
Cempaka Ayu terbang lebih tenang dari Sungsang Geni, tapi dia bergerak lebih lambat. Mereka lantas menaikkan ketinggian, tidak ingin menjadi perhatian orang-orang yang melihatnya dari dataran.
Seekor elang nampaknya juga terkejut melihat mereka terbang di atasnya, burung itu bersuara keras beberapa kali. Mungkin ketakutan atau terkejut. Suaranya yang nyaring segera di sambut oleh geraman kecil Panglima Ireng.
Suasananya cukup indah saat ini, hamparan sawah terbentang menguning di bawah sana. Bukit-bukit menjulang tinggi, dan lautan membiru dan berkilauan.
Sungsang Geni pernah melihat hal semacam ini dari atas pohon kelapa yang luar biasa tinggi, tapi melihatnya bersama dengan Cempaka Ayu dan Panglima Ireng adalah sesuatu yang sedikit, 'menyenangkan.'
Panglima Ireng menopangkan kepalanya di bibir kereta dengan lidah menjuntai. Sekekali dia harus menutup seluruh mulutnya yang menjadi duer ketika diterpa angin yang sedikit kencang.
“Apa kau baik-baik saja Geni?” Cempaka Ayu menoleh kearah Sungsang Geni yang kadang kala terlihat merenung.
“Tentu saja,” jawab pemuda itu singkat.
Cempaka Ayu tidak bertanya lebih lanjut, meskipun sebenarnya dia tahu pemuda itu pasti sedang memikirkan banyak hal saat ini.
4 jam mereka terbang seperti itu, baik Cempaka Ayu dan Sungsang Geni mungkin sudah menghabiskan tenaga dalam sebesar 1 jule saat ini. Tapi itu bukan masalah, sekarang mereka sudah bisa melihat dari ujung matanya, hamparan kebun pala.
Setelah tiba di pegunungan Kerakatau, mereka menghentikan perjalanan.
Cempaka Ayu mendaratkan kereta pelan sekali di atas permukaan tanah datar. Masih ada sisa puntung-puntung api unggun bekas mereka bermalam di tempat itu.
Panglima Ireng yang tertidur pulas langsung terbangun, kemudian menggeram kecil seraya mengarahkan moncong pada kotak di dekatnya. Itu adalah kotak makanan.
Aroma daging panggang dari dalam kotak selalu saja menggelitik hidungnya, tapi tidak berani untuk meminta daging itu sementara teman-temannya sedang berusaha mengatur aliran tenaga dalam, agar terbang menjadi seimbang.
“Kita akan bermalam di sini.” Sungsang Geni mengumpulkan api unggun. “Kita butuh istirahat untuk mengumpulkan tenaga dalam.”
Cempaka Ayu setuju, dia mungkin sudah kehilangan 2 jule, tidak! Tapi tiga jule tenaga dalamnya. Butuh waktu 6 hari agar bisa memulihkan tenaga dalam sebesar itu. Tapi yang paling penting adalah, memulihkan perutnya yang selalu meronta.
“Ini adalah ayam bakar ukuran besar.” Cempaka Ayu memainkan moncong Panglima Ireng yang terlihat sangat kesal. “Ini adalah bagianku, kau ambil ayam bakar yang ini.” Gadis itu menyodorkan satu ayam bakar yang ukurannya lebih kecil dari miliknya, nyaris paling kecil di antara ayam bakar yang lain.
“Bubur jamur.” Sungsang Geni mengeluarkan semangkok besar bubur jamur. “Ini lebih nikmat dari pada ayam bakar miliki kalian.”
“Gerr...” Panglima Ireng mengejek.
“Alah, itu karena kau terlalu pilih-pilih Ireng.” Sungsang Geni balas mengejek.
“Gerr...gerr...”
***
__ADS_1
Ketika malam hari, Panglima Ireng sudah lebih dahulu tidur dan mendengkur. Sungsang Geni merebahkan kepalanya pada perut srigala itu, kemudian di ikuti Cempaka Ayu di sisi berlawanan.
Mereka berdua memandangi langit penuh bintang, ini mungkin menjadi malam-malam terakhir yang akan dilewati mereka bertiga. Setelah tiba di Dataran Java, tidak ada waktu seperti ini selain dipenuhi dengan ketegangan.
“Apa kau melihat yang barusan?” Cempaka Ayu menunjuk ke sisi lain langit malam. “Itu bintang jatuh.”
Kemudian Cempaka Ayu memejamkan matanya, terlihat bibir mungilnya sedang bergerak-gerak mengucapkan beberapa kalimat.
“Apa yang kau lakukan?”
“Berdoa.”
“Berdoa?” tanya Sungsang Geni heran.
“Penduduk Swarnadwipa meyakini bintang jatuh adalah berkah. Ketika kau memejamkan mata dan meminta sesuatu, maka dewa takdir akan mengabulkan semua permohonanmu.” Cempaka Ayu tidak meyakini hal itu, tapi dia sangat senang jika permohonannya akan terkabul.
“Apa permohonanmu?”
Cempaka Ayu menyipitkan matanya, menyadari pemuda itu mungkin sedang membaca pikirannya.
“Geni, apa kau ingin berjanji satu hal padaku.”
“Jangan pernah melakukan hal ini lagi,” ucap Cempaka Ayu, kemudian mengetuk kening pemuda itu dengan telunjuknya. “Kau tidak boleh membaca pikiranku sesuka hatimu. Terkadang semua orang memiliki rahasia yang harus mereka jaga.”
Sungsang Geni tidak membantah, yang dikatakan gadis itu memang benar. Pemuda itu bahkan mulai menyadari, bahwa memasuki alam pikiran manusia seperti perbuatan yang sedikit 'berdosa.'
Bisa jadi ada beberapa rahasia yang memang orang lain jaga, tidak ingin diketahui oleh siapapun.
“Aku tidak akan membaca pikiranmu mulai hari ini.” Sungsang Geni balas mengetuk kening Cempaka Ayu sambil tersenyum kecil. “Tapi kau tidak boleh merahasiakan sesuatu yang penting dariku, apa kau setuju?”
“Aku setuju.”
“Gerrr...” Panglima Ireng ikut menyahut.
“Aku harus mengetahui semua perasaanmu Ireng? Jika tidak, bagaimana aku bisa mengerti apa maumu.” Sungsang Geni mengelus kepala Srigala itu dengan pelan.
***
Matahari mengintip di balik dahan-dahan daun yang lebat, menerobos lalu mengenai mata Cempaka Ayu. Gadis itu menggeliat pelan, perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat.
“Kalian berdua sudah bangun?” Sungsang Geni sedang memanaskan dua ayam bakar di atas bara api unggun. “Makanlah! Perjalanan kita masih cukup jauh.”
__ADS_1
Setelah mereka usai menyantap makanan, akhirnya perjalanan kembali dilanjutkan.
Sekitar 4 jam perjalanan dilakukan dengan kecepatan lebih kencang dari sebelumnya. Mereka bertiga sudah bisa melihat tenda-tenda pengungsi yang berjejer rapi.
Belasan orang mengangkut air atau ratusan prajurit yang membenahi tembok agar menjadi lebih kokoh.
Orang pertama yang melihat kedatangan mereka adalah Ki Alam Sakti.
“Dia sudah kembali.” ucap Sesepuh teknik pedang berarak itu.
Kebetulan sekali semua Sesepuh perguruan sedang berkumpul di kediaman Lakuning Banyu untuk membahas beberapa persoalan.
Semua kepala mendongak ke atas, melihat dua orang manusia bersama kereta dan seekor Srigala Hitam melayang menuju ke diaman Raja Surasena.
Empu Pelak kegirangan bukan kepalang, nyaris saja dia melompat jika bukan Siko Danur Jaya menahan pinggangnya. Orang tua itu sudah tidak sabar mendengar rencana gila apa yang akan dibuat oleh pemuda itu.
“Murid memberi hormat, Eyang Guru.” Sungsang Geni menundukkan kepala pada Ki Alam Sakti.
“Kau baik-baik saja, Geni?” tanya kakek tua itu.
“Ya, tidak pernah sebaik ini sebelumnya, Eyang.” Pemuda itu lantas memberi hormat kepada Sabdo Jagat. “Murid memberi hormat, Paman guru.” Sabdo Jagat tidak mengatakan apapun, kecuali sebuah pelukan.
Ada wajah-wajah yang sudah dikenalnya berdiri mematung memandangi Sungsang Geni dengan penuh tanda tanya. Salah satunya adalah Benggala Cokro, yang saat ini terlihat lebih ramah dari sebelumnya.
Tapi wajah Ki Lodro Sukmo tidak berubah, dia masih seperti itu, acuh dan merendahkan. “Apa yang kau bawa?” orang tua itu segera bertanya.
Sungsang Geni tidak menjawab, dia berjalan melewati Ki Lodro Sukmo tanpa memberi hormat menuju Lakuning Banyu. Kemudian pemuda itu menyerahkan dua benda yang dari saku jubahnya.
“Ini dari Raja Saylendra, pemimpin dataran Swarnadwipa.”
Lakuning banyu mengibaskan kertas itu, didalamnya ada tulisan dari tinta emas dan juga cap legalitas dari Swarnadwipa atas nama Saylendra.
“Kau berhasil Geni!” Lakuning Banyu terperanjat, hampir tidak percaya dengan apa yang dia baca.
“Apa yang tertulis di dalam surat itu, Yang Mulia?” Ki Lodro Sukmo sangat penasaran.
“Mereka akan menerima rakyat kita dalam pengungsian, juga memberi kita bantuan sepuluh ribu prajurit.”
“Apa, Sepuluh Ribu Prajurit?!” Wajah-wajah semua orang di tempat itu menjadi merah, semua orang membuka mulut kecuali Ki Alam Sakti dan Sabdo Jagat. Bahkan Darma Cokro adalah orang yang paling besar membuka mulutnya.
Sementara itu, Mahesa tertawa terbahak-bahak. “Sudah kuduga, pemimpin kami luar biasa.”
__ADS_1