
Untuk pertama kali setelah wilayah dikuasai Kelelawar Iblis, orang-orang dari desa kecil ini memakan nasi. Begitu lahapnya, meski tidak ada lauk dan lalap. Salah satu bocah kecil umal, yang mungkin sudah terbiasa tanpa baju, memberi sesuap dua suap nasi kedalam mulut bapakanya.
Sungsang Geni tidak bergeming beberapa saat, dia memandangi mereka semua satu persatu dari atas batu besar. Sungguh menyedihkan, pikirnya.
Sedari tadi pula, Cempaka Ayu terlihat paling sibuk diantara pendekar yang lain. Ketika semua orang sudah terlelap karena kelelahan, gadis itu terus terjaga hanya untuk memeriksa kondisi semua warga.
Sayang sekali mereka tidak memiliki satu saja pendekar medis. Cempaka Ayu hanya bisa melakukan beberapa pertolongan ringan, dia tidak memiliki pengetahuan dibidang pengobatan.
Namun demikian, Cempaka Ayu masih berusaha keras -dan itu kelihatannya berhasil- obat yang dia berikan cukup manjur untuk mengusir batuk dan diare.
“Istirahatlah, aku akan menjaga mereka malam ini!” Sungsang Geni menghampiri gadis itu.
“Aku tidak lelah, Geni. Kenapa tidak kau saja yang istirahat?” Cempaka Ayu masih menumbuk dedaunan, beberapa jahe yang dia temukan dan ada lebih banyak bahan lagi yang tidak diketahui Sungsang Geni. “Kami tidak ingin pemimpin Bayangkara, malah sakit dan terkena flu.”
Sungsang Geni tertawa kecil, di sahut dengan senyum manis Cempaka Ayu. Pemuda itu sebenarnya belum pernah merasakan flu, atau demam. Jika dia pernah sakit, maka itu karena pertarungan.
Sekarang waktu mungkin sudah berjalan 1/3 malam terakhir, bulan sabit condong di timur. Bersinar malu-malu di balik awan putih yang tipis. Tidak akan ada hujan untuk beberapa hari kedepan, pikir Sungsang Geni.
Udara malam cukup dingin, berhembus dari timur ke barat. Sekarang mulai memasuki musim kemarau. Ini akan menjadi sedikit buruk, tempat ini sudah gersang dan akan diterpa dengan musim panas.
“Bubur nasi?” Cempaka Ayu menyodorkan bubur, menggunakan wadah tempurung buah maja yang dia masak barusan untuk menemani Sungsang Geni. “Tidak ada bumbu hanya ada sedikit garam, rasanya mungkin tidak akan enak.”
Sungsang Geni tersenyum kecil, dari yang dia ingat sekarang Cempaka Ayu terlihat lebih dewasa. “Terima kasih,”
Sungsang Geni duduk di dekat batu besar hitam, ada sebuah obor menyala di atas kepalanya. Karena semua orang berkumpul di sini, jadi mereka tidak bisa istirahat di dalam gubuk.
__ADS_1
Tapi demikian, semua prajurit masih bisa mendengkur, tertidur pulas. Untuk mengusir dingin, mereka tidur tumpang tindih.
Panglima Ireng berada di dekat Sungsang Geni, Srigala itu sudah dari tadi rebah karena lelah. Sungsang Geni tidak berniat mengusiknya, jadi dia sengaja tidak merebahkan tubuh ke perut Srigala itu, meski terlihat sangat nyaman.
Kemudian pemuda itu kembali membuka kitab strategi perang. Di bacanya dengan seksama, sangat teliti. Beberapa strategi memang terkesan licik, tapi tentu saja berhasil dengan kemenangan gemilang.
Wajah Sungsang Geni berubah-ubah setiap membaca lembaran buku itu. Terkadang dia mengerutkan keningnya, tapi tak jarang mata terbuka lebar dengan kepala menganguk-angguk.
Setelah beberapa lama, mungkin sudah 4 jam dia membaca buku itu, pemuda itu menutupnya kembali. Buku itu hanya memberi gambaran secara garis besarnya saja, tidak butuh waktu berhari-hari untuk menyelesaikan bacaan itu.
Pada kalimat terakhir, tertulis sebuah kalimat, “Setiap situasi tidak pernah sama dengan yang ditulis, kalian harus bisa mengembangkan strategi baru.”
Rupanya tanpa sadar hari sudah mau pagi, Sungsang Geni menyimpan kembali bukunya. Bubur dalam tempurung maja sudah kering dari tadi. Cempaka Ayu rupanya sudah lama tertidur di dekat Panglima Ireng.
“Apa kau tidak tidur?” Empu Pelak menguam beberapa kali. “Sekekali kau harus tidur, itu baik untuk menjaga kesehatan.”
“Aku akan tidur nyenyak setelah semua ini berakhir.” Sungsang Geni terkekeh kecil.
5 menit kemudian situasi di tempat itu mulai riuh, semua orang mulai terjaga. Beberapa dari mereka berniat melanjutkan tidurnya, tapi teman mereka malah menjahili.
“Geni, apa yang harus kita lakukan hari ini?” Mahesa masih menguam, kemudian mengacak-acak rambutnya yang kering. “Aku akan mencari air, kerongkonganku benar-benar kering.”
“Aku akan menemani.” Joko Sewu membawa dua buah tong besar dari kayu bundar. “Kalian juga, kita membutuhkan banyak air saat ini.”
Perintah itu tertuju pada pendekar pemanah. Mereka terlihat sangat malas sekali, tapi mau tidak mau, harus menurut pula dengan ucapan Joko Sewu.
__ADS_1
Sungsang Geni mendekati Siko Danur Jaya, Dirga dan beberapa prajuritnya yang lain. “Kita akan membuat tempat tinggal untuk mereka, setelah semuanya cukup aman, -setelah kita menguasai wilayah ini, kita bisa membiarkan para warga untuk tetap tinggal atau mengungsi ke tembok Surasena.”
Semua orang tampak setuju, tidak ada yang tega melihat para penduduk tidur di bawah kolong langit. Jadi 10 menit dari sekarang, semua orang pergi ke hutan.
Mereka mengangkut kayu, kulit-kulit pohon, tumpukan ilalang dan banyak akar kayu. Dalam dua hari akhirnya beberapa gubuk berhasil didirikan. Ada sekitar 20 gubuk yang bisa menampung 4 sampai 6 orang sekaligus.
Gubuk ini memang sangat sederhana memang, tanpa dapur dan ruang santai. Pungsinya hanya satu, untuk menghangatkan tubuh ketika malam hari atau hujan datang.
“Ini hanya sementara saja, aku berjanji akan memberikan sebuah tempat yang layak untuk ditinggali.” Sungsang Geni berkata pada semua warga. “Mungkin setelah kita menaklukkan 4 atau lima markas kecil mereka.”
“Tidak masalah tuan, ini sudah lebih dari cukup,” jawab salah satu dari mereka. “Kami akan membangun ulang gubuk ini jika kondisi kami sudah memungkinkan. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan kami. Kami hanya berharap, kalian bisa mengembalikan keadaan seperti sedia kala.”
“Aku akan berusaha.” Sungsang Geni berkata mantap.
Kekuatan Bayangkara memang masih terlalu kecil, tapi setidaknya saat ini ada secercah cahaya kecil yang menjadi harapan para warga itu. Mereka tidak berniat mengungsi ke tembok Surasena. Mereka sedikit kecewa.
Para warga ini sudah lama menunggu Surasena melakukan suatu tindakan, tapi hingga hari ini tidak ada. Mereka terkesan lambat, semua prajurit Surasena adalah penakut, mungkin.
Setelah 3 hari mereka berada di wilayah ini, Sungsang Geni memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Yang tertinggal ditempat ini hanya para pendekar pemanah, dengan para budak yang sekarang dirantai tangan dan kakinya.
Joko Sewu tidak bisa pergi saat ini, penduduk desa membutuhkan dia, lagi pula harus ada yang menjadi penjaga dan mengendalikan para budak.
Sungsang Geni memutuskan hanya membawa Cawang Wulan ikut bersama mereka. Meski matanya tidak setajam Joko Sewu, tapi gadis itu juga bisa melepaskan anak panah hingga ratusan meter.
“Bawalah busur panahku!” Joko Sewu menyerahkan pusaka miliknya kepada Cawang Wulan. “Aku yakin, kau sudah sangat layak menggunakan pusaka ini, Ponakanku.”
__ADS_1