PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 7


__ADS_3

Rupanya, Mahesa berhenti di tempatnya tapi dengan darah menetes di ujung bibirnya. Kalahkah dia? Belum, musuhnya terpental ratusan depa dengan kepalan tinju yang remuk hingga ke tengah lengan. Bukan hanya itu, pria raksasa sekarang muntah darah hitam kental dan anyir.


“Kurang ajar tanganku terasa mati...” Mahesa meludah ke tanah. Dia melirik ke samping, menemukan sebuah tombak panjang tergeletak di antara mayat. “Rasakan ini manusia besar!”


Dilemparnya tombak itu dengan cepat. Serangannya berhasil memaksa lawannya berhenti bergerak karena ujung tombak menancap tepat di tengah leher.


Pihak Surasena yang melihat hal itu, hanya menaikkan alis dan terpaku. Sejak kapan Mahesa bisa melemparkan senjata seakurat itu, pada jarak yang cukup jauh.


Melihat temannya mati, pria besar yang melawan Sabdo Jagat menjadi lebih serius dan lebih agresif dari sebelumnya. Dua tiga kali kepalan tinjunya melayang, tapi sampai sekarang tidak ada satupun yang berhasil mengenai Sabdo Jagat.Sabdo Jagat cukup licin untuk ditangani oleh pria berbadan besar.


Pria besar menyatukan dua telapak tangan, mengangkat tinggi-tinggi dan menyerang Sabdo Jagat dengan pukulan itu.


Hampir saja pemimpin lembah ular itu jadi mayat, jika dia tidak bergerak cepat dan masuk di antara celah kaki lawannya yang terbuka lebar. Karena serangan tersebut, tanah bergetar hebat dan rekahannya mengubur puluhan mayat.


Sabdo Jagat bergerak cepat, melompat lima depa dari tanah kemudian membabat tengkuk pria itu dengan tongkatnya. Kilatan dari tongkat terlihat sampai lima puluh depa jauhnya. Kemudian diiringi dengan suara gelegar yang menghembuskan debu-debu di sekitar.


“HAAAAKKKK!” teriakan pria besar terdengar seperti gemuruh. Tengkuknya terasa sakit bukan kepalang, dan ini membuat lehernya sulit untuk digerakkan.


Dia ingin melihat keatas, pada sarangan Sabdo Jagat selanjutnya, tapi tidak sempat. Tongkat penghancur gunung memaksa tubuh besarnya melayang puluhan depa, berjungkir balik di udara sebelum akhirnya terhempas di tengah prajuritnya sendiri.


Semua orang menunggu, memperhatikan tubuh besar pria itu dengan seksama. Tapi tidak ada tanda-tanda bergerak, atau bangkit.


“Aku melihat kekuatanmu berkembang cukup pesat.” Mahesa mendekati Sabdo Jagat setelah puas membunuh puluhan prajurit kecil yang ada di sekitar mereka. “Sepertinya tongkat itu membuat dirimu dua kali lebih kuat dari sebelumnya.”


Di ujung mata mereka, raksasa itu tergeletak. Mahesa cukup yakin jika mahluk itu mati saat ini. Serangan Sabdo Jagat tadi memang luar biasa, jadi wajar jika lawannya kalah.

__ADS_1


Sekali lagi Mahesa melirik tongkat penghancur gunung, senjata itu masih mengeluarkan aura menekan yang membuat pendekar kelas tanding mati hanya dengan menyentuhnya.


Dalam pikiran Mahesa, Sabdo Jagat pasti telah mendapat pelatihan dari Sungsang Geni. Karena jika tidak, mana mungkin senjata itu mau mengeluarkan kekuatannya dengan tenaga dalam penggunanya yang masih rendah.


Setelah berlatih energi alam, Sabdo Jagat hampir berada di puncak pendekar tanpa tanding saat ini. 3 jul tenaga dalamnya, ditambah 2 jule energi alam membuat dia lebih kuat di antara pendekar yang selevel dengan dirinya.


Bahkan Mahesa diam-diam mengakui jika Sabdo Jagat saat ini berada di atas dirinya. Tongkat penghancur gunung dan teknik bertarungnya menjadi nilai plus untuk Sabdo Jagat.


“Sekarang apakah kita harus mengamuk?” tanya Mahesa.


“Jangan!” cegah Sabdo Jagat. “Musuh masih menyimpan pasukannya di dalam hutan, kita kembali lagi ke atas tembok.”


Setelah berucap seperti itu, Sabdo Jagat mengangkat Mahesa dan mendarat di salah satu sisi tembok. Rerintih dan Dirga menghampiri Mahesa. Dua orang itu merupakan dua senopati yang di pimpin langsung oleh Mahesa. Tentu saja pertarungan tadi membuat keduanya sedikit cemas.


Sementara itu, Jelatang Biru, Guru Tiraka dan juga Gentar Bumi hampir tidak percaya jika kekuatan Sabdo Jagat meningkat drastis. Mereka juga cukup terkejut ketika merasakan energi halus yang keluar dari tubuh pemimpin perguruan lembah ular itu.


Gelombang pertama musuh sudah mulai terkikis habis. Dengan kematian dua raksasa kuat, membuat pasukan itu kehilangan mental untuk bertarung. Dan itu dimanfaatkan pasukan panah Surasena untuk mengurangi jumlah mereka.


“Pulihkan energi kalian!” ucap Rerintih, Sabdo Jagat dan Mahesa mengangguk tanda setuju. Lawan sesungguhnya belum datang, dan mereka harus berada dalam kondisi maksimal untuk bertemu dengan lawan yang sebenarnya kelak.


Sementara itu, di langit pertarungan Sungsang Geni dan Mungkarna semakin menggila. Kilatan energi warna-warni menghiasi angkasa raya. Mereka berdua seolah sedang bertarung di bagian lain dunia ini, dan tidak peduli dengan ribuan orang di bawahnya.


Sungsang Geni cukup terkejut, melihat gaya bertarung Mungkarna yang menjadi berubah. Komandan pertama kelelawar iblis itu tidak hanya menggunakan serangan jarak jauh, tapi kini juga menggunakan serangan jarak dekat.


Ada pedang hitam berasap kelam menyelimuti pedang pria itu.

__ADS_1


Sungsang Geni melompat di atas pohon di sisi hutan rimba blantara, keberadaan mereka cukup jauh dari pusat perang. Baru dua detik pemuda itu menarik nafas, aura hitam bergerak cepat meluncur ke arahnya.


Sungsang Geni segera menghindar ke samping, pedang hitam Mungkarna melewati dua jari dari lengan kanannya dan mendarat di dahan kayu. Dahan kayu terpotong dengan mudah, bahkan energi dari pedang itu masih terus berlangsun dan membelah hampir dua puluh pohon besar.


Jika itu adalah pendekar tanpa tanding, tentulah saat ini akan mengalami luka dalam yang tidak akan ringan.


Ketika menghindarinya, Sungsang Geni juga melayangkan tebasan kuat. Serangan itu begitu cepat, tapi sayangnya Mungkarna bisa menghindari meski sedang di udara. Tebasan Sungsang Geni membabat 25 pohon besar hingga gundul, hanya karena tekanan energinya saja.


Tubuh Mungkarna mendarat di permukaan tanah. Untuk sesaat tanah dengan rumput-rumput hijau bergetar kecil ketika telapak kaki pria itu menekannya. Namun ketika Mungkarna mengamabil ancang-ancang untuk kembali menyerang Sungsang Geni, tanah itu sekarang menjadi rekahan-rekahan besar lagi dalam.


Gemuruh dari kaki Mungkarna seperti suara hujan. Dengan kecepatan tinggi dia melesat keatas dan...


Sungsang Geni tertikam tepat di bagian dadanya. Pedang Mungkarna tertancap sangat dalam, dan pemuda itu tidak sempat menghindar.


“Akhirnya...” ucap Mungkarna dengan bangga.


“Akhirnya aku menemukan celah!” entah kenapa Sungsang Geni telah berada di sampingnya dengan serangan pedang yang cepat. Mungkarna tidak tahu jika yang ditebasnya adalah bayangan Sungsang Geni. Pemuda itu harus menggunakan taktik pedang bayangan untuk mencari celah lawannya.


“Murka Naga Bayangan!” Pekik Sungsang Geni.


Dengan seketika seekor ular naga menjalar keluar dari pedang Sungsang Geni, melesat dengan cepat dan berhasil mencengkram tubuh Mungkarna.


Pria kegelapan itu tidak tinggal diam, meski setengah tubuhnya berada di dalam mulut naga bayangan, tapi dia masih memiliki kemampuan untuk menahannya.


Tubuh Mungkarna tidak terluka oleh gigi taring naga bayangan, tapi sebagai gantinya dia terpukul mundur ratusan depa jauhnya.

__ADS_1


Semua orang bisa melihat ada seekor naga berwarna bening datang menggeliat dari hutan belantara menuju ke tengah parit. Tepat di mulut naga itu Mungkarna berusaha keras untuk melepaskan diri, dan melindungi tubuhnya agar tidak tercabik-cabik.


__ADS_2