PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Suka Cita...end...


__ADS_3

“Saudaraku sekalian, ma'afkan aku karena sepertinya telah mendahului tindakan yang harusnya kalian lakukan!” ucap Senopati Lingga dengan suara menggebu-gebu penuh emosi.


“Tapi ini bukti pengabdianku kepada kalian rakyat Tumang, aku dan Patih Siruyu Citro telah berhasil keluar dari dalam penjara, melakukan tindakan balas dendam atas menderitanya rakyat dan juga...juga...” Senopati Mangku Anom memasang raut wajah sedih. “Juga, paduka raja kita yang telah tewas dibunuh oleh setan keji ini, dan membuat Pangeran Miksan Jaya hilang tanpa ada kabar.”


Semua wajah rakyat tampak percaya dengan bualan Senopati Mangku Anom, sementara itu puluhan prajurit di dalam Istana terkekeh kecil.


“Jadi kepada kalian semua, rakyat Tumenang, aku persembahkan Prajamansara sang penjahat untuk dihukum. Kalian bisa menentukan hukuman apa yang layak untuknya.”


“Pancung!” berteriak salah satu rakyat.


“Benar, pancung.”


“Atau kuliti saja dia hidup-hidup, dan bakar.”


Beberapa jam setelah pengumuman itu, ritual eksekusi Prajamansara dilaksanakan tepat di halaman Istana Tumenang. Berdasarkan adat di negri ini, penjahat harus dihukum pancung.


Sungsang Geni tidak berniat menyaksikan acara eksekusi itu, dia masuk ke dalam Istana bersama dengan Panglima Ireng dan juga Wulandarai. “Setelah ini bukan lagi urusan kita, sebaiknya kita pergi dari Istana ini sebelum terlambat.”


“Benar sekali, selagi kita sibuk di sini, mungkin kondisi Cempaka Ayu semakin memburuk. Aku tidak ingin terjadi apapun terhadap gadis itu,” ucap Wulandari.


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng juga terlihat setuju.


Jadi ketika rakyat mulai berteriak riuh, mungkin hukuman pancung sudah dilaksanakan, Sungsang Geni memasuki jalan rahasia, dan pergi secepat mungkin dari Istana itu tanpa ada satupun orang yang tahu.


“Kalian akan pergi tanpa berpamitan?” Seorang gadis dengan 6 temannya tiba-tiba berada di depan pintu keluar lorong rahasia.


“Langgis, kami...”


“Aku tidak mau tahu apa alasannya, tapi aku dan kami semua mengucapkan banyak terima kasih kepada dirimu. Tanpa perjuanganmu, Negri ini tidak akan terbebas dari cengkraman Prajamansara dan Kelelawar Iblis.”

__ADS_1


Sungsang Geni tersenyum kecil, membiarkan tujuh telik sandi Kadipaten Ujung Lempung membungkukkan diri, memberi hormat.


“Sampaikan salamku kepada Ki Demang, dan juga Adipati Lingga. Jika umur panjang, kiranya kita bisa bertemu lagi dengan cara yang lebih baik dari ini.”


“Kalau begitu berhati-hatilah, semoga perjalanan kalian selamat sampai tujuan.”


***


“Dimana pemuda itu?!” tanya Senopati Mangku Anom, dia sudah memerintahkan puluhan orang mencari keberadaannya di segala penjuru Istana tapi pemuda yang dimaksud tidak ditemukan.


“Dia sudah lama pergi meninggalkan Tumenang...” ucap Langgis.


“Apa?!” Sontak Senopati Mangku Anom menjadi terkejut, arak yang ada di dalam mulutnya tiba-tiba muncrat keluar, hampir pula mengenai prajurit yang berdiri di depannya. “Apa kau sedang bercanda?”


“Tidak, kami bertujuh melihatnya pergi melewati lorong rahasia...dengan seorang gadis, kemudian dengan seekor srigala hitam besar.” ucap Gadis itu menekuk jari telunjuknya kemudian jari tengahnya


Senopati Mangku Anom mengernyitkan kening, dia meremas kepalanya yang mungkin terasa sakit saat ini. Bukan hanya dia, tampaknya Patih Siruyu Citro dan Adipati Lingga juga memasang raut wajah yang sama.


“Kurang ajar sekali dia, bagaimana dia tidak memiliki tata krama sama sekali?” Senopati Mangku Anom memaki-maki sikap yang telah diambil Sungsang Geni. “Padahal aku ingin menjadikan dia salah satu prajuritku.”


Langgis tersenyum kecil, sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Seingat dia, Senopati Mangku Anom tidak seperti ini sebelum masuk ke dalam penjara, sangat berwibawa dan tidak pernah bertingkah konyol. Sepertinya penjara tahanan bisa membuat otak seseorang menjadi sedikit terganggu, pikir Langgis.


Sementara itu, tiga adipati lain tampak saling tatap karena jelas mereka tidak tahu menahu mengenai pemuda yang Senopati Mangku Anom maksud. Ketiganya saling mengangkat bahu, dengan wajah penuh tanda tanya.


“Aku perlu memberi tahu kalian, mungkin keadaannya belum tepat tapi tidak masalah untuk mengataknnya.” Adipati Lingga memberanikan diri berkata, setelah keadaan di dalam Istana cukup tenang.


“Apa itu, Adipati Lingga?” tanya Patih Siruyu Citro.


“Pangeran Miksan Jaya beserta Nyai Bidara masih hidup. Pemuda itu sendiri yang mengatakannya, bahwa mereka pernah bertemu di Surasena. Mungkin saat ini, Pangeran Miksan Jaya sedang berjuang bersama Surasena untuk mengambil alih tanah Java dari penjajahan Kelelawar Iblis dan sekutunya.”

__ADS_1


Mendengar berita itu, semua wajah memasang ekspresi tidak percaya. Namun tidak ada satu orangpun yang berani membantah. Seingat mereka, Pangeran Miksan Jaya hilang 8 bulan yang lalu, lalu tiba sekarang mengenai kabar dirinya.


Selama itu, tidak ada informasi mengenai keberadaannya, meski beberapa prajurit ditugasakan keluar kabut ilusi untuk mencarinya. Merasa percuma, akhirnya semua orang sepakat berpendapat Pangeran Miksan Jaya telah gugur.


“Jika benar demikian, tampaknya Pemuda itu bukanlah tipe orang yang akan berbohong. Ini adalah berita paling bagus selama 8 bulan terakhir. Kita akan mendukung keputusan Pangeran Miksan Jaya, sebagai Kerajaan yang tunduk pada Surasena, sudah seharusnya kita mendukung perjuangan mereka.” ucap Patih Siruyu Citro.


Semua orang tampak setuju dengan keputusan tersebut, jika benar informasi ini maka kebahagiaan pastilah menyelimuti se isi Negri.


Kabar mengenai Pangeran Miksan Jaya dan kemenangan melawan Prajamansara menjadikan Kerajaan Tumenang terlahir kembali. Semua rakyat bersuka cita, tua muda keluar dari rumah merayakan kemerdekaan.


Rakyat-rakyat berteriak keras, mulai merobohkan satu persatu patung-patung Kelelawar Iblis, merobohkan palang-palang pelacuran.


“Hancurkan altar persembahan untuk dewa kegelapan,” teriak salah satu rakyat.


“Bodoh, itu bukan dewa kegelapan, dia hanya manusia biasa berhati iblis!”


“Ya benar...hancurkan altar persembahan, robohkan patung Topeng Beracun!”


Patih Siruyu Citro melirik dari tirai jendela Istana, memperhatikan rakyat yang riang bahagia. Pak tua itu tersenyum kecil dibalik air matanya yang menetes membasahi pipi keriput. “Yang Mulia, apa kau melihatnya? Negri kita kembali lagi seperti sedia kala, istirahatlah dengan damai! Tenang saja kami akan membawa Pangeran Miksan Jaya kembali lagi ke sini.”


Setelah satu hari lamanya, Sungsang Geni beserta dua temannya keluar dari Kabut Ilusi. Berada lagi di lembah yang luas dengan rumput ilalang membentang sejauh mata memandang.


Di sisi selatan, bekas pertarungan mereka masih tersisa. Bara api masih mengepulkan asap atas mayat-mayat yang dibakar. Pada saat yang sama, langit tiba-tiba mendung, tidak lama kemudian hujan mengguyur bumi dengan amat lebat.


Sungsang Geni berlari pada salah satu pohon besar, berlindung dilebatnya dedaunan. Dia menoleh kearah Tumengan yang tertutup kabut ilusi, semoga saja hujan juga mengguyur negri itu, menghapuskan sisa-saia darah yang tertumpah, atau pula membasahi tanah-tanah merekah di Kadipaten Ujung Lempung.


Disisi lain, air putih yang menjadi pembatas Kadipaten Ujung Lempung dengan Kadipaten lain berangsur-angsur berwarna bening. Derasnya air sungai, mampu menghanyutkan tong-tong racun yang ada di hulu sungai.


Rekahan tanah di desa perbatasan terisi oleh air, setelah 8 bulan mengalami kekeringan. Ki Demang, tersenyum bahagia bersama dengan keluarga kecilnya. Rakyat di desa tersebut menangis haru, memanjatkan puji syukur.

__ADS_1


“Geni...meski pertemuan kita amatlah singkat, tapi di dalam hati kami yang terdalam kau adalah penolong kami. Semoga langkahmu mendapatkan keselamatan, berkunjunglah kembali jika sempat.” Gumaman bibir keriput Ki Demang.


Pak tua itu menangis gembira, tapi air matanya tidak ketara diantara tetes air hujan yang begitu deras.


__ADS_2