
Rapat itu akhirnya menghasilkan 4 keputusan, yang pertama diangkatnya Pangeran Lakuning Banyu sebagai Raja Surasena yang baru, yang kedua hukuman mati kepada Warkudara, yang ketiga pernikahan Dewangga dengan Putri Rambut Emas, dan yang terakhir di angkatnya Sungsang Geni menjadi Raja Tombok Tebing.
Poin yang terkahir ini membuat Sungsang Geni berdiri memaku hampir satu jam di ruangannya, memikirkan masalah yang bakal menimpanya dikemudian hari.
Menjadi raja memang terdengar luar biasa bagi kebanyakan orang, bahkan ada yang rela membunuh saudaranya sendiri demi tahta tersebut.
Tak jarang pula, orang melakukan taktik ‘musuh di dalam selimut’ hanya untuk duduk di atas singasana. Tapi tidak dengan Sungsang Geni, menjadi raja akan mengekang ruang geraknya.
“Aku harus mencari cara agar terhindar dari masalah ini!” gumam Sungsang Geni.
“Yang Mulia Raja, apa yang anda pikirkan!” Goda Mahesa. Setelah kematian kekasihnya beberapa hari yang lalu, raud wajah pemuda itu tidak pernah seceria hari ini.
Sungsang Geni menghela napas panjang, kemudian mendekati sahabatnya, “Aku sungguh tidak ingin menjadi orang penting, mereka akan merenggut kebebasanku mulai hari ini.”
Mendengarnya, Mahesa tertawa terbahak-bahak, “Aneh sekali dirimu teman, banyak orang yang menginginkan apa yang kau dapatkan, tapi kau malah menolak!”
“Kau tidak mengerti apa yang kupikirkan!”
“Aku mengerti.”
“Sungguh?”
“Ya, aku mengetahui kau berniat menjadi pengembara, melawan orang jahat, menghancurkan musuhmu dan mungkin melawan Topeng Beracun.” Mahesa berhenti sejenak, kemudian kembali memberi penjelasan, “Dengarkan aku, ini adalah takdirmu, menjadi seorang pemimpin. Aku yakin ada hal baik dibalik semua ini.”
Mendengar ucapan Mahesa, Sungsang Geni lebih termenung lagi. Dia tidak akan terima jika kebebasannya terenggut, ada banyak hal yang harus dipelajarinya, tapi menjadi pemimpin bukan salah satunya.
Setelah beberapa menit berpikir keras, Sungsang Geni tersenyum riang, bahkan suara tawanya yang jarang kini malah terdengar.
“Aku punya rencana, apa kau mau menuruti permintaanku?” Ucap dirinya.
“Rencana?” Mahesa mengernyitkan keningnya, lalu menyipitkan mata penuh curiga, “Aku akan menuruti semua permintaanmu kecuali membantumu melarikan diri.”
Sungsang Geni tertawa kecil, “Bukan melarikan diri, itu hal yang akan merendahkanku. Aku ingin mengangkatmu menjadi Mahapatih.”
“A’ apa?” Kali ini Mahesa yang tercengang bukan kepalang, dia bergegas menuang air kedalam cawan, lalu meminumnya buru-buru. “Uhuk...uhuk!”
__ADS_1
“Kau tidak bisa menolaknya, kau sudah berjanji.” Sungsang Geni berkata puas , “Aku akan pergi mengembara, dan kau bertugas mengurusi Istana!”
“Tu...tu...tunggu! apa kau bercanda?”
“Tidak...”
“Sialan.” Mahesa menepuk keningnya amat keras, menyadari bahwa Sungsang Geni telah menjebaknya dengan tipuan kecil. Ya, terkadang tipuan kecil lebih berhasil kepada orang-orang yang cerdas.
***
Dua hari setelah ke-empat point keputusan hasil rapat dilaksanakan dengan meriah, kecuali hukuman mati Warkudara, Sungsang Geni pergi membawa batu hitam keluar dari Istana Surasena.
Dia melenggang pergi meninggalkan Mahesa, yang sekarang bertugas mengurusi segala surat menyurat mengenai kerajaan Tombok Tebing. Ada banyak hal yang harus diselesaikan mengenai peralihan Kekuasaan.
Masih jelas terngiang ditelinga Mahesa, ucapan pemuda matahari itu, ‘Ya, Mahapatih! aku sedikit ada urusan, jadi kuserahkan urusan kerajaan kepada dirimu, bekerjalah baik-baik selama aku pergi.’
Mahesa membanting keratas-kertas didepannya, “Aku menyesal telah menyetujui keinginannya, dasar Pemuda Gemblung.”
“Selamat Siang Raja Tombok Tebing.” Beberapa prajurit yang dilewati Sungsang Geni menunduk memberi hormat. Tapi Pemuda itu menggelengkan kepalanya, lalu berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Kenapa pahlawan kita, tidak biasanya dia begitu?” mereka mulai menerka-nerka.
Sungsang Geni keluar dari tembok utama Istana Kerajaan, berjalan ke barat daya. Wilayah yang paling tenang dan tentram, sebab penduduk di sana hanya mengandalkan cangkul dan parang untuk mencari rezeki.
Sungsang Geni melirik ke timur beberapa saat, dia menemukan sungai kecil yang dilihatnya di pekarangan belakang Istana, keluar dari rongga tembok utama kerajaan, mengairi area persawahan warga.
Sungsang Geni melangkah di jalan lebar, yang membelah sawah. “Tidak kudaga, ada wilayah seperti ini di Surasena, kupikir semua orang mencari rezeki dengan berdagang.”
“Kisanak, boleh saya bertanya, dimanakah rumahnya Paman Tukang Batu!” Sungsang Geni mendekati salah satu warga yang sedang beristirahat di atas gubuknya.
“Yang Mulia Raja Tombok Tebing,” Dia segera memberi hormat, “Berjalanlah terus, setelah pertigaan anda pilih kekanan kemudian berjalan lagi, setelah menemukan perempatan anda pilih kekiri, rumahnya paling ujung.”
“Terima kasih, atas bantuannya!” Ucap Sungsang Geni, dan sekali lagi mereka menundukan kepala memberi hormat.
Hampir 2 jam lamanya pemuda itu berjibun mencari jalan karena tersesat, hingga akhirnya dia tiba pula di depan gerbang bambu rumah yang dia tuju.
__ADS_1
Halaman rumahnya dipenuhi dengan patung batu yang dipahat dengan seni kualitas tinggi, Sungsang Geni terpukau memandangnya.
“Paman mencari siapa?” Seorang bocah lelaki berlari mendekati Sungsang Geni.
“Benarkah ini rumah, Ciptorogo?” jawab Sungsang Geni, “Tukang batu di sini?”
“Masuklah!” Bocah itu membawa Sungsang Geni kedalam rumah yang cukup besar dengan banyak buku-buku seni menghisai dindingnya.
Seorang pria mungkin berumur 57 tahunan, menatap Sungsang Geni dengan teliti, lebih teliti lagi ketika dia menatap batu hitam yang di pikul pemuda itu.
“Paman Ciptorogo?” tanya Sungsang Geni.
Orang itu hanya mengangguk sambil memainkan kumisnya, semenjak dia memperhatikan batu yang dipikul Sungsang Geni matanya tidak berkedip sedikitpun.
“Aku tidak bisa membeli batu ini!” dia kemudian berkata, “Tidak ada yang sanggup!” lanjutnya.
“Ma’af Paman, tapi saya tidak berniat menjual batu ini, kedatangan saya kemari hanya ingin membuat pedang dengan benda ini.” Jawab Sungsang Geni.
“Ayah, wajah paman mirip seperti Sektsa di selebaran kertas yang tertempel di dinding-tetangga kita.”
“Benarkah?” Ciptorogo kembali memperhatikan Sungsang Geni, beberapa saat kemudidan dia tersentak “Yang Mulia Raja...!”
Sungsang Geni menghela napas panjang, “Paman, tidak usah memanggilku demikian, panggil saja aku Geni. perihal batu ini, apa kau bisa menempanya menjadi senjata, aku menyukainya karena batu ini dapat menyerap panas.”
“Bukan hanya menyerap, tapi juga menyimpannya!” sambung Ciptorogo, “Kemarilah ikut aku.”
Ciptorogo mengajak Sungsang Geni menuju lantai kedua rumahnya, lantai itu seperti ruangan perpustakaan yang menyimpan buku, kertas, dan beberapa gulungan catatan.
“Ada lima ribu jenis batu didunia ini, 100 jennis yang paling bagus, 30 dari 100 jenis itu yang paling keras dan hanya 1 dari 30 jenis itu yang paling langka,ditanganmu itu, adalah jenis yang paling langka, Yang Mulia”
Ciptorogo mencari beberapa buku, “Bukan yang ini” dia berkata, kemudian ada lebih banyak buku lagi yang dia baca, kertas yang berhamburan dan gulungan kertas yang terbuka lebar.
“Ini dia!” Ciptorogo nampakanya menemukan buku yang dia cari, “Sama persis dengan yang tertulis disini, warna hitam, guratan merah dan berat. Aku tidak tahu kenapa kau bisa mengangkatnya, tapi tertulis dibuku ini, batu itu sangat berat.”
Sungsang Geni meletakan batu itu di atas meja, tidak terjadi apa-apa pada meja itu, kemudian Ciptorogo berniat mengangkatnya, tapi batu itu tidak bergeming, “Bukan berat, batu ini memilih tuannya.”
__ADS_1
“Batun ini, sebenarnya jenis batu apa paman?”wajah Sungsang Geni diliputi dengan rasa penasaran
“Batu bintang kemulung, bukan berasal dari bumi tapi dari sana!” Ciptorogo menunjuk pada langit, “Kadang orang menyebutnya bintang jatuh.”