PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Altar Dewa


__ADS_3

Jika gunung Semeru di nyatakan gunung para dewa maa secara tidak langsung, ketiga dewa trimurti menjadi pelindung kitab pedang bayangan karena tempat ini menjadi salah satu altar suci bagi mereka.


Hampir satu malam lamanya Sungsang Geni berusaha menemukan lokasi goa dimana segel kitab berada, hingga sekarang matahari mulai tersenyum di ufuk timur. Dan pemuda itu sama sekali tidak mendapatkan satupun petunjuk.


“Tunggu dulu,”ucap Sungsang Geni.


Dia memperhatikan sekawanan burung putih yang terbang mengelilingi tumbuhan bunga kamboja yang berada sekitar 50 meter dari tempat Sungsang Geni bersila.


Sungsang Geni bergegas menghampiri bunga tersebut, dan seketika kawanan burung segera pergi dengan kesal.


Ada tiga tangkai bunga kamboja berwarna putih dan berbatang pendek. Hanya sependek pinggang Sungsang Geni.


“Ada tumbuhan yang hidup di sini?” tanya Sungsang Geni keheranan.


Pemuda matahari itu mendapati beberapa tulisan aksara sansekerta yang terdapat di bagian kelopaknya.


Memang tidak terlalu mirip dengan tulisan di atas kertas, berbentuk simbol-simbol sehalus rambut Sungsang Geni. Meski terasa ragu, Sungsang Geni pada akhirnya melafalkan tulisan itu yang terdengar seperti sebuah mantra.


Setelah selesai, mendadak permukaan tanah bergoncang kecil. Sungsang Geni belum sempat melakukan tindakan apapun, hingga akhirnya tanpa sengaja tanah yang dipijak pemuda itu amblas dan menarik Sungsang Geni.


Tubuh pemuda itu jatuh diantara batu-batu sebesar kepalan tinju atau sebesar betisnya. Sungsang Geni beranjak perlahan, mengibaskan kotoran yang menodai pakaiannya yang lusuh.


Dia menyapukan pandangan ke sekeliling, ini adalah goa dalam tanah, pintu masuknya tepat di atas sana, dimana bunga kamboja masih berdiri dengan indah. Ruangan ini sangat besar jika diperhatikan, permukaan dindingnya dipenuhi dengan akar.


Sungsang Geni baru menyadari ternyata itu adalah akar dari pohon kamboja.


“Akar bunga yang sangat panjang!” gumam Sungsang Geni.


Sungsang Geni mengikuti ujung akar yang menempel disepanjang dinding goa hingga terhenti pada aliran sungai kecil yang bergemericik dan bergema di dalam ruangan lain pada goa itu.


Air itu mengalir dari balik batu besar berwarna hitam di bagian hulu, dan masuk kedalam lubang batu di bagian hilir. Jarak batu hulu dan hilir mungkin sekitar 4 depa, atau mungkin 3 depa.

__ADS_1


Setiap tepi sungai yang selebar setengah depa itu dipenuhi dengan akar bunga kamboja yang berserabut.


Nampaknya karena air inilah bunga kamboja diatas sana masih bisa hidup dan mekar. Tapi tentu saja itu adalah sebuah keajaiban para dewa.


Sungsang Geni melanjutkan langkahnya, dia terhenti di ruangan terakhir pada altar pemujaan dimana 3 patung dewa trimurti terbuat dari emas berdiri dengan agung.


Altar itu dikelilingi dengan sungai magma yang membara, luas sungai magma tidak terlalu lebar mungkin hanya dua depa.


Setelah melompati sungai magma, Sungsang Geni memijakkan kaki di altar pemujaan. Tiga patung dewa itu sedikit mengelilingi altar itu, dengan posisi telapak tangan menghadap ke tengah-tengah altar.


Sungsang Geni tidak bisa menghilangkan keterkejutannya ketika mendapati, sebuah kitab berukuran besar terlilit akar dari dalam tanah di tengah altar pemujaan. Warna kitab itu hitam kecoklatan.


“Tiga kristal suci adalah tiga patung dewa trimurti!” ucap Sungsang Geni.


Ketika Sungsang Geni memasuki altar pemujaan, dan hampir saja tangannya menyentuh kitab pedang bayangan, sebuah kilatan serangan menyerang dirinya hingga keluar dari altar pemujaan. Nyaris saja Sungsang Geni masuk kedalam aliran magma.


Satu hal yang membuat pemuda itu heran adalah, seluruh tenaga dalamnya seakan lenyap saat ini. Bahkan terasa tidak ada sama sekali.


Yang tersisa hanya energi matahari ditangan kanannya, tapi energi itu tidak dapat membantu banyak hal saat ini, karena hanya bisa mengeluarkan senjata saja. Dan tidak ada lawan yang perlu di kalahkan dengan senjata ditempat ini.


Sejak tadi lengan kanannya selalu menghisap hawa panas dari aliran sungai magma, tapi tentu saja sebanyak apapun dia menghisapnya magma itu tidak akan menjadi dingin. Hal baiknya adalah, Sungsang Geni tidak merasakan kepanasan berada di tempat ini.


Pemuda itu masih berusaha keras mengambil kitab pedang bayangan, tapi kilatan serangan yang keluar dari telapak tangan ketiga patung trimurti selalu saja melukainya.


“Ahkkk!” Sungsang Geni terpekik cukup keras, kali ini ada 3 kilatan energi yang menghantam tepat pada dadanya, membuatnya melayang beberapa saat ke udara hingga pada akhirnya terhempas keluar dari altar pemujaan melangkahi sungai magma.


“Aduh...Sial! bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?” Sungsang Geni menggerutu kesal, dia berhenti melakukan kegiatannya dan hanya duduk menopang dagu menatapi kitab pedang bayangan, dan sekekali menatap pada ketiga patung dewa Trimurti.


“Kekuatan itu, apa begitu dahsyatnya sehingga kalian bertiga yang harus menyegelnya?” ucap Sungsang Geni, sedikit menaikkan nada suaranya, “Ma'afkan aku, harusnya aku tidak menaikkan nada suaraku, aku minta ma'af, sungguh...Kalian tahu, aku hanya sedikit kesal.”


Pemuda itu pada akhirnya kembali lagi ke tempat sungai kecil berada, perasannya menjadi sedikit haus setelah berusaha beberapa kali untuk mendekati kitab pedang bayangan.

__ADS_1


Dia membasuh tangan dan wajahnya, membersihkan diri dari kotoran yang menempel di seluruh tubuhnya. Setelah itu beberapa tegakkan air berhasil mengusir dahaga yang ada di kerongkongan.


Setelah selesai melakukan hal itu, Sungsang Geni kembali lagi pada tempat kitab pedang bayangan. Dirinya sedikit bertenaga setelah minum beberapa tegakkan air.


Kali ini pemuda itu tidak langsung mendekati altar pemujaan, dia berjalan mengelilingi tempat itu sambil memperhatikan sesuatu dimana mungkin terdapat petunjuk.


Sekekali terdengar suara gemuruh dari sisi berbeda goa ini, membuat Sungsang Geni sedikit khawatir.


“Apa itu suara dari magma gunung semeru?” tanya Sungsang Geni.


Namun perasaan takut itu segera ditepiskannya, tidak ada gunanya memupuk perasaan takut di tempat ini.


Beberapa jam berlalu, kemudian beberapa jam lagi pemuda itu tidak menemukan satu petunjuk mengenai kitab pedang bayangan hingga tiba-tiba dia memijak sebuah batu putih yang tertanam di permukaan tanah.


Batu itu bergerak sendirinya, berjalan mengelilingi altar pemujaan dan berhenti tepat dibelakang patung dewa siwa.


Tidak terjadi sesuatu saat ini, Sungsang Geni sudah bersiap-siap jika ada jebakkan yang akan menyerang dirinya.


“Hemm...apa itu tadi, tidak ada yang terjadi?” ucap Dirinya.


Dia akhirnya kembali mencari sesuatu yang berbentuk batu seperti itu, dan menemukannya di bagian dinding. Batu itu berwarna hijau, ketika batu itu disentuh dia bergerak turun dan berhenti di belakang patung dewa wisnu.


Sungsang geni mulai bersemangat, dia mencari batu yang terakhir dan menemukan tepat berada di belakang patung brahma, jadi ketika batu itu ditekan dia tidak banyak bergerak. Hanya berpindah tempat sejauh 5 jengkal.


Setelah ketiga batu berada pada posisi masing-masing, Sungsang Geni melihat patung mulai bergerak kecil dan menyusun diri pada posisi berjejer tepat menghadap ke kitab pedang bayangan.


Kali ini Sungsang Geni memberanikan diri untuk memasuki wilayah altar pemujaan. Namun hal lain terjadi, setiap benda berbentuk logam yang dibawa Sungsang Geni tiba-tiba melekat di dasar altar pemujaan. Seperti ada medan magnet berkekuatan besar.


Bersamaan dengan itu, aliran magma mulai meluap banyak hingga keluar dan menyentuh altar pemujaan, seakan berniat mengubur apapun ditempat itu dengan magma yang membara.


“Ini gawat, waktuku tidak banyak tersisa!”

__ADS_1


Hem.... Semoga kalian suka capter kali ini, kondisi author sedikit pusing saat menyelesaikan capter ini. Hohoho


__ADS_2