PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Wanita Muda dan Kakek Banci


__ADS_3

Dua orang memimpin pasukan besar berjalan berbaris-baris dengan pakaian serba hitam, helem perang dan bendera lebar yang berkibar berlambang Kelelawar Iblis.


Mereka terdiri dari pejalan kaki tapi ada lebih dari 5 ribu orang menunggangi kuda-kuda besar. Tak kalah dengan penunggangnya, kuda-kuda itu dilengkapi dengan topeng besi dan sepatu baja. Para penunggang kuda berjalan pelan, menggiring pasukan pejalan kaki.


Pasukan besar itu terdiri dari Prajurit Kelelawar Iblis sekaligus juga sekutunya, Negri Sembilan. Setidaknya, saat ini mereka telah membawa hampir 70% dari pasukan keseluruhan.


Tampak akan benar-benar menghancurkan Surasena dalam serangan besar ini. Mereka membawa sekitar 20 orang pendekar puncak tanpa tanding dan ada 6 orang yang baru memasuki level pendekar iblis.


6 orang itu setara dengan Ki Alam Sakti, Ki Lodro Sukmo dan juga Darma Cokro. Namun tentu saja ada dua orang yang memiliki kemampuan puncak Level Iblis, ya dua komandan mereka.


Salah satu dari komandan berpakaian serba tertutup, menggunakan cadar berwarna transparan dengan pakaian merah darah. Seorang wanita muda terlihat di balik cadar itu, matanya coklat dengan alis tebal yang di ukir sedemikian rupa sehingga menyentuh bulu-bulu rambut di keningnya.


Dari balik cadar transparan, bibir tebal yang bergincu merah merona acap kali tersenyum sinis. Rambutnya tertata rapi, bahkan terlihat begitu halus dengan hiasan jepit-jepit menyerupai sayap kelelawar.


Dia adalah Komandan kedua Kelompok Kelelawar Iblis, Nyai Siwang Sari. Wajah wanita itu seperti gadis muda yang berusia 20 tahunan, tapi sebenarnya umur wanita itu sudah 70 tahun. Dia memiliki ajian paling langka di dataran java, Rawa Rontek.


Tak bisa dibunuh oleh siapapun, bahkan saking sempurna ilmu rawa rontek yang dia miliki kulitnya tidak menua dan tidak keriput.


Sejauh ini hanya ilmu itu yang diketahui oleh semua orang, belum pernah ada yang benar-benar melihat kemampuan terkuat Nyai Siwang Sari. Tapi semua orang sepakat Nyai Siwang Sari adalah wanita terkuat di tanah java.


Di sebelah wanita itu, komandan ke tiga. Seorang pria banci, merupakan adik kandung Nyai Siwang Sari. Dia juga menggunakan cadar, tapi cadar yang digunakannya tidak transparan seperti saudarinya, berwarna hitam dan tebal.

__ADS_1


Berbeda dengan Nyai Siwang Sari kulit orang itu sudah keriput dan pucat. Dia tidak memiliki gigi lagi kecuali satu batang yang terletak paling depan. Itulah mengapa dia menggunakan cadar hitam dan tebal.


Dia memiliki bola mata yang coklat, sayu seperti akan menangis. Banyak orang mengatakan kekuatan Komandan ketiga sebenarnya lebih kuat dari pada Nyai Siwang Sari, hanya saja karena dia adalah 'adik' maka Nyai Siwang Sari lebih layak menjadi komandan ke dua.


"Jaka Balabala!"ucap Nyai Siwang Sari. " Kau tidak perlu kasihan dengan seorang pemuda, habisi saja mereka tanpa terisisa."


Wajah Jaka Balabala menjadi murung, dia bisa membunuh seorang gadis dengan sadis, mencongkel keluar mata mereka bahkan menguliti hidup-hidup tapi dia tidak sanggup melakukannya pada seorang pria.


Konyol sekali, dia memiliki kelainan. Menyukai pria sejenis dibanding dengan wanita. Jaka Balabala memiliki hampir 100 orang banci di kamarnya, melayani kebutuhan nafsu sesat nan menyimpang. Bahkan sekitar 1000 prajurit yang dibawa pria itu adalah para banci.


Dua komandan itu tidak menunggangi kuda seperti prajurit yang lainnya, tapi binatang yang lebih besar dari pada itu. Gajah besar dengan gading yang sangat panjang. Gajah itu dikendalikan oleh orang lain, sementara dua komandan itu duduk di dalam tenda beratap hitam.


Jaka Balabala menarik napas berat tidak berkata sepatah katapun selain air mata yang berlinang. Pria itu sudah kadung menyukai Lakuning Banyu pada pertemuannya ketika menyerang Surasena. Bukan hanya menyukai Lakuning Banyu, tapi selamatnya raja itu akibat dari belas kasihan Jaka Balabala.


“Jaka Balabala?”


“Aku mengerti!” Barulah pria banci tua itu menjawab perkataan Nyai Siwang Sari dengan nada berat dan sedikit tertahan. “Tapi nimas, apa kita tidak terlalu berlebihan dengan mengerahkan pasuakan sebanyak ini? aku bisa meratakan mereka meski hanya seorang diri.” Tertawa cekikikan Jaka Balabala.


Nyai Siwang Sari menyandarkan tubuhnya, menghadap pada langit dengan tatapan tajam pada pergerakan awan hitam. “Aku juga sepemikiran dengan dirimu, tapi tidak masalah bukankah ini akan menjadi hal yang sangat menarik. Kita tidak hanya menyerang Surasena, tapi membunuh siapapun yang kita temukan di jalan.”


“Kau bisa membunuh siapapun di jalanan, tapi sebelum itu biarkan para lelakinya menjadi bagianku.” Tertawa kecil Jaka Balabala sambil menutup mulutnya dengan jari-jari lentik keriput dan kuku berwarna merah muda. “Aku ingin bersenang-senang dengan semua laki-laki di dunia ini.”

__ADS_1


“Jangan bodoh, kau bisa mati karena nafsu menyimpang.” Nyai Siwang Sari kembali mengingatkan.


“Aku tidak akan mati...” timpal Jaka Balabala. “Bahkan aku bisa hidup seribu tahun lagi, hahaha.”


Nyai Siwang Sari terkadang merasa risih atas penyimpangan yang terjadi pada Jaka Balabala. Namun tidak ada obat yang bisa menyembuhkan penyimpangan saudaranya itu.


Sudah dari puluhan tahun yang lalu, dia mencari obat untuk Jaka Balabala tapi tidak pernah menemukannya. Hingga pada akhirnya dia menyerah, dan membiarkan Jaka Balabala melakukan tindakannya.


5 tahun yang lalu ada banyak aliran hitam dan putih memburu Jaka Balabala karena tindakan tercela yang acap kali dilakukannya. Seolah semakin tua semakin jadi, nafsu Jaka Balabala tidak dapat dihentikan.


Nyai Siwang Sari terpaksa turun tangan untuk menyelamatkan nyawa adiknya, hingga pada suatu hari mereka berdua terdesak. Nyawa sudah di ujung tanduk, tombak dan pedang sudah menempel di batang leher, untuk berlaripun terasa tidak mungkin.


Pada saat genting itu, datang penyelamat mereka Topeng Beracun yang berhasil membunuh semua lawan mereka. Bahkan dengan tangan terbuka Topeng Beracun memberikan tawaran kekuatan maha dahsyat yang mampu mengalahkan semua golongan hitam dan putih.


Tentu saja tawaran itu diterima dengan sangat baik. Nyai Siwang Sari memiliki banyak musuh karena ilmu rawa rontek yang dia miliki sehingga membuat suami tercinta dan dua putrinya terbunuh.


Semua orang sangat ingin menjajal kekuatan ilmu itu. Tentu saja dia tidak akan mati, tapi setiap satu tebasan yang mengenai dirinya -rasa sakitnya terasa dua kali lipat dari orang biasa.


Dengan bantuan Topeng Beracun, Nyai Siwang Sari mendapatkan kekuatan baru sehingga ilmu Rawa Rontek yang dia miliki nyaris tidak terpakai karena tidak ada lawan lagi yang bisa melukai dirinya.


Sekarang jadilah mereka berdua orang terkuat di Kelelawar Iblis, yang memimpin pasukan besar untuk memusnahkan Surasena.

__ADS_1


__ADS_2