PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Tamat


__ADS_3

Pramudhita tidak menduga jika sahabatnya telah gugur. Di pinggir taman di laut dalam, Pramudhita kehilangan muka untuk bertemu dengan Panglima Ireng, Wulandari bahkan Cempaka Ayu.


“Jika saja aku cukup kuat...”


Sancani segera memeluk tubuh Pramudhita kemudian berkata pelan. “Ini semua sudah menjadi suratan takdir, jangan terlalu menyalahkan dirimu.”


20 hari kemudian, kedatangan Wira Mangkubumi di Istana Swarnadwipa membuat se isi Istana gembira sekaligus bersedih. Kabar mengenai Sungsang Geni telah gugur membuat pukulan keras bagi sang ibunda, Rindang Sari.


Wanita tua itu terpaksa jatuh pingsan setelah tidak kuasa menahan haru yang teramat dalam. Tentu saja, bagi ibu yang mana yang tidak sedih mendapati bahwa putrnya telah gugur. Bahkan pertemuan Rindang Sari begitu singkat.


Sebagai ibu, dia tidak sempat membelai rambut putrnya, tidak sempat menyuapi dia ketika masih kecil bahkan tidak sempat melihatnya tumbuh menjadi pemuda perkasa. Dan hari ini, berita mengenai kematian sang putra meberikan tamparan keras di dalam relung jiwanya.


"Istriku, bertahanlah!” Saylendra memerintahkan seluruh pelayan membawa Rindang Sari, sementara dia hampir pula jatuh pingsan.


“Suamiku, apa benar yang kau katakan itu?” Windur Hati bertanya seolah tidak percaya.


“Tentu saja...” Wira Mangkubumi segera memeluk tubuh istrinya yang sekarang terisak-isak menahan tangis. Bahkan putra mereka berdua, menangis keras, seolah tahu jika Pamannya tidak akan kembali lagi ke Swarnadwipa.


***


Ini sudah lima tahun berlalu. Surasena mulai kembali berbenah diri, menciptakan struktur negara yang baru dan kembali meningkatkan pertahanan untuk berjaga-jaga jika saja musuh menyerang.


Bersama dengan Swarnadwipa, pada akhirnya Surasena berhasil menaklukkan Negri Sembilan dan menghukum kepala negrinya. Rakyat mulai merasa tentram saat ini, meski bangunan kerajaan belum semegah sebelumnya tapi saat ini semua orang sudah memiliki tempat tinggal.


Ini adalah hari pernikahan Cempaka Ayu. Setelah lima tahun lamanya, pada akhirnya gadis itu membuka hati untuk seorang pemuda dan melangsungkan pernikahan di tengah halaman Istana Surasena. Dia adalah Dirga. Tidak ada yang menduga jika pemuda itu jatuh hati kepada Cempaka Ayu.


Begitu rumit perasaan Cempaka Ayu, pada akhirnya mau menerima pinangan Dirga. 'Hatiku masih milik Sungsang Geni, dan tidak akan pernah berubah.' Perkataan Cempaka Ayu tampaknya tidak melunturkan niat Dirga untuk meminangnya.


Semua orang terlihat sangat bersuka cita, taburan bunga-bunga mengiringi pesta pernikahan dua orang itu.


Sekar Arum, putri Sabdo Jagat terlihat lebih dewasa dari lima tahun yang lalu. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik lagi cerdas.


'Akan kutulis sebuah buku tentang pemuda hebat yang membawa kebahagiaan di negri ini.' ucap Sekar Arum setelah mengetahui kematian Sungsang Geni.


Di sana terlihat beberapa orang telah berpasang-pasangan. Benggala Cokro bersama dengan Cawang Wulan berpegangan tangan sambil memberikan taburan bunga warna-warni. Sementara itu, Mahesa dan Rerintih lebih artistik dengan memakai pakaian paling mencolok dengan perpaduan warna merah dan kuning.


Mahesa sekarang telah ditunjuk menjadi Mahapati Mangkubumi, menggantikan posisi Sungsang Geni. Pria itu telah melangsungkan pernikahan dua tahun yang lalu.


Tepat di tengah halaman Istana Surasena, sebuah patung tinggi berdiri kemudian beberapa patung yang terlihat lebih rendah berada di belakangnya. Hanya dalam sekali lirik saja, semua orang tahu jika itu adalah patung Sungsang Geni.

__ADS_1


Bagi Surasena, empat patung yang berdiri disana melambangkan kekuatan dan juga harapan. Mereka adalah pahlawan-pahlawan tangguh yang berjuang demi kesejahteraan semua orang.


Patung itu adalah, Bangau Putih, Darma Cokro, Darma Guru dan tentu Sungsang Geni.


Seorang gadis berdiri bersama dengan Srigala Hitam besar tepat di kaki patung Sungsang Geni, Wulandari. Wajah gadis itu begitu cantik, tapi hanya mengenakan pakaian sederhana yang tidak terlalu mencolok.


Ini adalah hari terakhirnya berada di Istana Surasena setelah semua orang pejuang di angkat menjadi keluarga bangsawan oleh Lakuning Banyu. Gadis itu ingin hidup jauh dari kata harta dan benda. Dia ingin menjadi gadis kampung biasa, yang hidup di pinggri desa. Ternak domba dan juga menanam bunga mungkin akan menjadi jalan hidupnya.


Setelah acara pernikahan itu selesai, Cempaka Ayu mendekati Wulandari bersama dengan yang lainnya. “Apa kau yakin akan pergi?” tanya Cempaka Ayu.


“Ya, tempat ini tidak cocok untukku.” Wulandari tersenyum kecil, memeluk tubuh Cempaka Ayu dengan erat. “Semoga kalian bahagia...”


Gadis itu pergi menaiki punggung Panglima Ireng dan lenyap di gerbang Istana yang terbuka lebar. Sebenamya tidak ada tujuan pasti bagi gadis itu, meninggalkan Istana Surasena mungkin keputusan bodoh tapi baginya tidak masalah.


Dia sebenarnya telah menjadi gadis sebatang kara, ayahnya telah mati, gurupun telah tewas dan Sungsang Geni yang diharapkannya menjadi pelindung telah gugur di medan pertempuran. Satu-satunya yang dimiliki gadis itu adalah Panglima Ireng dan pedang hijau kenang-kenangan dari gurunya.


Setelah berhari-hari berjalan jauh, gadis itu menemukan tempat yang dianggapnya sangat cocok. Sebuah dataran luas yang berad di pinggir laut hijau yang indah. Hanya saja sedikit aneh adalah, ada banyak bunga bermekaran di dataran itu. Bunga warna-warni yang terlihat sangat terawat sekali.


Tepat di tengah dataran, ada sebuah rumah cantik yang berdiri berdekatan dengan sebatang pohon besar yang berdaun kecil.


“Bangunan itu begitu terawat, apakah tempat ini ada empunya?” tanya Wulandari.


Gadis itu berjalan perlahan mendekati rumah dengan dinding kayu itu, cukup besar dan luas setelah diperhatikan dari dekat. Bentuknya seperti rumah panggung, dengan teras luas tempat istirahat.


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng hampir menangkap belasan kelinci yang berlarian di sekitar bangunan tersebut.


“Husst...” ucap Wulandari meletakkan jari telunjuknya di bibir. “Jangan mengusik mereka.”


Panglima Ireng dengan berat hati menghentikan niatnya untuk menyantap semua kelinci tersebut.


“Adakah orang didalam?” tanya Wulandari. “Permisi, apakah ada orang didalam?”


Tidak ada sahutan terdengar dari dalam rumah yang pintunya terbuka lebar, hanya saja dari dalam rumah itu asap putih mengepul tanda seseorang mungkin sedang masak.


Wulandari berniat untuk masuk kedalam rumah, tapi niat gadis itu segera urung karena takut terlalu lancang. Pada akhirnya gadis itu berjalan ke sisi ujung dataran yang menghadap pada laut biru.


Sebatang pohon rindang tumbuh di pinggir dataran tersebut.


“Benar-benar tempat yang nyaman,” ucap Wulandari, merebahkan tubuhnya pada salah satu akar besar dan duduk berselonjor. “Kita akan istirahat sebentar di tempat ini, mungkin pemiliknya bisa membantu kita, apa kau setuju Ireng?” tanya Wulandari. “Ireng? Ireng?”

__ADS_1


Gadis itu tidak sadar Panglima Ireng telah pergi diantara bunga-bunga tinggi, Wulandari segera bergegas mencari srigala itu, takut jika dia mengincar belasan domba yang ada di dalam kandang.


“Ireng, kemana kau pergi?” Wulandari mendesah berat, tidak ada tanda-tanda sahabatnya memakan domba atau pula menerkam kelinci, itu berarti Panglima Ireng pergi ke suatu tempat. “Ireng? Apa kau...?”


Wulandari kembali bergegas menuju pinggir dataran yang menjorok ke laut, khawatir jika Panglima Ireng telah jatuh.


“Ireng? Ireng?!”


“Dia baik-baik saja...” terdengar suara serak di belakang Wulandari.


Jantung Wulandari tiba-tiba berdetak cepat, bahkan dia tidak berani berbalik badan. Suara itu sedikit mirip dengan orang yang dia kenal, bahkan meski sedikit serak tapi gadis itu hapal betul suara itu.


“Apa kau tersesat?”


Wulandari tidak kuasa lagi, dia segera berbalik badan dan mata gadis itu tiba-tiba terbuka lebar. Mulutnya tidak sempat tertutup, bahkan sekarang hatinya berdebar-debar dengan keras.


Seorang pemuda tegap berdiri tepat di hadapan dirinya, tersenyum manis dengan Panglima Ireng berada di samping kirinya. Pemuda itu kehilangan satu lengan kanannya, beberapa bagian di leher hingga telinga terlihat mengalami luka bakar. Mungkin saja, setengah badan pemuda itu memang benar-benar mengalami luka bakar, hanya saja Wulandari tidak tahu.


“Geni...?” ucap Wulandari, tangannya bergerak meraba wajah pemuda itu. Tiga goresan luka di mata Sungsang Geni terasa benar-benar nyata.


Ujung mata gadis itu mulai dibasahi dengan air mata, seolah hari ini adalah mimpi baginya.


“Kau masih...” Wulandari tidak kuasa menahan diri, dia segera memeluk tubuh Sungsang Geni begitu erat. “Bagaimana mungkin, semua orang mengira kau...”


“Husttt...” ucap Sungsang Geni melonggarkan pelukan Wulandari. “Sekarang segala kemampuanku telah hilang, itu adalah buah dari pertarungan melawan Asura. Setengah bagian tubuhku hampir hancur, karena itu kuputuskan untuk menghilang dari dunia ini.”


“Aku tidak peduli akan hal itu, tidak peduli jika kekuatanmu telah hilang, tanganmu telah hilang atau pula kau menjadi lumpuh. Asalkan tubuhmu dan hatimu tidak hilang, itu sudah lebih dari cukup bagiku.” Wulandari menahan tangis, pipinya terlihat begitu merah.


Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, kemudian mendekatkan bibirnya, menyentuh bibir Wulandari yang mungil. Ini adalah ciuman pertama Wulandari, tapi juga ciuman pertama bagi Sungsang Geni. Namun.


“Gerrr...gerr...” Panglima Ireng mengendus kesal. 'Pemuda mesum.'


Wulandari tersenyum malu, sementara Sungsang Geni sedikit salah tingkah. Mereka hampir lupa, bahwa Panglima Ireng adalah betina. “Hikhikhik... kita akan memanggang domba hari ini.” Rayu Sungsang Geni. “Dan, aku memiliki satu teman yang pasti kau sukai.”


Sungsang Geni bersiul keras, kemudian dari arah tebing di belakang rumah, melolong seekor Srigala Putih di atas batu besar. “Dia akan menjadi temanmu.” Sungsang Geni mengedipkan matanya.


Dan pada akhirnya, cerita ini di tutup dengan kehidupan Sungsang Geni bersama dengan Wulandari yang jauh dari kemerlapan dunia. Mereka hidup sederhana, bertani dan berternak sampai ajal benar-benar memisahkan mereka berdua.


Ok, akhirnya PDM tamat juga. Terima kasih banyak bagi teman-teman yang udah mau menyempatkan diri membaca novel sederhana ini. Tentu saja ada banyak tulisan yang masih jauh dari kata sempurna, membuat beberapa teman menjadi kesal dan jengkel. Hihikhik...akhir kata, Author ucapkan terima kasih banyak. Semoga kalian tidak kecewa.

__ADS_1


__ADS_2