
Satu hari setelahnya, bubuk setan yang dijanjikan Empu Pelak kepada Sungsang Geni sudah jadi. Bubuk itu berwarna hitam, tidak berbau bangkai seperti sebelumnya dan yang pasti Sungsang Geni dilarang mendekati benda itu.
“Lengan apimu bisa memicu percikan, bubuk ini akan meledak dan membuat kita mati.” Ucap Empu Pelak.
Sungsang Geni tidak membantah, dia cukup paham dengan perkataan itu. Tapi sekarang dia sangat penasaran dengan hasil yang diperoleh setelah berusaha payah membuat benda itu.
Ada 5 tong besar bubuk setan saat ini, Sungsang Geni hanya diperbolehkan melihatnya dari jauh. Berwarna hitam dan memang berbentuk bubuk, Sungsang Geni belum pernah melihat bubuk seperti ini sebelumnya.
Empu Pelak mengambil bubuk setan yang telah dibungkus dengan 5 daun pandan lebar, ada sumbu yang terpasang pada benda itu. Jika dilihat sekali lintas benda itu tidak berbahaya, bahkan terlihat seperti benda tak berharga.
“Geni, mari kita tunjukan hasilnya kepada mereka yang tidak mempercayai diriku.” Ucap Empu Pelak, dia kemudian melihat bawahannya, “Ini akan menjadi pelajaran untuk kalian, tetaplah bekerja dan buat busur sebanyak mungkin!”
Sungsang Geni setuju, mereka berdua akhirnya mendatangi para pendekar Lembah Ular yang sedang berlatih tanding. Jika dipikirkan, perang mungkin akan terjadi besok lusa.
Tidak jauh dengan Lembah Ular, Kelompok Kelelewar Iblis pasti sedang menyusun rencana dan memulihkan diri. Sungsang Geni cukup yakin dengan pemikiran itu.
“Lihatlah Empu Pelak akan menunjukkan benda yang dia buat dari kotoran manusia!” seorang Pendekar menggunjing.
“Hahaha. Apa? Dibungkus dengan daun, apa dia membuatnya menjadi kue untuk dipersembahkan kepada musuh kita besok. Kemudian mereka mati keracunan. Rencana yang konyol.” Mereka kemudian tertawa terbahak-bahak.
Sungsang Geni hanya terdiam kesal, itu adalah sifat yang paling dibenci oleh pemuda itu. Dia berharap senjata yang diciptakan Empu Pelak berhasil membungkam mulut mereka, dan menjadikannya pelajaran.
“Baiklah, kalian mungkin sedang menghina dari kemarin hingga sekarang, berpikiran aku sedang gila. Tapi hari ini akan aku tunjukkan karya yang terhebat sepanjang sejarah.” Empu Pelak lalu mengikat bungkusan bubuk setan pada mata panah.
“Sebelum itu, aku ingin kau!” Empu Pelak menunjuk Siko Danur Jaya, “Serang pohon di sana dengan kekuatanmu, aku ingin menguji benda ini apakah mampu membungkam mulutmu.”
__ADS_1
Siko Danur Jaya menjadi geram karena perkataan itu, dia tidak terima direndahkan seperti ini di depan para pendekar lainnya. Bagaimanapun, dia adalah pemuda terhebat di Lembah Ular saat ini.
Siko Danur Jaya menghimpun tenaga dalam dengan jumlah besar pada jarum di tangannya, kemudian melepaskannya dan membuat ledakan cukup besar, membuat pohon berlubang sebesar betis akibat tenaga dalamnya.
“Bagimana? sekarang giliranmu empu gila.” Ucap Siko Danur Jaya tersenyum dengan bangga.
Empu Pelak tersenyum kecil, kemudian menoleh kearah Sungsang Geni, “Bolehkah aku meminta percikan apimu?”
“Tentu saja!” ucap Sungsang Geni, kemudian membakar sumbu yang tertanam pada bungkusan bubuk setan.
“Sekarang aku persembahkan kepada kalian, senjata masa depanku.” Ucap Empu Pelak tapi dibalas tawa para pendekar disana, “Sial, kenapa apinya mati. Geni tolong nyalakan lagi!”
Setelah Sumbu terbakar, menciptakan percikan api, Empu Pelak melepas busur panahnya. Dan seketika anak panah melesat dan menacap pada pohon gersang di sebelah pohon Siko Danur Jaya yang berlubang besar.
Ledakan besar terjadi seketika, mengejutkan siapapun orang di sana, dan jika ada binatang yang lewat pasti akan berlari tunggang langgang saking terkejutnya.
Pohon besar tumbang dengan api yang membara, semua mata nyaris keluar dari kelopaknya. Dan Empu Pelak menjadi pemenang dari gunjingan semua orang disana. “Inilah bubuk setan yang aku bicarakan!”
Sungsang Geni nyaris tidak percaya, kekuatan itu bahkan setara dengan puncak pendekar pilih tanding. Nampaknya konsep tenaga dalam akan dipatahkan oleh Empu Pelak, dan tentu saja semua orang akan menjadi hebat dengan benda itu.
Semua orang yang sedang melakukan meditasi segera berhambur keluar, mengira Kelelawar Iblis telah datang menyerang. Sabdo Jagat terlihat paling panik diantara orang-orang hebat itu.
“Ledakan apa itu,?” dia berteriak.
***
__ADS_1
Empu Pelak melanjutkan rencananya, bubuk setan telah jadi tapi dia masih membuat sesuatu dengan 8 roda besar. Dia akan membuat kereta dorong yang mengangkut puluhan anak panah yang membawa bubuk setan.
Kereta dorong itu cukup besar, butuh dua orang untuk mendorongnya. Tapi benda itu bisa melepaskan 50 panah dengan bubuk setan dalam sekali serang. Jangkauannya memang tidak terlalu jauh, hanya 200 meter jika berada di dataran, tapi jangkauan itu sudah lebih dari cukup untuk membumi hanguskan Kelelawar Iblis.
Empu Pelak membuatnya 4 buah, dan dia menamainya kereta iblis. Kelemahannya adalah cukup lama dalam mengisi anak panah kedalam lubang selongsong, tapi kelemahan itu bisa diatasi dengan menembakkan panah secara bergantian.
Mereka membawa kereta dengan sangat hati-hati menuju antara Lembah Ular dan Kelelawar Iblis. Sungsang Geni akan menyerang mereka besok malam, memang tenaga dalam mereka besok belum terkumpul sepenuhnya, tapi nampaknya begitu juga dengan Kelelawar Iblis.
Sungsang Geni telah menyusun beberapa strategi, pada kertas besar di atas meja bambu saat ini. Semua orang sedang memperhatikan dengan seksama, termasuk Sabdo Jagat yang telah selesai dari meditasi.
Ada beberapa titik yang harus diperhatikan, Sungsang Geni beserta Cempaka Ayu, Rati Perindu dan Siko Danur Jaya akan menyerang di bagian sisi kiri Kelelawar Iblis.
Sabdo Jagat beserta Guru Gentar Bumi dan 10 orang muridnya akan menghancurkan sebelah kanan Kelompok Kelelawar Iblis.
Sedangkan Empu Pelak beserta Guru Jelatang Biru akan melawan dari depan dengan panah yang membawa bahan peledak, bubuk setan.
Dan terakhir, Guru Tiraka dan pasukan pemanah akan berjaga di hutan, jumlahnya hanya 20 orang tapi lebih dari cukup untuk membunuh sisa-sisa kelompok yang melarikan diri.
Setelah dia selesai menulis beberapa rencana, Sungsang Geni berdiri seketika lalu menatap semua orang di sana dengan tajam.
“Jika kalian ingin berdoa, berdoalah hari ini. Karena besok kalian akan mengambil Negri kalian kembali, besok kalian akan mengambil apa yang telah mereka ambil dari kalian, nyawa keluarga harta. Balaskan semuanya pada perang besok malam. Dan jika kalian mati, maka matilah dengan bangga, katakan pada nenek moyang kalian. 'kami mati dalam pertempuran, kami mati karena mengambil kembali negri kita.”
Semua orang yang mendengar, bergetar seluruh jiwanya. Beberapa orang yang sedikit takut tiba-tiba memiliki keberanian untuk berjuang. Dan tentu saja meski hanya sekedar ceramah pendek, apa yang dikatakan oleh Sungsang Geni semuanya benar.
“Kalian dengar!” Sabdo Jagat berteriak, “Berikan nyawa kita, berikan pedang kita, berikan panah kita untuk pertempuran besok. Dan jika mati, maka matilah dengan bangga.”
__ADS_1