PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Sayembara2


__ADS_3

Rindang Sari mengisyaratkan agar prajuritnya menarik kembali pedang yang terhunus di batang leher Sungsang Geni.


“Aku tidak menyukai caramu, pengawal!” Rindang Sari terdengar menekan suaranya.


“Ma'afkan hamba, Yang Mulia.”


Sementara itu Saylendra menaikkan alisnya, tampak sedang mencerna perkataan Sungsang Geni barusan. Raja itu tahu persis keadaan pegunungan kerakatau lebih dari siapapun di dataran Swarnadwipa.


Dia telah mengutus ratusan prajurit untuk menaklukkan pegunungan itu, demi untuk melakukan kerja sama dengan negri yang ada di dataran itu. Namun sejauh yang dia alami, tidak ada yang sanggup, hingga niatnya untuk berdagang ke dataran Java lenyap sudah.


Jalan laut juga bukan hal yang mudah, pergerakan angin yang menabrak menjulangnya pegunungan kerakatau menjadikan perputaran badai besar di sepanjang lautan yang menghubungkan dua dataran.


Benturan arus laut yang menerjang pegunungan kerakatau, membuat sebuah arus baru yang berpusar pada waktu-waktu dan tempat tertentu. Sangat sulit memprediksi cuaca di lautan itu.


Satu-satunya cara yaitu dengan jalan memutar, menyinggahi beberapa negri lain dan melewati lautan Negri Sembilan yang letaknya di sisi timur yang memakan waktu 2 tahun lamanya. Dari segi apapun, melewati jalan memutar tidak akan menguntungkan.


“Yang Mulia Raja!” Sungsang Geni lantas memberikan sebuah surat yang ditulis langsung oleh Lakuning Banyu, dengan segel Surasena.


Butuh beberapa lama bagi Saylendra mencerna setiap kalimat yang ditulis oleh Lakuning Banyu, tapi inti dari surat itu adalah meminta Swarnadwipa membantu pengungsian rakyat Surasena.


“Aku tidak mengetahui apakah kau berbohong atau tidak, tapi berikan satu alasan bagus kenapa kami harus menyelamatkan kalian?” tanya Saylendra.


“Musuh yang kami hadapi memiliki ambisi, kecerdasan dan politik yang kuat, mereka adalah penakluk yang hebat.” Cempaka Ayu menjawab pertanyaan Saylendra. “Sekarang satu-satunya alasan kenapa Swarnadwipa belum mendapatkan dampaknya, karena kami masih hidup dan berjuang. Yang Mulia Raja, perang satu akan membawa perang lainnya, menurutmu setelah mereka berhasil menghancurkan kami siapa sasaran mereka selanjutnya?”


Saylendra terdiam mendengar pernyataan cerdas gadis cantik di depannya. Tentu saja itu semua benar, Saylendra tidak bisa menepiskan masalah ini begitu saja, atau lambat laun ketenangan di Negri yang dia pimpin akan terusik.


“Lawan kami memiliki sekutu yang besar, mungkin ada dua atau tiga negri lain berada dibelakang mereka. Bahkan mungkin ada salah satu negri yang menjadi teman dekat Swarnadwipa.”

__ADS_1


“Apa maksud perkataanmu?” tanya Saylendra, wajahnya tiba-tiba menjadi sedikit tegang.


Sungsang Geni mengalihkan pandangan kepada gadis itu lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali, memberi isyarat untuk tidak mengatakan hal yang berkaitan dengan Negri Sembilan saat ini. Tidak ada bukti yang kuat untuk hal itu.


“Begini saja Yang Mulia Raja,” ucap Sungsang Geni. “Simpanlah surat itu untuk kau pikirkan, bagaimanapun aku menghormati semua keputusan yang kau ambil! Tapi...” Sungsang Geni terdiam sejenak seraya menghembuskan napas berat, “keputusanmu akan menentukan nasip Negri Swarnadwipa, benarkan?”


Sungsang Geni membungkukkan badan kemudian sekali lagi, lalu berjalan meninggalkan Saylendra beserta Ratu Rindang Sari, namun sebelum mereka melangkah lebih jauh Saylendra berkata berat.


“Apa yang akan kalian lakukan?”


“Aku akan mengambilkan obat untuk Yang Mulia Ratu.” Sungsang Geni menoleh kearah Rindang Sari kemudian tersenyum sopan.


Sementara itu Rindang Sari menatap langkah kaki Sungsang Geni tanpa berkedip, seolah dia menatap seseorang yang pergi dan tidak kembali lagi.


Ada sebuah perasaan mendebarkan di dalam relung hatinya ketika melihat pemuda itu. perasaan itu sama seperti ketika dia sedang menatap wajah putrinya yang sedang sakit. Dia sendiri tidak begitu mengerti, tapi wajah pemuda itu terasa tidak asing lagi.


“Dinda? Apa yang terjadi denganmu?” tanya Saylendra mendapti air mata Rindang Sari menetes membasahi pipinya. “Apa penyakitmu mulai kambuh, tenang saja dinda, pasti ada salah seorang dari mereka yang berhasil mendapatkan kelapa itu.”


“Dinda kenapa tiba-tiba saja kau mengatakan hal itu, putra kita...”


Saylendra tidak melanjutkan perkataannya, dia segera memeluk tubuh istrinya dengan erat sementara Rindang Sari menguraikan air mata di dalam pelukannya.


“Aku hanya berharap dia masih hidup, Kanda.” Ratu itu terisak menahan tangis. “Aku hanya berharap, aku hanya berharap, Kanda...”


***


Sungsang Geni dan Cempaka Ayu mengikuti jejak para pendekar yang lebih dahulu pergi menemukan batang kelapa itu. Tapi dari tempat ini, Sungsang Geni sudah bisa melihat samar-samar sebatang kelapa menjulang tinggi di atas bukit.

__ADS_1


“Geni, bagaimana caranya agar bisa mengambil buah itu sementara tenaga dalam kita tidak bisa digunakan untuk terbang?” Tanya Cempaka Ayu .


“Aku akan memanjat pohon itu...” jawab Sungsang Geni. “Aku membutuhkan selendang yang kau gunakan untuk melakukannya.”


Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mereka berdua bisa melihat puluhan pendekar sedang menghadapi serangan siluman lebah yang jumlahnya mungkin ribuan. Siluman itu bersarang tepat di batang kelapa, hanya satu depa jaraknya dari permukaan tanah.


Dalam diameter 10 depa, tidak ada satupun tanaman yang tumbuh di lokasi pohon kelapa itu, tidak ada satupun bahkan meskipun lumut. Cempaka Ayu yakin itu dikarenakan oleh racun yang dihasilkan oleh para siluman lebah.


Beberapa orang pendekar sudah meregang nyawa ketika baru saja mendapat satu sengatan lebah, beberapa yang lainnya lebih memilih melarikan diri dari pada mati konyol. Ada lebih banyak guna hidup selain ambisi untuk menjadi Adipati.


“Rupanya benar, kita tidak bisa menggunakan tenaga dalam ketika memasuki wilayah itu.” ucap Cempaka Ayu.


“Aku pernah merasakan hal itu, tenaga dalamku juga lenyap ketika memasuki gua di puncak mahameru.” Sungsang Geni menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “Tapi jka dugaanku benar, aku bisa menggunakan pedang energi api matahari.”


Sungsang Geni lalu menatap batang kelapa, yang bahkan tidak terlihat olehnya ujung dari pohon itu. Sangat tinggi, mengalahkan seluruh siluman lebah tidak menjamin dapat mengambil buah dari kelapa itu.


Tantangan selanjutnya adalah menaiki pohon itu yang bahkan tidak bisa dilakukan dengan bantuan ilmu meringankan tubuh. Sepertinya akan butuh waktu 2 hari 1 malam agar bisa tiba di ujung pohon, karena itu Sungsang Geni membutuhkan selendang Cempaka Ayu untuk dililitkan ke tubuhnya.


Terdengar suara teriakan dari seorang pria besar yang sebelumnya begitu sombong dan angkuh di hadapan pendekar yang lain. Rupanya dia terkena belasan sengatan dari lebah, membuat dia mati seketika, dengan mulut berbusa dan wajah menghitam.


Sungsang Geni berniat membantu mereka semua yang terkena sengatan, tapi percuma saja hanya hitungan menit mereka semua mati bergelempangan.


Sekarang sekitar 40 orang pendekar mati mengenaskan, sementara para pendekar yang lain memilih melarikan diri dari tempat itu, hanya menyisakan Sungsang Geni dan Cempaka Ayu yang berwajah cemas.


Pemuda itu lantas mengeluarkan sebilah pedang energi dari telapak tangan kanannya, kemudian mengarahkan ujung pedang memasuki wilayah tanpa tenaga dalam.


Sungsang Geni terlihat sangat ragu, jika pedang energi yang berasal dari berkah matahari juga lenyap maka tidak ada kesempatan baginya untuk mengalahkan siluman itu.

__ADS_1


Namun tiba-tiba terdengar suara berat yang keluar dari dalam pohon, atau mungkin dari dalam sarang lebah. “Apa tujuanmu datang ke sini, Anak Manusia?”


Note: Semenjak Sungsang Geni menguasai teknik pedang bayangan, dia juga bisa mengeluarkan pedang energi dari telapak tangan kirinya seperti yang di lakukan pendekar pedang bayangan. Alasan dia tidak melakukannya adalah, karena energi api di lengan kanannya lebih mudah di himpun dari pada tenaga dalamnya.


__ADS_2