PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kecurigaan Adipati Lingga


__ADS_3

Butuh cukup waktu bagi Adipati Lingga saat mendengar kabar pangeran Miksan Jaya masih hidup dan berada di dunia luar, bersama dengan Lakuning Banyu. Dia adalah orang yang selalu bersama dengan Pangeran, ketika bentrok melawan Kelelawar Iblis yang dibantu oleh penghianat.


Sekali lagi dia pandangi Sosok Sungsang Geni yang duduk bersila di atas batu, di luar tenda darurat. Bersama dengan pemuda itu, srigala besar dan hitam selalu setia merebah di belakang tubuhnya.


“Jika Pangeran Miksan Jaya masih hidup, lantas kenapa dia tidak kembali lagi ke negri ini?” tanya Adipati Lingga. “Bukankah ini terlihat cukup aneh, Pangeran Miksan Jaya seperti tidak peduli dengan negrinya lagi?”


“Hamba mengerti apa yang dimaksud dengan Nak Adipati. Tapi saya yakin untuk datang ke negri ini, bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan, apalagi bagi Pangeran Miksan Jaya. Semua orang tahu wajahnya, dia bisa menjadi sosok yang akan diburu sampai mati di Negri ini.”


Kening Adipati Lingga berkerut, “Lalu bagaimana dengan pemuda asing itu? Bagaimana dia masuk ke Negri ini? kau sudah menanyakan caranya?”


Ki Demang terdiam untuk sesaat, dia memang tidak pernah bertanya bagaimana caranya pemuda itu datang ke Negri Tumenang. Kabut ilusi akan menyesatkan siapapun yang berniat menembusnya, kecuali bagi orang-orang yang memegang tanda.


“Sudah kuduga!” Adipati Lingga mendesah nafas panjang. “Mungkin dia adalah musuh yang dikirim oleh musuh, untuk mencuri kitab pusaka di tempat ini.”


Tersentak Ki Demang beserta 4 pendekar suci di dalam tenda. Sudah cukup lama mereka tidak membahas kitab pusaka yang tersimpan di tempat ini, hingga hari ini perkataan itu keluar dari mulut Adipati Lingga.


Kerlitan mata Adipati Lingga beralih ke arah air terjun besar yang menderu. Tepat dibalik air terjun itu, ada sebuah ruangan rahasia. Muka pintunya hanya bisa dilewati sambil merangkak, tapi di dalamnya akan mendapatkan ruangan luas. Didalam ruangan itu ada sebuah kitab pusaka yang konon menyimpan teknik bela diri asli dari Negri Lembah Hantu.


Di luar tenda darurat, Sungsang Geni tersenyum kecil. Dia mendengar semua obrolan rahasia Adipati Lingga beserta Ki Demang, tapi tidak pernah diduganya, tempat ini juga menyimpan sebuah kitab pusaka.


Sungsang Geni berpura-pura tidak mendengar, juga tidak melirik ke arah air terjun yang dikatakan sebagai pintu masuk. Dia memejamkan mata, segera melakukan meditasi.


Tidak beberapa lama, salah satu dari pendekar suci mendatangi pemuda itu. Dari tenaga dalam yang terasa, pria itu mungkin telah berada di puncak pendekar pilih tanding, atau mungkin telah berada di awal pendekar tanpa tanding.

__ADS_1


“Pendekar Muda!” ucap pendekar suci itu dengan nada sedikit kasar. “Adipati Lingga memintamu untuk menemuinya.”


Sungsang Geni membuka matanya perlahan, menoleh ke atas pada pria kekar dengan rambut lebat sepinggang yang dikepang. Mata pria itu begitu dalam, dengan alis tebal dan brewok memenuhi seluruh wajahnya.


Di belakang tubuhnya, tersandang satu pedang bergagang putih bermotif tengkorak. Setidaknya pedang itu termasuk level menengah, atau mungkin level tinggi.


Sungsang Geni masuk ke dalam tenda darurat, di dalam tenda itu tiada orang lain selain Adipati Lingga. KI Demang sudah pergi sebelum pemuda itu masuk dengan wajah sedikit kesal, ada perdebatan kecil antara mereka.


“Pendekar muda!” ucap Adipati Lingga. “Silahkan duduk!”


Sungsang Geni duduk pada kursi dari potongan kayu, sementara Adipati Lingga masih berdiri dan menuangkan secawan arak untuk Sungsang Geni.


“Ma'af aku tidak meminum arak,” ucap Pemuda Matahari itu.


“Selain arak,” ucap Sungsang Geni.


Wajah Adipati Lingga sedikit buruk, tapi dia masih menuangkan air putih biasa ke dalam cawan bambu untuk Sungsang Geni.


“Aku dengar kau berasal dari luar Kerajaan Tumenang?” tanya Adipati Lingga, dia masih berdiri memperhatikan Sungsang Geni dari rambut hingga ujung kakinya. “Negri ini memiliki pertahanan kabut ilusi, bagaimana mungkin kau bisa tiba di tempat ini?”


“Dengan masuk melewati pintu gerbangnya.” Sungsang Geni menjawab ketus, dia sudah dapat menerka arah pembicaraan ini, seperti sedang diintrogasi.


“Pintu Gerbang akan terbuka jika kau menunjukkan kunci, apa kau memiliki kunci?”

__ADS_1


“Aku tidak butuh kunci untuk masuk, aku hanya...”


“Orang yang masuk ke dalam rumah tanpa kunci adalah pencuri...” berkata ketus Adipati Lingga, raut wajahnya menjadi lebih merah dari sebelumnya, nada suara pria itu juga terdengar sedikit lebih berat.


“Pencuri juga bisa masuk dengan menggunakan kunci.” Sungsang Geni tersenyum kecil. “Obrolan ini tidak akan berujung baik, sebaiknya Adipati berterus terang saja. Apa yang hendak kau tanyakan? Semua prajuritmu sudah mengelilingi tempat ini untuk menahanku. Dan arak yang sebelumnya ingin kau berikan padakau sudah di beri racun, karena itu kau menjadi kesal.”


Mendengar perkataan itu Adipati Lingga menjadi terkejut, matanya merah melotot bibirnya hendak berbicara tapi tidak terjadi. Memang benar adanya, tenda darurat itu sudah di kepung oleh prajurit.


Bahkan beberapa dari mereka sudah menyalakan api di ujung mata panah, bersiap membunuh pemuda itu jika saja berhasil melarikan diri dari dalam tenda.


Panglima Ireng berniat melawan tapi 4 pendekar suci berhasil melilitkan simpul pada srigala besar itu, dan sekarang terikat di batu besar dengan empat tali menjerat lehernya. Sementara Ki Demang, terlihat tidak berkutik sama sekali, dia dikelilingi 3 orang prajurit berwajah seram.


“Adipati Lingga, tiada untung bagimu menahan dan mungkin ingin membunuhku.” Tatapan Sungsang Geni sudah berubah menjadi tajam, aura panas mulai keluar dari dalam tubuhnya. “Jika kau curiga aku akan mengambil kitab pusaka di tempat ini, maka kau salah besar. Aku tidak peduli dengan Lembah Hantu, tempat ini dan juga kau, satu-satunya yang membuat kau masih hidup saat ini, karena aku bisa melihat kau begitu peduli dengan rakyatmu.”


“Bagai...bagaimana kau bisa tahu mengenai kitab pusaka?” terbata-bata suara Adipati Lingga.


“Bukankah kau sendiri yang mengatakannya?”


Adipati Lingga menelan ludah pahit, dia melirik pada batu tempat dimana Sungsang Geni duduk. Jarak antara tenda darurat dengan batu itu cukup jauh, Adipati Lingga sudah memelankan suaranya, tapi tidak mungkin ucapannya terdengar oleh Sungsang Geni.


Kecuali jika Ki Demang yang telah memberi tahu informasi ini, Adipati Lingga cukup yakin pak tua itulah biang kerok semua ini. Pria itu mengupat panjang pendek, bahkan menyalahkan 8 prajurit yang berjaga. Tentu saja, karena mereka pemuda ini berada di Lembah Ular.


“Aku tidak percaya dengan lidahmu, ucapan orang asing hanya bualan belaka.” Meninggi nada suara Adipati Lingga.

__ADS_1


“Begitu ya, sayang sekali aku tidak peduli,” Sungsang Geni tersenyum pahit, berdiri dari tempat duduknya, “jika salah satu diantara kalian mencoba melukai Ireng dan juga Ki Demang, akan kupastikan tempat ini runtuh bersama kalian semua.”


__ADS_2