
Minak Singo melirik ke arah Sungsang Geni dengan masam, dia adalah pangeran cerdas jadi sudah tahu maksud kedatangan pemuda itu. Namun lekas wajah masamnya berganti ciut dan takut, menyadari Sungsang Geni berjalan lebih dekat lagi ke arahnya.
Pada saat yang sama, air kencing mungkin sudah membasahi seluruh celananya yang longgar. Baunya semasam ruangan ini. Dia menyenderkan tubuhnya dengan lekat pada dinding ruangan, menundukkan kepala sambil sekekali menarik tangannya yang dirantai. Tapi tidak berhasil.
“Ceritakan semuanya!” Sungsang Geni mendekati Minak Singo, sangat dekat sekali, hanya dua jengkal hidung pemuda itu dari wajah Minak Singo. “Semua informasi, rencana dan apapun hal mengenai Kelelawar Iblis dan kalian!”
“Apa kau pikir aku akan membuka suara...AHK!” Sebuah pukulan keras melayang di pipi pemuda itu yang dilakukan oleh Wira Mangkubumi. Tentu saja juga mengejutkan Sungsang Geni.
“Aku tidak keberatan melakukan hal ini sepanjang waktu.” Wira Mangkubumi meniup kepalan tinju. Sangat menikmatinya. Dia lalu meremas tinju kananya sampai terdengar retakan.
“Aku ingin mengetahui semuanya.” Ucap Sungsang Geni.
Minak Singo melirik ke arah Wira Mangkubumi memastikan kepalan tinju pria itu tidak kembali mendarat di wajahnya. Sudah lebih dari 6 gigi patah, dan ada lebih banyak lagi gigi yang gurah. Sekarang wajah tampan yang dia miliki, mirip seperti kakek ompong.
Minak Singo terpaksa menceritakan semua informasi dengan begitu lancar, nyaris seperti membaca buku cerita.
“ Apa kau tahu, bahwa aku bisa membaca beberapa hal yang ada di kepalamu?” Sungsang Geni melirik ke arah Wira Mangkubumi, memberi isyarat untuk memberikan pukulan selanjutnya. “Tapi ada beberapa informasi seperti simbol dan kode kode yang tidak aku ketahui di dalam kepalamu, mungkin itu bahasa kalian atau ada seseorang yang mengunci informasi itu di dalam kepalamu.”
Betapa terkejutnya Minak Singo, padahal dia sudah cukup yakin bisa memberikan informasi palsu. Tapi siapa yang menduga? Pemuda itu bisa mengetahui jalan pikirannya.
Sementara itu, dua kali pukulan tinju mendarat di wajah Pangeran itu, kemudian disusul dengan pukulan sekali lagi yang lebih keras dari sebelumnya. Astaga, 3 giginya lepas dan menggelinding di lantai.
Wira Mangkubumi terkekeh kecil, kemudian memungut satu diantara tiga gigi yang terlepas. “Lain kali, kau tidak bisa lagi mengunyah.”
Minak Singo meringis bukan kepalang.
“K-k Kau benar? Informasi di kepalaku sudah dilindungi dengan ajian, sebelumnya aku tidak percaya ada orang yang mampu membaca pikiran seseorang, jadi ajian itu aku anggap tidak penting.” Minak Singo melirik Wira Mangkubumi yang menekan jari jemarinya hingga berbunyi 'krak'. “Tapi baiklah, aku akan mengatakan semuanya...”
“Jangan Pangeran!” tolak Senopati Legam. “Jika informasi itu sampai bocor, maka semua rencana kita sia-sia.”
Yang dikatakan Legam ada benarnya, tapi Minak Singo tidak tahan jika seluruh giginya kelak benar-benar habis tanpa tersisa. Bukan hanya itu, dia bisa menangkap kesabaran Sungsang Geni sudah habis.
__ADS_1
Rasanya saat ini Minak Singo benar-benar ingin menjadi penjahat biasa, yang di letakkan pada penjara yang lebih baik dari tempat ini. Setidaknya ada makanan satu kali sehari untuk menganjal perut. Tidak seperti di sini, hanya mendapatkan satu kali makanan untuk 2 hari.
Tapi bagian terburuknya adalah, 3 penjaga di luar sana selalu meletakkan air liur di atas daging kering, baru kemudian memberikannya pada Minak Singo.
“Tapi aku memiliki permintaan kepadamu?” Minak Singo menoleh kearah Wira Mangkubumi. “Setelah aku mengatakan hal ini, lindungi aku dari para pendekar bayaran yang akan membunuhku.”
“Kenapa aku harus menyetujuimu?”
“Karena informasi ini benar-benar penting untuk Surasena, ini adalah kelemahan mereka.”
Wira Mangkubumi memandang Sungsang Geni seketika, diteruskan anggukkan pemuda itu tanda setuju.
“Dan juga...” Minak Singo menambahkan syarat keduanya.
“Tukar ketiga penjaga jorok di depan penjaraku...”
“Tidak akan!”
Banyak sekali permintaan Pangeran itu, membuat Wira Mangkubumi kembali mengembus kepalan tinjunya.
“Baiklah, obat dan juga penjaga baru.” Minak Singo mengurangi satu point dari permintaannya.
Tapi pada akhirnya, Wira Mangkubumi hanya mengabulkan 'obat' untuk Senopati Legam.
Pangeran itu lantas mengatakan semua hal yang tidak dapat dipecahkan oleh Sungsang Geni pada bahasa yang paling sederhana. Mudah dipahami, dan tidak berbelit-belit. Dia mengatakan ini dan itu, dan berbicara serendah dan sesopan mungkin, takut jika kepalan tinju kembali menghajar giginya.
Setelah hampir 20 menit, Sungsang Geni bisa menyimpulkan dari sekian banyak informasi yang di katakan Minak Singo. “Kuil kegelapan?”
Sesuatu tempat yang tersembunyi, gelap dan mengerikan. Minak Singo belum pernah ketempat itu, tapi dari yang dia ketahui -Kuil Kegelapan- berada di dalam goa di salah satu gunung paling angker di dataran Java.
Kuil kegelapan memiliki sesuatu sebagai kekuatan tanpa batas pasukan Kelelawar Iblis, terutama pimpinannya Topeng Beracun. Jika Sungsang Geni ingin mengalahkan Pasukan itu, maka kuncinya ada di dalam kuil itu.
__ADS_1
“Didalamnya terdapat Gerbang yang menghubungkan alam bawah dengan alam Manusia.” Minak Singo bergidik ketika mengatakannya, seolah dia berada di depan gerbang itu.
“Jika kau bisa menutupnya,” dia melanjutkan, “Kekuatan mereka akan terputus, dan...dan kau bisa mengalahkan kelompok itu.”
Sungsang Geni menangkap tidak ada kebohongan dari ucapan Minak Singo. Pantas saja dia tidak bisa memecahkan simbo-simbol di dalam kepala pria itu, rupanya Kelelawar Iblis yang telah menjaganya.
“Bagaimana cara menutupnya?”
“Dengan kunci!” tukas Minak Singo. “Tapi kunci itu selalu berada pada dirinya, akan tetap sulit mengambil kunci dari Topeng Beracun. Kalian harus merebut kunci itu dari tangannya sendiri, dan...dan kalian tentu tahu kekuatan dia, lebih besar 2 kali dari dirimu.”
Mianak Singo memoncongkan bibir bengkaknya ke arah Sungsang Geni.
“Bagaimana bentuknya?” Sungsang Geni mengelus dagunya.
“Topengnnya, itu adalah kunci untuk menutup gerbang yang ada di Kuil kegelapan.”
“Tunggu, topeng?” Wira Mangkubumi tidak percaya, tidak pernah mendengar kunci berbentuk seperti sebuah topeng. “Apa kau mencoba berbohong....”
“Tidak!” Minak Singo mengeraskan suaranya. “Ma'af, tapi itu adalah kenyataannya.”
Sungsang Geni terdiam beberapa saat, kemudian menemukan tidak ada jalan lain selain bertarung langsung dengan pimpinan Kelelawar Iblis yang diperkirakan dua kali lebih kuat dari dirinya.
Kekuatan apa yang dimiliki Topeng Beracun? Entahlah, belum ada yang tahu pasti. Tapi dari panjang lebar cerita Minak Singo, dia tidak bisa mati. Hidup kekal.
Kemudian Sungsang Geni berjalan meninggalkan Penjara itu dengan kepala dipenuhi puluhan pertanyaan.
“Jangan lupa janji kalian...” Minak Singo berkata sebelum pintu penjara ditutup oleh tiga penjaga berwajah angker. “Aku mohon, te-tempat ini sangat menakutkan lagi dingin.”
Wira Mangkubumi mengintip dari celah pintu yang hampir tertutup rapat, lalu tersenyum kecil. Apa maksud senyum kecil itu? Mengingkari janji? Entalah, dia mungkin punya suatu rencana untuk kedua tahanan itu.
Author ucakan terimakasih atas dukungan kalian, dan terima kasih buat anjuran obatnya.
__ADS_1