PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Tubuh Sekeras Baja


__ADS_3

Akhirnya pertarungan besar antara Sungsang Geni dan Jaka Balabala tidak dapat terelakkan. Mereka berdua saling menunjukkan kelihaian dengan senjata masing-maing. Sungsang Geni dengan pedang dan Jaka Balabala dengan kipasnya.


Baru saja beberapa menit, efek dari pertempuran mereka berdua membuat semua orang menjauh. Tanah-tanah berlubang besar, pohon-pohon tumbang dan ledekan energi dari dua senjata yang beradu menciptakan getaran hebat yang membuat aura pertarungan menjadi lebih berat.


Sungsang Geni melesat dengan cepat, dia menebaskan pedang di arah leher tapi Jaka Balabala bisa menghindar dengan membungkukkan badan. Pada saat yang sama, Sungsang Geni menaikkan kakinya, berniat menendang tubuh pria banci itu tapi gagal.


Jaka Balabala berjungkir balik di udara untuk beberapa lama, lalu hinggap di tumpukan mayat prajurit Surasena. Dua detik kemudian, dia menendang puluhan mayat ke arah Sungsang Geni. Terlihat sedikit biadap, mayat-mayat manusia melayang seperti benda tak berguna.


Sungsang Geni menghindari semua serangan, tapi Jaka Balabala menyelipkan kipas besarnya pada salah satu mayat. Kipas besar itu berputar cepat, hampir saja mengenai kepala pemuda itu jika satu detik saja telat menghindarinya.


Sungsang Geni menggerakkan satu jari telunjuk, kemudian satu bilah pedang energi melesat dengan cepat dan hampir pula menikam leher Jaka Balabala.


“Kau bisa melakukan hal itu?” Jaka Balabala berkata kesal, sebab ada satu lagi pedang energi yang hampir saja menikam dadanya.


Wajah Darma Cokro berubah-ubah melihat teknik bertarung yang digunakan Sungsang Geni. Jelas saja dia bisa melihat teknik Pedang Emas digunakan pemuda itu, meski memang teknik pedang awan berarak lebih sering digunakannya.


Bukan hanya Darma Cokro, Benggala Cokro juga tertegun sesaat ketika dia melihat cara Sungsang Geni mengendalikan pedangnya.


“Bukankah itu teknik pedang emas?” Pemuda itu bergumam kecil, dia menggaruk dagunya tampak berpikir. “Tapi aku tidak pernah ingat ada orang asing belajar teknik pedang emas di Perguruan Bukit Emas, apa dia mempelajarinya dari Eyang Darma Guru?”


Bagi Perguruan Lembah Ular, aksi yang dilakukan Sungsang Geni sudah masuk dalam kategori wajar. Tentu saja mereka juga memasang ekspresi yang sama ketika pemuda itu muncul di Lembah Ular beberapa bulan silam.


“Guru, kita tidak boleh hanya terpaku saja melihat perjuangan Geni.” Siko Danur Jaya berkata kepada dua Sesepuh Lembah Ular sambil menarik beberapa jarum dari jubah tebalnya. “Kita habisi semua orang ini!”

__ADS_1


Seperti orang yang baru saja terjaga dari lamunan, Jelatang Biru mengikuti muridnya melawan prajurit Kelelawar Iblis, sementara Guru Tiraka bersegera membantu Gentar Bumi.


***


Sungsang Geni mendapat satu serangan tepat di bagian dadanya, pemuda itu melayang puluhan meter di udara lalu terhempas di dekat pertarungan Mahesa dan Gerahang Jegar.


“M'afkan aku, kawan.” Sungsang Geni menepuk pakaiannya beberapa kali sambil tersenyum kecil kearah Mahesa, yang bahkan terkejut setengah mati. Bagaimana tidak pemuda itu hampir saja menabrak tubuhnya.


“Carilah tempat yang sedikit jauh!” Mahesa mengendus kesal. “Jangan merusak pertarungan orang lain!”


Sungsang Geni kembali menyunggingkan senyum kecil kemudian pergi meninggalkan Mahesa dengan pertarungannya.


Dua kelebat cahaya terang melewati permukaan tanah dengan kecepatan tinggi, kemudian dia menaik ke langit pada sosok pria banci di atas awang-awang. Dua kelebat cahaya itu bertemu dengan kipas besar Jaka Balabala.


Bukan hanya itu, Nyai Siwang Sari malah menjadi sedikit gusar saat ini. Kedatangan pemuda itu sudah barang tentu mengejutkan pasukannya, tapi yang lebih mengejutkan lagi pemuda itu bisa mengimbangi kekuatan Jaka Balabala.


“Aku harus membantunya!” Nyai Siwang Sari berkata pelan, dia kemudian lekas melayang ke arah adik bancinya tapi dua larik cahaya hampir saja mengeni tubuh wanita tua berwajah cantik itu.


“Kenapa kau tidak diam di tempat ini saja, dan melihat pertarungan mereka.” Darma Cokro memainkan pedang naga emasnya, menyerang Nyai Siwang Sari dari segala sisi.


Karena pikiran wanita itu saat ini sedang terbagi, dia tidak terlalu fokus untuk bertarung menghadapi Darma Cokro hingga satu serangan yang dilakukan oleh Lakuning Banyu mengenai pundak wanita itu.


Dengan salah satu mata hijaunya, Lakuning Banyu dapat melihat dengan sangat jelas semua orang di medan pertempuran meski di gelap malam. Bahkan dia bisa melihat dengan jelas, energi yang ada di dalam tubuh Sungsang Geni.

__ADS_1


Beberapa ingatan mengenai sosok Sungsang Geni di Surasena terkadang terlintas dengan jelas. Dahulu pemuda itu memiliki api yang bergelora dari lengan kanannya, bahkan api itu bisa membakar semua benda yang disentuh.


Tapi saat ini, lengan itu tampaknya tidak menciptakan api melainkan sesuatu yang lebih kuat dari pada itu. Sebuah pedang energi yang beraura sepanas api. Roh keris Panca Dewa sekekali merinding ketika melihat kekuatan pemuda itu.


Kembali lagi pada Nyai Siwang Sari. Baru saja dia mendapatkan serangan dari Lakuning Banyu yang didalam tubuhnya berada Roh keris Panca Dewa. Kali ini dua serangan lain baru saja mengenai tubuhnya yang gemulai.


Siapa lagi jika bukan Ki Alam Sakti dan Ki Lodro Sukmo. Dua pak tua itu berhasil melukai tubuh Nyai Siwang Sari, meski mungkin tidak begitu parah.


“Kalian berempat berniat mengeroyokku? Memalukan sekali.” Nyai Siwang Sari melirik lagi kearah adiknya, Jaka Balabala, wajahnya menjadi gusar kemudian kembali melirik ke empat lawannya dengan geraman. “Aku akan membunuh kalian semua, akan...”


Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja satu benda menabrak tubuhnya hingga terpental kasar di permukaan tanah. Nyai Siwang Sari kesal bukan kepalang, dia berniat meremukkan benda itu tapi tidak jadi.


“Grahang Jegar? Menyingkir dari tubuhku, apa kau ingin mati?” Grahang Jegar yang masih merasakan sakit bukan kepalang di bagian dadanya terpaksa menjauhi Komandannya dengan perasaan takut.


Sekitar sepuluh depa sosok manusia berbadan kekar nampaknya baru saja melepaskan satu serangan kepada Gerahang Jegar, siapa lagi jika bukan Mahesa manusia bertubuh sekeras baja.


Pria itu rupanya diam-diam meningkatkan tenaga dalamnya. Kekalahannya di pertempuran yang terjadi 8 bulan yang lalu di Kerajaan Tombok Tebing membuat dia sadar untuk berlatih sedikit lebih keras.


Dahulu tenaga dalam pria itu setara dengan Sungsang Geni, dan merupakan orang pertama yang tetap hidup setelah menerima jurus tarian dewa angin.


“Tapak Dewa Perang...” ucap Mahesa, dia baru saja menguji jurus terkuat yang dimilikinya.


Jurus itu pernah digunakannya untuk melawan Sungsang Geni dan kalah telak, tapi tampaknya jurus Dewa Perang miliknya masih jauh lebih baik dari Jurus Tapak Setan miliki Gerahang Jegar.

__ADS_1


"Aku ingin melihat semua kekuatanmu, manusia berhati iblis." Mahesa melepas semua pakainnya dan hanya menyisakan celana panjang. "Akan kubalas kematian rakyat Tombok Tebing."


__ADS_2