PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Iblis Kematian Asura


__ADS_3

“Nyai bidara sadarlah!” Miksan Jaya menjadi panik


mendapati Nyai Bidara yang mulai kejang.


Sungsang Geni segera


berlari mendekati Nyai Bidara, “Dudukan dia!” Printah Sungsang Geni.


Kemudian Sungsang Geni


meletakan telapak tangannya dibelakang tubuh Nyai Bidara, cahaya kemerahan


mulai keluar dari telapak tangan Sungsang Geni dan masuk kedalam tubuh wanita


itu.


Uhuk. Nyai Bidara


memuntahkan racun berbentuk bulat hitam yang dibalut dengan darah, ketika menyentuh


lantai, racun itu mengeluarkan asap dan aroma busuk lalu mencair.


“Racun Kalajengking


Perak,” ucap Mahesa, dia nampak terkejut mendapati racun yang keluar dari mulut Nyai


Bidara. “Jadi orang itu masih hidup.”


“Siapa yang kau


maksud?” tanya Sungsang Geni, Mahesa membisikan beberapa kata, yang membuat


wajah Sungsang Geni menjadi merah.


“Tuan apakah Nyai


Bidara dapat diselamatkan?” Miksan Jaya bertanya, wajahnya masih seputih kapas


karerna takut.


“Aku telah mengeluarkan


sebagaian racunya, tapi luka dalam akibat racun sangat parah.” Sungsang Geni


kemudian menggelengkan kepalanya, “untuk mengeluarkan seluruh racun itu, kita harus


mencari  seorang Tabib.”


“Bibi pelayan, adakah


tabib didekat sini?” Mahesa menghampiri pelayan yang masih bersembunyi dibalik


meja.


“Ada tuan, rumahnya


berada di sisi barat yang letakanya paling ujung.” Pelayan itu menunjuk kerah


barat, “Tapi orangnya sedikit gila tuan.”


“Tidak masalah jika


gila, asalkan  dia mampu mengobati Nyai


Bidara.” Ucap Sungsang Geni.


“Dia pasti bisa tuan,


meski sedikit gila tapi obatnya sangat mujarab.”


“Kita harus segera


kesana!”  printah Sungsang Geni.


Mahsea segera membopong


Nyai Bidara, dia sedikit terkejut merasakan tubuh Nyai Bidara sedingin es.


Beberapa saat kemudain,


mereka tiba di rumah yang dimaksud. Rumah itu tidak menunjukan pemiliknya


seorang tabib, rumput tumbuh tinggi hampir disetiap sudut halaman, dan daun


berhamburan diteras rumah.


Sungsang Geni mengetuk


rumah itu dengan ragu, “Tuan Tabib, adakah dirimu didalam?”


Setelah beberapa kali


Sungsang Geni mengetuk pintu, akhirnya sang tabib menunjukan batang hidungnya.


Rupanya dia memiliki


tubuh yang pendek dan sedikit gendut, dia menatap Sungsang Geni seperti orang


idiot.


“Aku adalah tabib

__ADS_1


dirumah ini?” pria itu membuka setengah pintu, lalu meraba kening Sungsang


Geni, “Kau sangat sehat, pulanglah!”


“Tunggu!” Sungsang Geni


mencegah tabib itu menutup pintu, “Bukan aku, tapi wanita ini.”


 


Tabib itu kemudian memperhatikan wajah Nyai Bidara,


“Bawa dia masuk sekarang, nyawanya dalam keadaan kritis!”


Mahesa bergegas masuk


lalu meletakan tubuh Nyai Bidara ditempat pembaringan, sementara tabib idiot


sedang sibuk meracik obat, terkadang dia menumpahkan beberapa ramuan yang dia


simpan, lalu mengumpat dan memaki tangannya sendiri.


“Pangeran Miksan Jaya!


Nyai Bidara adalah pendekar tanpa tanding, lalu siapa yang mampu


mengalahknnya?” Sungsang Geni mulai bertanya dengan serius, “Apa mereka menggunakan


kecuranga, atau trik lainnya. Melihat racun itu, kami tau orangnya tidak begitu


kuat.”


“Yang tuan katakan ada


benarnya, dan juga ada salahnya.”Miksan Jaya, menutup matanya mencoba


menenangkan hatinya. “Racun itu, dan orang yang mengalahkan Nyai Bidara bukanlah


orang yang sama.”


“Maksud pangeran, Nyai


Bidara menghadapi dua orang sekaligus?” Sungsang Geni mulai menerka sitauasi


yang Nyai Bidara hadapi sebelumnya.


“Tidak, dia tidak


menghadapi sekaligus. Orang yang menggunakan racun menyerang satu hari  setelah orang hebat itu menyerang kami.”


“Orang itu? Siapa dia?


Pangeran Miksan Jaya beribicaralah yang jelas, kau terlalu berbelit-belit?”


Melihat Mahesa yang


mualai tidak sabar, Sungsang Geni menepuk pundak Mahesa, kemudian mengelengkan


kepalanya.


“Komandan ke 3 kelompok


Kelelawar Iblis...” ucap Miksan Jaya pelan, seakan enggan menyebutnya, “Dia


dujuluki iblis kematian, Asura.”


Mahesa terkejut


mendengarnya, hampir-hampir dia tersedak dengan napasnya sendiri. Dia mulai


terbayang kisah silam mengenai nama itu, hanya dengan satu serangan, tidak


lebih, Iblis Kematian Asura  meletakan


telunjuknya di dada  guru sekaligus


Ayahnya, lalu terjadi hal yang tidak ingin dilihat oleh seorang anakpun didunia


ini.


“Apa kau mengenal nama


itu Mahesa?” tanya Sungsang Geni,”Wajahmu terlihat sangat tegang?”


“Aku menganalnya, dialah


orang yang telah mengalahkanku, sekaligus membantai seluruh perguruan tapak


bayangan.” Mahesa menjawab dengan nada bergetar.


Sungsang Geni terkejut


mendengar pernyataan yang dikemukakan oleh Mahesa.


“Ternyata ada banyak


orang jahat yang sangat kuat didunia ini?” ucap Sungsang Geni geram ,kemudian


dia melirik tangan kanannya, ‘apakah berkah matahari dapat mengalahkan mereka?’


“Dia berada dilevel

__ADS_1


yang berbeda dengan pendekar Tanpa Tanding, Sungsang Geni.” Mahesa menatap


Sungsang Geni dengan tajam, seolah olah berusaha membuka kebenaran mengenai


situasi saat ini. “Mereka yang memiliki kekuatan yang mustahil dikalahkan,


dijuluki pendekar iblis.”


Sungsang Geni terdiam


cukup lama, keningnya mengernyit, lima jari tangan kirinya menopang kepala,


sekekali dia memijat kepalanya itu.


‘Jika demikian,


kemungkinan besar seluruh Komandan Kelelawar Iblis berada di level Pendekar


Iblis, satu tingkat diatas pendekar tanpa tanding.’ batin Sungsang Geni


bergumam, ‘Lalu seperti apa kekuatan Pimpinannya?’


“Katakan bagaimana


ceritanya Nyai Bidara terkena racun kalajengking perak?” Sungsang Geni kembali


melirik kearah Miksan Jaya.


“Ke-esokan harinya,


kami bertemu dengan para bandit, meski dalam keadaan terluka parah Nyai Bidara


masih dapat melawannya hingga seseorang menyerangnya dengan racun Kalajengking


perak. Namun...” Miksan Jaya menghentikan ucapannya.


“Namun, apa?” sekali lagi Mahesa


membentak Miksan Jaya, membuat pria itu semakin ketakutan.


“Nyai Bidara mengetahui


pimpinan mereka adalah Senopati Karang Dalo, prajurit yang berasal dari


kerajaan Tombok Tebing.” Jawab Miksan Jaya.


“Karena itulah kalian


diburu sampai ketempat ini?” tanya Sungsang Geni.


“Benar tuan.”


‘Bisa jadi surat


lamaran memang ditujukan keseluruh kerajaan yang dikuasasi Surasena, namun


karena mungkin akan ada persaingan, Senopati Karang Dalo berusaha membunuh


semua Pangeran Mahkota kerajaan lainnya, agar Putra Mahkota kerajaan Tombok


Tebing menjadi satu-satunya yang berhak menikahi putri kerajaan Surasena.’


Sekarang Pikiran Sungsang  Geni mulai


Melayang.


Saat Sungsang Geni


memikirkan masalah itu, tiba-tiba sang tabib berteriak keras. “Kalian semua! apa


yang kalian lakukan cepat temani aku mencari obat untuk wanita ini?” Sang Tabib


kemudian mengupat lalu memaki mereka semua.


“Aku akan menemani


tabib ini?” ucap Sungsang Geni kemudian dia menepuk pundak Mahesa, “Kau


tunggulah disini, jika dalam sehari ini aku tidak kembali kau segera beri tahu


Pangeran Dewangga, dan lanjutkan perjalanan tanpa aku, aku akan menyusul


nanti!”


“Apa kau yakin, teman?”


Mahesa bekata ragu, “Aku bisa saja membantumu jika kau menemui masalah.”


“Tidak! Pangeran


Dewangga mungkin juga sedang diincar, sebelumnya kami telah berhadapan dengaan


seorang pendekar tanpa tanding. Mungkin itu juga adalah suruhan Karang Dalo.”


Sungsang Geni menjelaskan, kemudian mengambil pedangnya yang tersandar dimeja.


Mendengar ucapan


Sungsang Geni, Mahesa hanya mengangguk tanda setuju.


“Apa yang kalian

__ADS_1


bicarakan, cepat ikut aku mencari obatnya! atau temanmu akan tewas.” Tabib


kembali memaki semua orang disana.


__ADS_2