup dengan membelah tanah. “ Sampaikan salamku kepada dewa kematian.” ujar Gadis itu mengangkat kapakanya, lalu mendarat tepat di wajah musuhnya.

__ADS_1


__ADS_2