PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pertarungan Di Hutan 2


__ADS_3

“Apa Dewa Surya kehilangan akal, menurunkan kemampuannya kepada manusia fana sepertimu?” Puntura dengan suara bergemanya mulai merasakan khawatir.


Pemuda di depannya jelas bukan orang biasa, dia pilihan para Dewa. Atau mungkin titisan dewa Surya, tapi tentu bukan, sudah lama bumi ini terbakar jika Dewa Surya memang turun ke bumi menjelma sebagai manusia.


Konon ada 4 lapis api menyelimuti Dewa Surya, dan Sungsang Geni mendapatkan berkah api yang paling dingin dari keempatnya.


Kemudian pasti ada alasannya? Tidak mungkin seorang manusia diberkahi kekuatan Dewa Surya tanpa alasan. Sekarang pikiran kelima naga di dalam tubuh puntura mulai mengambang.


“Seperti yang kau katakan, aku hanya manusia biasa.” Jawab Sungsang Geni.


Pemuda itu tidak ingin berpikir terlalu panjang dia segera menyerang lebih dahulu, atau sesuatu diluar akalnya akan terjadi. Perubahan wujud Puntura saja, sudah membuat otaknya pusing, dia tidak ingin sesuatu terjadi lebih dari ini.


“Jadi kau pasti bisa mati, Manusia?” Puntura menyambut serangan Sungsang Geni.


Mata ularnya menatap tajam dan liar, sekekali taring di giginya menyeringai, tapi yang paling menakutkan adalah tentu saja pedangnnya. Api matahari yang menyelimuti pedang Sungsang Geni seperti menemukan lawan yang tepat saat ini.


Sungsang Geni bertarung dengan Puntura yang kerasukan roh keris panca dewa dengan sengit. Cahaya merah dan bening bertabrakan menciptakan gelombang kejut dahsyat, menyapu dedaunan disekitar mereka, bahkan tak jarang batu –batu besar menjadi sasaran kekuatan mereka berdua.


Ratusan kali mereka bertukar jurus, dan tidak satupun serangan mereka yang saling mengenai satu sama lain. Serangan yang dilakukan Sungsang Geni, semuanya dapat dibaca oleh Puntura, ini membuat pemudua itu sedikit kesal.


Sungsang Geni mengambil jarak beberapa puluh meter, mencoba mengatur napasnya. Dia menyadari, kondisinya saat ini tidak begitu baik, meski semua serangannya menggunakan berkah matahari, tapi kekuatan fisiknya banyak berkurang.


Blas...blas... dua energi bening melaju kearahya dengan cepat, Sungsang Geni sedari tadi hanya menghindarinya tapi sekarang dia mencoba menebasnya.


Berhasil...Energi itu berhasil dipotongnya menjadi dua. “Jika ternyata api matahari bisa memotong serangannya, kenapa aku harus repot-repot menghindarinya.”


Belum selesai pemuda itu berpikir, Puntura telah berada di depannya dengan pedang yang terangakat tinggi.

__ADS_1


Kali ini Sungsang Geni terpental puluhan meter, saat mencoba menangkis serangan mahluk itu. Pohon-pohon yang terkena imbas hempasan tubuh pemuda itu, ikut tumbang karena tidak mampu menahannya.


“Uhuk...” Sungsang Geni terbatuk darah, kepalanya terasa sakit sebab membentur puluhan pohon. Dia sekerang terhenti pada didinding cadas, membuat bebatuan di dinding retak dibanyak bagian.


“Tidak kusangaka, mahluk itu sangat kuat.” Suara Sungsang Geni terdengar terbata-bata.


Pemuda itu lalu menyeka darah yang menodai mulut dan dagunya. Kemudian dia mencari pedang yang tadi digunakannya. Tidak ditemukan, pedang itu mungkin ikut terlempar setelah tanpa sadar dia melepaskanya.


Sungsang Geni menatap di kejauhan, pada ujung matanya di antara pepohonan tumbang, Puntura mulai berjalan mendekatinya dengan mata pedang yang di tariknya menyentuh tanah, menciptakan siring yang dangkal.


Tiba-tiba saja, puntura telah berada di depannya, mencengkram batang leher Sungsang Geni dengan keras. Sungsang Geni merasakan tercekik, membuat dia kesulitan bernapas.


“Ternyata, kekuatan apimu tidak seberapa dibandingkan kekuatan diriku.” Ucap Puntura, “ matilah kau Manusai fana...”


Puntura tiba-tiba terkejut, dia tidak bisa melanjutkan ucapan sombongnya. Sekarang dia mendapati, Sungsang Geni melakukan hal yang sama terhadapnya. Pemuda itu mencengkram batang lehernya, dengan api yang saat ini memenuhi seluruh lengan kanannya.


Beberapa menit kemudian, aura panas meningkat dengan drastis. Sungsang Geni merasakan sesuatu bergejolak di tubuhnya seperti energi yang mengalir deras dari lengannya, sesuatu yang dulu pernah dia rasaka sebelumnya. Ketika dia bertapa brata, dan bertemu dengan roh api.


Puntura tidak dapat menjawabnya, meski mungkin sangat ingin. Cengkraman tangan Sungsang Geni membuat pita suaranya terhimpit, kecuali suara serak dan parau, tidak ada yang bisa dia ucapkan.


Sungsang Geni kemudian membanting tubuh puntura kedinding cadas, membuat mahluk itu meringis kesakitan. Dinding cadas yang menjulang tinggi, sekarang runtuh dibanyak bagian.


Tapi Sungsang Geni tidak menghentikan perbuatannya, dia masih mencengkram leher Puntura, kemudian membanting tubuh mahluk itu, lagi dan lagi.


“Aku tidak punya waktu mengurusi mahluk seperti dirimu!” ucap Sungsang Geni murka, “Ada Kelelawar Iblis yang kekuatannya mungkin jauh melebihi kekuatanmu, jadi sebaiknya kau segera keluar dari tubuh pria ini dan tetaplah menjadi keris panca dewa.”


“Mana mungkin, kami tidak akan terkurung lagi dibesi tua.” Puntura berkata lirih, “Kami ingin bebas seperti mahluk lain di dunia ini.”

__ADS_1


Sungsang Geni menaikan alisnya, dia mengeraskan rahangnya. Lalu api dilengan kanannya berkobar lebih besar lagi, menciptakan hawa panas hingga seratus meter jauhnya. Beberapa hewan berada sekitarnya meringkih ketakutan, kemudian bergegas berlari menjauh, jika tidak mereka akan jadi daging panggang.


Sekawanan burung enggang terbang di atas Surasena, para prajurit yang memiliki peka rasa di Istana merasakan kegelisahan pada burung-burung itu.


Darma Guru, berusaha berjalan mendekati hutan tapi tubuhnya tidak mampu, jadi dia hanya menatap dari kejauhan dengan harap-harap cemas.


Sungsang Geni melepaskan cengkramannya, membuat leher Puntura terasa lega beberapa saat, sebelum kemudian pemuda matahari itu mengangkat tangannya lalu mendaratkan pukulan tepat di wajah Puntura.


Dinding cadas menjadi runtuh setengah akibat pukulan itu, beberapa batu terlihat mencair laksana lahar akibat api yang sangat panasnya.


Sungsang Geni mendaratkan pukulan sekali lagi, membuat Puntura meraung kesakitan.


“Tidak...kau tidak bisa membunuh kami, kami abadi.” Puntura berteriak keras, menciptakan gelombang suara berkekuatan tinggi, memekakan semua telinga yang mendengarnya kecuali Sungsang Geni.


Puluhan prajurit yang tersisah, mendadak tak sadarkan diri namun ada lebih dari ribuan penduduk yang mengalami nasip sama, hanya mereka yang memiliki cukup tenaga dalam untuk melindungi telinga mereka, yang mampu bertahan.


Sungsang Geni sebenarnya menyadari perkataan Puntura memang benar, dia telah menyerang mahluk itu beberapa kali, dengan kekuatan api matahari yang lebih panas dari sebelumnya, tapi Puntura tidak kunjung mati.


Satu-satunya cara menyudahi pertarungan ini, dengan cara mengembalikan lima naga ditubuh puntura kedalam keris panca dewa. Tapi, bagaimana caranya?


“Mungkin harus dihajar hingga mereka sendiri yang menyerah.” Gumam Sungsang Geni, setelah berpikiran demi kian, pukulan demi pukulan yang lebih keras lagi menghujani tubuh raja Tombok Tebing itu.


Jika kelima naga berhasil keluar, Sungsang Geni yakin raja Puntura tidak akan hidup karena mungkin seluruh organ tubuhnya telah terbakar.


Beberapa menit kemudian, Sungsang Geni dapat melihat sekerlip cahaya bersinar di antar tanduk kecil di kening Puntura. “Mustika ular, bukan, tapi mustika naga?”


Bukankah dengan mencabut paksa mustika yang dimiliki ular bisa melemahkan ular itu, sepertinya akan berefek sama kepada seekor naga. Mereka berasal dari spesies yang sama bukan? Hanya saja Naga adalah ular yang mampu bertahan 1000 tahun lamanya. Pikir Sungsang Geni.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Sungsang Geni mencabut paksa sebuah benda yang terlihat seperti batu permata berwarna hijau tua dari dalam kepala Puntura.


“TIDAKKKK...!” Teriak Puntura kesakitan.


__ADS_2