PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Siapa yang Layak


__ADS_3

Pangeran Widura merupakan Pangeran Mahkota dari Kerajaan Pancala, sebuah Kerajaan yang terletak di sebelah barat Kerajaan Tombok Tebing.


Kerajaan ini adalah satu-satunya Kerajaan dibawah kekuasan Kerajaan Surasena yang paling miskin, meski memiliki wilayah yang luas, namun Kerajaan Pancala berada ditanah yang gersang, sehingga tanaman sangat sulit tumbuh dengan maksimal.


Penghasilan dari Kerajaan Pancala umumnya mencari ikan di sungai Pancala.


Namun beberapa tahun terakhir sungai Pancala tercemar, membuat banyak ikan menjadi mati, hingga membuat rakyatnya banyak yang kekurangan gizi.


Tujuan Pangeran Widura yaitu menuju Surasena, dia berniat membicarakan masalah ekonomi dengan sang Raja. Tentunya setelah berhasil mengawini putri kedua raja Cakra Mandala.


Pangeran Widura berharap, Kerajaan Surasena mengizinkan untuk mengelolah tambang emas dihilir sungai pancala.


Meski tambang itu hanya kecil, tapi setidaknya sudah cukup membantu meringankan krisis ekonomi di Nengri itu.


“Kekayaan kerajaan kalian bahkan tidak sebanding dengan Perguruan Macan Putih.” Ucap Trenggolo, pemuda yang mengenakan pakaian ala pendekar. “Jangan mimpi Pangeran sepertimu mendapatkan tempat di Kerajaan Surasena.”


“Sepertinya kau cari mati Trenggolo?” Pengawal pangeran Widura segera berdiri dan menarik goloknya.


Perguruan Macan putih merupakan salah satu dari tiga Perguruan yang sangat besar dan berpengaruh, setelah Perguruan Lembah Ular dan perguruan Bukit Emas.


Ketiga perguruan itu merupakan kubu netral yang memiliki sistem perekonomian yang sangat baik menyamai sebuah kerajaan, mereka memiliki pasar dagang sendiri bahkan dengan kantor administrasi yang sangat baik.


Setidaknya hampir 1000 murid lebih yang belajar bela diri di Perguruan Macan Putih, dan terdapat 50 tetua yang membawahi 20 murid.


Dan orang yang paling penting dan juga hebat adalah maha guru Sosro Mangkubumi, generasi ke tiga di perguruan itu.


Trenggolo hanya tertawa mendengar gertakan Pengawal pangeran Widura, “Pasopati, Banaspati, meski kalian bersaudara menyerangku bersamaan, aku tidak akan kalah!”


“Kurang Ajar, kakang kita harus membunuh Trenggolo, dia telah merendahkan harga diri dan martabat kita dan juga kerajaan Pancala.” Pasopati segera menarik goloknya dan pertempuran dua lawan satupun tak terelakan.


Setelah beberapa saat, dan beberapa piring berhamburan dilantai mereka bertiga tiba-tiba berhenti, ketiganya merasakan aura membunuh yang sangat besar dan pekat.


“Aura membunuh yang sangat pekat.” Trenggolo berucap, “Siapa yang akan datang ditempat ini?”

__ADS_1


“Dia pasti pendekar pilih tanding, mungkin juga pendekar tanpa tanding” Cengkreng yang merupakan teman Trenggolo menjawab.


Lalu seorang wanita sekitar 50 tahun tiba-tiba saja masuk kedalam rumah makan, dia menggunakan pakaian yang semuanya berwaran hitam.


Ketika melihat wanita itu, tubuh Trenggolo dan Cengkreng menjadi bergetar, peluh dingin membasahi seluruh tubuh mereka.


“Nyai Bidara, dari danau kematian, apa yang dilakukannya ditempat ini?” Suara Trenggolo terdengar gemetar.


Nyai Bidara segera cekikikan seperti kuntil anak, suaranya yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi membuat semua orang selain Sungsang Geni menutup telinga.


“Tenang, aku tidak ingin membuat keributan ditempat ini?” ucap Nyai Bidara namun suaranya masih mengandung tenaga dalam yang besar. “Aku sedang mencari tuan ku, tapi malah tersesat sampai ditempat ini. pelayan, berikan aku makanan dan minuman! seharian ini tuan mudaku membuat aku pusing 7 keliling.”


Nyai Bidara kemudian menatap prajurit pengawal Pangeran Widura yang telah pingsan dilantai bawah. “Waduh, semuanya malah tidur disini.” Dia kemudian kembali cekikikan.


Sungsang Geni belum dapat menyimpulkan apakah Nyai Bidara adalah lawan atau kawan, sedari tadi dia selalu mengeluarkan tenaga dalam melalui tawanya yang mengerikan.


“Lah, kenapa pelayannya juga pingsan? Kalau begitu saya ambil sendiri makannannya” ucap Nyai Bidara, dia kemudian menyiapkan makannannya sendiri, lalu naik kelantai dua.


Nyai Bidara kemudian kembali terkekeh menatap beberapa orang dilantai dua “Permisi, boleh saya makan dimeja itu!”. Dia menunjuk salah satu meja didepan Sungsang Geni.


“Apa kau Pangeran Widura?” Nyai Bidara menujuk widura dengan ceker ayam.


“Benar, aku adalah Pangeran Widura.” Jawab Widura dengan wajah pucat.


Jika diperhatikan dengan baik, wajah Nyai Widura tidak terlalu buruk, hanya saja aura membunuh yang terpancar dari tubunnya membuat wajahnya menjadi suram.


“Hem, kau cukup muda, sama seperti tuanku.” Tiba-tiba dia menampar meja, membuat Widura terkejut. “Sial, kemana pemuda bodoh itu pergi?”


Melihat semua orang menatap dirinya, Nyai Bidara kembali terkekeh. “Kenapa kalian menatapku seperti itu, apa kalian tidak pernah melihat wanita makan?” dia kembali terkekeh.


Tentu saja bukan karena melihat wanita makan, tetapi karena kelakuan Nyai Bidara yang tidak dapat ditebak, membuat Widura dan yang lainnya sangat waspada.


Sungsang Geni meski tidak begitu peduli dengan kehadiran Nyai Bidara, namun aura membunuh yang dipancarkan membuat dirinya tidak selera melanjutkan makan.

__ADS_1


Sedari Tadi Sungsang Geni masih berpikir, siapakah yang dimaksud dengan tuan muda?


“Jika aku tidak salah dengar, kau dipanggil dengan nama Nyai Bidara?” tanya Sungsang Geni, “Bolehkan aku mengetahui siapa tuan muda yang kau maksud?”


Nyai Bidara menatap Sungsang Geni dengan tajam, kemudian dia menggaruk dagunya. ‘pemuda ini memiliki aura yang unik’


“Dia adalah pangeran Miksan Jaya, Putra Mahkota Kerajaan Tumenang.” Nyai Bidara tampak gelisah ketika teringat kembali tuan mudanya itu.


Kerajaan Tumenang berada disebelah timur kerajaan Surasena, berada di Lembah hantu dibalik bukit Merantih.


Kerajaan itu sangat tersembunyi, tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan Kerajaan itu, konon wilayah itu diselimuti kabut ilusi, yang membuat orang tersesat seumur hidup ketika memasuki wilayah Kerajaan Tumenang.


“Jika boleh tahu, bagaimana ceritanya kau kehilangan tuanmu itu?”


Wanita itu kembali menampar meja dengan kuat, membuat Pangeran Widura dan dua pengawalnya hampir saja pingsan karena takut.


Trenggolo dan Cengkreng sedari tadi hanya terdiam dan menunduk mereka tidak berniat berurusan dengan wanita gila, mereka sadar diri tidak akan mampu untuk melawan Nyai Bidara.


“Ah, aku menyuruh mereka untuk menunggu ketika aku sedang mandi disungai, tapi setelah aku selesai, tuanku yang agung tidak ada lagi ditempatnya.” Nyai Bidara terlihat sedih, namun tetap saja wajah menakutkanya tidak membuat orang lain bersimpati.


Nyai Bidara sebelumnya merupakan pendekar aliran hitam yang sangat kejam, dia dikenal dengan wanita jarum beracun, karena kelihaiannya menggunakan jarum beracun yang mematikan.


Satu tusukan jarum bahkan dapat membunuh seekor gajah dalam beberapa menit saja, kekutannya yang mengerikan menjadikannya satu diantara pendekar tanpa tanding dari aliran hitam.


“Jika aku boleh tahu, hendak kemana Nyai Bidara ini?” tanya Sungsang Geni penasaran.


“Tentu saja, melakukan lamaran terhadap putri Raja Cakra Mandala.” Jawab Nyai bidara.


‘aneh sekali, pangeran Dewangga juga berniat melamar Putri Kerajaan Surasena’ Batin Sungsang Geni mulai ragu.


“Pangeran Widura?” Sungsang Geni menatap Widura yang masih ketakutan, “Apakah pangeran juga berniat melakukan lamaran terhadap Putri Kerajaan Surasena?”


“Benar, Raja Cakra Mandala mengirim surat agar diriku segera melamar anaknya?” jawaban pangeran Widura lantas mengejutkan Nyai Widura.

__ADS_1


“Pangeran Widura apa maksudmu?” Nyai Widura segera berdiri, lalu mengeluarkan aura membunuh yang membuat suasana menjadi berat, “Hanya tuanku pangeran Miksan Jaya yang berhak menikahi Putri Raja Cakra Mandala!"


__ADS_2