
Sementara para serikat pendekar sedang sibuk menyusun rencana, pada hari yang sama Sungsang Geni masih berjibun dengan ratusan lebah-lebah yang menyodorkan sengatan di buntutnya.
“Aku sudah katakan berulang kali, aku tidak akan mengambil madu yang kalian punya, tidak akan!” Pemuda itu berdecak kesal, sebab suara menggema yang diyakininya berasal dari ratu sang lebah bersikeras tidak mengizinkannya menaiki pohon.
Lebah yang di sebut sebagai ratu itu, memiliki ukuran lebih besar dari lebah yang lainnya mungkin seukuran kepala sapi.
Sengatnya sedikit keluar seperti mata tombak yang tajam, sementara kepakan sayapnya membuat debu dan dedaunan di sekitar terbang berhamburan.
“Kau terlihat sama saja dengan para manusia lain yang datang ke tempat ini, lalu bagaimana kami percaya kau tidak mengambil madu yang kami simpan dalam loyang Istana?” Sang Ratu kembali melontarkan pertanyaan.
“Dengar! Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada kalian, tapi aku harus mendapatkan buah kelapa itu!” Sungsang Geni lantas memasuki wilayah siluman yang nyaris tanpa tumbuhan.
Dan rupanya benar, seluruh tenaga dalamnya mendadak tidak dapat di gunakan. Dia tentu saja masih bisa merasakan energi itu berputar di dalam tubuhnya, tapi jalur energi seperti lumpuh.
Pemuda itu mengeluarkan sebilah pedang energi dari berkah api matahari, ya, pedang itulah satu-satunya yang bisa dia gunakan.
Kerumunan lebah mulai datang menyerang, pemuda itu sebenarnya tidak memiliki cukup ruang untuk bergerak bebas tapi teknik pedang awan berarak sudah lebih dari cukup untuk menghindari setiap serangan, seraya melakukan tebasan balasan.
Ketika dalam posisi seperti ini, Sungsang Geni merindukan api dari pada pedang. Andai saja dia masih dapat menciptakan api matahari di lengan kanannya, tentu saja lebih efektif untuk mengalahkan serangga-serangga itu.
Tidak beberapa lama, belasan lebah tergeletak di tanah dengan kaki menghadap ke langit tanpa bisa melakukan apapun lagi. Pemuda itu tidak membunuh mereka, dia cukup kasian.
Namun demikian, Sungsang Geni memotong setiap sayap yang mereka miliki. Ini sedikit lebih kejam, tapi bukan masalah, bagi siluman itu untuk menyembuhkan sayap mereka hanya butuh waktu 2 hari.
“Apa yang kau lakukan terhadap rakyatku?” pekik Sang Ratu lebah.
__ADS_1
“Hanya melakukan sesuatu sebagai perlindungan.” Sungsang Geni tersenyum kecil lantas melempar pedang energi di tangganya tepat di salah satu sayap sang ratu lebah itu.
“Ahkk!” Dia terpasak tepat di tengah batang kelapa. “Lepaskan pedang ini, atau aku akan menusukan sengatan tepat di matamu sehingga kau mati dalam keadaan sakit yang luar biasa.”
“Percayalah, aku pernah merasakan sakit yang luar biasa tapi takdir belum mengizinkan aku mati.” Sungsang Geni lantas tersenyum kecil, dia memandangi pasukan lebah-lebah yang lain yang membentuk pola untuk melindungi sang ratu.
Suara dengungan mereka menjadi satu, memekakkan telinga Sungsang Geni yang begitu sensitif.
“Begini saja, aku hanya butuh buah kelapa di atas sana, dan itu tidak merugikan kalian bukan? Lalu kenapa kalian marah terhadapku?”
“Dahulu ada orang mengatakan hal yang sama seperti mulutmu, tapi mereka pada akhirnya mengambil semua madu milik kami karena dapat menjadi penyembuh penyakit gatal yang dahulu menyerang negri ini.”
Sekarang Sungsang Geni mengetahui kenapa mereka sangat membenci manusia, terkadang kesalahan di masa lampau akan mengakar hingga masa sekarang.
“Geni, mereka akan...”
Sungsang Geni meletakkan telunjuk di bibirnya, sambil mengisyaratkan sesuatu yang bisa dipahami oleh gadis cantik itu. 'Dia ingin berdamai dengan mereka? Astaga, sampai kapan dia selalu membuatku khawatir?'
Sungsang Geni melepas aura hangat, aura itu segera menyebar di setiap sisi hutan bahkan beberapa orang hebat yang berada di dekat lokasi itu tersentak merasakannya.
“Aku ingin berdamai, aku akan menjadi orang pertama yang menghapus rasa benci di hati kalian.” Sungsang Geni kemudian duduk bersila tepat di hadapan sang ratu lebah. “Kau boleh menusukan sengat dimanapun kau mau, jika kau memang tidak mempercayaiku...”
“Menarik!” pekik Sang Ratu. Dia kemudian berusaha terbang dengan sayapnya yang terluka, lalu melaju cepat mengarahkan ujung sengat tepat di mata Sungsang Geni.
Sedikit lagi, mungkin hanya seujung kuku, sengatan itu berhenti tepat di tengah bola mata, sementara pemuda itu bahkan tidak menutup dan tidak pula mengedipkan matanya.
__ADS_1
“Aku tidak pernah bertemu dengan orang seperti dirimu anak muda.” ucap Ratu lebah kemudian menarik kembali sengat kedalam buntutnya yang berwarna kuning. “Aku menyerah, aku akan mengizinkan kau menaiki pohon itu, tapi satu hal yang perlu kau ketahui ketika malam hari udara akan sedingin es.”
Sungsang Geni menghela napas lega, sementara Cempaka Ayu hampir saja tidak sadarkan diri karena perbuatan pemuda itu. Tidak ada yang menyangka hanya butuh sebuah tekad dan perasaan yang lebih manusiawi untuk menjinakkan ratu siluman lebah.
“Cempaka, aku akan pergi ke atas sana, tunggulah sebentar!” Pemuda itu lantas memandangi sarang lebah yang tergantung seperti sebuah dinding berwarna kuning kemerahan sepanjang hampir 10 meter.
Rongga-rongga sarang hampir sebesar kepalan tinju bayi, di penuhi dengan madu yang terlihat begitu nikmat. Tapi sekarang pemuda itu tidak memikirkan hal itu, dia memikirkan bagaimana menaiki pohon kelapa tanpa harus merusak sarangnya.
“Tenang saja, aku akan membawamu terbang!” ucap Sang Ratu lantas menarik tubuh Sungsang Geni dan membawanya melayang ke atas.
Setelah hampir 5 menit, lebah itu meletakkan Sungsang Geni pada pohon kelapa kemudian membatu pemuda itu melilitkan selendang ke tubuh pemuda itu.
“Jika aku bisa, aku akan membawamu hingga ke puncak pohon ini, tapi aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.” ucap Ratu lebah itu, nadanya terdengar berat. “Udara diatas sana tidak baik bagi kami!”
“Kau sudah membawaku sejauh ini, itu sudah sangat membantuku. Terimakasih!”
Setelah itu Sang Ratu meninggalkan Sungsang Geni dan kembali ke permukaan tanah, sekekali dia melihat pemuda itu mulai setapak dua tapak menaiki pohon kelapa.
Tiupan angin terkadang membuat perasan Sungsang Geni menjadi sedikit berdebar, dia laksana menaiki benda yang setiap saat akan melemparnya dengan kuat. Dari ketinggiannya saat ini, pemuda itu bisa melihat Istana Swarnadwipa hanya sebesar ibu jari kakinya.
Sementara cempaka ayu sudah tidak dapat lagi dilihat, kecuali hutan yang menghijau dan sungai yang mengalir. Namun demikian, ketika dia melihat keatas belum pula nampak ujung dari pohon kelapa itu.
Awan tipis mulai datang menggoda dirinya, terasa lembut dan dingin. Dingin? Pemuda itu sebenarnya sangat sensitif dengan dingin, mengingat dia lahir dengan membawa api di lengan kanannya.
“Ok semoga terhibur, sertakan dukungan kalian apapun jenisnya. Hemm...mungkin menu untuk berbuka, hikhikhik.”
__ADS_1