PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Sampan


__ADS_3

Pada hari selanjutnya, setiap kali Sungsang Geni melakukan laku ritual penghimpunan tenaga alam, hal sama selalu terjadi sesudahnya. Dia mengalami demam tinggi, dengan tubuh menggigil, bibir biru seperti orang ketakutan.


Namun pertemuan dia dengan 4 ruh unsur tidak lagi terjadi. Dia hanya merasakan semakin hari, energi alam berangsur-angsur masuk kedalam ubun-ubunya terus tertanam didalam tubuh.


Seakan mengisi wadah yang kosong, energi alam mulai menyelaraskan dengan tubuh Sungsang Geni. Mungkin itulah sebabnya terjadi demam tinggi dan tubuh yang menggigil, karena penyelarasan energi alam dengan tubuh manusianya.


Jika dia pikirkan lagi, energi itu begitu halus dan murni. Sangat tenang dan bergerak pelan di dalam tubuhnya. Begitu lain dengan tenaga dalam, yang bergerak seolah-olah menggebu-gebu.


Tingkat dasar dari penyerapan energi alam adalah, penghimpunan. Pada tingkat ini, Sungsang Geni belum bisa menggunakan energi itu untuk tujuan tertentu, seperti pukulan energi atau penciptaan senjata.


Malam ini dia melakukan hal itu lagi, di sebuah pohon beringin tua ketika mereka menghentikan perjalanan. Wulandari kali ini tidak berniat tidur, gadis itu ingin memastikan sendiri kondisi Sungsang Geni. Dia akan cepat tanggap ketika pemuda itu mengalami situasi yang tidak memungkinkan.


Di sebelah Sungsang Geni tertidur Panglima Ireng yang memisahkan jarak pemuda itu dengan Wulandari.


Baru satu jam Sungsang Geni melakukan hal itu, tiba-tiba tubuhnya terlihat memancarkan pedar cahaya berwarna hijau, seperti hijaunya pucuk daun muda. Ketika hal itu terjadi, tubuh pemuda itu berguncang kecil menjagakan Panglima Ireng.


Hanya beberapa menit hal itu terjadi, hingga pedar cahaya hijau lenyap perlahan-lahan.


Panglima Ireng menoleh ke arah Wulandari -menggeram kecil, maksudnya untuk menanyakan bagaimana keadaan tuannya itu, tapi tentu saja gadis itu tidak memahami perkataan Panglima Ireng.


Tidak beberapa lama, Sungsang Geni membuka matanya.


“Geni bagaimana perasaanmu?” Wulandari bertanya khawatir, dia sudah menumbuk ramuan penurun panas jika saja pemuda itu mengalami kondisi seperti hari-hari sebelumnya. “Apa kau merasakan kedinginan lagi? Aku sudah menyiapkan minuman untuk mengantisipasinya.”


Sungsang Geni terdiam sejenak, dia tidak tahu apakah kondisinya baik-baik saja, jadi dia mulai menggerakkan beberapa kali bahunya.


“Bagaimana?” tanya Wulandarai.

__ADS_1


“Gerr...gerr...” lanjut Panglima Ireng.


“Aku baru saja melewati tahap pertama dalam latihan penghimpunan energi alam.” Pemuda itu menghembuskan sapas lega. “Saat ini tubuhku sudah selaras dengan energi alam, seperti menjadi alam itu sendiri. Hanya saja, aku tidak bisa menghimpun energi alam dengan jumlah besar, aku tidak mengetahui apa penyebabnya.”


Pemuda itu kembali membuka salinan kitab pedang Bayangan, dia sudah membaca beberapa kali aksara sangsekerta yang tertulis di dalamya, memecahkan beberapa simbol tapi tidak menemukan petunjuk pasti.


Ketika dia berniat menutup kembali salinan kitab itu, Wulandari segera mencegahnya, ada sebuah petunjuk kecil yang tertulis disana yang mungkin tidak dipahami oleh Sungsang Geni.


“Biarkan aku melihat kitab itu?” Gadis itu merentangkan jari tangannya. “Tenang saja, aku tidak akan mencuri jurus yang ada di dalam kitab ini, lagipula kitab ini bukan asli, kau tentu tidak akan menulis segala hal yang sudah kau hapal.”


Sungsang Geni akhirnya menyerahkan kitab itu.


“Setiap unsur adalah satu dalam kesatuan, tetapi unsur memiliki tempatnya masing-masing.” Wulandari membaca hal itu.


“Menurutmu bagaimana dengan kalimat itu?” Sungsang Geni bertanya.


Gadis itu kembali menepuk bibirnya dengan ujung telunjuk. “Oh, mungkin saja untuk mendapatkan energi Alam dalam jumlah besar kau harus berlatih pada tempat dimana setiap unsur itu berada.”


“Aku tidak terlalu paham.” Sungsang Geni menggaruk kepalanya.


“Kau ini?Dengarkan baik-baik, jika kau berniat menghimpun unsur air mungkin kau harus melakukannya di tepi laut, mungkin juga didalam laut. Atau jika kau berniat menghimpun unsur angin, mungkin kau harus berada di atas awan, hemm... di atas bukit mungkin juga bisa.”


Penjelasan yang masuk akal, Sungsang Geni setuju dengan hal itu.


“Ada tempat kau bisa melakukan hal itu.” Wulandari mengeluarkan sebuah kertas dari saku bajunya, sebuah peta. “Jika kita berjalan sedikit ke selatan, kita akan menemukan gunung kecil yang menyatu langsung dengan laut, di sana anginnya cukup kencang. Kau bisa menyerap semua unsur di tempat itu, bagaimana?”


Sungsang Geni berpikir sejenak, ada hal yang harus secepat mungkin dia lakukan yaitu menyelamatkan nyawa teman-temannya. Tapi rupanya Wulandari menyadari pikiran pemuda itu.

__ADS_1


“Kau memikirkan teman-temanmu bukan? Tenang saja selama mereka tidak berniat menggunakan tenaga dalam, racun itu tidak akan berpungsi.” Wulandari kembali menunjuk lokasi yang harus mereka tuju di dalam peta. “Tempat ini tidak terlalu jauh!”


Pada akhirnya Sungsang Geni menyetujui perkataan gadis itu. Ya, hal ini membuat Wulandari cukup senang, dia akan bersama pemuda itu untuk beberapa lama.


***


Setelah berjalan selama tiga hari, tempat yang dituju akhirnya menampakkan wujudnya. Sebuah gunung kecil, yang terletak di tengah-tengah pantai. Untuk tiba di tempat itu butuh rakit atau sampan.


Ombaknya cukup tenang, dengan ikan-ikan kecil yang berenang riang di antara terumbu karang. Tempat ini tidak sepenuhnya berpasir, lebih banyak karang dengan ukuran besar yang memenuhi seluruh hamparan pantai.


Panglima Ireng berlari riang, bekejar-kejaran dengan putihnya ombak yang memecah pantai.


Sungsang Geni memperhatikan tempat di sekitarnya, kemudian mulai menebang beberapa pohon untuk dijadikan sampan. Sementara itu, Wulandari membantu untuk mencarikan tumbuhan rambat ataupun akar yang digunakan sebagai pengikat.


Setelah hampir 2 jam lamanya, sampan akhirnya sudah siap. “Ini sampan terbaik yang pernah aku buat.” Wulandari terkekeh kecil melihat bentuk sampan itu, tidak terlalu mirip dengan sampan di Negri Sembilan.


“Tidak terlalu buruk,”ucap Sungsang Geni. “Kita berdua memiliki keahlian yang cukup berimbang.” Diapun terkekeh kecil memperhatikan alat angkut itu.


Keduanya mulai menengahkan sampan, Wulandari lantas menaikinya lebih dahulu kemudian disusul dengan Panglima Ireng dan terakhir Sungsang Geni.


Hari ini cuacanya cukup mendukung, angin berhembus menuju gunung kecil, ombak tidak terlalu besar.


Menaiki sampan adalah hal pertama bagi Sungsang Geni, dan itu membuatnya cemas.


Ketika alat angkut itu memecah ombak, Sungsang Geni adalah orang yang paling khawatir diantara yang lainnya. Sial sekali, dia tidak bisa berenang jika saja sampan ini pecah di tengah laut.


Hampir lupa, pemuda itu tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya untuk terbang. Ini menjengkelkan sekali, pikirnya. Dia pernah menghabiskan seisi perutnya karena menaiki gerobak dan mungkin kejadian itu akan terulang lagi, di sini dan sekarang juga.

__ADS_1


“UEK...” Sungsang Geni rupanya mabuk laut, hal ini membuat Wulandari tertawa cekikikan hingga wajah gadis itu merah merona, tak kalah seru lagi adalah Panglima Ireng, diam-diam hewan itu juga mengikuti prilaku temannya. “Kenapa pandanganku berputar-putar?”


__ADS_2