
Sementara Wulandari masih mengintip dari celah-celah semak belukar, Benggala Cokro turun dari punggung kuda, memperhatikan situasi di tempat ini.
“Benggala, lihatlah!” Salah satu teman pemuda itu menunjuk 2 kuda yang masih tertambat di pekarangan belakang gubuk tua reot. “Ada dua kuda di sana, menurutmu apakah mereka pergi meninggalkan kuda-kuda itu, atau mungkin ada orang lain yang bermalam di tempat ini.”
Benggala Cokro lantas mendekati gubuk reot itu, dia menemukan beberapa mangkuk tempurung dari buah maje yang masih terasa panas dan berbau ramuan. Ada pula beberapa jerami yang tersusun rapi sebagai tempat pembaringan.
“Puntung api juga masih menyala, mereka tidak jauh dari tempat ini.” Benggala Cokro lantas keluar dari dalam gubuk, memperhatikan situasi disekitarnya. “Jika mereka adalah musuh, aku akan mebunuhnya hari ini. Jangan harap dia bisa lolos dari pedang emasku.”
Wulandari diam menutup mulutnya, benar sekali itu adalah Benggala Cokro, pikirnya. Terbukti dari Pedang Emas yang baru saja pemuda itu katakan.
Jika Benggala Cokro mengetahui tempatnya persembunyian mereka. Sudah bisa dipastikan hal buruk akan terjadi menimpa dirinya. Wulandari menahan tubuhnya untuk tidak bergerak sedikitpun, bahkan tidak berani bereaksi ketika ada ular melintas tepat di dekatnya.
Sungsang Geni mungkin pengecualian, tapi dia adalah Sekutu Kelelawar Iblis.
“Apa menurutmu Geni sengaja meninggalkan kudanya?”
“Jangan mudah menduga, mungkin ini bukan milik mereka.” Benggala Cokro kemudian melepas tambang dua kuda itu, membawa bersama dirinya. “Kita lanjutkan kembali perjalanan!”
Itu adalah kuda tunggangan yang akan membawa Wulandari ke Markas Utama Sekutu, jika Benggala Cokro sudah mengambilnya, tidak ada lagi tunggangan untuk mereka berdua.
Wulandari memperhatikan Sungsang Geni yang dia baringkan di celah-celah akar besar. Pemuda itu masih terpejam, entah tidur atau tidak gadis itu tidak tahu pasti, tapi yang jelas bibir pucat pemuda itu sudah hilang.
Namun seketika gadis itu dikejutkan dengan binatang yang tiba-tiba saja datang dari balik semak belukar.
Wulandari nyaris jatuh ketika hewan itu melompat tepat di hadapannya, diantara dia dan Sungsang Geni. Ketika gadis itu mencari pedangnya, rupanya tergeletak di dekat Sungsang Geni.
“Gerr...” Hewan itu menggeram pelan, kemudian mengenduskan hidung lalu menggoda tubuh Sungsang Geni dengan manja. Gerrr....
Selalu terusik dengan moncong hitam hewan itu, Sungsang Geni terjaga pula dari tidurnya. Dia membuka mata berat sekali, kemudian segera berseri menyadari Panglima Ireng telah menatapnya dengan sayu.
“Ireng? Kenapa kau ada disini...?” Sungsang Geni berkata pelan.
“Gerr...gerr...” jawab Srigala itu.
__ADS_1
“Tidak usah takut.” Sungsang Geni mengalihkan pandangan ke arah Wulandari, “Dia adalah temanku.”
Meski sudah di katakan demikian, kepanikan di wajah Wulandari masih terlihat jelas. Tentu saja, siapapun orangnya akan begitu terkejut mendapati seekor srigala sebesar harimau Benggala tiba-tiba datang di depan mata.
***
Selang tiga jam setelah Sungsang Geni pergi meninggalkan Markas Petarangan untuk meminta penawar racun bersama Wulandari, ratusan prajurit Surasena dan puluhan Serikat Pendekar datang ke markas itu.
Pemimpin pasukan itu adalah Benggala Cokro. Pemuda itu di beri titah Lakuning Banyu untuk menjemput Sungsang Geni. Pasukan yang dibawanya sekitar 300 orang lebih terdiri dari 100 penunggang kuda dan yang lain adalah pejalan kaki.
Benggala Cokro begitu terpukau dengan keberhasilan Bayangkara dalam menaklukkan 2 markas kecil, dan satu markas Cabang hanya dengan beberapa ratus orang saja.
Kedatangan Benggala Cokro tidak serta merta tanpa alasan, saat ini ribuan tentara yang dijanjikan Swarnadwipa telah tiba di Benteng Pengungsian, sekarang sedang menyusun rencana.
Pasukan besar itu akan datang dengan tiga iringan, iringan pertama berjumlah tiga ribu orang yang dipimpin oleh seorang Hulu Balang Swarnadwipa. Iringan kedua dan ketiga sedang membantu pengungsian para rakyat di perbatasan Pegunungan Kerakatau.
Namun situasi menjadi pecah di tempat itu ketika mengetahui Sungsang Geni adalah anak dari Raja Saylendra, penguasa tanah Swarnadwipa. Jadi Lakuning Banyu segera meminta Serikat Pendekar untuk segera menjemput Sungsang Geni.
Sekarang semua orang di markas Petarangan sedang dalam pemulihan, ada 5 pendekar medis yang merawat mereka semua, tapi sialnya para pendekar medis itu terkendala dengan bahan-bahan untuk meracik ramuan penawar.
Yang dikatakan Wulandari rupanya benar, penawar racun itu tidak bisa dibuat sembarangan di Dataran Java, karena komposisi yang tidak terdapat di tempat ini, lebih tepatnya tidak ada yang tahu komposisi apa saja untuk menciptakannya.
***
“Jadi kau membuntuti Kami?” Sungsang Geni bertanya pada Panglima Ireng. “ Kebetulan sekali, dengan adanya kau disini aku bisa memanfaatkan bulumu untuk menghangatkan tubuhku.”
Panglima Ireng melirik pakaian Wulandari di tubuh Sungsang Geni, kemudian melirik ke arah gadis itu dengan curiga. Ya, mata hewan itu menyipit memandangi Wulandari.
“Oh, tidak.” Wulandari baru menyadari jika hewan itu mungkin sedang memikirkan hal keji saat ini. “Aku tidak mencuri kesempatan dengan temanmu itu!”
'Baguslah.' Pikir Panglima Ireng, mungkin. Dia segera memungut baju itu dengan mulutnya lalu meletakkan tepat di hadapan Wulandari, maksudnya adalah agar gadis itu mengenakannya lagi. Baju miliknya tidak dibutuhkan, karena ada dia dengan bulu tebal yang akan menjadi penghangat pemuda itu.
Wulandari memasang wajah cemberut, dengan terpaksa mengenakan kembali pakaiannya.
__ADS_1
“Gerrr...Gerrr....” Panglima Ireng menggeram lagi.
“Tidak mungkin Ireng. Sebelum aku mendapatkan penawar racunnya aku tidak akan kembali.” Sungsang Geni menepuk moncong srigala itu beberapa kali.
“Gerr...gerr...”
“Tentu saja semua akan baik-baik saja.” Sungsang Geni berdehem kecil, kemudian berusaha untuk berdiri tapi tubuhnya benar-benar lemah, jadi secepat kilat Wulandari membantu pemuda itu, membuat Panglima Ireng semakin jengkel melihatnya.
“Geni, karena aku melihat Benggala Cokro mencari kita, jadi aku membawamu ke dalam hutan untuk bersembunyi, ini akan menjadi hal buruk untukku jika sampai bertemu dengan dirinya,” ucap Wulandari. “Dia telah mengambil 2 kuda miliki kita, sekarang perjalanan menjadi terhambat. Kau tidak melupakan tujuanmu untuk mendapatkan penawar racun, bukan?”
Sungsang Geni termenung cukup lama, bukan memikirkan pertanyaan Wulandari tapi memikirkan alasan Benggala Cokro mengikutinya. Dia yakin ada alasan khusus mengenai hal itu.
Tidak mungkin pula jika Benggala Cokro berniat menangkap Wulandari, disaat racun sedang bersarang di dalam tubuh teman-temannya.
“Gerrr...” Panglima Ireng berkata. “Gerr...”
“Untuk saat ini, aku tidak ingin memikirkan hal apapun.” Sungsang Geni memantapkan niatnya. “Aku akan ikut bersamamu untuk mendapatkan penawar racunnya.”
“Sekarang kau telah terbebas dari beban?” Wulandari tersenyum. “Benggala Cokro tidak datang sendirian, meski aku tidak pernah bertemu langsung dengan dirinya, tapi dia adalah putra dari Darma Cokro, pemimpin Serikat Pendekar. Kami sudah mempelajari organisasi itu sebelum perang besar terjadi, pemuda itu memiliki kemampuan diatas rata-rata, Teknik Pedang Emas, begitukan kalian menyebutnya?”
“Jadi saat ini,” Gadis itu melanjutkan ucapannya, “Aku yakin Markas Petarangan sudah dijaga oleh Serikat pendekar, Benggala Cokro tidak mungkin datang tanpa pasukan? Hemm...mungkin kemenangan yang kau dapatkan akan diakui sebagai kemenangannya.”
Sungsang Geni mengetahui arah perkataan gadis itu, ya tetap saja tipu licik. “Berhentilah berpikiran licik, kau bilang ingin mengenal diriku lebih jauh? Hilangkan pikiran-pikiran buruk yang ada di dalam otakmu. Meskipun mungkin Benggala Cokro memang mengakui Petarangan sebagai kemenangannya, itu bukan masalah besar. Bayangkara tidak perlu pujian dari siapapun.”
"Aku mengerti..." Gadis itu kembali cemberut.
**Catatan: Sebelumnya Author mengakui, menulis novel PDM hanyalah sebuah keisengan belaka. Motivasi terbesar karena mengikuti LPN, dan seberusaha keras untuk bisa menciptakan kariya, itung-itung mencurahkan halu yang ada di dalam otak.
Tapi setelah kesini, Author semakin menyukai tulisan ini. Bahkan menulis novel ini seperti candu yang harus dilakukan setiap petang hari, atau terkadang bangun di malam hari.
Author ucapakan banyak terima kasih, kepada teman-teman sekalian mau berkenan untuk membaca tulisan ini, memberikan like komentar dan point'. Ya, meskipun Author menyadari masih banyak banget kekurangan, alur cerita belum semenarik harapan kalian, kesalahan EYD bahkan kesalahan pengetikan. Author mohon maaf atas kekurangan itu.
Tapi satu kalimat yang selalu terpintas ketika menyelesaikan capter, 'Semoga kalian suka**...'
__ADS_1