PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang di Parit4


__ADS_3

Pasukan musuh mulai kocar-kacir setelah melihat hampir 300 mayat terbakar karena bubuk setan. Dan sejauh itu, dipihak Sungsang Geni belum ada yang melakukan serangan, selain 8 pemanah yang menyerang tiada henti.


Setelah bubuk setan habis, beberapa prajurit Kelelawar Iblis yang terlihat cukup kuat dan cukup berani berusaha melakukan serangan balasan. Sungsang Geni sudah menyadari hal ini, diantara banyaknya mereka pasti ada yang bisa bertarung meski tidak ada lagi pemimpinnya.


Ada sekitar 100 orang prajurit yang berada pada level tanpa tanding menunjukkan diri dan menyerang 4 menara pengintai. Mereka melepaskan pukulan tenaga dalam, dan berhasil menghancurkan menara itu dengan mudah.


“Serang mereka, jangan sisakan satupun hidup!” salah satu orang yang telah melepaskan pukulan tenaga dalam mengambil komando pasukan.


Dan seketika, hampir 20 orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh melompati parit dengan mudah. Tapi pada saat yang sama, para pendekar di dipihak Sungsang Geni mengarahkan tombak yang panjangnya hampir 5 meter.


Mereka tidak sempat menghindari hal itu, dan terpaksa mendarat tepat di ujung-ujung mata tombak yang tajam.


“Sial! Kau...kau serang mereka!” orang itu kembali memberi perintah kepada teman-temannya.


Sungsang Geni menatap pria itu dengan tajam, kali ini target selanjutnya tentu saja dia. Jadi pemuda matahari tersebut dengan gerakan cepat, menyerang pria itu lebih dahulu dan berhasil menusukkan pedang tepat di tengah jantungnya.


Sungsang Geni tidak berhenti disitu, dia kembali menyerang prajurit-prajurit yang terlihat cukup kuat. Hal ini membuat musuh-musuh yang terlihat lemah ketakutan bukan kepalang, dan pada saat yang sama Siko Danur Jaya dan Ratih Perindu mengikuti pemuda itu.


Hempasan kapak Ratih Perindu paling efektif untuk melawan barisan pasukan di jalan setapak. Ketika kapak itu membelah tanah, belasan prajurit tertimbun ke dalamnya.


Siko Danur Jaya memainkan sebuah jarum seukuran telunjuknya, kali ini dia tidak melemparkan jarum seperti jarum-jarum kecil yang biasanya dia lempar. Diujung jarum ada sebuah benang yang terikat di lengannya.


Jadi ketika dia menyerang dengan jarum, dia juga bisa mengambilnya kembali dengan menarik benang. Tusukan Jarum memang tidak terlalu dalam, tapi racun yang digunakan pemuda itu tetap mematikan.


Puluhan prajurit kelelawar iblis berhasil menyebrangi parit dengan cara meminta teman mereka untuk melempar dirinya sendiri. Namun, 200 prajurit serikat pendekar sudah siap menunggu dengan tombak dan pedang yang sangat tajam.


Pihak Sungsang Geni menjadi sangat bersemangat ketika melihat wajah-wajah lawannya yang mulai kehilangan arah dan tujuan.

__ADS_1


Jadi hari ini, bagi siapapun yang belum pernah membunuh maka hari inilah tangan mereka kotor dengan darah. Siapapun yang takut dengan perang, maka hari ini semangat juang mereka timbul dengan sendirinya.


“Serang!” pasukan dari Serikat Pendekar berteriak. “Jangan kalah dengan mereka.”


Sungsang Geni terbang dengan cepat menghadang mereka semua yang berniat melarikan diri. Dengan tebasan kuat, dia bahkan bisa membunuh 30 orang dalam sekali serangan.


Salah satu dari mereka berniat mencuri kesempatan dengan cara berlari diatas hutan gambut yang bergoyang-goyang. Tapi Sungsang Geni tidak membiarkan hal itu terjadi, dengan teknik pedang emas dia berhasil membunuh mereka semua tanpa tersisa.


Disatu sisi Siko Danur Jaya mungkin sudah membunuh hampir 50 orang, dan begitupula dengan Ratih Perindu. Bagi pendekar yang memiliki teknik meringankan tubuh juga terbang melewati parit itu untuk membantu mereka berdua.


“Kami akan melawan musuh disini!” salah satu dari serikat pendekar berkata. “Kalian berdua seranglah di bagian tengah!”


Siko Danur Jaya mengangguk, dia segera menerobos musuhnya dibantu dengan Ratih Perindu yang terus membelah tanah.


“Di belakangmu!” Teriak Siko Danur Jaya, seraya melepaskan 3 jarum kecil kearah 3 orang yang berusaha melayangkan pedang kearah Ratih Perindu.


“Kalian berani sekali menyerang dari belakang!” Wanita itu berteriak, kemudian dengan sekuat tenaga dia mengayunkan kapaknya ke tanah, dan seketika hampir 30 orang masuk ke dalam liang yang dia ciptakan.


Setelah hampir 1 jam akhirnya, semua orang dipihak lawan tewas semuanya. Sungsang Geni menikam salah satu prajurit terakhir yang dia lawan.


Sekarang sepanjang jalan setapak di tengah parit menjadi lautan mayat manusia. Sungsang Geni membersihkan noda darah di wajahnya, bagi Siko Danur Jaya tindakan pemuda itu tidak berubah, sama seperti 1 tahun yang lalu.


Bagi Siko Danur Jaya ketika melihat pemuda matahari itu marah, rasanya dia lebih baik berhadapan langsung dengan dewa kematian dari pada harus menghadapi Sungsang Geni. Sangat menyeramkan.


“Terkadang dia membunuh semuanya, tapi terkadang dia mengampuni lawannya.” Ucap Siko Danur jaya memandangi semua mayat yang bergelempangan di belakang Sungsang Geni.


“Menurut Cempaka Ayu, Sungsang Geni bisa membaca pikiran dari semua musuh yang dilawannya.” Ratih Perindu membersihkan mata kapak besar. “Jika mereka masih memiliki niat jahat setelah dibebaskan, maka Sungsang Geni tidak akan mengampuni lawannya.”

__ADS_1


***


Sungsang Geni meminta semua orang mengambil perlengkapan perang musuhnya. Itu adalah sumberdaya yang sangat baik saat berperang. Setidaknya baju-baju zirah akan melindungi tubuh dari panah biasa.


Pemuda itu juga meminta semua orang membakar para mayat para prajurit Kelelawar Iblis. Jika dibiarkan saja, maka akan menjadi penyakit yang menular.


“Geni? Sekarang menurutmu apa yang harus kami lakukan?” tanya Siko Danur Jaya menghampiri pemuda itu yang sedang berdiri memandangi kobaran api.


“Tugas kalian sudah selesai bukan? Menyelamatkan para pengungsi. Sebaiknya kembali ke Serikat Pendekar, dan bawa seluruh perlengkapan perang mereka!” Sungsang Geni menujuk pada zirah-zirah perang yang masih berlumuran darah.


“Lalu apa yang akan kau lakukan?”


“Aku harus menemui Eyang Guruku, setelah memastikan tidak ada serangan susulan,” jawab Sungsang Geni.


“Setelah itu?”


“Kita cari informasi sebanyak mungkin, baru setelah itu kita akan melakukan serangan.” Sungsang Geni menepuk pundak Siko Danur Jaya. “Sekarang saatnya mundur, musuh kita akan curiga jika mengetahui 1000 pasukannya tidak kunjung kembali dalam 1 bulan.”


“Mereka akan datang dengan pasukan yang lebih besar?” tanya Siko Danur Jaya.


“Tentu saja, tapi kemungkinan kita kalah tidaklah nol.”


Pada akhirnya semua orang mulai kembali menuju titik pengungsian, Panglima Ireng terpaksa ikut rombongan Siko Danur Jaya sebab Sungsang Geni akan tinggal beberapa hari ditempat ini.


Setelah dia memastikan tidak ada lagi serangan yang akan mengganggu perjalanan para pengungsi, pemuda itu akan terbang menyusul.


“Paman Pramudhita hingga sekarang belum juga datang?” Sungsang Geni bergumam pelan. “Pada akhirnya dia menemukan seorang wanita yang pantas menjadi pendamping hidupnya.”

__ADS_1


Sudah 3 hari yang lalu, Pramudhita mendadak dipanggil oleh Resi Irpanusa perihal siluman ular naga yang datang ke Padepokan Pedang Bayangan.


Ma’af telat soalnya nyiapin 4 capter sekaligus.


__ADS_2