PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni vs Naga3


__ADS_3

Nagawira menggeram keras, sedangkan dia merasakan aliran energi sangat besar pada naga bening yang dia lihat di atas kepalanya.


Asap tipis perlahan mulai hilang, menunjukkan bayangan sosok pemuda yang melakukan kuda-kuda dengan pedang terhunus ke depan.


Rupanya jurus murka naga bayangan terpaksa Sungsang Geni keluarkan. Dia memang tidak mengerahkan tenaga dalam berlebihan dalam serangan itu, mungkin hanya 5 jule atau bahkan 4 jule.


Di mata Nagawira, naga yang terbentuk dari aliran energi besar dari pedang yang terpancar di tangan pemuda itu berhasil membuat setiap sisik-sisiknya terasa lepas.


Sang Raja Naga tidak sempat mengatakan apapun, dia tidak punya kontrol diri atas tubuhnya. Jadi yang dia lakukan adalah berharap pemuda di atas sana mengurungkan niatnya. Tapi tentu saja tidak. Tidak ada alasan bagi pemuda itu menghentikan serangannya.


Keterkejutan sang Raja semakin besar, ketika dia melihat serpihan tombak trisula yang seakan berkerlip dan jatuh tepat di hadapannya. Tombak kebanggaan rupanya hancur tanpa pernah diduga.


“Ini adalah pusaka lautan...” ucap Raja Naga, “hancur berkeping-keping...?”


Pada saat yang sama, murka naga bayangan bergerak cepat lalu menukik ke arah Nagawira.


“AKU MOHON HENTIKAN!” terdengar jeritan seorang wanita.


“Apa?” Sungsang Geni tersentak.


Pemuda itu menarik pedangnnya, seketika laju naga bayangan dapat berubah haluan dan menghantam di lautan biru. Menciptakan gelombang besar, dan gempa di sekitar pulau kecil itu.


“Aku mohon...tuan pendekar...ampuni nyawa kami...”


Sungsang Geni mengatur napasnya yang memburu, mengendalikan jurus murka naga bayangan butuh kekuatan yang tidak sedikit.


“Hampir saja...” Sungsang Geni mendesah napas.


Nagini merentangkan seluruh tangannya tepat dihadapan Nagawira, dialah orang yang berteriak barusan. Wajahnya masih terlihat sangat pucat, tapi mungkin jika bukan karena hal itu, Nagawira sudah lenyap saat ini.


Nagini mengatur napasnya yang berat, sejujurnya dia juga merasakan ketakutan ketika naga bayangan itu hampir saja mengenai tubuhnya.

__ADS_1


“Ma'afkan...kami tuan pendekar. Sungguh aku minta ma'af. Kami yang salah, kami terlalu angkuh...”


“Jangan terlalu banyak bicara...” Sungsang Geni segera menyambar tubuh gadis itu yang mungkin sudah sangat kehabisan energi.


Pemuda itu kemudian membawanya tepat di pinggir pantai, tapi masih dalam keadaan memangkunya. “Tenanglah! Biarkan aku mengobatimu!”


Kali ini Nagini tidak menolak ketika telapak tangan Sungsang Geni menyentuh keningnya. Dia membiarkan pemuda itu membantunya, tapi tanpa tersadar semakin aliran energi pemuda itu masuk, semakin dia hanyut dengan perasaan.


Dia bisa leluasa memandangi wajah pemuda itu, sangat tampan pikirnya. Mata yang tajam, rahang yang tegas dan juga aura yang memancar dari pemuda itu sangat menenangkan. Tiga luka di bagian mata bukan masalah, itu bahkan membuat pemuda itu terlihat semakin tampan.


Empat saudaranya yang lain juga merubah wujud menjadi bentuk manusia. Rupanya, satu diantara yang lain juga seorang gadis, tapi tampak sedikit lebih tua dibanding gadis yang dipangku Sungsang Geni.


“Nagini, apa kau baik-baik saja?” Nagawira terlihat sangat panik, dia tidak menyangka adik paling kecilnya itu berniat mengorbankan nyawa demi keselamatan hidupnya.


“Dia akan baik-baik saja,” Sungsang Geni menyudahi tugasnya, kemudian menyerahkan Nagini kepada saudaranya yang lain.


Sang raja berjalan tertatih-tatih, tentu saja, dengan luka tepat di telapak tangan dan kakinya membuat orang tua itu kesulitan melakukan gerakan. Tapi dia tetap berjalan mendekati Sungsang Geni kemudian bersujud tepat di bawah kakinya.


“Ma'afkan kami tuan pendekar...ma'afkan kami yang telah...”


“Namaku Nogo Sosro,” jawab Raja naga tersebut.


“Baiklah paman Naga.” Sungsang Geni menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari sesuatu.


“Aku di sini Geni!” Suara Pramudhita terdengar, pria itu berada tepat di atas dan perlahan beranjak turun mendarat di permukaan tanah. “Semisal aku tidak terbang melintasi Istana kalian, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Ini adalah salahku, jadi aku meminta ma'af kepada kalian semua.”


“Tidak, kalian berdua tidak salah, ini semua jelas kesalahan kami para siluman ular naga. Jika saja kami tidak berlaku sombong, maka hal ini tidak akan terjadi.”


Nogo Sosro menunjukkan luka-luka di telapak tangannya, serta luka tepat di tengah perutnya. "Luka ini akan menjadi pelajaran bagi bangsa kami."


Setelah cukup lama, Nogo Sosro pada akhirnya dipersilahkan untuk lekas kembali ke Istana naga di dasar lautan. Dia harus lekas mengobati seluruh luka yang diderita. Namun sebelum pergi Nagini menyerahkan sesuatu kepada Sungsang Geni.

__ADS_1


Sebuah cincin bermata mustika sebagai kenang-kenangan. “Jika suatu saat nanti kalian akan bertandang ke alam kami, letakkan cincin ini ke dalam air laut maka akan ada pasukan yang menjemputmu.”


Disatu sisi, Pramudhita tidak berkata apapun ketika dia berpadu pandang dengan saudara Nagini. Gadis naga itu, bernama Sancani. Meski sebenarnya umur siluman itu mungkin sudah 1200 tahun tapi bentuk dan parasnya masih seperti gadis berusia 30 tahunan.


“Ehem...” Sungsang Geni mendehem beberapa kali, menyadarkan lamunan Pramudhita.


Pria kekar itu kemudian tersipu malu, tapi nampaknya juga sama dengan wajah Sancani. Semua orang tentu saja menangkap perasaan mereka berdua, sebab terlihat jelas dari wajah merah merona mereka.


“Paman, jika kau mau bertandang ke tempat mereka, silahkan saja. Bukan begitu paman Raja?” Sungsang Geni menoleh ke arah Pramudhita, kemudian mengedipkan matanya lalu kembali menatap Nogo Sosro.


“Tentu saja, kau juga boleh bertandang.” Nogo Sosro kemudian memperhatikan Pramudhita dengan seksama. “Aku bisa melihat umurmu belum seberapa, tapi energi yang kau miliki...”


Nogo Sosro tidak melanjutkan ucapannya, dia berpikir sejenak. Nampaknya meski dia harus melawan pria kekar yang mendekati Sungsang Geni, itu juga bukan tindakan baik. Yang manapun dia lawan, maka hasilnya tetap sama yaitu kekalahan.


Nogo Sosro kemudian menanyakan asal muasal Sungsang Geni dan Pramudhita. Setelah Sungsang Geni menjelaskan secara garis besarnya, raja naga itu terlihat manggut-manggut tanda mengerti.


“Rupanya kalian memiliki musuh yang sangat kuat?” sambung Nogo Sosro. “Jika suatu saat nanti kau membutuhkan pertolongan, maka pergilah ke pesisir pantai. Kami akan datang dengan bala tentara besar.”


Sungsang Geni sangat berterima kasih atas tawaran itu. Meski dia tidak yakin akan bertarung di pinggir laut, tapi jika hal itu sampai terjadi maka pasukan naga akan sangat membantu.


“Karena kau sudah mengampuni nyawa kami, maka sekarang hidup kami adalah milikmu,” ucap Nogo Sosro.


Tradisi seperti ini sebenarnya banyak ditemukan pada lelembut yang memiliki martabat besar. Ketika nyawa mereka diampuni, maka seluruh hak hidup mereka menjadi milik orang yang mengampuni.


“Tidak begitu paman, bagiku ini sudah selesai dan hubungan kita akan terjaga sebagai teman.” ucap Sungsang Geni.


“Geni...?” Nagini berusaha memotong, tapi ucapannya segera terhenti setelah pemuda itu tersenyum kecil ke arahnya.


“Hubungan teman akan lebih bertahan lama daripada hubungan apapun,” Sungsang Geni kemudian melayang ke udara di ikuti Pramudhita yang masih menatap Sancani, “Sampai bertemu lagi, di lain kesempatan dan dengan hal-hal yang lebih baik dari ini.”


“Paman! Berhentilah menatap wanita itu. Kau terlihat sangat memalukan.”

__ADS_1


“A'apa?” Pramudhita menggerutu tapi Sungsang Geni sudah terbang meninggalkannya.


Kasih like dan koment ter gerr gerr kalian...jika kalian suka baca novel ini, maka author suka baca koment kalian.


__ADS_2