
Sungsang Geni di bawa ke sebuah tenda yang pertama kali ditemuinya tepat sebelum menuju Serikat Pendekar. Siko Danur Jaya ditemani dengan Ratih Perindu menghampiri seorang wanita yang berada didalam tenda tersebut, sedangkan Sungsang Geni tetap menunggu diluar.
Siko Danur Jaya melaporkan mengenai misi penyelamatan para pengungsi terakhir berhasil dengan sangat baik, bahkan tidak ada satu korban jiwapun yang terjadi.
Setelah berbicara cukup lama, Siko Danur Jaya mulai mengutarakan niatnya untuk membawa Sungsang Geni menuju kediaman Ki Alam Sakti.
“Pemuda itu, kita tidak mengetahui siapa namanya? Asalnya dan juga latar belakangnya?” wanita itu tidak lain adalah Saradah, salah satu pendekar dari Perguruan Merak Hijau.
Sudah semenjak berdirinya Serikat Pendekar, wanita itu mendapatkan tugas sebagai kepala administrasi organisasi tersebut. Karena pengetahuannya yang sangat luas, wanita itu tampaknya lebih cocok jika mengurusi berbagai macam berkas dan surat-menyurat dari pada ikut bertempur.
“Tapi, dia adalah orang yang sangat baik.” Siko Danur Jaya memberi alasan, “Dia telah berperan besar dalam pengawalan para pengungsi, bahkan dia juga orang yang telah berhasil mengalahkan 1000 pasukan Kelelawar Iblis yang mencoba menyerang kami.”
“Tapi aku tetap tidak bisa mengizinkan pemuda itu menemui sesepuh Alam Sakti, bagaimana jika ternyata dia adalah mata-mata pihak musuh?”
Inilah kenapa Saradah juga pantas berada di posisi ini, dia adalah tipikal wanita yang tidak mudah percaya terhadap siapapun yang baru saja dia kenal. Adakalanya sifat ini sangat membantu, tapi terkadang juga sedikit menyusahkan orang yang benar-benar membutuhkan.
Di luar tenda Sungsang Geni tersenyum kecil, “Mereka tidak akan mengizinkan kita begitu saja, Ireng!”
“Gerr...gerr...”
Siko Danur Jaya sangat ingin mengatakan identitas sebenarnya dari Sungsang Geni. Dia sudah tidak tahan lagi, tapi seperti yang dikatakan pemuda matahari itu tidak akan ada yang percaya.
“Ma'afkan aku Siko, tapi aku tidak bisa memberi Jaka Geni bertemu dengan Sesepuh Alam Sakti.” Tutup Saradah sambil menutup buku yang ada di depan mejanya. “Ini demi kebaikan kita semua.”
“Tapi dia adalah...”
“Kanda!” Ratih Perindu menegur kekasihnya. “Percuma saja, sebaiknya kita tunda beberapa waktu lagi.”
Setelahnya Siko Danur Jaya berniat menemui Sabdo Jagat, guru besar dari Lembah Ular itu pasti mempercayai mereka berdua. Pria itu juga pasti akan sangat senang jika mengetahui Sungsang Geni masih hidup.
Namun ketika mereka keluar dari tenda, Sungsang Geni sudah tidak ada lagi di tempatnya meninggalkan Panglima Ireng yang berdiri dengan kepala mendongak ke atas.
__ADS_1
Siko Danur Jaya menatap kearah srigala itu melihat, dan benar Sungsang Geni sudah pergi lebih dahulu menuju dataran tertinggi.
“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” Siko Danur Jaya memijat keningnya yang terasa sakit. “Kita akan terkena masalah.”
“Kita sudah memprediksi hal ini. Jika kita berada pada posisi dirinya, mungkin kita juga akan melakukan hal yang sama.” Ratih Perindu kemudian menatap srigala hitam yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
“Apa kau akan tetap disini?” Ratih Perindu memberanikan diri menyentuh kepala mahluk itu.
“Dinda jangan!” Siko Danur Jaya mencoba mencegahnya.
“Gerr...gerr...” Panglima Ireng menunjukkan sikap terbaik yang dia miliki, binatang itu tidak ingin menimbulkan masalah atau temannya akan mendapatkan kesulitan.
“Binatang pintar...Geni memanggilmu dengan Ireng bukan?” tanya Ratih Perindu masih mencoba membelai-belai kepala srigala itu.
“Gerr...gerr...”
“Baiklah sekarang ikut bersama kami, tempat ini tidak baik untukmu.” Ratih Perindu pada akhirnya berhasil menyentuh kening Panglima Ireng dan mengajaknya kembali ke tenda pengungsian mereka.
“Siapa kau orang asing? Apa yang kau lakukan di tempat ini?” puluhan prajurit dalam sekejap sudah mengepung Sungsang Geni.
“Katakan apa yang ingin kau lakukan?”
“Sudahlah sebaiknya kita tangkap saja orang ini!” salah satu dari prajurit itu kemudian menyerang lebih dahulu.
Sunsgang Geni mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat, membuat rembesan aura itu bahkan terasa sampai ke tempat Serikat Pendekar. Beberapa pendekar hebat mulai tersentak, dan bergegas keluar dari dalam tenda.
“Ma'af tapi aku tidak bisa menjelaskan masalahnya sekarang!” ucap Sungsang Geni.
Pada saat pengawal di sana merasakan seluruh sendinya terasa lepas, Sungsang Geni segera pergi ke salah satu tenda yang terletak paling ujung dan paling tinggi. Pemuda itu yakin gurunya sedang terbaring disana.
Sungsang Geni melayang dengan cepat, sementara Darma Cokro segera bertindak cepat karena tenda itu jelas tempat dimana Ki Alam Sakti sedang terbaring sakit.
__ADS_1
“Aku tidak tahu apa yang mau dilakukan pemuda itu tapi, aku tidak bisa membiarkan seorang mengganggu Ki Alam Sakti.” Darma Cokro menghentakkan kakinya, dan seketika pedang pusaka naga emas keluar dari sarungnya.
“Biarkan aku saja yang melawannya Ayahanda!” Benggala Cokro terbang lebih dahulu. “Biarkan aku yang melawan orang bodoh itu!”
Sebelum Sungsang Geni tiba di tenda Ki Alam Sakti 3 pedang melesat ke arahnya dengan cepat. Pemuda itu segera membelok haluan terbangnya, dan hinggap di salah satu batu cadas yang sedikit menjorok keluar.
Tiga pedang menancap kemudian kembali lagi kearah tuannya. “Aku tidak akan membiarkan orang lemah seperti dirimu mendekati tenda Sesepuh Alam Sakti.”
“Ma'afkan aku, tapi aku bukanlah musuh kalian...”
“Alah, jangan banyak alasan?” Hardik Benggala Cokro, ketika semua orang sedang memperhatikannya, pendekar pedang emas itu semakin terlihat angkuh saja. “Aku akan memberimu kesempatan untuk menyerahkan diri, dan kujamin hukumanmu tidak akan menimbulkan kematian!”
“Tunggu, kedatanganku ke sini hanya untuk menyelamatkan guruku.” Sungsang Geni berkata.
Benggala Cokro lantas tertawa terbahak-bahak, “Aku mengenal 5 orang murid dari Sesepuh Alam Sakti, dan bisa kupastikan tidak ada wajah dirimu diantara lima orang itu.”
Setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu keterangan langsung dari Sungsang Geni, Benggala Cokro memainkan jari jemarinya. 3 pedang tiba-tiba menjadi satu, kemudian menyerang Sungsang Geni dengan kecepatan tinggi.
Sungsang Geni melompat dari batu dan terbang menjauh, tapi Benggala Cokro tidak membiarkan pemuda itu menghirup udara tenang nampaknya. Dia mengayunkan pedang dengan jari-jemarinya mengikuti Sungsang Geni.
“Pemuda itu memiliki tenaga dalam cukup besar...” pikir Sungsang Geni. “Aku yakin dia sudah membuka 4 cakra dalam tubuhnya.”
Benggala Cokro lama-lama menjadi sangat kesal, sudah beberapa kali dia melakukan gerakan pedang memburu bayangan tapi Sungsang Geni bisa berkelit dengan cukup mudah.
Hingga pada akhirnya, Benggala Cokro menghentikan serangan. “Kenapa kau tidak balas menyerangku? Apa kau seorang pecundang yang menyedihkan?”
Sungsang Geni tersenyum kecil, “Baiklah! Jika bertarung adalah cara yang paling bijak sebagai langkah terakhir yang harus kutempuh, maka bersiaplah!”
Setelah mengatakan hal itu Sungsang Geni menciptakan sebuah pedang energi berwarna kuning emas dan seketika aliran hangat dapat dirasakan semua orang disana.
“Ini... aku mengenal energi ini...” Seorang gadis yang berada di tenda pengungsian rakyat tiba-tiba tersentak tak percaya.
__ADS_1
Like dan koment ya...