PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Persiapan Perang


__ADS_3

Belum lama Tanjung Benawa pergi meninggalkan Markas Utama Negri Sembilan, sudah lebih dari seratus orang mengalami luka parah. Mereka di lempar seperti kapas, jatuh terhempas dari ketinggian Markas.


Sementara itu saat ini, di dalam cengkraman Komandan Pertama Kepala Lemah Abang penuh dengan luka. Maha Senopati Negri Sembilan tidak berdaya melawan kekuatan yang dimiliki tangan kanan Topeng Beracun itu.


“Sekarang aku tidak membunuhmu karena Paduka Raja ingin kau menjadi bagian daripada kami,” ucap Komandan itu.


“Kau tidak bisa me...memaksa kami...”


“Tentu saja aku bisa memaksa dirimu...” Komandan Pertama terkekeh kecil, rambut ikal riap-riapnya disibakkan ke belakang sehingga poni panjang yang selalu menutupi setengah bagian wajahnya kini terselip di balik daun telinga, menunjukkan betapa seramnya pria itu saat ini.


Lemah Abang menelan ludah pahit, mata sipit sebelah yang terkena pukulan terlihat meneteskan air mata bercampur darah. Nampaknya dia tidak bisa lagi mempertahankan gelar Maha Senopati di Tanah Ini.


Ada banyak hal yang dipikirkan pria itu, bersama air mata darah yang tak hentinya mengalir. Hal pertama yang mengganggu pikirannya adalah; apakah yang akan dilakukan Topeng Beracun kepada dirinya saat ini?


Lebih dari itu, apakah setelah ini dia akan melihat dunia. Entahlah, pikiran Lemah Abang bercabang-cabang saat ini.


Belum usai pula dia merenung, cengkraman Komandan pertama membawa dia melayang melewati atap bangunan. Sekitar beberapa depa dari permukaan markas tersebut, Komandan Pertama mengerahkan cakarnya, seketika puluhan senjata turun dari langit menghujani bangunan itu hingga luluh-lanta.


Lemah Abang hanya diam menatap bangunan itu hancur, bukan dia meratapi markas tersebut tapi meratapi ada lebih dari dua ratus orang prajurit terjebak di dalamnya, dan pasti akan mati di timbun reruntuhan.


“Yang lemah tidak akan selamat, Lemah Abang. Sebaliknya yang kuat akan terus bertahan, yang lemah bahkan tidak layak untuk mati. HAHAHA...” Tertawa terbahak-bahak Komandan Pertama, kemudian terbang melayang menuju Istana Hitam Kelelawar Iblis.


Beberapa waktu berlalu, Lemah Abang di hempaskan tepat di hadapan Topeng Beracun di depan singasana kebesarannya. Tidak seperti biasanya, sekarang di aula kebesaran itu tidak ada orang lain, kecuali Topeng Beracun sendiri beserta Komandan Ke empat.


“Ah...Lemah Abang...” suara Topeng Beracun terdengar berat lagi menekan gendang telinga. “Aku memintamu ke tempat ini untuk satu tujuan, menjadi budakku. Kau akan menjadi komandan ke tiga.”


“Menjadi budakmu, sampai matipun aku tidak sudi.”


Topeng Beracun terkekeh kecil, melirik ke arah Komandan pertamanya memberi isyarat untuk melakukan sesuatu. Dua detik setelah isyarat itu, Komandan Pertama menjambak rambut Lemah Abang, hingga kepalanya terdongak keatas. Oleh pria itu, Lemah Abang dipaksa membuka mulutnya.


“A...apa...apa yang akan kau lakukan?”


“Kami mengajakmu bergabung bersama kekuatan tanpa batas, dengan ini kau akan patuh terhadapku.”


Topeng Beracun menggigit urat nadinya, dari luka itu mengalir darah yang sangat kental, mirip seperti getah berwarna hitam. Darah itu tidak langsung menetes, tapi menggumpal kecil sebesar ibu jari. Dengan darah itu, terciptalah susuk magadana.


Lemah Abang di paksa memakan susuk itu, tidak terlalu sulit memaksa pria yang tidak memiliki lagi kekuatan. Setelah darah yang mirip seperti getah kental masuk kedalam kerongkongan, Lemah Abang berteriak seperti orang kesetanan, mungkin pula kesakitan.


Dia jatuh berguling di lantai Istana, dua tangannya mencengkram erat batang leher sementara matanya mendelik keatas, hampir tidak terlihat lagi sisi hitam di mata pria itu. Beberapa saat kemudian, aura hitam menjalar di sekujur batang lehernya, membentuk jaringan urat halus hingga dahi dan naik sampai ke kening.


Bagi Lemah Abang perasaan ini seperti dia sedang menelan sesuatu yang teramat tajam, seolah benda yang masuk ke dalam kerongkongannya perlahan-lahan mencabik seisi perut. Belum cukup sampai di situ, seolah ada sesuatu bergerak-gerak di balik kulitnya, atau mungkin di dalam perut, entahlah Lemah Abang tidak tahu apa yang terjadi saat ini.


Cukup memakan waktu, akhirnya situasi Lemah Abang sedikit lebih tenang. Dia tidak mencengkram batang lehernya, tidak pula berguling-guling di dasar hitam Istana.


“Sekarang kau sudah menjadi bagian dari kami...” berkata Komandan Pertama.


“Kau akan menjadi Komandan ke tiga, menggantikan Asura,” ucap Topeng Beracun sambil tersenyum sinis. “Sekarang sujudlah di kakiku, sembah aku dengan segenap jiwa dan ragamu!”


Bak kerbau di colok lobang hidungnya, Lemah Abang menuruti keinginan Topeng Beracun. Dia bersujud di telapak kaki pria itu untuk beberapa lama, baru menyudahinya setelah Topeng Beracun meminta dia berdiri.


“Kalian bertiga!” ucap pria itu menoleh kearah Komandan pertama, ke empat dan juga Lemah Abang. “Siapkan pasukan kita, kumpulkan semua perlengkapan perang! Kita gempur Surasena, musnahkan semua manusia yang menentang!”


Tiga orang itu serentak membungkuk, memberi hormat kepada pria itu kemudian pergi bergegas.


Sikap Lemah Abang tampaknya masih seperti orang yang belum pulih dari mimpi panjang, pandangannya sedikit kosong. Bagi pria itu, saat ini dia seperti mengalami antara tidur dan terjaga. Pikirannya begitu berat.


Ini adalah hal wajar, setiap orang yang menelan susuk Magadana alias darah kental Topeng Beracun akan mengalami reaksi yang sama, seperti orang linglung. Setidaknya akan butuh waktu tiga hari agar kekuatan itu benar-benar menyatu dengan jiwa seseorang.


“Dia akan melupakan semua hal mengenai Negri Sembilan...” berkata Komandan keempat. “Dengan begitu, satu-satunya yang ada didalam diri pria itu adalah kejahatan. Susuk itu akan berangsur-angsur menghilangkan kebaikan seseorang.”

__ADS_1


“Kita akan melihat sekuat apa dirinya setelah tiga hari kedepan?” ucap Komandan Pertama.


Di atas bangunan lain, Wingkar mengintip dari celah jendela yang tersibak tipis tirai sutra. Raut wajah pria itu sekali lagi terlihat begitu gusar, putranya melakukan sesuatu lagi dan tidak memberi tahu dirinya.


“Apa kubilang, Topeng Beracun tidak terkendali.” Terdengar bisikan tiga raja penghianat.


“Benar, sekarang bagaimana nasip kita. Kerajaan kita akan terancam...”


“Kau masih mengurusi kerjaan? Aku malah khawatir dengan hidup kita di tempat ini.”


Tanpa mereka sadari, Wingkar mendengar semua obrolan itu, membuat raut wajahnya semakin merah membara. Tapi kali ini dia tidak melampiaskan kemarahannya. Pria itu sekarang sedang berpikir, menimbang rasa apakah saat ini dia harus bersama dengan putranya atau meninggalkannya.


Pemikiran itu pada akhirnya membawa dia pergi meninggalkan ruangan. Berjalan tergesa-gesa. Tiga temannya tidak mengetahui rencana apa yang akan dilakukan Wingkar, jadi mereka mengintip dari celah jendela.


“Wingkar tampaknya akan pergi menemui Topeng Beracun...” berkata salah satu diantar tiga raja penghianat.


“Apa yang dia pikirkan, sudah jelas, Topeng Beracun memiliki kelainan.”


“Dia hanya akan menyerahkan nyawa dengan datang ke tempat itu.”


Dari tiga orang raja itu, tidak ada satupun yang mengatakan keputusan Wingkar adalah benar. Pria itu sudah kehilangan anaknya, dan di depan mereka hanya ada putra Wingkar dengan jiwa yang berbeda.


“Aku sudah memutuskan!” ucap salah satu dari mereka. “Aku akan kembali Ke Istanaku, Kerjaan Limanjang.”


“Kalau begitu aku juga.”


“Aku juga sepemikiran,”


Setelah Wingkar masuk ke dalam Istana hitam, tiga raja itu bergegas pergi dari wilayah ini tanpa membawa satu perlengkapan.


***


Sementara itu keadaan di Surasena tampak sedang sangat sibuk. Empu Pelak menciptakan senjata yang mirip seperti kereta iblis, namun kali ini sedikit lebih besar, yang tertanam permanen di atas tembok Markas Petarangan, bukan tapi markas Surasena.


Sementara itu, anaknya Raka Buana bersama puluhan orang menempa senjata dengan plat besi. Ada lebih seribu pedang di tempa dengan besi kualitas cukup keras juga ratusan tombak panjang. Dengan pedang cercaran air, dia tidak kesulitan untuk memotong banyak plat besi yang ada di sekitar tempat ini.


Beberapa senjata usang di daur ulang, menjadi senjata-senjata yang lebih baik dari sebelumnya.


Di sisi lain, para senopati beserta prajurit sedang belajar taktik perang di halaman luas Markas itu. Ada beberapa bagian yang telah di buat Mahesa bersama dengan Wira Mangkubumi. Satu bagian prajurit dengan panah, berada di barisan paling belakang.


Sementara bagian lain adalah pasukan berkuda, mereka menggunakan tombak-tombak panjang sebagai senjata utama. Ratusan ekor kuda dilatih mengenakan pakaian perang, agar ketika tiba saatnya nanti hewan itu tidak terkejut dengan beban di pundak, kepala dan kaki mereka.


Pasukan tersisa adalah pejalan kaki, jumlah mereka terlihat lebih banyak dari yang lain. Bukan hanya itu, pasukan ini terlihat memiliki tubuh-tubuh lebih besar dari pada pasukan yang lain. Gentar Bumi adalah komando pasukan itu.


“Formasi kura!” teriak Mahesa, seketika semua orang berlari dengan cepat membentuk pola barisan rapi, menadahkan tameng kedepan. Dari atas, ini seperti seekor kura-kura.


“Mereka cepat belajar...” Benggala Cokro berucap seraya tidak henti-hentinya berteriak pada ratusan orang yang menggunakan pedang. "Tebas! Tusuk! Tebas lagi!" pekiknya.


“Tentu saja, kita semua sudah terbiasa dengan perang. Jadi ini adalah orang-orang terbaik, sekaligus terkuat yang kita miliki,” timpal Mahesa.


Tidak lama setelah itu, seorang petugas datang buru-buru menemui mereka.


“Ada seseorang berada di luar,ingin bertemu dengan Paduka Raja Lakuning Banyu...”


“Siapa itu?” tanya Sabdo Jagat.


“Hamba kurang tahu tuan, tapi dilihat dari pakainnya dia mungkin bukan dari wilayah kita. Katanya dia adalah sahabat Mahapatih Sungsang Geni.”


Mendengar hal itu, Sabdo Jagat adalah orang pertama yang pergi menemui tamu tak di undang tersebut.

__ADS_1


“Tunjukkan padakau dimana orang itu!”


Pada akhirnya bukan hanya Sabdo Jagat, Benggala Cokro beserta Mahesa ikut mengiring di belakang. Tidak beberapa lama mereka menemui pria yang dimaksud. Sekarang berada di dalam ruangan kecil yang sedikit lebih gelap.


“Kenapa disuruh duduk di tempat seperti ini?” Sabdo Jagat kembali bertanya.


“Dia sendiri yang memintanya, tuan.”


Pramudhita tersenyum kecil ketika melihat tiga sahabat Sungsang Geni itu memperhatikannya dengan seksama. Memanglah benar dia berada di dalam ruangan yang sedikit remang, lelembut jelas tidak terlalu kuat menghadapi siang hari.


“Aku mengenalmu...” ucap Mahesa. “Kau adalah teman Geni, beberapa kali aku melihat kedatanganmu. Ya...ya...sepertinya kau bukanlah bangsa manusia?”


Sekali lagi Pramudhita tersenyum kecil, “Seperti yang kau bilang.”


“Pantas saja tengkuku sedikit dingin...” gumam Benggala Cokro.


“Begini kedatanganku ingin bertemu dengan Raja Lakuning Banyu, kiranya kau berkenan membawaku menemuinya.”


“Tentu saja, mari ikut kami!” Sabdo Jagat mempersilahkan.


***


“Begitu Rupanya? Jadi sekarang Sungsang Geni dalam keadaan pemulihan?” Lakuning Banyu manggut-manggut mendengar penuturan Pramudhita. “Ini informasi yang sangat penting, musuh mendapatkan kekuatannya. Bisa diperkirakan dia mulai bergerak untuk melakukan penyerangan, ini benar-benar gawat.”


“Ma'afkan hamba jika lancang.” Potong Sabdo Jagat. “Kiranya boleh saya tahu bagaimana nasip Cempaka Ayu?”


“Dia dalam keadaan baik-baik saja, butuh usaha keras agar kondisinya menjadi pulih seutuhnya.” Jawab Pramudhita.


“Itu saja yang ingin aku ketahui, Yang Mulia.” Wajah Sabdo Jagat terlihat sedikit berseri setelah mengetahui kabar mengenai adik kandungnya tersebut, meski dia sedikit tidak mengerti mengenai setengah kekuatan Dewi Bulan yang berhasil di serap oleh Topeng Beracun.


“Hanya itu pesan yang saya sampaikan, kiranya kalian bersiap-siap setiap saat menghadapi kedatangan pasukan Kelelawar Iblis. Dan satu hal lagi yang perlu saya sampaikan, ini mengenai Pangeran Miksan Jaya. Sungsang Geni sudah melenyapkan Prajamansara beserta pasukannya, kiranya Pangeran bisa kembali ke negri Tumenang.”


“Pesan kau akan saya sampaikan...” ucap Lakuning Banyu.


Semua orang terlihat ingin menanyakan bagaimana gerangan Sungsang Geni bisa menyelamatkan negri itu, tapi menyadari kekuatan pemuda itu, semua orang lebih memilih untuk bungkam.


Setelah berpamitan, Pramudhita berjalan menuju tiang bangunan, baru saja Lakuning Banyu hendak bertanya, pria itu sudah kembali lagi ke alam Lelembut.


“Sungguh, tengkukku benar-benar terasa dingin,” gumam Benggalaka Cokro.


***


Di Istana Laut Dalam, Sungsang Geni berada di halaman yang cukup luas sendirian tanpa ada yang mengganggu. Dia membuka setiap lembar catatan Resi Irpanusa, menggabungkan beberapa rahasia dan mencari petunjuk mengenai Teknik Pedang Sapuan Jagat.


Tubuh pemuda itu sebenarnya belum pulih betul, hanya saja saat ini dia bisa menggerakkan setiap sendi tanpa merasakan kesakitan. Banyak makanan dan minuman yang dibawa Nagini, mengandung obat-obatan yang baik untuk mengembalikan stamina tubuhnya.


Sungsang Geni menggunakan pedang biasa, mulai mencoba setiap jurus-demi jurus yang ada didalam catatan. Mengkombinasikan setiap gerakan.


“Setiap teknik memiliki jurus..?” gumam pemuda itu. “ Setiap jurus memiliki inti, aku belum tahu dimana letak inti dari tiga teknik pedang yang kukuasai?” Sungsang Geni menggaruk kepalanya yang terasa sedikit sakit.


Dia kembali lagi mempraktekkan gerakan Teknik Pedang Bayangan, mengangkat pedang kemudian menghunuskan ke depan.


“Tidak, bukan seperti ini...” gumam dia lagi, ketika menyadari gerakan yang dilakukannya salah.


“Kau tidak akan berhasil jika tanpa menggunakan tenaga dalammu.” Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakangnya, rupanya Wulandari. “Yang kau pelajari adalah jurus terkuat dari teknik pedang, setiap jurus bukan hanya menggunakan gerakan tapi juga menggunakan energi. Bagaimana kau bisa menguasainya, kalau energimu belum pulih betul?”


Sungsang Geni terkekeh kecil, terlihat sedikit bodoh dihadapan gadis itu. Bagaimana dia lupa mengenai hal se-sederhana ini?


“Berhentilah berlatih, aku membawakan sup jamur untukmu.” Wulandari duduk di atas kursi yang terbuat dari pahatan batu berwana hijau, sekekali batu itu memantulkan cahaya mengenai wajah gadis bermata bulat itu. “Pramudhita tadi pergi ke daratan, jadi kupikir dia harus membawa jamur yang banyak untuk dirimu.”

__ADS_1


Sungsang Geni tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. “Bagaimana keadanmu?”


“Kau tanya keadaanku, jika aku sudah bisa masak berarti kondisiku sudah lebih baik dari pada dirimu.” Gadis itu tersenyum simpul, meniupi bubur jamur sebelum di berikan kepada Sungsang Geni.


__ADS_2