
“Jujur saja, aku tidak tahu apa yang kalian katakan, Meraga Sukma?Mengobati Cempaka Ayu, jelaskan kepadaku dengan sejelas-jelasnya,” tanya Wulandari.
“Ini adalah informasi yang di berikan oleh Maha Resi,” ucap Pramudhita. “Menurut beliau, sejatinya jiwa cempaka Ayu sedang terjebak pada alam lain, dunia lain yang jelas bukan di alam manusia, tapi juga bukan di alam lelembut. Beberapa orang mungkin mengatakan dia terjebak di dunia mimpi. Itu tidak sepenuhnya salah, karena harus kita telaah, jiwa Cempaka Ayu sedang terjebak di alamnya sendiri, alam bawah sadar.”
Pramudhita menunggu beberapa saat, memperhatikan dua lawan bicaranya, apakah kiranya mereka berdua memahami apa yang dimaksud oleh dirinya.
“Baiklah, aku bisa mengerti jika dia terjebak di alam lain, alam dirinya sendiri,” ujar Wulandari. “Pertanyaannya, dimanakah dunia itu? dunia dirinya sendiri itu?”
“Pertanyaan yang bagus.” Pramudhita kembali berujar. “Dia berada di alam bawah sadarnya, tenggelam di sana. Pikirannya tidak dapat berpungsi jika dia berada di alam tersebut. Baginya ini seolah-olah seperti mimpi, mungkin mimpi buruk ataupun mimpi indah yang membuat dia terlena di sana.”
“Maksudmu, dia tertidur saat ini? Namun karena di dalam tubuhnya, terdapat jiwa atau kekuatan dari Dewi Bulan, mahluk itu mengambil keuntungan dan mengambil alih pikiran dan tubuhnya?' tanya Wulandari, sejujurnya dia tidak bisa menerima hal ini dengan mudah, tapi tampaknya penjelasan Pramudhita terdengar masuk akal.
“Jika kita ingin menyelamatkan Cempaka Ayu, kita harus membawanya kembali ke alam ini.”
“Ya, sederhananya kita bangunkan dia dari tidur panjangnya.”
Sementara itu Sungsang Geni masih terdiam, pemuda itu tentu saja setuju dengan pemikiran Pramudhita.
“Baiklah, masalah satu telah terpecahkan. Kali ini kita bahas mengenai cara menyadarkan gadis tersebut,” Pramudhita kembali berujar. “Untuk menyadarkan Cempaka Ayu, seseorang harus bisa masuk ke dalam dunia nya, alam bawah sadarnya. Hanya itu satu-satunya cara membawa jiwa gadis itu kembali. Masalahnya, memasuki alam bawah sadar seseorang tidak semudah memasuki alam lelembut.”
“Dengan meraga sukma?” tanya Wulandari, wajahnya benar-benar diliputi dengan penasaran. “Jelaskan mengenai ilmu tersebut?”
“Meraga Sukma berarti jiwamu harus keluar dari jasad kasarmu.”
“Apa?” pekik Wulandari, dia baru tahu ada ilmu semacam itu di dunia ini. Inti dari perkataan Pramudhita adalah, seseorang bisa mati kapanpun. Ya, bagaimana tidak, jika jiwa telah keluar dari raganya, bukankah sama dengan mati. Gadis itu merinding mengetahui hal itu.
__ADS_1
“Tidak seperti itu,” Sungsang Geni tersenyum kecil, menyadari pemikiran Wulandari. “Ketika melakukan ilmu meraga sukma, raga tetap bernyawa hanya saja kasusnya seperti orang sedang tidur.”
“Benar yang dikatakan Sungsang Geni, hanya dengan cara itulah kita bisa masuk ke dalam dunia bawah sadar Cempaka Ayu. Mengajaknya kembali lagi ke dunia nyata. Dan orang itu mungkin adalah kau.”
“Aku? Tapi aku tidak memiliki kemampuan seperti itu...” Wulandari menjadi sedikit panik. “Aku bukan orang berbakat dalam ilmu bela diri.”
“Tidak. Bukti kau bisa mendengar perkataanku, melihatku dan mencium aroma gaib membuktikan kau memiliki bakat.” Pramudhita lantas turun ke tanah, menampakkan diri ke alam manusia.
Sungsang Geni tidak bicara sepatah katapun, dia memikirkan nasip Wulandari. Jika di mungkinkan, baiknya dia sendiri yang pergi ke alam tersebut tapi seperti yang diketahui, pemuda itu tidak memiliki bakat untuk menguasai ilmu meraga sukma. Setidaknya untuk saat ini.
Bukan hanya itu, pemuda itu juga memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Bagaimana jika Wulandari malah terjebak di alam itu? Atau bagaimana jika ternyata ada hal yang tidak diketahui oleh mereka, hal yang membahayakan jiwa mereka berdua.
Wajah Sungsang Geni terlihat bimbang, matanya masih terpejam tampak berpikir keras.
Sungsang Geni tersenyum kecil, memandangi Wulandari dengan tatapan penuh arti. Di matanya, gadis itu tidak lebih kuat dari pendekar-pendekar wanita di Surasena. Tapi tekadnya, mungkin lebih keras dari pada baja.
Wulandari tampaknya benar-benar ingin membuktikan bahwa dia begitu peduli dengan keadaan Sungsang Geni. Padahal wanita yang akan diselamatkan mungkin akan mengambil pemuda itu.
Sungsang Geni jelas mengerti, Wulandari benar-benar tulus mencintainya. Dan sedikit bodoh. Ya, dia menjadi bodoh karena begitu menyukai Sungsang Geni.
“Kau tidak sedang menghinaku, bukan?” Wulandari berdecak kesal, bibirnya manyun dengan pipi sedikit kembung, itu adalah pose paling cantik yang dimiliki Wulandari.
Sungsang Geni tidak berkata apapun, berjalan dengan cepat ke arah gadis tersebut. Meraih tubuhnya untuk kemudian memeluknya dengan begitu erat. “Gadis bodoh, kau melakukan ini lagi kepadaku.”
Pramudhita sedikit kaget, tapi segera menyadari rumitnya hubungan dua pemuda-pemudi ini. dengan cepat dia berpaling ke arah lain,sementara itu Panglima Ireng menutup mata. Binatang itu mungkin juga mengerti gejolak yang terjadi di hidup Sungsang Geni.
__ADS_1
“Benar, aku bodoh...kebodohanku karena terlalu mencintai orang yang bahkan tidak pernah memandangku. Aku harus apa? Katakan Geni? Orang bodoh sepertiku harus melakukan apa?...”
Sungsang Geni tidak berkata lebih banyak, kecuali membenamkan kepala Wulandari ke dadanya. Ini benar-benar sakit sekali, tentu saja akan menjadi dilema bagi pemuda itu.
***
Ke esokan harinya, seperti petunjuk dari Resi Irpanusa. Di dekat Cempaka Ayu, Wulandari tidur telentang. Wajah gadis itu terlihat cukup pucat, ada perasaan takut di dalam hatinya. Masalah yang sangat wajar.
Sungsang Geni duduk bersila tepat di atas kepala gadis tersebut, sementara Pramudhita beserta Sarasawati hanya berdiri memperhatikan ritual yang akan mereka berdua lakukan.
“Alirkan tenaga dalammu!” perintah Pramudhita kepada Sungsang Geni. “Dia harus memiliki energi yang cukup agar bisa melakukan hal ini.”
Menurut Resi Irpanusa, seorang yang melakukan raga sukma untuk kali pertamanya akan mengalami kelumpuhan untuk sementara waktu. Baik tubuh fisiknya maupun akal dan pikiran. Sebab itulah, perlu energi pendukung yang tetap menyetabilkan kondisi orang tersebut.
Tentu saja tidak masalah jika yang melakukan hal itu adalah orang dengan tenaga dalam yang besar, sayang sekali Wulandari bukan orang yang seperti itu.
“Apa kau yakin, Wulandari?” tanya Sungsang Geni memasang wajah sayu. “Sekali lagi, kau tidak perlu melakukan hal ini.”
Wulandari tersenyum kecil, ini adalah senyum paling manis yang keluar dari bibir tipis gadis tersebut semenjak kembali lagi ke tempat ini.
“Wulandari...?” Saraswati tidak kalah khawatir, kerap kali muridnya itu membuat keputusan yang cukup gila, tapi hari ini tindakan Wulandari benar-benar membuat perasaannya tidak menentu.
“Aku akan baik-baik saja, Guru,” timpal gadis tersebut.
Beberapa saat kemudian, gadis tersebut menutup matanya. Satu hal yang di ucapakan Pramudhita adalah, fokus. Konsentrasi tinggi adalah kunci keberhasilan meraga sukma. Sementara itu dari telapak tangan Sungsang Geni, mengalir cahaya kuning merah yang berpusat tepat di tengah keningnya.
__ADS_1