PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Duri Dalam Daging


__ADS_3

“Kami masih baru dalam dunia persilatan,” ucap Saradah, gadis cantik yang mungkin berumur 23 tahun itu pertama kali berkata setelah keadaan cukup membaik, “Bukan niat saya menyinggung, tapi mendengar berita mengenai perguruan Lembah Ular, menunjukkan betapa bahayanya mereka.”


"Baiklah mari kita dengarkan bagai mana pandangan para pendekar sekaligus pembisnis!" ucap Darma Cokro.


"Ini hanya pandangan kami saja. Kelelawar Iblis adalah kelompok baru yang berumur 3 atau 4 tahun, dan berkembang lebih cepat dari perguruan manapun. Menurut kami, mereka tidaklah berjalan sendiri, ada pihak yang menyalurkan dana untuk mereka. Sebuah Kelompok tidak akan berjalan, jika tidak ada sumber daya yang mendukungnya, anggaplah koin emas."


"Jadi menurut kalian, ada orang lain yang menopang mereka?" tanya Sabdo Jagat.


"Benar! Tujuannya mungkin belum terbukti, tapi kami yakin untuk menguasai dunia." lanjut gadis itu, sejauh ini semua orang tampak antusias mendengar penjelasannya.


"Menjatuhkan Surasena!" sambung Darma Cokro.


"Jika bukan, lalu apa lagi? Dari puluhan tahun lalu, perperangan dipicu dengan ambisi yang sama, dan tidak pernah berubah. Saling menguasai satu sama lain."


"Lalu apa yang bisa kalian sarankan?" tanya Bangau Putih.


"Lawan mereka dengan cara yang sama! Kita buat aliansi, kita bentuk organisasi yang lebih baik dari mereka." ucap gadis itu meyakinkan, "Jika kita terpecah, maka kita akan kalah."


Seorang utusan dari perguruan Bambu Kuning mengangkat tangannya, “Sebenarnya kami tidak begitu paham, tapi bagaimana dengan kerajaan Surasena? Apakah mereka bisa mengizinkan kita membentuk organisasi di bawah wilayah kekuasaannya?”


Pertanyaan itu memang benar adanya, Surasena akan menganggap mereka sebagai pemberontak pada akhirnya.


“Masalah itu...! ucap Darma Guru, “Aku akan mengurusnya.”


“Harusnya mereka menerima kita dengan tangan terbuka,” sambung Saradah.


Keputusan telah di ambil, dan mereka akan membentuk sebuah aliansi pendekar, yang tergabung dari beberapa perguruan.


Organisasi ini juga berniat melibatkan seluruh kerajaan dan lapisan masyarakat, menyatukan sumber daya yang ada dan juga menyatukan tujuan yang sama. Semboyan dari dari organisasi ini adalah “melindungi.”

__ADS_1


Rapat pertama hari ini berjalan cukup baik, dan berhasil mendapatkan solusi dari masalah mereka. Masih ada beberapa kali lagi rapat, tapi rapat selanjutnya akan di adakan bersama dengan Surasena sebagai perwakilan dari seluruh kerajaan.


Hari ini 3 orang pendekar hebat dari Bukit Emas mendapat tugas dari Darma Cokro untuk memberitahukan prihal ini kepada Kerajaan Surasena.


“Jika mereka menolak lalu apa yang harus kami lakukan.” Ucap salah seorang dari utusan itu.


“Mereka tidak akan menolak, Surasena membutuhkan kita.” Ucap Darma Cokro, “Katakan pada mereka. Kelangsungan hidup kita tergantung dari rencana ini.”


***


Di sisi lain di lembah yang gelap, Kelompok Kelelawar Iblis sedang melakukan rapat paripurna. Kematian Banduwati merupakan pukulan besar bagi kelompok ini. Tidak pernah terduga, sebab rencana penaklukan Lembah Ular sudah dipikirkan matang dan sangat hati-hati.


Banduwati memegang peran hampir 50% dari total keseluruhan pasukan Kelelawar Iblis, itu karena kemampuan dirinya menggunakan susuk untuk menciptakan pasukan dari mayat hidup dalam jumlah besar. Tapi pasukan besar itu dihancurkan hanya satu malam saja, tidak lebih.


Tidak ada Komandan yang bisa mendapatkan pasukan secepat Banduwati, dan itu membuat pimpinan Kelelawar Iblis, Topeng Beracun sangat murka.


“Nampaknya Asura mendapatkan penyiksaan yang sangat berat, setelah dia gagal menjaga Banduwati.” Ucap Pendekar Pemabuk, setelah kejadian itu dia bahkan tidak bernafsu meminum arak di kendi labu miliknya.


“Tentu saja, jika bukan karena dia, mungkin Banduwati masih hidup saat ini.” Jawab Komandan pertama Kelelawar Iblis.


Tidak beberapa lama kemudian Topeng Beracun berjalan dari satu lorong panjang di ruangan itu, ketika pintu lorong terbuka, rintihan Asura masih terdengar di telinga komandan yang lainnya, dan ini membuat mereka menjadi takut.


Topeng Beracun duduk di singgasana, dia menatap semua wakil komandan dengan dingin. “Sekarang ini jika kalian melalaikan tugas seperti yang dilakukan Asura, maka kalian akan mendapatkan hukuman yang sama.”


Hukuman yang dimaksud dengan Topeng Beracun adalah menusuk 360 paku ke tubuh Asura. Dari tubuh itu akan mengalir deras darah dan membawa pada cawan perak besar, kemudian darah itu akan menjadi persembahan bagi dewa kegelapan.


“Yang Mulia Prabu, kita belum bisa melakukan pergerakan untuk menghancurkan beberapa kerajaan Kecil” ucap Pendekar Pemabuk memberanikan diri berkata, “Para pendekar aliran putih saat ini pasti sedang menyusun rencana setelah penyerangan yang kita lakukan di Lembah Ular.”


“Kita kehilangan setengah pasukan dengan kematian Banduwati.” Ucap Topeng Beracun geram dia masih mengingat perbuatan Asura, “Tidak ada yang bisa mendapatkan pasukan gratis seperti yang Banduwati lakukan, dan kesempatan untuk mendapatkan kekuatan dewi bulan juga hilang.”

__ADS_1


“Kami dengar bahwa seorang pemuda membantu mereka, itulah kenapa Banduwati dapat dikalahkan.” Sambung Komandan Pertama.


“Rencanamu untuk menghabisi seluruh keluarga Surasena juga gagal, sebaiknya kau diam.” Ucap Pendekar Pemabuk


Saat ini diantara Komandan hanya pendekar pemabuk yang pernah bertemu dengan Sungsang Geni secara langsung, meski belum pernah bertarung tapi pria pemabuk itu yakin kekuatannya menjadi perhitungan.


“Dia adalah musuh alami dari kekuatanku,” Topeng Beracun lalu untuk pertama kalinya membuka topeng yang selalu menutupi wajahnya, “Kekuatan dari dewa surya, benar-benar merepotkan.”


Semua komandan terpaku menatap wajah Topeng Beracun untuk pertama kalinya setelah 5 tahun kelompok ini di bentuk. Wajah seorang pemuda pucat yang mungkin berumur 25 tahunan, atau mungkin kurang.


Para Komandan memang pernah mengira-ngira seperti apa wajah pimpinan mereka, tapi tidak menduga jika dia masih sangat muda.


“Jika kau mengkhawatirkan pemuda itu maka kau salah besar, Putraku.” Tiba-tiba tiga orang masuk kedalam ruangan itu dengan tubuh tertutupi jubah hitam.


“Aku sudah memperingatkan dirimu sebelumnya! Jika kau ingin menciptakan sebuah kerajaan, maka kelompok yang kau bentuk sudah lebih dari cukup, tapi untuk menguasai dunia adalah perkara lain.” Salah satu dari ketiga itu melanjutkan.


Mendengar perkataan sosok itu membuat 5 komandan Kelelawar Iblis menjadi sangat terkejut, mereka tidak menduga ada orang lain yang mengetahui keberadaan tempat ini.


Dan lebih lagi, ketiga orang itu terlihat tidak menunjukkan rasa takut saat berhadapan dengan Topeng Beracun.


“Lalu apa yang harus aku lakukan Romo?” tanya Topeng Beracun kemudian memberi hormat.


Romo? kelima komandan hampir tersedak napas mereka sendiri, mengetahui pimpinan mereka menyebut salah satu dari orang tertutup jubah sebagai orang tuanya.


“Undang seluruh pendekar aliran hitam untuk bergabung, berikan apapun yang mereka mau, harta, minuman dan juga wanita.” Ucap Pria yang dipanggil sebagai Romo, “mereka menyukai semua itu, jangan khawatir mengenai biaya, aku telah memiliki rencana lain. Sekarang tugasmu jalankan perintahku sebaik mungkin bersama dengan pasukanmu, dan suatu saat nanti aku akan membuatmu menjadi raja di dunia ini.”


Setelah mengatakan demikian ketiga orang itu membuka kerudung yang menutupi tubuh mereka, Pendekar Pemabuk adalah orang pertama yang paling terkejut. Dia mengenal mereka semua, tidak ada satupun yang menyangka mereka adalah bagian, bukan bagian tapi lebih ke pensuplai Kelompok Ini.


“Mereka adalah para raja! Ternyata Surasena memiliki duri didalam daging.”

__ADS_1


__ADS_2