
Sungsang Geni melepaskan ketiga jurus secara bergantian, dan di sambut dengan jurus yang sama oleh Pramudhita.
Sejauh ini pertarungan mereka terlihat sangat berimbang, meski sekekali Parmudhita dan Sungsang Geni berada pada posisi bertahan secara bergantian.
Setelah hampir setengah jam, akhirnya pertandingan mereka berdua berhenti. Keduanya sama-sama tidak mendapatkan luka berarti, tapi Pramudhita di menit terakhir menjadi kesulitan sebab pola gerakan Sungsang Geni tiba-tiba berubah.
“Ma'af paman, aku sedikit memasukkan teknik pedang awan berarak dalam pertarunganku tadi! Aku hanya ingin melihat potensi kekuatannya, jika kedua teknik digabungkan.” ucap Sungsang Geni.
“Hahaha...itu tadi sedikit menegangkan.” Ucap Pramudhita seraya menepuk pundak Sungsang Geni, “Teknik itu menjadi berbeda dari sebelumnya, tanpa kau sadari mungkin kelak teknik itu akan menciptakan jurus baru.”
“Apa mungkin teknik sapuan jagat, Paman?”
“Siapa yang tahu? Kita akan melihatnya ketika kau benar-benar menguasai itu.” Pramudhita lantas berjalan terlebih dahulu, dan merebahkan punggungnya pada kursi rotan di halaman rumah.
Pria itu sebenarnya membawa sesuatu di dalam kantong kulit buaya yang dia bopong sebelumnya.
“Aku membawakanmu beberapa makanan dan minuman.” Ucap Pramudhita, sambil menuangkan air dalam cawan bambu. “Minumlah! Tidak baik terlalu memaksakan tubuhmu. Sekekali kau harus menikmati hidup, dan jangat terlalu fokus dengan latihan.”
“Rasanya sedikit manis dan menggigit lidah. Air apa ini?” tanya Sungsang Geni setelah menegak air minum yang disodorkan pria kekar itu.
“Itu adalah air nira, banyak orang yang mengolahnya menjadi tuak.”
“Tuak?”
“Minuman memabukkan.”
“Sejenis arak?” tanya Sungsang Geni.
“Arak?!” Pramudhita tidak pernah mengenal nama minuman itu di tempat ini.
“Minuman memabukkan yang sering pendekar-pendekar minum.” Jawab Sungsang Geni.
“Kalau begitu mungkin saja seperti arak.” lanjut Pramudhita. “Aku membawakanmu daging ayam...”
“Aku tidak mau memakan daging, Paman.” tolak Sungsang Geni, “Semenjak cakra ajnaku bangkit, aku jadi bisa merasakan apa yang manusia dan binatang rasakan.”
Pramudhita hanya terdiam sesaat mendengar perkataan Sungsang Geni, bagaimanapun dia tidak bisa memaksa pemuda itu untuk memakan apa yang tidak disukainya.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu kau harus mencicipi getuk. Ini sangat enak ketika dimakan selagi hangat.” Pria itu lantas menyodorkan sepiring makanan terbuat dari ketela tersebut.
Sungsang Geni hanya mengangguk, dia tidak keberatan mencicipi makanan yang dinamakan getuk, dan ternyata sangat nikmat. Sungsang Geni bahkan menghabiskan beberapa piring getuk seorang diri.
Mereka berdua pada akhirnya terlibat dalam percakapan, bertukar cerita dan pengalaman hidup. Sekekali mereka berdua tertawa terbahak-bahak, tapi tak jarang wajah-wajah mereka terlihat tegang saking seriusnya.
Ketika waktu sudah mulai menutup, Pramudhita memutuskan untuk kembali ke rumahnya diatas tembok padepokan. Sekarang keadaan dirinya menjadi sepi, sebab panglima ireng yang biasa menemaninya telah tiada.
“Paman, aku akan memberimu sedikit saran!” ucap Sungsang Geni menghentikan langkah kaki Pramudhita. “Carilah pasangan hidup, dan bahagialah dengan rumah tanggamu. Ada banyak gadis cantik disini. Berhentilah hidup sendiri!”
Parmudhita tidak menjawab perkataan Sungsang Geni, dia tersenyum masam kemudian segera berlalu seraya memikirkan perkataan pemuda itu.
“Rumah tanga, ya?” gumamnya pelan, “Mungkin yang dikatakan pemuda itu ada benarnya.”
***
Sungsang Geni sudah berlatih selama 9 bulan lamanya. Dia sudah bisa menguasai jurus murka naga bayangan.
Meski masih perlu banyak belajar untuk menyempurnakan ke 9 jurus tersebut, tapi pencapaian yang Sungsang Geni raih patut mendapatkan acungan jempol.
Tentu saja hal itu tidak menjadi kesulitan bagi Sungsang Geni, sebab dia sudah memiliki pondasi yang kokoh dalam seni bela diri menggunakan pedang.
Ditambah lagi tenaga dalam sebesar 7 jule, membuat pemuda itu bisa berlatih hingga 20 jam penuh setiap harinya.
“Murka Naga Bayangan!” ucap Sungsang Geni.
Dia mencoba jurus itu pada beberapa pohon yang berada di depannya. Dan seketika aliran tenaga dalam membentuk seekor naga berwarna bening yang meliuk-liuk di atas Sungsang Geni.
Pramudhita menelan ludah beberapa kali, mendapati naga milik Sungsang Geni lebih besar dari yang bisa dia ciptakan.
“Jadi ini adalah naga yang tercipta dari tenaga dalam sebesar 7 jule?” gumam Pramudhita, pria itu hampir saja memuntahkan darah setelah menyaksikan naga itu bahkan menoleh ke arah dirinya, “Sialan, apa kau coba menakutiku? Dasar pemuda kurang ajar, jangan besar kepala hanya karena naga itu lebih besar!”
Sungsang Geni melepaskan serangan pada banyak pohon di depan dirinya, dan secara bersamaan gemuruh pohon tumbang terdengar memekakkan.
Ada sekitar 100 pohon besar hancur akibat serangan itu, dan nyaris saja serangan Sungsang Geni membunuh sepasang rusa ketika sedang asik mencari makan.
Kedua rusa itu langsung lari terbirit-birit saking takutnya, sementara Pramudhita tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya untuk beberapa saat.
__ADS_1
“Paman, menurutmu bagaimana seranganku barusan?” tanya Sungsang Geni, sambil tersenyum lebar, “Aku belum bisa mengontrolnya, jadi serangan itu menguras semua tenaga dalamku.”
Pramudhita menelan ludah beberapa kali sebelum akhirnya bisa menguasai tubuhnya kembali. “Oh, itu cukup baik. Tapi nampaknya kau masih perlu berlatih mengontrol kekuatanmu.”
“Benar sekali, lain kali mungkin aku bisa mencobanya lagi.”
“Kau harus mencobanya di tengah hutan!” ucap Pramudhita, nadanya terdengar tegas, “Kau bisa saja membunuh orang tidak bersalah karena kekuatanmu itu.”
“Aku mengerti, lain kali kau yang harus menguji kekuatanku!”
“Aku tidak mau!” jawab Pramudhita.
“Kenapa, Paman?”
“Kau belum bisa mengontrolnya, jadi bisa saja membunuhku dengan mudah.” Timpal Pramudhita kesal.
Sungsang Geni hanya terdiam, sambil menarik napas berat. Dia akhirnya duduk di sebelah Pramudhita sambil mengunyah getuk dan menegak air nira.
Pramudhita yakin, hanya butuh beberapa bulan lagi bagi Sungsang Geni bisa menguasai seluruh isi kitab pedang bayangan. Itu adalah pencapaian yang sangat mustahil dilakukan, tapi tentu saja tidak bagi Sungsang Geni.
“Paman, aku dengar kalian tidak bisa keluar dari tempat ini karena sebenarnya kalian bukan manusia?” Ucap Sungsang Geni, disela-sela getuk yang dia makan, “Aku baru tahu jika ternyata kalian adalah bangsa lelembut.”
“Apa kau benci, karena kami berbeda denganmu?” Pramudhita menunjukkan wajah lesu ketika pemuda itu mengungkit masalah itu, “Manusia kebanyakan takut dengan bangsa lelembut, bukan? Aku bahkan baru tahu jika ternyata kami bukan manusia.”
“Aku tidak seperti mereka,” ucap Sungsang Geni, “Di alam kami, bangsa lelembut seringkali dikaitkan dengan mahluk seram, karena itulah kebanyakan dari kami menjadi takut.”
Tapi sebenarnya, bangsa lelembut atau jin juga memiliki dua golongan. Sungsang Geni sudah pernah tahu mengenai bangsa lelembut di salah satu buku yang dia baca di Kerajaan Surasena.
Bangsa lelembut yang berhati jahat, memiliki paras yang menakutkan. Umumnya yang pria bertubuh besar dengan mata merah dan kulit seperti **** dan berbulu tebal.
Sedangkan yang wanita lebih parah lagi, banyak yang tidak memiliki kaki dan terbang melayang sambil tertawa kikikik.
Tapi bagi bangsa lelembut yang memiliki budi pekerti baik dan mengerti mengenai hakikat kehidupan, wujud mereka tidaklah berbeda dengan manusia. Bahkan banyak yang lebih cantik dan tampan dari manusia.
“Paman! Aku bisa membuatmu melihat dunia luar, jika kau masih mau!” ucap Sungsang Geni, tertawa kecil penuh makna, “Kitab pedang bayangan memiliki cara agar hal itu menjadi nyata.”
Udah baca? Kasih vote ya teman-teman Geni! Amankan rank vote, soalnya turun naik.
__ADS_1