
“Nyai bidara sadarlah!” Miksan Jaya menjadi panik
mendapati Nyai Bidara yang mulai kejang.
Sungsang Geni segera
berlari mendekati Nyai Bidara, “Dudukan dia!” Printah Sungsang Geni.
Kemudian Sungsang Geni
meletakan telapak tangannya dibelakang tubuh Nyai Bidara, cahaya kemerahan
mulai keluar dari telapak tangan Sungsang Geni dan masuk kedalam tubuh wanita
itu.
Uhuk. Nyai Bidara
memuntahkan racun berbentuk bulat hitam yang dibalut dengan darah, ketika menyentuh
lantai, racun itu mengeluarkan asap dan aroma busuk lalu mencair.
“Racun Kalajengking
Perak,” ucap Mahesa, dia nampak terkejut mendapati racun yang keluar dari mulut Nyai
Bidara. “Jadi orang itu masih hidup.”
“Siapa yang kau
maksud?” tanya Sungsang Geni, Mahesa membisikan beberapa kata, yang membuat
wajah Sungsang Geni menjadi merah.
“Tuan apakah Nyai
Bidara dapat diselamatkan?” Miksan Jaya bertanya, wajahnya masih seputih kapas
karerna takut.
“Aku telah mengeluarkan
sebagaian racunya, tapi luka dalam akibat racun sangat parah.” Sungsang Geni
kemudian menggelengkan kepalanya, “untuk mengeluarkan seluruh racun itu, kita harus
mencari seorang Tabib.”
“Bibi pelayan, adakah
tabib didekat sini?” Mahesa menghampiri pelayan yang masih bersembunyi dibalik
meja.
“Ada tuan, rumahnya
berada di sisi barat yang letakanya paling ujung.” Pelayan itu menunjuk kerah
barat, “Tapi orangnya sedikit gila tuan.”
“Tidak masalah jika
gila, asalkan dia mampu mengobati Nyai
Bidara.” Ucap Sungsang Geni.
“Dia pasti bisa tuan,
meski sedikit gila tapi obatnya sangat mujarab.”
“Kita harus segera
kesana!” printah Sungsang Geni.
Mahsea segera membopong
Nyai Bidara, dia sedikit terkejut merasakan tubuh Nyai Bidara sedingin es.
Beberapa saat kemudain,
mereka tiba di rumah yang dimaksud. Rumah itu tidak menunjukan pemiliknya
seorang tabib, rumput tumbuh tinggi hampir disetiap sudut halaman, dan daun
berhamburan diteras rumah.
Sungsang Geni mengetuk
rumah itu dengan ragu, “Tuan Tabib, adakah dirimu didalam?”
Setelah beberapa kali
Sungsang Geni mengetuk pintu, akhirnya sang tabib menunjukan batang hidungnya.
Rupanya dia memiliki
tubuh yang pendek dan sedikit gendut, dia menatap Sungsang Geni seperti orang
idiot.
“Aku adalah tabib
__ADS_1
dirumah ini?” pria itu membuka setengah pintu, lalu meraba kening Sungsang
Geni, “Kau sangat sehat, pulanglah!”
“Tunggu!” Sungsang Geni
mencegah tabib itu menutup pintu, “Bukan aku, tapi wanita ini.”
Tabib itu kemudian memperhatikan wajah Nyai Bidara,
“Bawa dia masuk sekarang, nyawanya dalam keadaan kritis!”
Mahesa bergegas masuk
lalu meletakan tubuh Nyai Bidara ditempat pembaringan, sementara tabib idiot
sedang sibuk meracik obat, terkadang dia menumpahkan beberapa ramuan yang dia
simpan, lalu mengumpat dan memaki tangannya sendiri.
“Pangeran Miksan Jaya!
Nyai Bidara adalah pendekar tanpa tanding, lalu siapa yang mampu
mengalahknnya?” Sungsang Geni mulai bertanya dengan serius, “Apa mereka menggunakan
kecuranga, atau trik lainnya. Melihat racun itu, kami tau orangnya tidak begitu
kuat.”
“Yang tuan katakan ada
benarnya, dan juga ada salahnya.”Miksan Jaya, menutup matanya mencoba
menenangkan hatinya. “Racun itu, dan orang yang mengalahkan Nyai Bidara bukanlah
orang yang sama.”
“Maksud pangeran, Nyai
Bidara menghadapi dua orang sekaligus?” Sungsang Geni mulai menerka sitauasi
yang Nyai Bidara hadapi sebelumnya.
“Tidak, dia tidak
menghadapi sekaligus. Orang yang menggunakan racun menyerang satu hari setelah orang hebat itu menyerang kami.”
“Orang itu? Siapa dia?
Pangeran Miksan Jaya beribicaralah yang jelas, kau terlalu berbelit-belit?”
Melihat Mahesa yang
mualai tidak sabar, Sungsang Geni menepuk pundak Mahesa, kemudian mengelengkan
kepalanya.
“Komandan ke 3 kelompok
Kelelawar Iblis...” ucap Miksan Jaya pelan, seakan enggan menyebutnya, “Dia
dujuluki iblis kematian, Asura.”
Mahesa terkejut
mendengarnya, hampir-hampir dia tersedak dengan napasnya sendiri. Dia mulai
terbayang kisah silam mengenai nama itu, hanya dengan satu serangan, tidak
lebih, Iblis Kematian Asura meletakan
telunjuknya di dada guru sekaligus
Ayahnya, lalu terjadi hal yang tidak ingin dilihat oleh seorang anakpun didunia
ini.
“Apa kau mengenal nama
itu Mahesa?” tanya Sungsang Geni,”Wajahmu terlihat sangat tegang?”
“Aku menganalnya, dialah
orang yang telah mengalahkanku, sekaligus membantai seluruh perguruan tapak
bayangan.” Mahesa menjawab dengan nada bergetar.
Sungsang Geni terkejut
mendengar pernyataan yang dikemukakan oleh Mahesa.
“Ternyata ada banyak
orang jahat yang sangat kuat didunia ini?” ucap Sungsang Geni geram ,kemudian
dia melirik tangan kanannya, ‘apakah berkah matahari dapat mengalahkan mereka?’
“Dia berada dilevel
__ADS_1
yang berbeda dengan pendekar Tanpa Tanding, Sungsang Geni.” Mahesa menatap
Sungsang Geni dengan tajam, seolah olah berusaha membuka kebenaran mengenai
situasi saat ini. “Mereka yang memiliki kekuatan yang mustahil dikalahkan,
dijuluki pendekar iblis.”
Sungsang Geni terdiam
cukup lama, keningnya mengernyit, lima jari tangan kirinya menopang kepala,
sekekali dia memijat kepalanya itu.
‘Jika demikian,
kemungkinan besar seluruh Komandan Kelelawar Iblis berada di level Pendekar
Iblis, satu tingkat diatas pendekar tanpa tanding.’ batin Sungsang Geni
bergumam, ‘Lalu seperti apa kekuatan Pimpinannya?’
“Katakan bagaimana
ceritanya Nyai Bidara terkena racun kalajengking perak?” Sungsang Geni kembali
melirik kearah Miksan Jaya.
“Ke-esokan harinya,
kami bertemu dengan para bandit, meski dalam keadaan terluka parah Nyai Bidara
masih dapat melawannya hingga seseorang menyerangnya dengan racun Kalajengking
perak. Namun...” Miksan Jaya menghentikan ucapannya.
“Namun, apa?” sekali lagi Mahesa
membentak Miksan Jaya, membuat pria itu semakin ketakutan.
“Nyai Bidara mengetahui
pimpinan mereka adalah Senopati Karang Dalo, prajurit yang berasal dari
kerajaan Tombok Tebing.” Jawab Miksan Jaya.
“Karena itulah kalian
diburu sampai ketempat ini?” tanya Sungsang Geni.
“Benar tuan.”
‘Bisa jadi surat
lamaran memang ditujukan keseluruh kerajaan yang dikuasasi Surasena, namun
karena mungkin akan ada persaingan, Senopati Karang Dalo berusaha membunuh
semua Pangeran Mahkota kerajaan lainnya, agar Putra Mahkota kerajaan Tombok
Tebing menjadi satu-satunya yang berhak menikahi putri kerajaan Surasena.’
Sekarang Pikiran Sungsang Geni mulai
Melayang.
Saat Sungsang Geni
memikirkan masalah itu, tiba-tiba sang tabib berteriak keras. “Kalian semua! apa
yang kalian lakukan cepat temani aku mencari obat untuk wanita ini?” Sang Tabib
kemudian mengupat lalu memaki mereka semua.
“Aku akan menemani
tabib ini?” ucap Sungsang Geni kemudian dia menepuk pundak Mahesa, “Kau
tunggulah disini, jika dalam sehari ini aku tidak kembali kau segera beri tahu
Pangeran Dewangga, dan lanjutkan perjalanan tanpa aku, aku akan menyusul
nanti!”
“Apa kau yakin, teman?”
Mahesa bekata ragu, “Aku bisa saja membantumu jika kau menemui masalah.”
“Tidak! Pangeran
Dewangga mungkin juga sedang diincar, sebelumnya kami telah berhadapan dengaan
seorang pendekar tanpa tanding. Mungkin itu juga adalah suruhan Karang Dalo.”
Sungsang Geni menjelaskan, kemudian mengambil pedangnya yang tersandar dimeja.
Mendengar ucapan
Sungsang Geni, Mahesa hanya mengangguk tanda setuju.
“Apa yang kalian
__ADS_1
bicarakan, cepat ikut aku mencari obatnya! atau temanmu akan tewas.” Tabib
kembali memaki semua orang disana.